Tag Archives: pilpres

Khotbah Jumat: Menjalin Kerukunan

أَلْحَمْدُ للهِ خَالِقِ الْخَلَائِقِ وَ بَاسِطِ الرِّزْقِ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّهُ الرَّزَّاقُ أَبْدَعَ الْمَصْنُوْعَاتِ بِلَاشَرِيْكٍ وِلَامُشَاقِق فَسُبْحَانَ مَنْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْحَقَائِقِ  أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ مُؤْمِنٍ صَادِقٍ وَ أَشْكُرُهُ وَالشُّكْرُ لِحِفْظِ نِعَامِهِ أَوْثَقَ الْوَثَائِقِ وَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإله إِلَّاالله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ أللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِى الْفَضْلِ وَ السَّوَابِقِ فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Di antara ibadah yang utama adalah menjaga rasa persaudaraan, mengapa demikian? Karena, sungguh, rasa permusuhan akan berdampak pada ketenangan jiwa dan raga kita. Jiwa kita akan menjadi tidak tenang jika kita memelihara rasa permusuhan, pikiran kita akan tersibukkan oleh hal-hal yang sebenarnya biasa-biasa saja andai tidak ada rasa permusuhan tadi. Begitu pula dengan raga kita, sifat tenteram kita akan selalu merasa dihantui oleh pihak-pihak yang kita sangka akan berniat buruk pada kita.

Dari itu saja, sejatinya kita sudah bisa memahami tentang pentingnya rasa persaudaraan yang menjadi penunjang penting dalam ketenteraman dan keamanan hidup serta ibadah kita. Sampai saat ini, perbedaan masih menjadi momok yang sering kali menimbulkan hal-hal yang bersifat perpecahan. Padahal Allah swt, telah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 13:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jemaah Jumat Yang dirahmati Allah..

Pemilihan telah usai, adanya perbedaan diantara kita yang mencuat saat pemilihan yang lalu, hendaknya segera kita sudahi. Mari kita saling membuka hati dan menghilangkan hal-hal tak perlu yang menjadi sekat persaudaraan diantara kita. Karena siapa pun nantinya yang terpilih adalah hasil itikad baik dari kita semua.

Demikianlah perbedaan yang ada, dan dalam segala hal hendaknya dijadikan bahan dan tambahan wawasan bagi kita untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Allah swt. berfirman:

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ

Artinya: “Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lomba lah berbuat kebajikan.” (QS. al-Maidah: 48)

Dalam firmannya, Allah swt. Menyatakan bahwa perbedaan ada untuk menguji sejauh mana kita mampu menghayatinya dan menjadikannya jalan untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Semoga saja, berbagai macam perbedaan yang tengah mengemuka ini, tidak memudarkan rasa persaudaraan yang sudah sekian lama mengakar itu.

Jemaah Jumat Yang dirahmati Allah..

Marilah kita sikapi hasil penyelenggaraan bagian demokrasi kita ini dengan dewasa dan tetap menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Karena bagaimana pun juga

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الْاَمِنِيْنَ, وَأَدْخَلَنَاوَاِيَّاكُمْ فِى عِبَادِهِ الصَّالِحِيْن

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah Kedua

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Gus Dur dan Peran Dramatis Kyai Idris

Saat Muktamar NU 29 di Cipasung Tasikmalaya, orde baru masih sangat perkasa dan karena ketidaksukaan penguasa kepada Ketua Umum PBNU saat itu yaitu Gus Dur, dalam muktamar ini penguasa ingin figur lain untuk menjadi ketua, banyak kyai yang dianggap bisa menyaingi Gus Dur ditawari bahkan dipaksa untuk mau mencalonkan diri tapi menolak.


Akhirnya bersedialah seseorang yang bernama Abu Hasan yang kemudian disokong penuh oleh penguasa dengan dana dan intimidasi.
Di tengah kekalutan dan intimidasi serta iming-iming uang di arena muktamar banyak ketua PCNU yang goyah.


Di saat itulah almarhum KH. A. Idris Marzuqi bergerilya menemui segenap alumni Lirboyo yang menjadi pengurus NU di daerah-daerah agar jangan takut intimidasi dan tetap memilih Gus Dur sebagai Ketum PBNU.


