Tag Archives: Pernikahan

Istri Ngidam, Wajibkah Suami Menuruti?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Fenomena ‘Ngidam” merupakan hal lumrah yang ada di masyarakat ketika seorang perempuan hamil. Sering kali hal ini dikaitkan dengan permintaan istri yang tidak wajar saat ketika hamil. Lantas adakah kewajiban bagi suami untuk menuruti permintaannya? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Laras F., Sidoarjo)

____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Apabila diartikan, ngidam adalah fenomena psikologis yang terjadi pada perempuan yang sedang mengandung. Bagi ibu hamil, ngidam adalah sesuatu yang luar biasa. Keinginan itu terkadang tidak rasional dan terkadang terkesan mengada-ada. Menurut sebagian orang keinginan seorang istri yang sedang ngidam merupakan ujian bagi suaminya.

Memenuhi permintaan perempuan ngidam berarti menunjukkan kasih sayang kepadanya, dan juga sebaliknya. Bahkan jika keinginannya tidak dipenuhi, sebagian masyarakat percaya hal itu berdampak pada calon bayi yang ada dalam kandungan. Karena itulah bagi seorang suami diharuskan bisa memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam. Bahkan keharusan memenuhinya selama tidak membahayakan dan tidak melanggar norma syariah. Terlebih ketika yang diidamkan adalah sebagian dari kewajiban suami, seperti nafkah sehari-hari.

Namun dalam pandangan syariat, memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam itu bukanlah suatu kewajiban, namun sebatas anjuran. Syekh Sulaiman Al-Jamal mengutip pendapat imam ar-Ramli demikian:

يَنْبَغِي أَنْ يَجِبَ نَحْوُ الْقَهْوَةِ إذَا اُعْتِيدَتْ وَنَحْوُ مَا تَطْلُبُهُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ مَا يُسَمَّى بِالْوَحَمِ مِنْ نَحْوِ مَا يُسَمَّى بِالْمُلُوحَةِ إذَا اُعْتِيدَ ذَلِكَ

Sebaiknya suami menuruti kebiasaan istri, misalkan istri penyuka kopi. Begitu juga sebaiknya menuruti selera istri ketika mengalami sesuatu yang dikenal dengan istilah ngidam seperti halnya ketika menginginkan yang asam-asam sebagaimana yang menjadi adat kebiasaan.”[1]

Memang tidak ada dalil yang mewajibkan seorang suami memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam sebagaimana tidak adanya pelarangan untuk memenuhinya pula. Akan tetapi mempertimbangkan kepayahan perempuan yang hamil, tentunya pemenuhan itu bisa menjadi dukungan moral tersendiri bagi istri yang sedang hamil. []waAllahu a’lam


[1] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal, IV/490

Hukum Menghadiri Resepsi Pernikahan

Salah satu dasar hukum perintah untuk menghadiri walimah atau resepsi pernikahan adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Umar RA. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

Jika salah satu dari kalian diundang dalam acara walimah, maka hendaklah mendatanginya.” (Muttafaq ‘Alaih)[1]

Hadis di atas menunjukkan hukum wajib untuk menghadiri undangan Walimatul Urs. Berbeda dengan walimah-walimah lain yang hukum mengahadirinya adalah sunah. Akan tetapi, kewajiban ataupun kesunahan untuk menghadiri acara tersebut terikat dengan beberapa syarat:

Pertama, mendapatkan undangan secara khusus terhadap orang tertentu. Baik melalui ucapan lisan ataupun undangan media tulisan. Sehingga apabila undangan bersifat umum atau tidak tertentu pada orang yang dituju secara khusus, maka tidak memiliki keharusan untuk menghadirinya.

Kedua, tidak terdapat kemungkaran. Apabila di tempat acara pernikahan terdapat kemungkaran yang tidak mungkin untuk dihindari, misalkan percampuran antara laki-laki dan perempuan, pertunjukan hiburan yang diharamkan maka hukum menghadirinya tidaklah wajib.

Ketiga, tidak ada halangan. Apabila seseorang yang diundang terdapat halangan atau udzur yang dapat mencegah dirinya untuk menghadiri acara pernikahan, maka diperbolehkan baginya untuk tidak menghadirinya. Salah satu contoh udzur tersebut ialah sakit.[2]

Bagaimana Jika Berpuasa?

Jika menghadiri acara Walimatul ‘Urs dalam keadaan berpuasa, maka tetap harus menghadirinya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim RA:

إِذَا دُعِيَ اَحَدُكُمْ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُجِبْ

Apabila salah satu dari kalian diundang, sementara ia dalam keadaan berpuasa maka tetaplah ia mendatanginya.”

Dengan menghadiri acara pernikahan, secara otomatis seseorang yang berpuasa tetap akan dihadapkan dengan suguhan makanan. Maka dalam keadaan seperti ini, ada dua pemilahan;

Pertama, ia tetap berpuasa dan hanya mendoakan. Sesuai hadis Rasulullah SAW:

ذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ، وَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ

Apabila seseorang dari kalian diundang makan, maka penuhilah undangan itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka makanlah (hidangannya). Tetapi jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendoakan (orang yang mengundangnya).”

