Tag Archives: Pondok Pesantren

Daurah Ilmiah Syeikh Awad Karim al-Aqli

LirboyoNet, Kediri – Kamis malam Jumat (12/03) Acara Daurah Ilmiah oleh Syeikh Awad Karim al-Aqli dimulai pukul 21:30 wib di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Masyayikh lirboyo beserta dzuriyah dan para santri turut hadir dalam acara tersebut.

Sebelum menuju Aula al-muktamar, Syeikh Awad Karim al-Aqli bersama masyayikh dan dzuriyah hadir dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 100 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri.

Beliau berpesan kepada para santri, sesuai dengan pesan guru beliau. Para santri agar melakukan 3 perkara. Pertama, apabila bertemu dengan syeikh yang punya sanad, mintalah untuk mengaji. Kedua, jika tidak bisa, kita meminta kepada beliau sebuah ijazah. Ketiga, jika tidak bisa, kita meminta sekedar doa.

Beliau berpesan kepada seluruh santri bahwa, “Jangan pernah meremehkan ijazah, karena dengan ijazah lah kita bisa bersambung dengan Nabi Muhammad SAW. Alangkah bahagianya orang yang bisa mendapatkan wasilah sampai kepada Nabi Muhammad SAW.”

Ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang kita tidak tahu, maka jawablah tidak tahu. Bukan dengan merasa tahu.

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ࣖ – الكهف : ۱۷

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Jika ingin dapat hidayah, carilah seorang mursyid. Carilah tempat bertaubat. Bukan hanya menunggu.

 أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruk lah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”. [HR al Bukhari dan Muslim].

Acara selesai pukul 22.52 Wib, diakhiri dengan doa penutup dan foto bersama.

Baca juga : Meneguhkan Toleransi Menuai Kontroversi

Ikuti Pondok Pesantren Lirboyo

Doa Penghapus Siksa

Ibnu Abid Dunya menuturkan, suatu hari seseorang penduduk Madinah meninggal dunia. Salah seorang temannya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi laki-laki itu muncul dengan kondisi mengkhawatirkan seolah ia termasuk ahli neraka. Setelah itu, ia kembali tenggelam dan tiada.

Tidak lebih dari satu jam kemudian, ia muncul lagi dalam wajah yang berseri, kini dia tampaknya sudah menjadi ahli surga. Lalu ditanyakan kepadanya, “Bukankah tadi kau bilang bahwa kau termasuk penghuni neraka?” Orang itu menjawab, “Ya, namun beruntung aku dikuburkan di samping kuburan orang-orang saleh dan dia mendoakan empat puluh mayat lainnya di sampingnya, dan aku salah satunya.”

Ahmad bin Yahya juga bercerita: Suatu hari saudaraku meninggal dunia. Aku bermimpi bertemu dengannya. Aku bertanya, “Bagaimana keadaanmu ketika berada di dalam kuburan?” Ia menjawab, “Pertama kali aku didatangi panah api yang menyala-nyala. Kalaulah tidak ada keluargaku yang mendoakanku, tentu anak panah api itu akan menembus tubuhku,” (HR Ibnu Abid Dunya).

Imam Hasan al- Basri bertutur bahwa dahulu ada seorang perempuan disiksa dalam kuburnya. Semua orang saat itu bermimpi  melihatnya disiksa. Tidak lama setelah itu, orang-orang juga kembali bermimpi bertemu dengannya, tapi kini ia sudah tersenyum ceria karena mendapatkan nikmat kubur.

Ketika ditanya, wanita itu menjawab, “Suatu hari seorang laki-laki melewati kuburan  kami, ia membaca surat al-Fatihah serta shalawat, lalu ia menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada kami, sementara di areal pekuburan tersebut  terdapat 560 mayat yang sedang disiksa. Setelah laki-laki  menghadiahkan bacaan  tersebut, tiba-tiba terdengar suara, ‘Lepaskan mereka dari siksa kubur, lantaran berkah shalawat laki-laki itu kepada Rasullulah saw.” (HR Ibnu Abid Dunya).

