Tag Archives: PWNU

Istighotsah Kubro Online

LirboyoNet, Kediri-Rabu 08 April 2020 pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Lirboyo, tepatnya di Gedung Yayasan diadakan
Istighotsah Kubro secara online dengan tema “Mengetuk Pintu Langit, NU Hadir Untuk Negeri”. Acara terbatas tersebut dihadiri oleh Romo K.H. Anwar Manshur, Romo K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus,
Romo K.H. Anwar Iskandar, beberapa Kiyai dari Kediri, Segenap Gawagis Lirboyo dan beberapa instansi pemerintah.

Selain diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo, acara ini juga diadakan di Grahadi Surabaya.
Acara yang di siarkan secara langsung dari dua tempat ini dimulai pada pukul 19.30 sebagai acara pembukaan,
kemudian diisi sambutan oleh K.H. Marzuki Mustamar, lalu Sambutan dari Gubernur Jawa Timur,
Hj. Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu Istighotsah dibuka dengan tawasul oleh
Romo K.H. M. Anwar Manshur selaku Rois Syuriah PWNU Jatim sekaligus Pengasuh PP Lirboyo.
Acara Istighotsah dipimpin oleh Romo K.H. Miftachul Akhyar, selaku Rois Aam PBNU.

Dengan diselenggarakannya istighotsah kubro yang bertepatan dengan malam nishfu sya’ban ini,
mudah-mudahan wabah yang melanda negeri kita ini lekas hilang, diangkat oleh Allah Swt, terang Cak Zulfa (Ketua 2 PP Lirboyo).

Tonton acaranya di:
ISTIGHOTSAH KUBRO ONLINE

Baca juga:
TRADISI DAN SEJARAH YASINAN PADA MALAM NISHFU SYA’BAN

Santri Culture Night Carnival

LirboyoNet,Surabaya- Sebanyak 50-an santri Lirboyo siang kemarin (27/10), berangkat menuju Surabaya menggunakan bus yang telah disediakan oleh PWNU Jawa Timur. Mereka akan menghadari perhelatan akbar yang diadakan PWNU Jawa Timur yang mengusung tema Santri Culture Night Carnival (SCN) 2019. semacam karnaval budaya santri pertama kali di Nusantara. Acara ini merupakan rangkaian puncak peringatan Hari Santri Nasional 2019.

Dihadiri oleh Wakil Presiden terpilih KH. Ma’ruf Amin, beberapa Menteri maupun Wakil Menteri yang baru dilantik beberapa hari lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran kepengurusan PWNU dan beberapa PCNU yang ada di Jawa Timur dan Forkopimda.

Dalam sambutannya, ketua pengurus PWNU Jawa Timur KH. Marzukqi Mustamar berpesan kepada Wakil Menteri Agama baru yang berkesempatan hadir agar lebih berhati-hati mengenai buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah supaya jangan sampai lagi terselip materi-materi yang menyimpang dari ajaran Aswaja.

Sambutan berikutnya dari Wakil Presiden yang menyampaikan terima kasihnya kepada warga Jawa Timur yang telah mendukungnya, sehingga bisa terpilih menjadi Wakil Presiden, beliau juga memberi semangat kepada para santri dalam belajar. “Sekarang sudah banyak santri yang menjadi menteri, bahkan menjadi wakil presiden, kedepannya semoga ada santri yang menjadi presiden” Seketika riuh sahutan amiin.

Beliau juga berharap dikalangan santri ada yang ‘pergi keluar’, santri jangan hanya mengetahui seluk-beluk permasalahan keagamaan saja, termasuk juga harus ada santri yang menjadi preneur agar ekonomi dan dunia bisnis tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang saja yang ternyata tidak dari kalangan santri. beliau mencontohkan pendahulu kita dahulu yang sukses mengkompakkan pengusaha dalam satu wadah perjuangan, “Nahdlatu Tujjar”.

sedangkan Ibu Gubernur dalam sambutannya menyampaikan terimakasih Kepada Wapres yang telah menjadikan Jawa Timur ini sebagai kunjungan kehormatan pertamanya setelah pelantikan. Beliau juga berharap dari acara SCNC 2019 ini akan menumbuhkan jiwa interpreneur dikalangan santri dan pesantren di Jatim dengan semangat program barunya, One Pesantren One Product.

