Tag Archives: pemuda

Antara Melupakan dan Mengingat Dosa


Imam Junaid, salah seorang ulama Sufi kenamaan, pernah bercerita:

Pada suatau hari, aku menemui Sari As-Saqiti yang sedang tertunduk sedih. Aku bertanya, “Apa yang terjadi padamu?

Ada seorang pemuda mendatangiku dan bertanya perihal taubat. Kemudian aku menjawab bahwa taubat itu tidak melupakan dosa yang pernah diperbuat. Tetapi pemuda tersebut tidak setuju. Ia berkata bahwa taubat itu adalah melupakan dosa yang pernah diperbuat.” jawab Sari As-Saqiti.

Kalau aku lebih setuju dengan perkataan pemuda itu.” kataku.

Bagaimana bisa demikian?” tanya Sari As-Saqiti mulai penasaran.

Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan yang tidak menyenangkan kemudian Allah merubahku pada keadaan yang menyenangkan, maka mengingat-ingat hal yang tidak menyenangkan di dalam kondisi yang menyenangkan tersebut merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan.” jelasku.

Akhirnya, Sari As-Saqiti terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasanku tersebut.

_______________________

Disarikan dari kitab Kunuzis Sa’adatil ‘Abadiyyah Fil Anfasil ‘Aliyyatil Habasyiyyah karya Abu Bakar Al-‘Atthos bin AbdullahAl-Habsyi, hal. 194.

Khotbah Jumat: Pemuda Dan Masa Muda

أَلْحَمْدُ للهِ قَاصِمِ الْجَبَابِرَةِ قَهْرَا وَ كَاسِرِ الْأَكَاسِرَةِ كَسْرًا فَسُبْحَانَهُ مِنْ إِلهٍ عَلِيٍّ بِذَاتِهِ فَوْقَ جَمِيْعِ مَخْلُوْقَاتِهِ مَعَ عُلُوِّهِ قَدْرًا وَ قَهْرًا وَتَقَدَّسَ مِنْ مُتَفَضِّلٍ بَسَطَ إِنْعَامُهُ بَرًّا وَ بَحْرًا أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ لَمْ تَزَلْ تَتْرًا وَأَشْكُرُهُ عَلَى مِنَنٍ تَرْجِعُ الْأَلْسُنُ عَنْ عَدِّهَا حَسْرَى أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،أما بعد: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintahnya serta menjauhi segala larangannya dalam keadaan dan kondisi seperti apapun. Karena Allah telah menurunkan sariatnya untuk kondisi apapun; Dari mulai kita bangun tidur sampai beranjak tidur kembali, semua terdapat tuntunannya. Mari kita bersyukur kepada Allah swt. atas segala anugerah yang telah diberikan kepada kita dan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai yang dapat menjadikan kita semakin takwa kepada Allah swt.

Jangan sampai, kita merasa aman dari azab Allah swt. yang bisa datang tanpa terduga-duga. Sebab, sesungguhnya tidak ada yang merasa aman dari azab Allah swt. kecuali orang-orang yang merugi. Allah swt. berfirman:

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 99)

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Bergulirnya waktu merupakan tanda yang nyata bahwa jatah usia kita semakin menipis. Sementara itu, kita tidak tahu kapan hembusan nafas kita berakhir. Masa muda tidak memiliki apapun untuk menjamin diri kita sampai ke masa tua, oleh karenanya penting kita insafi untuk menjadikan masa muda sebagai langkah persiapan untuk masa-masa selanjutnya. Lebih-lebih masa keabadian nanti.

Masa muda dengan keadaan yang bugar, kuat dan semangat tinggi itu hendaknya diarahkan terhadap hal-hal yang terdapat manfaat di dalamnya; Baik manfaat kepada dirinya atau pun kepada orang lain, bahkan alam sekitarnya. Baginda Nabi bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Artinya: “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; Jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad)

Demikian hadis di atas jika benar-benar kita pegang, niscaya hidup akan terasa begitu memiliki arti dan, insyaallah, kita tidak termasuk diantara golongan orang-orang yang menyesal di kemudian hari dan hari kemudian.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Sebagian dari kita ada yang sudah melalui masa mudanya, ada pula yang tengah menjalani masa mudanya. Namun yang perlu ditekankan, dari semuanya itu adalah bukan tentang berapa umur kita, melainkan bagaimana kita mengisinya. Jangan sampai kita membiarkan masa muda kita, atau masa muda orang-orang disekitar kita terlewat begitu saja tanpa mengukir hal-hal yang bermanfaat dan baik lainnya.