*Disarikan dari buku Setan Pun Hafal Ayat Kursi (Aep Saepulloh Darusmanwiati, M.A.)

Dawuh KH. An’im Falahuddin Mahrus : Pentingnya Wawasan Kebangsaan

Pada awal berdiri pondok Lirboyo terkenal dengan ilmu nahwu shorof, yang mana sudah menjadi tirakatnya Mbah Yai Abdul Karim ketika menimba ilmu di Bangkalan. Beliau dengan sungguh-sungguh mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang mana konon ceritanya yang pertama kali membawa kitab Al fiyah Ibnu Malik ke Tanah Jawa yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Maka dari itu awal-awal Pondok Pesantren Lirboyo sampai tahun delapan puluh terkenal nahwu shorofnya, kemudian mulai tahun era delapan puluh Lirboyo mulailah berkembang terkenal dengan ilmu fikihnya, dengan aktifitas lembaga bahtsul masail aktifis-aktifis ini bisa membawa nama harum Pondok Pesantren Lirboyo dalam penguasaan ilmu fikihhnya.

Nah, akhir-akhir ini Pondok Lirboyo yang ikut memperhatikan perkembangan di tengah-tengah masyarakat. Setelah terjadinya reformasi rupanya beberapa aliran, beberapa aqidah, beberapa idiologi bebas berkembang, termasuk diantaranya ancaman terorisme dan Islam garis keras.

Maka dari itu Pondok Lirboyo mensikapinya dengan menulis buku tentang wawasan kebangsaan, fikih kebangsaan, itulah yang menjadi tren saat ini.

Sehingga harapan Kami apa yang telah dikembangkan oleh Mahasantri Ma’had Aly tentang pemahaman empat pilar kebangsaan yang terdiri dari: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Harus tetap dipertahankan. Karena  pemahaman empat pilar ini sangat diperlukan, bukan hanya sekedar seremonial belaka, yang pada ujung-ujungnya di zaman orde baru hanya untuk menguatkan rezim. Dan untuk saat ini benar-benar dibutuhkan pemahaman yang sungguh-sungguh dan mengamalkanya tentang empat pilar ini.()

*Disampaikan saat Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo 14 juli 2019 M. di aula Al Mu’tamar.(TB)

Kenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

“Memang sedikit tabu ketika kita berbicara tentang dunia digitalisasi di dunia pesantren,” ucap Yatimul Ainun, S.sos.I. selaku pembicara acara siang tersebut membuka materinya di hadapan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. “Tapi anggapan itu sudah kuno, kini sudah saatnya kaum sarungan (santri) menguasai dunia digital. Sudah bukan waktunya lagi kita selalu dicibir, selalu di olok-olok dan selalu di habisi di dunia maya, karena kita dinilai gaptek

Beliau melanjutkan, “Berbicara soal ketahanan informasi Nasional. Saat ini diakui atau pun tidak, penghuni negeri yang kita cintai ini dalam tanda kutip sedang menderita sakit, karena sedang sakit maka harus didatangkan obat, supaya mendapatkan ketahanan. Sebenarnya jenis penyakitnya terlihat seperti baru datang secara digitalisasi. Akan tetapi pada subtansinya ini penyakit lama yang sekarang sudah menjadi akut di negeri kita ini yaitu hoax.

“Kenapa penyakit ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan berdampak berubahnya pola pikir kita dan masyarakat secara umum.

“Maka dari itu bahaya derasnya banjir informasi saat ini sudah tidak terpusat lagi pada media mainstream (arus utama) seperti media online, media cetak, televisi, radio dan media mainstream lainya. Akan tetapi saat ini rujukan seseorang yaitu sesuatu yang pertama kali diunggah di media sosial, dan itu langsung dianggap benar.

“Apalagi ketika kita berbicara soal pesantren, berbicara soal Nahdlatul Ulama secara umum, kini memiliki tantanganya yang cukup besar. Maka kita sebagai warga Nahdlatul Ulama kini bukan hanya harus menguasainahwu dan shorof, bukan hanya menguasai mantiq dan balaghoh. Akan tetapi juga harus menguasai jejak digital kita, menguasai teknologi sesuai perkembangan globalisasi dan menjadi sangat penting untuk saat ini.

