Tag Archives: perjuangan

Nasionalisme Rasulullah saw.

Peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momentum sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Betapa tidak, bangsa Indonesia merasakan kepahitan dan kesengsaraan belenggu penjajahan selama tiga abad lebih. Perlawanan terhadap penjajah dilakukan dimana-mana. Sudah begitu banyak darah pejuang yang mengalir demi memperjuangkan kemerdekaan. Dan pada akhirnya, setelah melalui perjalanan sejarah yang begitu panjang, kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945 menjadi puncaknya.

Namun, kemerdekaan yang sebenarnya belum mencapai titik final. Selang beberapa saat setelah bangsa Indonesia merdeka, masih banyak upaya-upaya yang ingin merebut kemerdekaan bangsa Indonesia seperti agresi militer asing di Surabaya pada bulan oktober 1945 maupun di Yogyakarta pada 21 Juli sampai 5 Agustus 1947 (aksi pertama) dan dari 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949 (aksi kedua). Berkat persatuan dan semangat nasionalisme yang membara, aksi perlawanan rakyat dikobarkan dimana-mana. Dan pada akhirnya, seluruh agresi yang berusaha merebut kembali kemerdekaan dapat diredam dan kemerdekaan dapat dirasakan hingga saat ini.

Sebagai upaya untuk mengingat kembali sejarah perjuangan para pendahulu bangsa, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia selalu dirayakan pada tanggal 17 agustus di setiap tahunnya. Bangsa Indonesia merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (muhasabah an-nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan kembali semangat kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Nasionalisme

 “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota Madinah.

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Ketika Rasulullah Saw pulang dari bepergian dan melihat dinding kota madinah, beliau mempercepat laju ontanya. Dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau menggerak-gerakkan karena cintanya kepada madinah” (HR. al-Bukhari)[1]

Substansi kandungan hadis tersebut dikemukakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolani. Ia menegaskan bahwa “Dalam hadis itu terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya”.[2]

Dalam penerapannya, semangat nasionalisme dan bela negara mampu menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini. Sahabat Umar Ra mengatakan:

لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانِ

Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan[3]

Relasi Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[4]

Sekilas, wacana yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Tujuaannya adalah demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Dengan demikian, pemahaman terhadap norma-norma keagamaan erat kaitannya dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi penerapan ajaran agama dalam kehidupan nyata.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai upaya untuk mengobarkan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia. []waAllahu a’lam

 

__________________________

[1] Shahih al-Bukhari, III/23, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Fath al-Bari,III/705.

[3] Tafsir Ruh al-bayan, VI/320, CD. Maktabah Syamilah

[4] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

Maksud Kirab: Tumbuhkan Ghirah Resolusi Jihad

LirboyoNet, Kediri — Pagi ini (16/10/16), rombongan Kirab Resolusi Jihad resmi diberangkatkan kembali dari Ponpes Lirboyo. Rombongan yang bermalam di salah satu gedung pondok ini, memulai aktivitasnya dengan sarapan pagi bersama masyayikh di kantor Al-Muktamar.

Setelahnya, mereka beranjak menuju serambi kuning Masjid Lawang Songo, tempat di mana acara selanjutnya dilaksanakan. Dimulai dengan tabuhan rebana, rombongan dan para santri Lirboyo berbondong-bondong memenuhi serambi.

Tak berapa lama kemudian, para masyayikh Lirboyo rawuh, diikuti beberapa pejabat pemerintahan Kota Kediri. Dalam kesempatan silaturrahim itu, KH. M. Anwar Manshur mengingatkan kepada hadirin bahwa peran santri dalam pergolakan kemerdekaan tidak bisa dikesampingkan.

“Mbah Mahrus waktu itu (masa-masa perjuangan kemerdekaan) jadi pimpinan Hizbullah Jawa Timur. Beliau sering mengajak santri-santri untuk hilir mudik Kediri-Surabaya, untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Pondok-pondok lain juga. Kiainya berangkat semua,” cerita beliau. Inilah tanda bahwa kemerdekaan juga merupakan tanggungjawab santri dan pesantren. Untuk saat ini, setelah perjuangan merebut kemerdekaan telah usai, pesantren memiliki tanggungjawab yang lebih berat. Mereka harus mampu membina kehidupan masyarakat pasca-merdeka.

“Tahun ’48 (saat agresi Belanda II), saat tentara Belanda datang ke Lirboyo dan keluarga bergegas mengungsi, Mbah Manab (KH. Abdul Karim, muassis Ponpes Lirboyo) justru berdiam di dalam masjid ini. Beliau Cuma ngendika ‘kulo ngungsi dateng Allah mawon’. Alhamdulillah, keadaan beliau baik-baik saja,” kisah beliau. Kepasrahan diri untuk membina masyarakat ini menjadi satu kekuatan tersendiri yang dimiliki oleh kiai dan pesantren.

“Mbah Mahrus pernah dicari-cari tentara musuh. ‘Mahrus mana? Mahrus mana?’ padahal yang ditanya adalah Mbah Mahrus sendiri,” cerita beliau kemudian. Sebagai panutan dan pemimpin laskar, tentu beliau menjadi buronan nomor wahid tentara musuh. Kisah-kisah ini hanyalah karomah kecil yang dimiliki oleh kiai-kiai dahulu. “Makanya, jangan sembrono sama kiai. Kadung ngetokno karomahe, mandi kabeh (kalau sudah keluar karomahnya, ampuh semua),” canda Mbah War, panggilan santri kepada beliau.

Mbah War merasa terhormat dengan kedatangan rombongan ini. “Nama Lirboyo yang sering panjenengan dengar, ya beginilah wujudnya. Tidak semegah yang sampean bayangkan. Kami memang seperti ini. Jadi jangan kecewa,” tukas beliau beriringan dengan tawa hadirin.

Walikota  Kediri, Abdullah Abu Bakar, juga menyambut baik kedatangan mereka. “Mudah-mudahan, ini menjadi torehan sejarah yang positif bagi Kediri, juga NU.” Ia sempat menyinggung program Satu Miliar Shalawat Nariyah, yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Layak diketahui, pembacaan shalawat ini juga menjadi rangkaian acara pra-Hari Santri Nasional. “Semoga bacaan doa kita nantinya dapat membantu Indonesia menjadi lebih baik. Semoga seperti dahulu, saat para kiai dan santri terus berdoa demi kemashlahatan Indonesia,” harapnya.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan kembali Panji Pataka Nahdlatul Ulama, dari pesantren kepada tim resolusi. Selanjutnya, rombongan yang terdiri dari 68 anggota dari berbagai lembaga dan badan otonom NU ini meneruskan jadwal mereka, yakni menuju kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri untuk berziarah ke makam KH. Ahmad Shiddiq, Rais ‘Am PBNU periode 1984-1991 dan KH. Hamim Jazuli (Gus Miek).

Isfak Abidal Aziz, ketua rombongan menyatakan bahwa secara garis besar, tujuan kirab ini adalah untuk memberikan inspirasi bagi nahdliyin, dan menggelorakan kembali semangat dan ghirah Resolusi Jihad yang digaungkan puluhan tahun lalu. Sehingga, imbuhnya, juga akan memunculkan semangat khidmah kepada Nahdlatul Ulama dan bangsa. Ia juga menyebut bahwa rombongan terdiri dari kaum muda. Hal ini tak lepas dari harapan bahwa merekalah sejatinya yang patut dijadikan tumpuan kemajuan Nahdlatul Ulama, lebih-lebih bangsa Indonesia nantinya.][