Tag Archives: prabowo

Buah Kerja Keras Iblis dan ‘Kalam Hikmahnya’

Sebuah kisah datang dari kaum legendaris di dunia, yakni Bani Israel, seorang penghamba yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdikan hidupnya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. sama sekali ia terlepas dari carut marut urusan dengan manusia, ia jengah dengan semua itu.

Suatu waktu, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup si pengabdi Tuhan ini, mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukannya menyembah Allah, melainkan pohon rindang nan besar yang dijadikan pujaan.

Mendengar tuturan mereka, sang pengabdi ini murka tak terbendung, darahnya memuncak diubun-ubun, segera ia ambil kapak miliknya, ia slempangkan ke bahunya. Benar, ia hendak pergi menebang ‘pohon sesat’ tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang tua, yang ternyata ia adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. si Pengabdi tidak tahu menahu.

hendak kemana kau akan pergi? Semoga Tuhan merahmatimu” sapa Kakek Tua sembari menebar doa.

aku akan menebang pohon ini” jawab si penghamba masih terbawa amarahnya.

buat apa kau melakukan kekonyolan ini, sedangkan kau meninggalkan aktifitas ibadah dan rutinitasmu?” si Tua menebar perangkapnya.

ini juga bentuk dari ibadahku” si Pengabdi membela diri bahwa yang ia lakukan dengan menebang pohon tersebut juga merupakan wujud pengabdiannya kepada Tuhan.

tak akan ku biarkan kau melakukannya” sanggah Iblis menantang. Si Pengabdi merasa dilecehkan, belum juga amarahnya reda ia menerjang si Tua, terjadilah pergulatan sengit. Setelah beberapa saat adu kekuatan, si Pengabdi akhirnya mampu menghempaskan tubuh si tua ke tanah. Dengan senang ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

sebentar dulu, lepaskan aku, akan ku beri kau petuah-petuah”  tanpa ada rasa curiga, si Pengabdi bangkit dari ‘tempat duduknya’

hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut”panjang sekali ‘nasihat’ Iblis ini mencoba meyakinkan agar ia mengurungkan niatnya.

namun ternyata sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si Pengabdi tersebut, tanpa mau berlama-lama mendebat kakek tua ini, ia lagi-lagi menerjang si kakek. Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tanpa daya upaya.

apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat” untuk yang kedua kalinya kakek menawarkan negoisasi.

apa itu?” si Pengabdi mulai terpancing penasarannya.

lepaskan dulu aku agar lebih nyaman kita bicaranya”  kakek memanfaatkan peluang.

Dengan mudah ia terpedaya, ia bangkit dari atas dada sang kakek. Mulailah lagi kakek menebar perangkapnya.

kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si Pengabdi mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 Dinar disisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu, bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu.” Sukses. Si Pengabdi mencerna kata perkata yang masuk menjalar ke telinganya. Ia resapi. Mencoba mencari kesimpulan.

Dalam hati ia berguma “benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.”  mantap. Ia tegaskan lagi kebenaran dari janji-jani kakek tadi. Setelah dirasa omongannya bisa dipercaya. Mereka sepakat.

Kembali ia ke petapaannya. Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambinya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan ‘pohon sesat’. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu Iblis yang menyamar jadi  kakek itu.

mau kemana lagi kau?” tanyanya tanpa beban.

akan ku tebang pohon itu ! “ bara amarah meletup dari sorot matanya.

kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si Pengabdi yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur. Kekuatannya hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada si Pengabdi ini, mengulangi perlakuannya yang dulu. Membalas.

Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga.  si Pengabdi mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih” kakek mengultimatum, membuat nyalinya keder. Penasarannya pun juga masih misteri kenpa kakek ini begitu tanggu sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa

Kakek melepaskannya. Ia bangkit.

Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah, sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanmku, namun dihari ini, kau murka karena nafsu juga karena dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku” */[ABNA]

Hukum Pemasangan Peraga Kampanye Sembarangan


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya memasang baliho atau banner kampanye di pohon, pagar, atau lahan milik orang lain tanpa seiizinnya? Apakah termasuk ghosob? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(An’im A. -Lamongan Jawa Timur.)

________________________________

Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pesta demokrasi tinggal menunggu hitungan hari. Meskipun sudah hampir mendekat masa tenang, masih banyak APK (Alat Peraga Kampanye)—baik yang berupa stiker, pamflet, banner, baliho, hingga spanduk—yang dipasang di sembarang tempat yang tidak sesuai dengan aturan dari Komisi Pemilihan Umum. Bahkan sering kali ditemukan pemasangan APK di lahan dan pagar rumah orang lain, tanpa izin pemiliknya.