Keinginan Ibu Gubernur ini disambut baik oleh Wapres, Kyai Ma’ruf mengagendakan gerakan ekonomi yang beliau istilahkan “Gus Iwan” singkatan dari “santri bagus pinter ngaji usahawan”.

Acara ditutup dengan doa oleh KH. Anwar Manshur kemudian pertunjukan antraksi dan kesenian dibuka oleh Wapres dengan pukulan bedug. Festival berlangsung meriah dengan penampilan memukau dari perwakilan beberapa PCNU yang ada di Jawa Timur, seperti PCNU Banyuwangi yang menampilkan tarian Gandrung Santri, PCNU Sumenep dengan seni musik Ul Daul dan masih banyak lagi penampilan lainnya seperti Grup Drumb Band Akademi Angkatan Laut.

Sebagai pamungkas acara sambil menunggu nasi liwetan yang akan dibagi, panitia pengundian dari kupon-kupon yang telah dikumpulkan oleh para peserta dengan hadiah beberapa paket umroh dan hadiah menarik lainnya, namun ternyata kang-kang santri tidak meminatinya, mereka memilih segera menuju ke lokasi parkir bus ingin cepat pulang. [ABNA]

Istighotsah Kubro 2018; untuk Keselamatan dan Persatuan Bangsa

LirboyoNet, Sidoarjo- Perhelatan Istighotsah Kubro Pengurus Wilayah Nahdlatu Ulama (PWNU) Jawa Timur yang diselenggarakan pada hari minggu kemarin (28/10) berjalan khidmah. Acara yang menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tersebut dihadiri lebih dari satu juta kaum Nahdliyin yang membanjiri Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Tampak KH. M. Anwar Manshur, KH. Zainuddin Djazuli, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Ali Masyhuri, Habib Abu Bakar As-Segaf, KH. Idris Hamid, KH. Marzuki Mustamar, serta para kyai, ulama, dan habaib lainnya turut hadir di tengah para hadirin.

Tepat pukul 06:00 WIB, acara telah dimulai. Selaku Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH. M. Anwar Manshur membuka acara. Dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah yang dipimpin oleh KH. Nurul Huda Djazuli.

Dalam sambutannya, KH. Marzuki Mustamar sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur menjelaskan terkait pentingnya menjaga Ahlussunnah wal Jamaah dan kaitannya dengan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Mending NKRI yang penting isinya Ahlussunnah wal Jamaah. Sehingga menjaga Indonesia, sama halnya dengan menjaga Islam itu sendiri,” tegasnya.

Dan terakhir, Mustasyar Pengurus Besar nahdlatul Ulama, Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin, memberikan tausiyah kebangsaannya. Sesuai dengan peringatan hari santri, beliau menjelaskan peranan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. “Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari merupakan salah satu bukti dedikasi santri untuk negeri.” Jelasnya.

Selain itu, Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin memberikan semangat kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama agar senantiasa mengedepankan komitmen Himayatul Islam wa Himayatud Daulah ‘Ala Thorqoti Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Menjaga eksistensi Islam dan menjaga kedaulatan negara sesuai jalan Ahlis Sunnah wal Jama’ah).[]

Implementasi Kerukunan Beragama Berdasarkan Status Sosial (Bag. 2-Habis)

(Baca sebelumnya, Bagian 1)

Pelaksanaan prinsip-prinsip di atas diklasifikasi berdasarkan status sosial seorang muslim di tengah masyarakatnya:

  1. 1. Sebagai anggota dan warga masyarakat

Pemeluk agama Islam sebagai anggota dan warga masyarakat di manapun mereka berada, tidak lepas dari bertetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain, di samping juga bergaul dengan warga masyarakat yang seagama. Ketenteraman, ketertiban, keamanan dan kemakmuran hidup adalah merupakan kebutuhan yang mesti dicitakan, walaupun suatu saat kita harus betetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain dengan tidak melanggar batas batas syariat.[1]

