Tag Archives: PBNU

Ulama dan Umara, Kepercayaan Demi Kemaslahatan

Setelah tiga abad lebih menjadi negara terjajah, negeri ini akhirnya dapat mengibarkan merah putih dengan tangis haru dan pilu bersama meneriakkan proklamasi.

Seumur jagung kemerdekaan diproklamirkan, blok sekutu datang untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Pesawat terbang meraung-raung diatas Kota Surabaya.

Artileri super canggih didatangkan untuk bermanuver dan mengancam pribumi dalam operasi gagak. Namun kita telah akrab dengan debu perjuangan, tidak lagi takut dengan kematian. Tidak lagi gamang untuk maju perang.

Dan refolusi jihad pun diterbitkan, oleh Rais Nahdlatul Ulama Kyai Hasyim Asyari bersambut dengan ribuan santri yang dikirim ke Surabaya. 10 November 1945, sepuluh santri jadi martir untuk mimpi merdeka, setelah sebelumnya pada 22 oktober 1945  Kyai Hasyim asyari berkata :

“orang yang mati membela tanah air dari serangan penjajah adalah mati syahid”

Mimpi itu telah menjadi nyata, kini kita telah bertempat tinggal ditanah kelahiran sebagai pemilik dan tuan. Bukan budak di kampung halaman. Ini adalah hadiah terindah para pejuang. Hadiah pengorbanan jiwa, raga juga nyawa.Buah kesabaran untuk sebuah tawa yang menjadi nyata dari para santri dan ulama untuk Indonesia.

Sekelumit kisah pengorbanan ulama dan santri untuk indonesia dan tercetusnya Hari Santri yang baru saja kita peringati. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu para ulama sangatlah penting bagi indonesia. Mereka tidak hanya duduk mengaji dan mengkaji kitab suci, tetapi merekapun berdiri tanpa  jeri melawan penjajah negeri.

Mereka tidak hanya salat puluhan rakaat, tetapi merekapun menjembatani kemerdekaan indonesia dengan tirakat. Padahal ulama adalah pemegang kekuasaan informal yang tugas utamanya adalah mendakwahkan agama dan mengajarkannya. Tapi dedikasi mereka kepada negara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sedangkan pemegang kekuasaan formal adalah para umara. Lantas para umara yang seperti yang kita harapkan untuk indonesia? Yang bijaksana, yang bergaya ulama atau yang merakyat? Tetapi, adakah pemimpin yang adil dan bijaksana dizaman ini?

Bahwasannya, periodisasi pemimpin umat islam terbagi menjadi 4 masa. Masa yang pertama adalah masa Khulafa al-Rasyidin. Masa kedua yaitu Mulkan ‘Addlan yang artinya raja yang menggigit, para pemimpin atau khalifah pada masa ini masih menjadikan hukum islam (al-Quran dan Hadis) sebagai dasar pemerintah mereka.

Tetapi kebersamaan mereka terhadap hukum islam ini sebatas menggigit, bukan memegang dengan kokoh. Masa ini terjadi pada masa Daulah Bani Ummayyah dan berakhir pada masa Daulah Turki Utsmani.

Lalu masa yang ketiga yaitu Mulkan jabriyah yang artinya raja yang memaksa atau diktator. Pada masa ini benar-benar telah melepaskan islam dalam sistem pemerintahannya, atau mencampur adukkan antara hukum islam dengan hukum positif buatan manusia.

Jika kediktatoran negeri-negeri non muslim terjadi karena memang ideologi mereka bukan islam, maka lain lagi dengan negeri-negeri mulsim. Di negeri-negeri muslim mereka masih mengaku muslim, nama-nama mereka muslim, namun hakikat yang berjalan pada sistem pemerintahan mereka adalah jahiliyah. Kalaupun ada sebagian hukum islam yang diterapkan, maka itu hanya pada bagian ritual saja –undang-undang perdata- itupun dengan praktek yang kurang sesuai.

Periode ini ditandai dengan munculnya ideologi komunis dan marxisme di Rusia dan China atau ideologi fasis di Jerman. Sebutlah Stalin, Lenin, Karl Marx dan Adolf Hitler, julukan dictator telah melekat pada nama mereka dalam sudut-sudut buku sejarah dunia.