Sebagaimana lazimnya semangat muda, keinginan menjadi unggul, terdepan dan terbaik adalah hal yang sulit untuk dihindari. Bahkan dalam banyak hal cenderung baik untuk dipelihara. Oleh karenanya penting kita tengok hadis Nabi tentang seperti apakah sejatinya orang-orang yang terbaik itu. Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

Artinya: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya  dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.” (HR. at-Tirmidzi)

Diantara yang bisa dijadikan pedoman dari hadis ini adalah bagaimana seorang pemuda, dengan dayanya, membawa ketenteraman pada lingkungannya. Nabi saw. juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”(HR. at-Thabrani)

Dari hadis ini, selain membawa ketenteraman, pemuda yang ingin jadi terbaik haruslah pula paling memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Demikian mungkin sedikit uraian tentang perlunya menjaga masa muda. Baik masa muda kita atau orang-orang di sekitar kita. Karena kita tahu, bahwa pemuda lah yang akan menjadi nakhoda-nakhoda kehidupan selanjutnya. Pemimpin, tokoh, orang-orang terkemuka;  pada saatnya akan digantikan oleh mereka-mereka yang sekarang tengah menjalani masa muda. Sebagaimana ada kalam bijak mengatakan:

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ

Artinya: pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan

Semoga saja kita dan generasi muda kita bisa senantiasa memberikan kebaikan, manfaat dan ketenteraman kepada sekitar kita.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Rindu Yai Imam, Rindu yang Beku

Peringatan Haul (pendak, -jw) oleh sementara orang diyakini sebagai ajang mengenang kisah sang almarhum. Kisah-kisah kebaikannya, kisah perjuangannya, kisah dakwahnya, atau sekedar kisah ringan yang membuat keluarga tersenyum-tertawa. Mengulang kisah ini, akan mencairkan bongkahan-bongkahan rindu, atau justru menambah beku.

Tadi malam, Sabtu, 19 Oktober 2016, saya dihampiri rindu yang ambigu itu. Semula hal-hal biasa terjadi: menyiapkan buku catatan, kamera, dan obat batuk. Itu saya lakukan hampir di setiap acara agung lainnya. Seperti yang lalu-lalu, di acara agung itu selalu ditebar kalam-kalam hikmah, ilmu pengetahuan, yang terlalu banyak untuk diingat memori hafalan saya yang payah. Karenanya, buku catatan menjadi begitu penting bagi saya, sebagaimana pentingnya membawa obat batuk. Saya tak mau mengganggu kekhusyuan hadirin dengan dentuman batuk dari tenggorokan saya, yang sedang menikmati kemesraan dengan demam.

Sampai kemudian maghrib tiba. Saya segera shalat, dan menemui kawan-kawan yang telah datang. Mereka berkumpul di gedung sekolah MA HM Tribakti, sekitar 300 meter dari masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo. Mereka yang datang di luar perkiraan saya. Dari Blitar, Semarang, Jogja, Indramayu, Cirebon, Bekasi, dan tempat jauh lain, satu per satu memarkir kendaraannya. Dari raut muka mereka yang lelah, ada tanda bahwa mereka didatangi rindu yang sama.

Setelah berbasa-basi sejenak (tahulah anda rupa “basa-basi” para santri yang lama tak jumpa, dan maksud “sejenak” itu), mobil dan motor yang diparkir dihidupkan kembali, berarah ke utara, tempat di mana Ponpes Al-Mahrusiyah III berada. Beberapa ratus meter menjelang lokasi, nampak kubah kuning masjid besar pondok ini. Megah nian.

Tiba di sana, masjid itu ternyata masih menyimpan pembacaan maulid untuk kami. Kenangan bertahun lalu menyeruak: setiap kamis sore, syair maulid dilantunkan di mushola. Ada yang memejamkan mata. Menangis haru. Sebagian dari kami malah ndusel, mendesak sambil cubit-cubitan. Tak sopan sebenarnya. Tapi kami yang lugu belum tahu apa itu khusyu.