Menggunakan atau memanfaatkan harta orang lain terang-terangan tanpa izin pemiliknya disebut ghasab. Ini termasuk perbuatan yang dilarang seperti halnya mencuri dan korupsi. Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini mengatakan:

فَلَوْ جَلَسَ عَلَى بِسَاطِ الْغَيْرِ أَوِ اغْتَرَفَ بِآنِيَةِ الْغَيْرِ بِلَا إِذْنٍ فَغَاصِبٌ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ الْإِسْتِيْلَاءَ لِأَنَّ غَايَةَ الْغَصْبِ أَنْ يَنْتَفِعَ بِالْمَغْصُوْبِ

Duduk di teras (perkarangan) orang lain atau menciduk air menggunakan gayung orang lain tanpa izin berarti sudah termasuk ghasab, meskipun tidak bertujuan untuk menguasai dan memilikinya. Karena tujuan ghasab adalah mengambil manfaat atas barang ghasaban.”[1]

Dengan demikian, memasang Alat Peraga Kampanye sembarangan di perkarangan atau lahan orang lain termasuk dalam kategori ghasab. Karena yangdimaksud menguasai di sini adalah penguasaan dalam sudut pandang syariat, yang mencakup memanfaatkan barang orang lain tanpa izin.[2]

Agar proses kampanye berjalan lancar dan tidak menimbulkan mudharat, alangkah baiknya masing-masing tim sukses perlu berhati-hati dalam memasang poster ataupun spanduk kampanye. []waAllahu a’lam


[1] Kifayah Al-Akhyar, vol. I hlm. 238, cet. Al-Hidayah

[2] Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khatib, vol. III hlm. 502

Khutbah Jumat: Tipe Amalan Yang Paling Dicintai Allah Swt.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَفَوْزًا عَظِيْمًا

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan menjauhi  tiap-tiap larangannya dan menjalankan sekuat mungkin segala perintahnya. Karena tidak lain dari tujuan hidup dan penciptaan kita hanyalah semat-mata untuk beribadat. Allah swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memiliki pendirian yang teguh dan sikap istikamah dalam beribadat. Sebagaimana kita rasakan bersama, bahwa kondisi dan tantangan hidup begitu bermacam-macam dan beragam. Mungkin Hari ini kita dalam keadaan lapang, namun esok mungkin pula keadaan sebaliknya yang terjadi.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Ibadat merupakan hal yang amat pokok dalam hidup kita. Banyak sekali hal-hal kecil atau pun besar yang tampaknya biasa saja, namun sebenarnya bisa kita jadikan sarana untuk beribadat semisal; menyapu, makan, minum, tidur dsb. Lebih-lebih ibadat yang telah jelas bentuknya. Namun dari itu, ada satu hal penting yang hendaknya kita jadikan jalan dalam ibadat kita kepada Allah swt. Istikamah. Ya, hendaknya ada ibadat-ibadat tertentu yang kita jadikan kebiasaan dalam sehari-hari. Sekecil apa pun, hendaknya ada amalan-amalan yang kita lakukan secara istikamah. Baginda Nabi bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”(HR. Bukhari Muslim)

Demikian baginda Nabi telah membocorkan pada kita bahwa termasuk kategori amal yang dicintai Allah adalah amalan-amalan yang rutin dilakukan. Meskipun hal itu terkesan kecil atau pun ringan. Maka mulai saat ini, mari kita cari dan lakukan amalan apa yang kira-kira bisa kita lakukan dengan rutin.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Selain dicintai oleh Allah, amalan yang rutin juga bisa sekaligus melatih diri kita agar bisa istikamah dalam berbagai hal lainnya. Karena sebagaimana kita sadari, istikamah bukan hanya penting dalam kaitannya beribadah saja, melainkan menyeluruh dalam berbagai hal dan kegiatan lainnya.

Dan yang terpenting, semoga kita diberi keistikamahan dalam beriman dan beribadat kepada Allah swt. dan termasuk dalam golongan yang Allah swt. firmankan dalam surat fusshilat ayat 30-32:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ  نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istikamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan balasan surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Kami lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam surga itu kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Jangan Pernah Mencaci-maki Pemerintah

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah memiliki cara dakwah yang damai, santun, dan menyejukkan. Mereka tidak pernah teriak-teriak apalagi mencaci-maki. Karena tindakan tersebut tidak menunjukkan perilaku mukmin sejati. Al-Ghazali—ulama dan sufi kenamaan—pernah menjelaskan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin:

وَإِنَّمَا الْمُحَرَّمُ اسْتِصْغَارٌ يَتَأَذَّى بِهِ الْمُسْتَهْزَأُ بِهِ لما فِيهِ مِنَ التَّحْقِيرِ وَالتَّهَاوُنِ

Adapun yang diharamkan adalah mencaci-maki yang dapat menyakiti perasaan orang yang dihina, karena di dalamnya terdapat unsur menghina serta meremehkan.”[1]

Nahi Munkar dan nasehat tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan segala bentuk caci-maki. Karena nasehat sepatutnya dilakukan dengan jalan mengajak, bukan mengejek, atau nasehat itu merangkul, bukan memukul. Begitu pula tujuan utama Nahi Munkar adalah berupaya menghilangkan kemungkaran sesuai prosedur syariat, yang dalam konteks keindonesiaan tentu harus melalui jalur konstitusional.