Kedua, boleh membatalkan dan ikut makan. Untuk opsi yang kedua ini ditujukan apabila puasa yang dilakukan adalah puasa sunah dan apabila ia tidak memakannya maka akan menyinggung perasaan pihak yang mengundang. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

إِذَادُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, hendaknya dia memenuhinya. Apabila ia menghendaki, maka ia akan memakannya atau meninggalkan (makanan)nya.”[3]

[]waAllahu A’lam

 

_______________________

[1] Syarah Al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, III/296, al-Haromain.

[2] Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairoh, III 297-299.

[3] Syarah An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, V/153.

Analisa Hukum dan Hikmah Pernikahan

Menurut UU No.1 tahun 1974 pasal 1, perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut terminologi syariat, perkawinan atau pernikahan diartikan sebagai akad yang mengandung hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga antara wanita dan pria.[1]

Begitu banyak senandung ayat al-Qur’an dan untaian kalam al-Hadis yang menjelaskan tentang pernikahan, karena agama islam sangat menganjurkan kepada umatnya yang sudah mampu untuk segera melaksanakannya. Salah satunya, dalam al-Qur’an Allah SWT telah berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi”. (QS. An-Nisa’: 3).

Nabi Muhammad SAW juga mengatakan dalam hadisnya:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mencapai usia nikah, maka menikahlah.  Karena yang demikian itu lebih menjaga pandangan mata dan kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah. Karena itu menjadi penyembuh”.[2]

Hukum Pernikahan dalam Islam

Mayoritas ulama fikih (Jumhur al-Fuqoha’) ketika membahas tentang hukum pernikahan tidak pernah menetap dalam satu rumusan hukum. Mereka mengatakan bahwa hukum pernikahan itu bersifat kondisional, artinya dapat berubah menurut situasi dan kondisi seseorang serta permasalahan yang dihadapinya. Jika dilihat dari segi situasi, kondisi orang yang melaksanakan pernikahan, tujuan dari pernikahan dan permasalahannya, maka melaksanakan suatu pernikahan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnah, haram, makruh ataupun mubah.[3]

Pertama ialah Wajib. Menikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang jika ia dalam keadaan mampu secara finansial dan ia sangat beresiko masuk ke dalam perzinaan apabila tidak diantisipasi dengan jalan menikah. Di sisi lain, menjaga diri dari lembah perzinaan adalah wajib, maka hukum nikahnya juga menjadi wajib.

Kedua, ialah Sunnah. Menikah menjadi sunnah hukumnya bagi seseorang yang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan, baik dari segi finansial, mental, ataupun yang lainnya.

Ketiga, ialah Haram. Hukum pernikahan menjadi haram bagi seseorang jika ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, serta nafsunya pun tidak mendesak. Selain itu, ada tujuan negatif dari pernikahannya menjadikan hukum pernikahannya menjadi haram.

Keempat, ialah Makruh. Hukum pernikahan menjadi makruh bagi seseorang yang tidak memiliki rasa dan keinginan untuk menikah.

Kelima, ialah Mubah. Hukum pernikahan menjadi mubah atau boleh bagi seseorang jika ia berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah.

Hikmah Menikah

Sebagaimana telah diketahui, syariat menganjurkan adanya hukum perkawinan tidak pernah terlepas dari hikmah yang ada di dalamnya. Pernikahan sangat dianjurkan tak lain karena semua itu demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Diantara kemaslahatan itu ialah:

Pertama, agar manusia memperoleh keturunan. Bahkan hal inilah yang menjadi tujuan utama perintah pernikahan. Melalui pernikahan maka akan menghasilkan lahirnya generasi baru, generasi penerus perjuangan dalam membumikan syariat. Maka kelahiran merupakan sebuah keniscayaan untuk menjawab melanjutkan estafet perjuangan.[4] Nabi SAW pernah bersabda:

عن أنس بن مالك قال : كَانَ رسول الله صلّى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا ويقول : تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ , إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari sahabat Anas bin Malik RA, ia berkata: “Dahulu Rasulullah SAW selalu memerintahkan kami untuk menikah dan beliau sangat melarang kami untuk membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita yang penuh kasih sayang dan subur. Karena sesungguhnya pada hari kiamat kelak, aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan jumlah kalian yang banyak.”[5]

Kedua, sebagai upaya penyaluran hasrat biologis secara benar dan sah. Hasrat biologis merupakan sebuah keniscayaan yang apabila tidak disalurkan secara benar berakibat timbulnya perilaku seksual yang menyimpang. Sehingga adanya syariat nikah sesungguhnya bertujuan menjaga dan memelihara nilai-nilai kemanusia sekaligus menjaga dari bahaya penyakit berbahaya. Rasulullah SAW telah mengatakan dalam salah satu hadisnya:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang  berbahaya atas kaum lelaki daripada fitnah kaum wanita.”  (HR. Imam Bukhari)[6]

Ketiga, untuk menemukan ketenangan jiwa. Dalam kehidupan keluarga, keberadaan istri dan anak merupakan orang-orang terkasih, tempat sandaran jiwa. [7] Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS.  al-A’raf: 187)

[]waAllahu a’lam

 

 

__________________

[1] Mughni al-Muhtaj, IV/200.