Di Indonesia bapak presiden Soeharto adalah nama yang sering dikait-kaitkan dengan kediktatoran pada masa ini. Selama 32 tahun memimpin tak tergantikan. Seakan ia adalah pemilik mutlak sebuah kekuasaan.

Sedangkan masa yang keempat yaitu Khilafah Ala Minhaj an-Nubuwwah, artinya kepemimpinan yang lurus, hal ini terjadi pada zaman kemunculan Nabi Isa As. Dan Imam Mahdi.

Keempat periodisasi ini adalah sabda Nabi Saw. Kepada satu-satunya Sahabat pemegang rahasia Rasulullah, Hudzaifah Bin Yaman.

Sekarang kita aplikasikan hadis tersebut dengan realita kehidupan sesungguhnya, yang menandakan bahwa kita berada pada masa periodisasi yang ke-3, Malkan Jabariyaah. Jika kita bandingkan sistem pemerintahan yang terjadi kini dengan yang telah dijelaskan diatas, maka terdapat banyak sekali persamaan.

Pemerintah yang telah dijejali dengan hukum-hukum buatan manusia dan praktek-praktek kehidupan berpolitik yang berliku tak karuan. Contoh yang dapat kita amati langsung adalah saat proses kampanye. Visi-Misi Paslon diteriakkan, janji-janji politik diumbar, benar-benar diumbar. Sebab janji adalah pesona. Diatas kertas atau dipinggir-pinggir jalan janji tidak punya pengaruh apa-apa. Tak ada sanksi hukum yang berarti. Yang terpenting adalah meraih kekuasaan negeri.

Toh dari seratus macam janji yang akan terpenuhi dan terasa oleh rakyat negeri hanya beberapa puluh persen saja. Padahal janji adalah ikatan yang hanya bisa dilepaskan dengan menepatinya. Dan janji adalah hutang yang harus dibayar dengan memenuhinya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para ulama dan umara pada zaman ini, zaman yang telah disabdakan Nabi Saw. Akan terjadi. Ulama dan umara adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Mereka berdua harus selalu bergandengan menuju satu tujuan yakni kemaslahatan.

Imam Ghazali berkata “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga atau pengawal. Apa-apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa-apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap.”

Diantara keduanya tidak boleh ada rasa benci, apalagi iri akan kekuasaan yang dimiliki masing-masing pihak. Para umara harus memuliakan para ulama, karena ulama adalah guru mereka. Ulama yang masyhur maupun tidak, semua sama.

Mereka adalah pewaris ajaran yang dibawa nabi. Mereka mulia bukan karena kemasyhuran ataupun kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulia karena ilmulah yang memuliakan mereka. Tidak ada ulama yang mengajarkan kesesatan. Sehingga umara tidak perlu repot-repot membuat daftar para ulama yang boleh didengar tausyiahnya oleh rakyat.

Karena ulama mengajarkan ajaran agama yang mengajarkan toleransi. Kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan dan menganjurkan persatuan. Hal-hal inilah yang didengungkan para ulama kepada umara. Dengan retorika dakwah yang mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul dan mendidik bukan menghardik.

Jangan sampai ada rasa iri antar keduanya, karena hal tersebut akan menjadi virus yang jika masuk pada penguasa maka akan membuat kebijakannya menjadi belati bermata dua. Jika masuk dalam kalbu ulama akan membuat infeksi ilmunya. Dan niat akhirat yang lillah akan menjadi niat dunia yang linnas.Dengki itu juga akan mengundang saudaranya, kecongkaan, kejahatan serta dusta, fitnah dan bahkan perang saudara.

Adapun para ulama adalah penasehat para penguasa zaman ini. Karena umara hanyalah menduduki dan menjalankan pemerintahan yang sudah ada. Adapun kebijakan-kebijakan baru yang terjadi adalah tergantung kecerdasan, kecerdikan dan kearifan penguasa tersebut.