  1. 2. Sebagai pimpinan ormas keagamaan dan tokoh agama

Seorang muslim yang dipercaya sebagai pimpinan ormas atau dijadikan sebagai tokoh agama/masyarakat, memiliki kewajiban dan tugas lebih besar dibanding orang muslim yang bukan pemimpin/tokoh. Sebagai pemimpin dan tokoh mereka harus menjadi yang terbaik dalam menjalankan ketentuan dan prinsip menjalin kerukunan antar umat beragama di atas, karena mereka adalah tauladan sekaligus pelindung dan pembimbing anggota masyarakatnya.

Oleh karena itu, mereka berkewajiban memberi penjelasan dan pembinaan yang cukup kepada umat yang dipimpinya agar kualitas umat Islam dalam beragama semakin mantap serta militan dan dalam saat yang sama umat Islam juga sadar akan perlunya kerukunan antar umat beragama secara benar. Nabi Ibrahim diperintahkan Allah Swt untuk berbuat baik kepada seluruh manusia tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

  1. 3. Sebagai pejabat pemerintah/negara

Seorang muslim yang berketepatan sebagai pejabat pemerintahan atau negara, wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab. Sudah menjadi keniscayaan, pejabat muslim harus melindungi, melayani, menyediakan berbagai kebutuhan hidup, sarana prasarana publik dan seterusnya terhadap seluruh warga negara secara merata.

Pada dasarnya ketentuan dan kewajiban yang berlaku bagi individu umat Islam dalam berinteraksi sosial dengan umat agama lain, juga berlaku bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pejabat. Oleh karena itu, bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas pemerintahan harus bertujuan untuk menjaga keutuhan negara, menjaga persatuan bangsa, menghindarkan kerusakan dan membangun kemaslahatan umum guna meraih ketenteraman dan kemakmuran yang berkeadilan.

Jadi umat Islam yang sedang dipercaya sebagai pejabat pemerintah, wajib berupaya membangun dan menciptakan kehidupan yang rukun, damai dan bersatu bagi seluruh rakyat tanpa memebedakan agama dan keyakinanya.[2] Upaya tersebut harus terus menerus digelorakan guna menuju cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara serta menjaga persatuan nasional. Pejabat muslim juga berkewajiban membangun umat Islam menuju umat yang berkualitas dalam beragama dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Teladan seorang pemimpin pemerintahan dalam membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama tercermin dari sikap Umar bin Khattab Ra saat beliau menolak tawaran Patriak untuk Sholat di gereja, sebab beliau khawatir jika umat islam setelahnya akan menjadikan gereja tersebut sebagai masjid.[3]

Batas-batas Toleransi dan Menjalin Kerukunan dengan Pemeluk Agama Lain

Prinsip-prinsip di atas dalam penerapannya tidak boleh melampaui batas-batas sebagai berikut:

  1. 1. Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti ikut ritual agama lain[4] dengan tujuan mensyi’arkan kekufuran.[5]
  2. 2. Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti memakai simbol-simbol yang identitas bagi agama lain dengan tujuan meramaikan hari raya agama lain.

Adapun berinteraksi dengan mereka di luar dua ketentuan di atas seperti umat Islam ikut membantu pelaksanaan hari raya umat agama lain,[6] menjaga dan mengamankan rumah ibadah mereka dari gangguan dan ancaman teror,[7] datang ke tempat peribadatan mereka tanpa mengikuti ritual keagamaannya,[8] maka diperbolehkan, terlebih jika hal tersebut didasari untuk menunjukkan keindahan, toleransi, dan kerahmatan agama Islam.