Hal tersebut ditujukan agar tidak membuka pintu fitnah yang lebih besar, lebih-lebih Nahi Munkar pada pemerintah yang harus dilakukan dengan santun, berdialog dengan baik, dan tidak dengan melakukan demonstrasi yang rawan menimbulkan kericuhan. Sesuai anjuran Rasulullah saw. yang dikutip oleh Sayyid Murtadlo Az-Zabidi:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِي سُلْطَانٍ فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَنْصَحْهُ، فَإِنْ قَبِلَهَا، وَإِلَّا كَانَ قَدْأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa hendak menasehati pemerintah, maka jangan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasehatnya diterima, maka bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, karena iatelah melakukan kewajibannya dan memenuhi haknya.”[2]

[]waAllahu a’lam

___________________________ 


[1] Ihya ‘Ulumad-Din, vo.IIIhal. 131

[2] Ittihaf As-sadah al-Muttaqin, vol. VII hal. 25

Larangan Memberontak Pemerintah

Telah menjadi konsensus Ulama bahwa tindakan makar dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah adalah haram, meskipun pemerintan fasik dan zalim. Sebagaimana penjelasan imam An-Nawawi berikut:

وَأَمَّا الْخُرُوْجُ عَلَيْهِمْ وَقِتَالُهُمْ فَحَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانُوْا فَسَقَةً ظَالِمِيْنَ

Adapun keluar dari ketaatan terhadap penyelenggara negara dan memeranginya maka hukumnya haram, berdasarkan konsensus ulama, meskipun mereka fasik dan zalim.”[1]

Dengan bahasa lain yang menyejukkan, Dr. Wahbah az-Zuhaily menegaskan dalam kitabnya yang berjudul al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu:

وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبِ أَخْطَاءٍ غَيْرِ أَسَاسِيَّةٍ لَاتُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ حِفَاظًا عَلَى وِحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَاتِهَا

Tidak diperbolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan yang tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath’i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan dan pertikaian di antara mereka.”[2]

Alasannya sederhana, masuk akal, dan dapat dilihat dalam bukti sejarah. Sesuai penjelasan dalam kitab Ghayah al-Bayan bahwa pemberontakan akan mengobarkan fitnah yang lebih besar, pertumpahan darah, perselisihan antar golongan, dan seterusnya.[3]

Tidak ditemukan satu pun istilah memberontak dalam ajaran dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan pelaku pemberontakan disebut dengan istilah Khawarij, meskipun istilah ini mulanya hanya mengarah kepada kelompok yang membelot dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra., namun secara dinamis juga digunakan untuk setiap kelompok yang melakukan tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. Sebagaimana keteranganAbu Fadhl as-Senori dalam kitab Syarh al-kawakib al-Lamma’ah:

فَكُلُّ مَنْ خَرَجَ عَلَى الْإِمَامِ الْحَقِّ الَّذِي اتَّفَقَتِ الْجَمَاعَةُ عَلَيْهِ يُسَمَّى خَارِجِيًّا سَوَاءٌ كَانَ الْخُرُوْجُ فِيْ أَيَّامِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِيْنَ اَوْ كَانَ بَعْدَهُمْ عَلَى التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ وَالْأَئِمَّةِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ

Setiap orang yang berbuat makar terhadap pemimpin yang sah yang menjadi kesepakatan golongan dinamakan Khawarij, baik yang berbuat makar di zaman sahabat terhadap Khulafaur Rasyidin atau para Tabi’in serta setiap pemimpin di setiap zaman seterusnya.[4]

Salah satu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kontemporer, Syaikh Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, menceritakan dalam kitab Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, bahwa dalam rekam sejarah, pada saat pemerintah Islam dipimpin oleh rezim Muktazilah Jahmiyyah seperti Khalifah Al-Makmun, Al-Watsiq, dan Al-Mu’tashim, tidak satupun ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memberontak. Mereka juga tidak pernah memfatwakan haram berjamaah di belakang para pemimpin yang bukan Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut. Tidak pula mengharamkan agresi militer bersama mereka. Padahal pada saat itu banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan ulama besar lainnya. Demikian teladan etika ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap pemerintah.[5]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Minhaj Syarh Shahih al-Muslim, XII/229.

[2] al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu, VI/705.

[3] Ghayah al-Bayan, I/27.

[4] Syarh al-kawakib al-Lamma’ah, hal. 13.

[5] Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, 32-33