Kecintaan rakyat pada pemimpinnya tergantung sikap dan tutur katanya. Kepedulian ulama kepada pengusa tergantung pada akhlak dan keadilannya. Ulama sudah tentu umara, tapi umara belum tentu ulama. Karena ulama adalah pemimpin umat. Sedangkan umara adalah pemimpin rakyat.

Jika ada ulama yang menginginkan kedudukan sebagai umara maka ia berada dijembatan penentuan. Jika ia tetap bisa berakhlak dan beramal sebagaimana biasanya maka kemuliaan akan tetap tampak pada dirinya. Namun jika ia tersibukkan dengan kesibukan dunia dan mengurangi amaliah akhiratnya, maka seiring terperdayanya ia pada dunia tersebut, seiring itu pula kemuliaan akan luntur dari wajahnya.

Maka jika ulama menginginkan kemaslahatan negaranya, ia harus pandai-pandai menyetir umaranya, karena ulama adalah sebaik-baiknya penasehat umara. Mari berkaca pada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, selama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Khalifah Ali menjabat sebagai penasehat utama khalifah.

Maka secara tidak langsung, kesuksesan yang diraih oleh tiga khalifah sebelumnya adalah juga karena Khalifah Ali. Jadi dibalik kemaslahatan sebuah negara adalah karena nasehat para ulamanya. Dibalik kesuksesan seorang umara adalah karena kecintaan pada ulamanya.

Sejak Daulah Turki Utsmani gulung tikar dan masa periodisasi Mulkan Jabriyah menebarkan layangnya, sejak itulah propaganda yang mengadudomba islam dan pemerintah. pada tahun 1936 M Cristian Snouck Hurgronje mencetuskan politik devide et impera. Ia mencegah kelompok-kelompok kecil menjadi kelompok-kelompok yang lebih besar dan kuat. ia juga memecah belah kelompok-kelompok besar menjadi kelompok kecil.

Ia mengatakan; pecah kekuatan ulama dengan para bangsawan penguasa. Biarkan islam berkembang asalkan hanya pada ritual ibadahnya saja, namun segera berangus jika ada kekuatan islam politik. Sebab itu ancaman riil bagi pemerintahan.

Karena merutnya islam tidak bisa dikalahkan dengan serangan ofensif. Untuk menghancurkannya, pecah belah mereka dengan masalah kekuasaan, kesukuan, kelompok dan sekte. Serang kelompok-kelompok fanatik dengan budaya dan media maya.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal masa kepemimpinan zaman ini, hukum-hukum islam sedikit demi sedikit tergerus dari sistem pemerintahan. Lalu bagaimana sikap para ulama mengenai hukum pemerintahan pada masa ini.

Menurut Imam Taqiyuddin yang mengutip pendapat Imam Al-Ghazali ; keberadaan syarat-syarat secara utuh dan komprehensif adalah sulit bagi umat islam zaman sekarang. Karena sudah tidak ada mujtahid yang independen.

Dengan demikian rakyat harus merealisasikan dan mematuhi semua keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan penguasa meski penguasa tersebut bodoh atau fasik. Ini agar kepentingan dan kemaslahatan umat terpenuhi.

Senada dengan pendapat diatas. Sayyid abdurrahman bin Husein bin Umar Ba’alawy berpendapat, setiap tempat yang pernah dihuni oleh umat islam dengan nyaman dan aman, disatu masa dimana hukum-hukum dan keadilan dapat ditegakkan meski pemerintahannya fasik tetaplah harus patuh demi terjaganya kemaslahatan.

Jika para ulama melawan atau menentangnya, hal ini dapat menyulut timbulnya islam radikal atau bahkan terorisme. Dan ini akan menambah permasalahan bagi pemerintah. Karena terbentuknya kelompok-kelompok ini bersifat memberontak yang mengatasnamakan agama islam.

Para ulama dan umara haruslah saling bahu-membahu membentuk sebuah kepercayaan demi kemaslahatan. Sebab jika tidak ada kepercayaan maka yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Seperti terbentuknya daulah Islam Iraq atau yang lebih kita kenal dengan Islamic State of Iran and Syiria oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Kelompok islam radikal ini melawan dan menjatuhkan rezim Bashar Asad dan Hafidh Asad di Suriah.