Begitu juga berkunjung ke rumah mereka saat tertimpa musibah atau berbela sungkawa atas kematian keluarganya,[9] menjenguknya saat sakit,[10] bermuamalat dengan mereka di tempat-tempat belanja, mencari penghidupan di tempat-tempat kerja, bersama-sama dalam tugas negara dan layanan publik, maka boleh dan bahkan dianjurkan bersikap baik terhadap mereka, terlebih jika masih ada hubungan kerabat, tetangga dan atau terdapat kemaslahatan, seperti ada harapan mereka masuk agama Islam.

 

(Dirangkum dari Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyah Konferwil PWNU Jatim 2018)

_____________________

[1] Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, VI/720.

[2] Al-Jihad fi Islam (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), hlm 120-121.

[3] Al-Ghuluwu wa at-Tharattuf (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), 108-109

[4] Al-I’lam bi Qawati’ al-Islam, hlm 237.

[5] Al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, IV/239.

[6] Al-Bahr ar-Raiq, VIII/231.

[7] Ahkamu Ahli ad-Dzimmah, III/1168. dan Qawaid al-Ahkam, I/156.

[8] Al-Inshof fi Ma’rifat ar-Rajih min al-Khilaf, IV/234.

[9] Mughni al-Muhtaj, I/355.

[10] ‘Umdah al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari, XIII/34.

Lautan Nahdliyin Mengetuk Pintu Langit

LirboyoNet, Sidoarjo — Istighotsah adalah cara terbaik bagi umat Islam untuk berperan dalam menciptakan suasana negara yang damai dan tentram. Para kiai, santri, dan unsur masyarakat Islam lainnya wajib meyakini kekuatan muslim tertinggi: al-du’â silâhul mukmin. Doa adalah senjata masyarakat Islam yang paling ampuh. Maka sudah barang tentu muslim menggunakannya di setiap hajat peperangan apapun, termasuk dalam memerangi kekuatan-kekuatan musuh dâkhiliyyah dan khârijiyyah, musuh dari dalam tubuh, juga supremasi kekuatan di luar kelompok masyarakat Islam dan negara.

KH. Hasan Mutawakkil Alallah, ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, menegaskan ini di sela-sela acara Istighotsah Kubro Hari Lahir ke-94 Nahdlatul Ulama di Sidoarjo, Ahad pagi (09/04). Beliau menilai, doa bersama adalah kesempatan terbaik bagi umat Islam, terutama nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama), untuk memperlihatkan dukungan yang besar bagi keselamatan dan kedamaian bangsa. “Kita beristighotsah untuk menunjukkan bahwa inilah cara Islam mewujudkan kedamaian bangsa. Bukan dengan cara-cara yang anarkis dan keras,” tutur beliau yang juga alumnus pondok pesantren Lirboyo ini. Istighotsah ini juga menunjukkan kepada dunia luar bahwa Islam dalam segala aspeknya, baik ketika berada dalam kondisi nyaman maupun sedang berada dalam tekanan berat seperti akhir-akhir ini, selalu mengedepankan cara berpikir dan cara bertindak yang adem dan menyejukkan.

“Pagi ini, kita berhasil menunjukkan kepada bangsa Indonesia, bahwa nahdliyin berada di garda terdepan untuk turut menyejahterakan bangsa. Di sini, bukan hanya ratusan ribu nahdliyin berada di tengah-tengah Gelora Delta Sidoarjo. Tapi Gelora Delta lah yang berada di tengah lautan nahdliyin,” ungkap beliau diikuti gemuruh sorak sorai peserta istighotsah.

Menilik foto yang beredar di beberapa media, dari acara yang bertemakan “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh” ini memang terlihat jamaah istighotsah dengan pakaian serba putih menyemut, ‘mengepung’ stadion kebanggaan warga Sidoarjo. Itupun, ungkap KH. Hasan Mutawakkil, masih hanya sebagian kecil dari warga nahdliyin Jawa Timur secara keseluruhan. Karena berbagai lapisan organisasi Nahdlatul Ulama yang berada dalam naungan PWNU, baik PC (pengurus cabang), MWC (majelis wakil cabang), hingga ranting NU memohon maaf karena tidak bisa mengikuti istighotsah bersama ini. “Para jamaah kami banyak yang tidak bisa berangkat. Mereka telah kehabisan armada kendaraan. Sudah tidak ada perusahaan bis maupun p.o. kendaraan lain yang mampu mengantarkan mereka. Seluruhnya telah habis.” Memang, dari pantauan redaksi LirboyoNet, banyak PAC maupun MWC yang gagal berangkat karena kesulitan mencari armada. Dari MWC Pandaan, Pasuruan saja, mereka membutuhkan sembilan bus untuk mengangkut jamaah mereka. Dari satu pesantren di Mojosari, Mojokerto saja, sudah membutuhkan banyak sekali kendaraan untuk mengantarkan tujuh ratus santrinya.