“Nah, karena kondisi sekarang yang demikian ini maka terbangunlah era post truth (membangun hoaks dan kebohongan dengan terus menerus sehingga akhirnya dipercayai). Rekam jejak kita sudah menumpuk di Google karena hampir semua yang kita butuhkan lalu keluar jawabanya.” Tutur beliau.

“Dan tragisnya pula, mereka yang memproduksi hoax dibesarkan oleh kita, bukan dibesarkan oleh mereka sendiri. Kenapa demikian? Karena yang suka vidio-vidio mereka adalah kita. Setiap mereka posting sesuatu kita langsung like dan share.

“Akan tetapi publik juga kurang menemukan rekam jejak yang positif. Kenapa? Karena mayoritas yang diunggah dan disukai oleh publik adalah hal-hal yang negatif. Publik post truth suka dengan sensasional dan emosional. Dan tidak jarang NU selalu tampil untuk menjadi pendingin dan pereda pada isu yang sensasional dan emosional.

“Maka kita harus ketemu konsepnya yaitu satu berita negatif harus dilawan seribu berita positif.”

Karena saat ini hanya tiga sosok pemuda yang mampu bertahan, yakni pemuda yang kreatif, inovatif, dan yang terakhir yaitu sosok pemuda yang produktif. Sosok-sosok inilah yang dibutuhkan di era milineal seperti sekarang ini. Karena di era post truth orang tidak mencari kebenaran, tetapi mencari afirmasi, konfirmasi, dan dukungan terhadap keyakinan yang dimilikinya.(TB)

Ketika Mahasantri Lirboyo Mengajar Santri Papua

LirboyoNet, Bogor-Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo terus berlanjut hingga saat ini. Program yang menjadi salah satu syarat  Mahasantri sebelum di Wisuda. Dan untuk pada  tahun ini adalah tahun kedua Ma’had Aly Lirboyo mengirimkan Mahasantri Semester 7-8 menjadi guru bantu di Pondok Pesantren Daarur Rasul.

“Pondok Pesantren Daarur Rasul berdiri pada tahun 2004. Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren ini bermula dari seorang Kyai asal Bogor yang bernama KH. Ahmad Baihaqi yang tak lain adalah salah satu murid KH. Ma’sum Jauhari yang merupakan salah satu Masyayikh Lirboyo yang biasa di kenal dengan sebutan Gus Maksum. KH. Ahmad Baihaqi  telah melakukan dakwah sejak 1994 di Pulau Papua. Dari dakwahnya tersebut  tidak sedikit orang tua yang ingin anaknya mengenyam pendidikan agama Islam secara mendalam, hingga akhirnya beliau membawa anak-anak  dari papua tersebut ke Tanah Jawa untuk diajarkan agama Islam dan Pendidikan umum.”  Terang Abdurrohim Mahasantri Asal Brebes.

“Pondok pesantren yang semua santrinya orang papua ini, mempunyai kegiatan-kegiatan yang tak jauh berbeda dengan pesantren yang ada di indonesia pada umumnya. kegiatan dimulai dengan bangun pagi pukul 04:00 kemudian membaca wiridan sambil nunggu waktu shalat  subuh. Setelah shalat subuh membaca wirid wirdu latif sampai waktu duha, kemudian sarapan pagi.”  Terang Syarif Hidayatullah Mahasantri asal Sragen.

“Tepat Pukul 07:00  semua santri diwajibkan untuk mengikuti sekolah umum. Semua kegiatan pondok selesai sampai pukul 22:00, para santri di persilahkan untuk tidur sampai pukul 04:00.” Timpal Mahbub Mahasantri asal Cianjur.

“ Dan salah satu yang menarik  dari Pondok Pesantren Daarur Rasul selain semua santrinya berasal dari papua, pondok pesantren ini juga tidak memungut  biaya sama sekali.”  Terang Mahbub.

Semoga semua delegasi guru bantu yang disana bisa bermanfaat dan dimudahkan segala urusanya. (TB)