Ini hanya pandangan kecil yang kita lihat. Jika lebih lebar, sebenarnya ISIS adalah bentuk kerjasama antara Inggris, Amerika dan Israel. Untuk membentuk organisasi teroris. Kekuatan dunia bertemu dan mengadu seluruh kekuatan islam untuk dikubur di bumi Syam.

Beberapa pemimpin Timur Tengah yang jatuh akibat terbentuknya Islam radikal ini yaitu Rezim Ben Aly di Tunisia, rezim Husni Mubarak di Mesir, rezim Muammar Khadafi di Libya, rezim Ali Abdullah Salim di Yaman rezim Irak dan juga Afganistan.

Dan yang perlu digaris bawahi, bahwa semua kejadian ini setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika. Nama Osama bin Laden dan al-Qaeda ramai dibicarakan. Nama islampun dipertaruhkan. Semua kelompok islam tidak pernah mengakui melahirkannya.Tapi mata dunia menuding pada islam, dan ulama-ulama pesantren dituduh sebagai pelopor para teroris dunia.

Inilah mungkin yang akan terjadi jika ulama dan umara dalam satu negara tidak berjalan bersama. Banyaknya propaganda yang mengadu domba menjadi bayang-bayang perpecahan islam dan pemerintahan.

Karena pada kenyataannya kini banyak yang ingin benegara didalam negara. Berdemokrasi didalam demokrasi. Mereka menganggap bahwa politik pemerintahan adalah politik kotor yang dijalankan untuk membodohi rakyat melalui kekuasaan yang dimiliki penguasa.

Padahal pada kenyataannya zaman yang demikian telah ternas dalam hadis jauh sebelumnya. Maka, kini kemaslahatan suatu negara tergantung pada keharmonisan ulama dan umaranya. Berjalan beriringan melangkah bersama menapaki masa didetik-detik akhir masa dunia.

Dimana kepercayaan sangatlah dibutuhkan disaat banyak mata-mata mendelik tajam mencari celah kesalahan, untuk kemudian menjadikannya modal melakukan sebuah perlawanan hingga berujung pada sebuah kata perpecahan. Sehingga kata kemaslahatan hanya akan menjadi harapan yang tak pernah ada dalam genggaman.

 

_______________________

Oleh : Yulia Makarti

Asal : Sulawesi Tenggara

Kamar : Ar-Rayyan, P3TQ

Kelas : Umdah (Ula II)

 

Sebagai Juara Kedua Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

 

Allah Pamerkan Umat Muhammad kepada Nabi Musa

Diriwayatkan dari Akhbar Ra. Beliau berkata; “aku membaca sepotong keterangan yang diwahyukan kepada Nabi Musa As.”wahai Musa, ada dua rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat subuh, seorang yang salat pada dua rakaat ini Aku akan mengampuni seluruh dosa yang ia lakukan disiang maupun malah hari, menjadi tanggunganku” firman Allah Swt. Kepada Musa As.

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat duhur. Pada rakaat pertama aku memberi mereka ampunan. Dirakaat kedua aku memberi mereka timbangan amal baik yang paling berat.

“Dirakaat ketiga aku memasrahkan para malaikat yang akan bertasbih dan memohon ampunan bagi mereka. dirakaat keempat aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka, bidadari memandangi mereka dari atas”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat ashar, tiada satupun malaikat yang ada dimuka bumi dan penjuru langit kecuali memintakan ampun bagi mereka, dan orang yang dimintakan ampun oleh malaikat, aku takkan pernah menyiksanya.”

“Musa, tiga rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya kala mentari terbenam, aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka , mereka tidak meminta apapun tentang kebutuhannya kecuali akan aku kabulkan.”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya saat mega merah hilang, yang mana salat ini lebih baik bagi mereka daripada dunia dan seisinya, mereka keluar dari salatnya dengan keadaan bersih dari dosa layaknya dimana ibunya melahirkannya”

“Musa, Muhammad dan umatnya berwudu seperti yang telah aku perintahkan, aku memberi mereka surga pada setiap tetes dari wudunya, surga yang luasnya laksanya luas jagat raya ini.”