Bahkan Mbah Idris sampai menyamar dengan memakai celana dan kaos serta topi agar tidak tercium oleh oknum berambut cepak yang berseliweran di arena muktamar. Dan akhirnya Gus Dur terpilih kembali secara dramatis dan menegangkan.


Semenjak itu, keakraban Gus Dur dengan Mbah Idris semakin terjalin dan setiap kali ke Jawa Timur pasti Gus Dur menyempatkan untuk silaturrahim ke Lirboyo bahkan memenuhi permintaan Mbah Idris untuk menempatkan muktamar NU di Lirboyo. Mbah Idris pun diminta untuk ikut menjadi syuriah PBNU, bahkan ketika gus Dur mendirikan PKB tak ketinggalan Mbah Idris dijadikan salah satu ketua.


Semoga kita para santri beliau bisa meneladani dalam kepedulian dan perjuangan beliau dalam “ngopeni” umat dalam wadah NU.
Dua malam yang lalu memperingati Haul beliau yang ke-5. Lahumal Faatihah


رب فانفعنا ببركتهم # وأمتنا في طريقتهم

واهدنا الحسنى بحرمتهم # ومعافاة من الفتن

Penulis: Agus H. Ibrahim A. Hafidz

Berdamai Dengan Perbedaan

‘Bedo silit bedo anggit’, begitu pepatah Jawa mengatakan, atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Beda pantat beda pendapat’. Setiap orang memiliki cara berfikir dan ending mengambil keputusan bagi pertimbangan opininya masing-masing, tentu saja hal ini terjadi karena asupan pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri seseorang tidak sama antar satu dan yang lainnya. Sehingga, untuk mengomentari-misalkan- satu objek yang sama pun pasti terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya.

Dan karena perbedaan adalah suatu keniscayaan, sehingga dalam menyikapi perbedaan pun akan timbul pula perbedaan. Itulah sifat hidup yang tidak bisa kita pungkiri dan hindari, bahkan dalam hal yang urgen pun, semisal sariat Islam, para ulama tidak jarang yang saling berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, fenomena yang mengemuka dihadapan kita seringkali terkesan seolah-olah perbedaan adalah barang haram yang wajib ditumpas, lantas terjadilah usaha-usaha saling menjatuhkan antar kubu-kubu yang berbeda itu. Bahkan tidak jarang, terlontar dengan cara-cara yang tidak apik semisal mencela, mengumpat, menghina atau pun semacamnya. Tentu saja, motivasi terbesarnya adalah agar apa yang diyakini dan ugemi menjadi yang paling unggul diantara yang lainnya.

Sangat maklum tentunya, jika kita sebagai seorang yang waras memiliki naluri untuk unggul dari yang lain, unggul dari segi kelompok, pribadi, prestasi dan lain-lainnya. Namun menjadi bahaya jika cara-cara yang dilakukan adalah dengan cara-cara tidak baik sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu mencela, menghina atau merendahkan pihak lain; yang sebenarnya dampak dari cara-cara demikian malah akan berbalik pada yang memulai. Sebagaimana analogi yang disampaikan nabi dalam sabdanya tatkala menerangkan diantara dosa-dosa besar,

 إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sunggu diantara dosa terbesar adalah seseorang yang melaknat kedua orang tuanya sendiri, Beliau ditanya; ‘Bagaimana mungkin seseorang tega melaknat kedua orang tuanya sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu si pelaknat.” (HR. al-Bukhari)

Tarulah analogi ini dalam konteks kepemimpinan -misalnya-, maka jika ada seseorang yang mencela pemimpin orang lain, pada hakikatnya ia sedang mencela pemimpinnya sendiri, atau setidak-tidaknya, membuka pintu bagi pemimpinnya untuk dicela, sebagai balasan atas celaan yang dilontarkannya. Di sinilah kita diajari oleh nabi bahwa merendahkan orang yang berbeda dengan kita bukanlah solusi agar kita menjadi yang terbaik diantara yang lainnya.