Tak lama setelah doa diamini, telepon saya berdering. Satu teman saya, yang sudah tamat MHM dan memasuki masa khidmah, ingin hadir, tapi tak bisa berkendara. Dengan senang hati saya menjemputnya. Semua santri almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus rupanya dirasuk kerinduan-kerinduan bertumpuk.

Saat menuju tempat parkir, saya mendengar lamat-lamat dari pengeras suara, “apa yang kita perjuangkan, apa yang Yai Imam perjuangkan, akan menjadi amal yang abadi.” Saya kemudian teringat apa yang Walikota Kediri ceritakan beberapa menit sebelumnya, “Yai Imam itu sangat peduli pada gerakan pemuda. Waktu saya masih muda, beliau dengan telaten membimbing kami, pemuda-pemuda Kediri untuk bekerja keras, sehingga dapat ikut serta dalam memakmurkan Kediri, lebih-lebih negara.”

Sebagai kawula muda, tentu saya tergugah. Betapa pemuda adalah pihak yang paling sah untuk dijadikan tumpuan harapan. Karena itu saya mengira-kira, barangkali Pak Imam, begitu yang sering diucapkan KH. Imam Yahya Mahrus untuk menyebut diri beliau di hadapan santri, sekarang sedang berbahagia. Anak-anak didiknya benar-benar menjadi pembangun negeri, Walikota Abu Bakar itu contohnya.  Dan banyak lagi, meminjam istilah Gus Mus, Pak Imam-Pak Imam lain, dengan skala yang lebih kecil, mampu menerangi lingkungan masyarakatnya.

Setelah acara usai—tentu saja—kami memilih warung kopi, bercanda, dan berwefie ria. “Sejatinya, haul bukan hanya peristiwa mengingat-kenang,” sela teman saya dengan nakal, “tapi juga menjadi ajang pertemuan-pertemuan jenaka, antarteman, dengan guru, dan kawan-kawan ‘rahasia’. Hehehe.”][

 

Penulis, Hisyam Syafiq, alumnus HM Al-Mahrusiyah tahun 2010.

Mengubah Pancasila, Pergi Saja!

LirboyoNet, Kediri – Pemuda, oleh siapapun ia dilahirkan, adalah harapan bagi bangsanya.  Ketika ia baik, cerahlah masa depan bangsanya. Ketika ia tumbuh menjadi apatis -acuh tak acuh dan tak peka terhadap alur hidup masyarakatnya- bangsanya jelas sedang mengalami masa kritis.  Milla, salah satu aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kediri meresahkan hal ini.

KH. M. Anwar Iskandar juga sempat merasa pesimis. Beliau melihat jauhnya anak-anak muda sekarang dengan wawasan kebangsaan. Faktanya, banyak ditemukan para pelajar maupun tokoh terpandang yang tidak hafal dasar-dasar negara, bahkan Pancasila.

“Namun, saat Gus Said (Agus Said Ridlwan, salah satu dzuriyah PP Lirboyo, -red) mendatangi saya, saya optimis. Dialog kebangsaan yang beliau tawarkan perlu dikembangkan dengan serius. Terutama, karena Indonesia sekarang digerogoti aliran-aliran radikal. Ini sangat mengkhawatirkan,” terang beliau saat memberikan ceramah ilmiah di Masjid Agung Kota Kediri, Rabu kemarin (18/05).

Pemuda sekarang, sebut Yai War (sapaan karib beliau), harus mendewasakan diri dalam melihat dirinya sebagai bangsa. Mereka harus aktif dalam forum-forum perdamaian. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), semisal. “Dengan selalu aktif, pada saatnya kalian akan menjadi besar dan berguna bagi bangsa,” harap beliau.

Mereka harus sadar, bahwa dalam berbagai hal mereka boleh berbeda. “Warna kulit, asal daerah, kaya-miskin, latar belakang pendidikan, agama bahkan, boleh kalian tidak sama. Tapi bangsa harus diperjuangkan bersama. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika mutlak harus disepakati bersama,” tegas pengasuh PP Al-Amin, Ngasinan Kediri itu.

Bela bangsa berada pada posisi tertinggi dalam Islam. Terlepas dari maudlu’ tidaknya, hadits ‘hubbul wathan minal iman,’ banyak mendapat respon positif dari ulama salaf dalam diskursus yang mereka tawarkan, baik lewat turats (kitab-kitab) mereka maupun pendapat para murid. Ketika ia menjadi bagian dari syarat keimanan, maka bela bangsa juga berarti bagian dari ibadah. Dalam tingkat yang lebih serius, ia menjadi inti dari ibadah.