“Musa, Muhammad dan umatnya berpuasa sebulan penuh disetiap tahunnya dibulan ramadan, setiap sehari puasa aku akan memberi mereka satu kota megah di surga, aku juga memberi mereka pahala setiap ibadah sunah yang mereka lakukan dibulan itu dengan pahalanya ibadah fardu. Aku juga menjadikan satu malam dibulan itu malam lailatul qadar, siapa yang meminta ampuna waktu itu penuh penyesalan dan membenarkan dengan hatinya, apabila ia mati dimalam itu atau dibulan itu, aku akan memberinya pahala seorang syahid dengan kelipatan tiga puluh”

“Musa, pada umat Muhammad ada sekelompok orang yang mendirikan sebuah kemuliaan, mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selai allah, maka balasan bagi mereka dengan sebab itu adalah balasan yang sama yang diberikan kepada para nabi, rahmatku atas mereka adalah sebuah kepastian, murkaku kepada mereka adalah sebuah ketiadaan, tiada pernah aku menghalangi pintu taubat pada seorangpun dari mereka selagi mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah” [ABNA]

 

______________

dikutip dari kitab at-Tanbih al-ghafiliin

Awal Mula Haflah Akhirussanah

Sejak tahun-tahun awal Pondok Pesantren Lirboyo lahir, KH. Abdul Karim tidak pernah memiliki keinginan yang macam-macam. Hari-hari beliau hanya diisi dengan mengaji. Saking penuhnya hari beliau dengan mengaji, para santri sendiri bahkan kuwalahan mengikuti kegiatan beliau. Sejak jamaah salat subuh ditunaikan, kitab kuning hampir tak pernah lepas dari pegangan tangan beliau. KH. M. Anwar Manshur menceritakan, KH. Abdul Karim baru selesai mengaji selepas tengah malam. Itupun tidak segera pulang ke rumah, melainkan tetap di masjid untuk menunaikan shalat dan wirid.

Kalau beliau terus memegang kitab, lalu bagaimana dengan kehidupan santri dan pesantrennya? Bukankah mereka juga butuh diurus sandang, pangan dan papannya?

Dalam keperluan pesantren, simbah nyai Dlomroh lah yang mengatur semuanya. Beliau memang telah sejak mula menyiapkan diri untuk membantu KH. Abdul Karim, suaminya, dalam segala hal, termasuk merawat dan menjaga kondisi pesantren Lirboyo.

Seiring waktu berjalan, santri terus berdatangan. Hingga pada akhirnya, beliau dibantu oleh keluarga dan santri-santri lain. mereka inilah yang kemudian menjadi pengajar dan pengurus di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kehidupan santri sekaligus pengajaran yang diberikan di Pondok Pesantren Lirboyo terus berjalan dengan baik. Suatu ketika, simbah Nyai Dlomroh merasa perlu untuk mengungkapkan rasa syukur atasnya. Maka di akhir tahun itu, beliau mengundang seluruh pengajar dan pengurus untuk menghadiri tasyakuran.

Untuk acara tasyakuran itu, beliau, simbah nyai, menyembelih seekor sapi. Beliau, dengan dibantu oleh keluarga besar beliau, mengurus segala hal-hal yang berkaitan dengan acara, baik itu memasak, menyiapkan hidangan, dan lain sebagainya.

Acara dilaksanakan dengan sederhana. Tak ada perayaan yang wah. Tetapi, acara sederhana itu kini menjadi budaya dan tradisi, yang terus dilestarikan oleh dzuriyah, cucu dan cicit beliau. Acara tasyakuran inilah yang kemudian kini dikenal dengan Haflah Akhirussanah.][

 

Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien akan dilaksanakan pada Selasa malam Rabu, 09 Sya’ban 1439 H./24 April 2018 M, di Aula al-Muktamar. Insya Allah akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. sebagai penceramah.

Guyuran Satu Miliar Nariyah untuk Bangsa

LirboyoNet, Kediri—Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah serempak di seantero Nusantara pada Jumat malam (21/10/16) bukanlah even yang asal muncul, asal rame, atau hanya sebuah cara untuk bergegap gempita. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sekarang adalah bangsa yang penuh tantangan. Banyak gangguan dan permasalahan berat yang musti diselesaikan dengan segera.

