Tag Archives: Pondok

Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Kamis malam Jumat (27/06) ribuan santri putra dan putri menghadiri acara Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dimulai setelah maghrib itu diawali dengan membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani bersama hingga pukul sepuluh malam.

Silah (hubungan) kita dengan wali-wali Allah adalah dengan cara Manaqiban”, tutur KH. Melvin Zainul Asyiqin Imam dalam sambutan beliau. Dalam artian, semua hal yang ada di dunia ini selalu membutuhkan sebuah koneksi dengan orang-orang alim, terlebih dengan para Wali dan Nabi Allah Swt, Silah kita kepada nabi tidak lain adalah dengan membaca sholawat sebanyak-banyaknya.

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Perintah Rasulullah untuk para pelajar.

Beliau juga berpesan kepada para santri agar menguatkan kembali tekad belajar di pesantren, terutama untuk santri-santri yang baru masuk ke pesantren.

Manaqiban menjadi acara rutinan setiap tahunnya, yang diadakan oleh yayasan al-Mahrusiyah Lirboyo.

Acara itu ditutup dengan mauidzoh hasanah dan doa yang disampaikan oleh Al-Habib Syekh bin Mustofa Ba’abud hingga pukul sebelas malam.[]

Kader Penggerak NU Siap meneruskan Perjuangan Ulama

LirboyoNet, Kediri—Untuk meningkatkan pemahaman dan pengkaderan NU, PCNU Kota Kediri, bekerjasama dengan Mahad Aly Lirboyo Kediri Jawa Timur menyelenggarkan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) angkatan III pada tanggal 4-6 April 2019 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur.

PKPNU sangat penting diikuti khususnya oleh semua Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. Pasalnya, kegiatan itu merupakan langkah konkret untuk melahirkan kader-kader NU yang berkualitas dan mampu memahami tatakelola organisasi dengan baik. Dan kegiatan PKPNU sendiri menjadi syarat kelulusan mahasantri Ma’had Aly jenjang akhir.

Malam senin (6/4/2019) merupakan malam puncak kegiatan Pendidikan Kader Penggerak (PKP) NU yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Lirboyo. Kurang lebih sebanyak 490 Mahasantri dikarantina untuk mengikuti kegiatan PKPNU. Selama tiga hari itu para peserta benar-benar dididik dengan sangat ketat mulai dari olahraga, olah pikir, dan olah dzikir.

“Ini merupakan sebuah anugerah yang patut kita syukuri bersama, bahwa sampai saat ini masyayikh lirboyo terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan secara lahir maupun batin untuk mempersiapkan para santri agar menjadi pejuang Nahdlatul Ulama khususnya saat nanti kalian berkecimpung dimasyarakat. Dan kami mewakili segenap keluarga besar pondok pesantren Lirboyo mengucapkan banyak terima kasih kepada para instruktur PKPNU pusat yang selalu komitmen terus memberikan bimbingan tiap kali diadakan PKPNU di pondok Lirboyo. Dan kami berharap kepada seluruh kader penggerak NU para mahasantri bahwa dengan nanti kalian telah di wisuda sebagai kader penggerak NU supaya betul-betul menyadari secara lahir dan batin agar benar-benar memiliki militansi untuk ‘izul islam, NU, dan ahlusunah wal jamaah an-nahdiyah.” Tutur Agus H. M Dahlan Ridlwan dalam sambutannya atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam akhir acara KH. Abdul Mun’in DZ selaku intruktur PKPNU pusat mengatakan “syukur alhamdulillah pada malam ini adalah malam yang sangat bersejarah, karena pada hari ini muncul kader-kader baru Nahdlatul Ulama yang siap untuk menggerakan NU, menjaga ASWAJA, dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Terakhir beliau bertanya, “apakah kalian siap membela NU? Apakah kalian siap meneruskan perjuangan ulama?” tanpa komando seluruh peserta seraya berteriak “siap!”.

Balai Latihan kerja (BLK) Komunitas Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri (01\09\2018) Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas yang baru dibangun setahun lalu sekarang sudah mulai digunakan sebagaimana mestinya. Pembangunan BLK ini merupakan rintisan KEMNAKER yang sudah dibangun dibeberapa persantren dan komunitas di Indonesia. Gedung yang berada di sebelah barat Pondok Pesantren Ar Risalah ini Alhamdulillah untuk pertama kalinya BLK Komunitas Pondok Pesantren Lirboyo digunakan pelatihan berbasis komputer dengan peserta awal ada 16 santri yang akan menerima pelatihan selama satu bulan.

Program rintisan KEMNAKER ini pun disambut baik oleh Pondok Pesantren Lirboyo dengan harapan supaya santri yang akan lulus dari pesantren punya sedikit wawasan yang bisa dimanfaatkan dikemudian hari. Dalam satu kesempatan Menteri Hanif Dhakiri menyatakan “workshop dan peralatan pelatihan kerja BLK Komunitas ini sangat strategis untuk memacu partisipasi lembaga pemohon dalam rangka meningkatkan kualitas SDM dan daya saing. Kedua memperluas kesempatan pelatihan kerja bagi masyarakat melalui BLK Komunitas. Program ini sangat penting karena kita ingin kaum santri di masa depan semakin kuat, semakin berperan dalam mengatasi kesenjangan, mengatasi kemiskinan yang ada di Indonesia,” katanya.