Oleh karenanya, sudah semestinya bagi setiap orang untuk berusaha mendamaikan atau membiasakan dirinya dengan perbedaan-perbedaan yang mengemuka di sekitarnya, agar perbedaan itu tereksploitasi menjadi khazanah hidup yang dapat dinikmati, bukan justeru menjadi benalu dalam tata kehidupan sosial yang ada.
waAllahu a’lam.(IM)

Khutbah Jumat: Tipe Amalan Yang Paling Dicintai Allah Swt.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَفَوْزًا عَظِيْمًا

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan menjauhi  tiap-tiap larangannya dan menjalankan sekuat mungkin segala perintahnya. Karena tidak lain dari tujuan hidup dan penciptaan kita hanyalah semat-mata untuk beribadat. Allah swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memiliki pendirian yang teguh dan sikap istikamah dalam beribadat. Sebagaimana kita rasakan bersama, bahwa kondisi dan tantangan hidup begitu bermacam-macam dan beragam. Mungkin Hari ini kita dalam keadaan lapang, namun esok mungkin pula keadaan sebaliknya yang terjadi.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Ibadat merupakan hal yang amat pokok dalam hidup kita. Banyak sekali hal-hal kecil atau pun besar yang tampaknya biasa saja, namun sebenarnya bisa kita jadikan sarana untuk beribadat semisal; menyapu, makan, minum, tidur dsb. Lebih-lebih ibadat yang telah jelas bentuknya. Namun dari itu, ada satu hal penting yang hendaknya kita jadikan jalan dalam ibadat kita kepada Allah swt. Istikamah. Ya, hendaknya ada ibadat-ibadat tertentu yang kita jadikan kebiasaan dalam sehari-hari. Sekecil apa pun, hendaknya ada amalan-amalan yang kita lakukan secara istikamah. Baginda Nabi bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”(HR. Bukhari Muslim)

Demikian baginda Nabi telah membocorkan pada kita bahwa termasuk kategori amal yang dicintai Allah adalah amalan-amalan yang rutin dilakukan. Meskipun hal itu terkesan kecil atau pun ringan. Maka mulai saat ini, mari kita cari dan lakukan amalan apa yang kira-kira bisa kita lakukan dengan rutin.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Selain dicintai oleh Allah, amalan yang rutin juga bisa sekaligus melatih diri kita agar bisa istikamah dalam berbagai hal lainnya. Karena sebagaimana kita sadari, istikamah bukan hanya penting dalam kaitannya beribadah saja, melainkan menyeluruh dalam berbagai hal dan kegiatan lainnya.

Dan yang terpenting, semoga kita diberi keistikamahan dalam beriman dan beribadat kepada Allah swt. dan termasuk dalam golongan yang Allah swt. firmankan dalam surat fusshilat ayat 30-32:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ  نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istikamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan balasan surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Kami lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam surga itu kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Di Antara Dua Kesibukan

Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Said (julukan Hasan al-Basri), di balik tiang itu ada seorang pria yang selalu duduk menyendiri dan enggan bergabung dengan yang lainnya.”

Wahai hamba Allah, aku melihatmu suka menyendiri, apa yang menghalangimu untuk bergaul dengan yang lain?” tanya Hasan al-Basri seraya menghampiri orang tersebut.

Ada satu hal yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat”.

Apakah perkara yang juga membuatmu tak sempat mendatangi Hasan al-Basri dan duduk bersamanya?

Iya, aku memang memiliki satu urusan yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat dan juga tak sempat mendatangi Hasan al-Basri.”

Apa itu?

Setiap hari aku berada di antara dua hal, nikmat dan dosa. Maka kuputuskan untuk menyibukkan diri dengan dengan mensyukuri nikmat dan memohon ampun atas dosa yang telah aku lakukan.” Jawabnya.

Wahai Hamba Allah, sungguh engkau lebih alim dari Hasan al-Basri, pertahankanlah keadaanmu yang demikian ini.” pungkas Hasan al-Basri.

 

_______________

Disarikan dari kitab Raudlatur Rayyan Fii Hikayah as-Shalihin, hal. 183, cet. Maktabah At-Tauqifiyah.