Ketua Tanfidziyah PBNU ini menyimpulkan, setidaknya, ada tiga masalah besar yang sedang menjangkit bangsa Indonesia. Pertama, wabah ekstrimisme dan radikalisme telah demikian menjamur di tengah masyarakat. Indonesia aman, menurut siapa? Meski tak seekstrim yang terjadi di Irak-Suriah, bom bunuh diri masih saja ditemukan kasusnya. Di satu daerah, pelakunya bahkan masih usia belasan tahun. Menurutnya, ini bukan masalah yang main-main, dan harus dituntaskan secepatnya. Rasulullah saw. saat mengelola pemerintahannya, pernah mengalami masalah yang sama. Dalam menyikapi kemunculan para ekstrimis (murjifûn), Rasulullah saw. tak segan-segan mengusir mereka keluar dari Madinah. Merekalah pengganggu stabilitas dan keamanan, bukan saja kepada pemerintah-negara, tapi juga sampai kepada aspek-aspek sempit dalam masyarakat.

Kedua, kemiskinan yang diderita masyarakat tak berkesudahan. Dengan mengutip beberapa data valid, terungkap bahwa kesenjangan antara masyarakat bawah dan atas sangat tinggi. Lebih dari lima puluh persen kekayaan Indonesia dikuasai segelintir orang. Dan sepertinya, masyarakat masih merasa nyaman dengan fakta ini. Padahal, Abu Hasan as-Syadzili, seorang ulama besar, tak pernah menghendaki kemiskinan. Ia telah dikenal sejarah sebagai ulama yang sangat royal. Pakaiannya, parfumnya, kehidupannya, jauh dari kesan kumuh dan miskin. Tentu saja ini mengundang rasa heran sebagaian muridnya. Bagaimana bisa, seorang ulama dengan segala keilmuan agamanya, ternyata tak lepas dari gemerlap dunia? Dengan tenang as-Syadzili mengurai jawabannya, “Pakaianku yang bagus ini seakan berbicara, ‘anâ al-ghaniy, falâ tarhamûnî (‘Aku seorang alim nan hartawan, jangan kasihani diriku!)’. Sementara pakaian lusuh akan memberi kesan, ‘anâ al-faqîr, fatarhamûnî (Aku miskin, maka kasihani diriku).”

Ketiga, korban keganasan narkoba sudah meraja di segala lini. Lebih-lebih, yang menjadi korban paling riskan adalah para remaja. Beruntungnya, Indonesia masih dibentengi oleh pesantren. Kiai dan pesantrennya adalah pertahanan ampuh (fî amnin wa amânin) bagi serangan narkoba. Keduanya bagaikan Asiyah (istri Firaun) yang gigih merawat Musa. Musa yang kemudian menjadi remaja terbuka matanya: ternyata yang mengelilinginya selama ini adalah budaya-budaya buruk: mabuk-mabukan; pelacuran; dan segala hal buruk lain. Namun kenapa Musa kecil samasekali tak terpengaruh budaya itu? Begitulah cara pesantren melindungi santri-santrinya.

Maka diperlukan kekuatan besar untuk melepaskan diri dari berbagai masalah ini. Pembacaan Sholawat Nariyah menjadi salah satu pilihannya. Mengapa? KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang juga Rais Syuriah PWNU Jawa Timur menegaskan, telah banyak teks sejarah yang memberikan pencerahan bahwa Sholawat Nariyah memiliki faedah-faedah agung. Harapannya, tentu dengan sholawat ini, bangsa akan dibantu oleh satu daya yang super, yang mampu mewujudkan segala kehendak bangsa dan menepikan hal-hal yang tak diinginkan dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah yang juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan, ini dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo. Para santri dan hadirin dengan khidmat mengikuti bacaan yang dilantunkan oleh beliau. Sebelumnya, acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Beberapa tokoh turut hadir di dalam acara. Diantaranya, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Rektor Universitas NU Surabaya, H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, Lilik Muhibbah, Wakil Walikota Kediri, aparat pemerintahan, pengurus PCNU, KH. A. Habibulloh Zaini, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah Ponpes Lirboyo.][