“dengan adanya program ini, kami sebagai santri disamping mengaji kitab kuning yang menjadi prioritas utama juga mempunyai pengetahuan ilmu komputer, kami yang dulunya belum begitu mahir menggunakan perangkat lunak komputer seperti Microsoft Word atau Microsoft Office Word dll, alhamdulillah sekarang sudah sedikit paham. Dan kami berharap kedepannya banyak santri-santri yang tertarik mengikuti program ini dan bisa dimaanfaatkan dikemudian hari”. Tutur Ahmad Fatoni santri asal Pandeglang Banten.

Pertemuan Ma’had Aly se- Jawa Timur

 

LirboyoNet, Probolinggo—Dua belas pemimpin Ma’had Aly se-Jawa Timur menggelar pertemuan di Probolinggo, Jumat (17/08) kemarin. Pertemuan ini dilangsungkan untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan audiensi bersama pemerintah provinsi.

Pertemuan dipimpin langsung oleh ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI), KH. Abdul Jalal. Pertemuan ini sangat penting digelar. Mengingat, para pemimpin Ma’had Aly ini sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri di tingkat Ma’had Aly.

Ma’had Aly Nurul Jadid, Paiton Probolinggo, yang menjadi tuan rumah, dan ma’had aly lainnya sedari awal bertekad untuk menjadikan ma’had aly sebagai perguruan tinggi yang kompetitif. Karenanya, agenda-agenda untuk mempererat hubungan antar ma’had aly terus digalakkan, seperti Rapat Pimpinan yang berlangsung selama dua hari ini.

Ada tiga hal yang menjadi mufakat para peserta, yakni peruntukan beasiswa bagi mahasantri (sebutan bagi santri Ma’had Aly); pengadaan infrastuktur, baik fisik dan maupun non fisik; dan pembentukan kepengurusan Mahad Aly untuk wilayah Jawa Timur. Kemufakatan ini selanjutnya akan disampaikan kepada Calon Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa dalam audiensi nanti.

Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, berpesan kepada dua belas pimpinan ma’had aly ini, dengan diakuinya Mahad Aly sebagai lembaga formal oleh pemerintah, hendaknya tidak menjadikan watak dan karakter pesantren menjadi hilang.

Dua belas pimpinan Ma’had Aly tersebut adalah: Ma’had Aly Lirboyo, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri; Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo; Ma’had Aly Nurul Qarnain, Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Jember; Ma’had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo; Ma’had Aly Nurul Qodim, Pondok Pesantren Nurul Qodim, Probolinggo; Ma’had Aly al-Zamachsary, Pondok Pesantren al-Rifa’ie 1, Kab. Malang; Ma’had Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas Pacitan; Ma’had Aly al-Fitrah, Pondok Pesantren Assalafi al-Fitrah Surabaya; Ma’had Aly Darussalam, Pondok Pesantren Darussalam, Banyuwangi; Ma’had Aly Hasyim Al-Asy’ary, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang; Ma’had Aly al-Hasaniyyah, Pondok Pesantren Daruttauhid al-Hasaniyyah, Tuban; dan Ma`had Aly Darul Ihya Liulumiddin Bangil Pasuruan.][

Bahtsul Masail Konferwil NU Jatim

LirboyoNet, Kediri- (28/07/18) Agenda yang tak kalah penting dalam rangkaian Konferwil PWNU Jatim kali ini adalah bahsul masail. Acara yang digelar menempati dua lokasi. Bertempat di Gedung LBM adalah komisi Waqiiah yang membahas berbagai permasalahan aktual. Diantara soal yang dibahas adalah terkait tayangan di salah satu stasiun televisi swasta. Meski dilaksanakan hingga dini hari, para peserta dari perwakilan PCNU se-Jatim itu tetap bersemangat  dalam mengeluarkan berbagai argumen-argumen dan analisanya.

Sedangkan komisi maudhu’iyyah yang bertempat di Aula Madrasah Baru, dini hari tadi membahas seputar kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tensi perdebatan begitu tinggi mana kala pembahasan sampai pada seberapa jauh batasan-batasan toleransi yang tidak melanggar syariat. Namun, tentu saja berbagai silang pendapat antar peserta pada akhirnya terjawab dengan uraian para perumus dan musahih yang memang sudah membidanginya.

Kedua acara yang dimulai sesaat setelah selesai pembukaan Konferwil di Aula Muktamar itu berlangsung hingga menjelang subuh. Nampak hadir sebagai mushahih  dalam komisi Waqiiyyah KH. Yasin Asmuni, KH. Mahrus Maryani, KH. Ali Maghfur Syadzili dan KH. Murtadlo Ghoni. Sementara dalam komisi Waqiiyyah ditashih oleh KH. Romadlon Khotib, KH. Muhin Aman Ali dan KH. Azizi Hasbulloh.

Tidak hanya itu, “Masalah-masalah yang sudah dirumuskan ini nantinya akan ditashih oleh jajaran Syuriah PWNU Jatim agar nantinya dapat menjembatani dan memberikan panduan kepada umat terkait hal-hal yang dibahas dalam bahsu tersebut.” Tutur Ustadz Ahmad Muntaha AM. selaku moderator acara.

Pembahasan komisi waqiiyyah pagi tadi dilanjutkan dengan pembahasan masalah kontroversi hukum wanita karir yang mengalamai masa ‘iddah, pasca ditinggal suaminya. Juga masalah terkait polemik fasilitas umum di pesantren dan tempat ibadah. Sementara komisi maudhu’iyyah pagi tadi mengkritisi pembahasan masalah terkait zakat profesi.

Untuk hasil selengkapnya, silahkan diunduh disini (komisi waqi’iyyah). [IW]