[2] Shahih Bukhari, III/7.

[3] Hasyiyah al-Jamal, IV/44, cet. Darul Fikr.

[4] Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, II/4, Darul Fikr.

[5] Shahih Ibnu Hibban, IX/338.

[6] Shahih Bukhari, VII/8, Maktabah Syamilah.

[7] Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, II/5, Darul Fikr.

Bahtsul Masail Shughro ke-4 PP HMQ

LirboyoNet, Kediri—Pernikahan lintas agama, jika memang terjadi, akan mengundang permasalahan segudang. Karenanya, untuk pernikahan jenis ini, celah di dalam ranah fikih pun demikian sempit, jika enggan mengatakannya tertutup samasekali.

Bahtsul Masa-il Shughro Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ) yang terlaksana Jumat (04/11) kemarin tertarik untuk mengupas beberapa diantara masalah itu. Akan terjadi dilema, ketika di dalam satu keluarga terdapat beberapa keyakinan yang dianut. Contohnya, ketika sang ayah yang muslim, meninggal, sementara keluarga menghendaki cara pemakaman non-islam, apa yang seharusnya dilakukan? Tentu, mempertahankannya, dan memaksa untuk tetap memakamkannya secara muslim. Tapi, bagaimana jika yang bisa mempertahankan hanya sang bungsu yang lemah, dan memilih mengalah?

Permasalahan ini, dan beberapa permasalahan lainnya, menjadi bahan diskusi bagi 70-an santri putri se-Karesidenan Kediri. Terselenggara di aula pondok, diskusi ini terbagi menjadi dua sesi (jaltsah): jaltsah ula dilaksanakan pagi, dan jaltsah tsaniyah terlaksana sore hari.

Bahtsul masail yang terlaksana ke empat kalinya ini dihadiri oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, sang pengasuh, dan beberapa dzuriyah lain yang berlaku sebagai mushahih (pengesah hasil diskusi).

Hasil bahtsul masail bisa didownload di sini.

Hukum dan Tips Pre Wedding

Langsung saja.
Admin yang terhormat. Mohon maaf jika pertanyaan ini mengganggu aktivitas Anda dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih jika pertanyaan ini nanti dijawab.

Begini, beberapa bulan lagi kebetulan saya mau melangsungkan akad pernikahan sekaligus dengan resepsinya. Saya ingin tahu, sebenarnya bagaimana sih hukum membuat foto pre wedding itu. Karena terus terang, keluarga besar seakan menuntut agar di kartu undangan nanti ada foto kami berdua.

Salam hormat saya, Ratna Kusbiantoro

Admin- Mbak Ratna yang Kami hormati, terima kasih juga atas kunjungan Anda pada website Kami. Mudah-mudahan apa yang ada dalam website ini bermanfaat bagi Admin dan juga para pembaca.

Mbak Ratna, dari cerita Anda tentang tuntutan dari keluarga besar tersebut , menjawab rumor bahwa dewasa ini dikesankan “lebih wah” jika dalam undangan apapun (terlebih pernikahan) terdapat foto si pengundang. Terlebih, foto itu dibuat dengan konsep yang unik dan dengan background yang menarik. Hal ini tentunya akan menjadi suatu sensasi tersendiri.

Terkait pertanyaan tentang bagaimana hukum membuat foto pre wedding, itu harus diperinci atau ditafsil, mbak. Karena memang proses pembuatan foto melibatkan kedua calon mempelai dan juga fotografer.

Pertama, bagi calon mempelai, hukumnya haram jika terdapat ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), terjadi kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Dan kedua, hukum untuk fotografer adalah tidak boleh, karena hal itu menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan.

Meskipun jawabannya demikian, kiranya Anda perlu melakukan sedikit usaha lebih agar disamping berjalan sesuai agama, Anda juga bisa memenuhi tuntutan keluarga. Itu juga jika memang Anda masih ingin memenuhi tuntutan keluarga besar.

Hal yang perlu dilakukan adalah, Anda sebisa mungkin harus merayu keluarga supaya waktu akad nikah dimajukan. Setelah Anda resmi sebagai suami istri, Anda bisa membuat foto pre wedding. Selain itu, diusahakan fotonya jangan direkayasa dan nanti pada undangan Anda cantumkan tanggal akad nikahnya agar tidak menimbulkan penilaian negatif masyarakat.

Mungkin hanya itu, mbak. Semoga kita selalu dalam rahmat Allah SWT. Untuk referensinya bisa dilihat pada: Hasyiyyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Is’adurrafiq vol. II hal. 67, I’anah Al-Tholibin vol. I hlm. 272, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab vol. IV hlm.484, Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 199-200, Is’ad Al-Rofiq vol. II hlm. 50, Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim hlm. 59-60, dan Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 126.