“Ini (bela bangsa) telah dielaborasi oleh sayyid Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi dalam kitabnya, Bughyatul Mustarsyidin. Allah mewajibkan hambanya untuk menjaga kulliyatul khoms,” lanjut beliau. Kulliyatul Khoms (Lima Tema Besar) itu adalah: al dien (agama); al ‘aql (akal); al maal (harta); al nasl (keturunan); dan al ‘irdl (harga diri).

Dalam syarahnya, harta paling berharga yang dimiliki seorang muslim adalah bangsanya. Dan harga diri yang paling mahal adalah harga diri sebagai anak bangsa. Dengan berpegangan kepada tema besar ini, muslim Indonesia sudah mempunyai alasan yang lebih dari cukup untuk memperkukuh Nusantara.

Alasan ini juga yang membuat para ulama Nusantara dahulu mempertaruhkan nyawa dalam perang melawan penjajah. “Kiai dahulu, melempar segenggam kacang hijau, berubah jadi tentara, senjata, peluru. Kiai Abbas Buntet Cirebon dahulu, nyebul (meniup) ke arah pesawat, langsung jatuh. Kalau kiai sekarang? Tidak ada. Sudah kebanyakan main HP semua,” canda beliau.

Jihad yang dilakukan ulama dahulu, memang orientasinya pertaruhan nyawa. Itu lebih karena Indonesia dalam suasana darul harbi, daerah yang sedang dilanda perang. Maka perjuangan yang dilakukan mau tak mau harus dengan mengangkat senjata.

Indonesia sekarang memerlukan banyak pejuang dalam banyak ranah. Perang bukan lagi jalan untuk berbenah. Pendidikan, ekonomi, kesehatan dan puluhan spektrum lainnya membutuhkan peran dari para pemuda. “Jangan mudah tersulut ide-ide anarkis. Khilafah dan semacamnya adalah ide yang harus ditolak. Jangan tersibukkan dengan hal-hal seperti itu. Arah pandang kalian harus lebih jauh dari itu.”

Dialog kebangsaan siang itu bertema “Bersama Meneguhkan Bela Negara untuk Memperkokoh NKRI”. Dua tokoh diundang sebagai pemateri, yakni KH. M. Anwar Iskandar dan Kapolres Kota Kediri, AKBP Bambang Widjanarko, S.IK, M.Si.

Keduanya mencoba memberikan pengertian kepada peserta, bahwa radikalisme adalah racun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak masuk akal jika mereka, pembawa paham radikal itu, menolak Pancasila berdasar pada Alquran. “Dari sila pertama sampai sila kelima, samasekali tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru kelima-limanya selaras dengan ayat-ayat ‘Alquran. Sila keempat misalnya. ‘Wa amruhum syuraa bainahum’. Yang lain masih banyak.”

“Keadilan sosial juga disinggung oleh Rasulullah. ‘wa man kafar? Ya Allah, apakah rizki juga untuk orang kafir?’. ‘Benar. Qalilun umatti’uhum. Tapi sedikit yang aku berikan kepada mereka.’ Jangan iri kepada mereka yang kaya. Wong mereka mau bekerja keras. Kalau malas saja, ya jangan protes,” imbuh Yai War. Dalam sebuah atsar (cerita shahabat), terang bahwa rizki yang besar adalah keberuntungan di akhirat kelak. Sementara segala kenikmatan yang ada di dunia hanya dianggap sedikit, bahkan hina.

Seminar ini diadakan oleh Yayasan Sosial Kemasyarakatan Mujtaba, dengan Agus Sa’id Ridlwan sebagai penasehatnya. Para tokoh muda Kota Kediri hadir dalam acara itu, termasuk santri pondok di Kota Kediri perwakilan IPNU-IPPNU, GP Ansor, Banser, pengurus PCNU dan beberapa anggota polisi.

Di akhir pertemuan, tokoh yang sering berkunjung ke berbagai pelosok Nusantara untuk memperkuat kebangsaan masyarakat Indonesia ini berpesan, “Negara Indonesia dan Pancasila sudah final. Jangan coba-coba mengubah Pancasila. Jika sudah tidak ingin menghargai Pancasila, pergi saja dari Indonesia!”][