Bagaimana dengan Lirboyo? Tidak kurang dari tujuh ratus santri mengisi penuh enam bus dan tujuh truk tentara. Mereka ‘hanya’ terdiri dari sebagian siswa tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Itupun tidak semuanya. “Setiap angkatan, setidaknya mendapat jatah 240 kursi,” tutur Ade Harits, siswa yang juga menjadi salah satu panitia pemberangkatan.

[ads script=”2″ align=”right”]

Sebelum istighotsah dibaca beramai-ramai, terlebih dahulu dibacakan maklumat PWNU Jawa Timur oleh KH. M. Anwar Iskandar, salah satu wakil Rois Syuriah PWNU Jatim. Salah satunya adalah “Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini.” Bagaimana tidak, menjaga kedaulatan negara adalah salah satu bentuk ikhtiar umat Islam yang paling penting untuk menjaga kontinuitas dalam menabur kebaikan dan nilai-nilai Islam di bumi, terutama bumi Nusantara. Umat Islam Indonesia berkewajiban untuk menghindarkan negara dari pudarnya rasa kepercayaan penghuninya terhadap semua unsur negara dan pemerintahannya.

Setiap masyarakat Islam Indonesia hendaknya memaklumi ini. Karena menyebarkan Islam yang damai, teduh, mengayomi, adalah perwujudan dari Islam yang “rahmatan lil alamin”. “Salah satu ikhtiar besar Islam (untuk mewujudkan kondisi itu) adalah hifdz al-daulah, menjaga kedaulatan NKRI. Keutuhan dan persatuan Indonesia adalah tanggungjawab setiap warga NU,” tegas Gus Anwar, yang juga satu almamater dengan KH. Hasan Mutawakkil Alallah.

Turut hadir Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma’ruf Amin. Dalam amanat yang beliau sampaikan, tugas nahdliyin adalah menjaga bangsa, umat dan negara dari berbagai masalah. “Kita hari ini hadir untuk mengetuk pintu langit. Memohon berkah pada sang Kuasa untuk menyelamatkan bangsa ini dari gangguan-gangguan yang tersebar dari dalam dan luar (tubuh negara dan agama).”

Beberapa hari sebelum hadir di Sidoarjo, beliau bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Beliau memberitahukan bahwa PWNU Jawa Timur akan melaksanakan hajat kubro demi keutuhan negara. “Presiden terharu, dan memang inilah yang harus dilakukan oleh umat Islam. Harus mendukung negara melalui upaya-upaya batiniah,” tutur beliau. Kemerdekaan adalah rahmat, dan mempertahankannya adalah bentuk dari merawat rahmat itu.

Hari itu, tutur beliau, menjadi saksi bahwa kiai adalah sosok yang sangat besar perannya dalam menyelamatkan negara. “Kiai tidak hanya sibuk mencetak santri dan kiai mumpuni, tetapi juga berdoa secara konsisten demi keselamatan bangsa.” Para kiai dan ulama selalu hadir dalam upaya-upaya kebangsaan, dengan mengharap perolehan rahmat dari sang Cahaya di atas Cahaya.

Tidak jauh-jauh, salah satu buktinya adalah apa yang dilakukan pesantren Lirboyo. Beberapa bulan terakhir ini, para santri, terutama kelas Tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, terus dikerahkan untuk membaca aurad-aurad (bacaan wirid) tertentu setiap harinya. “Kami mendapat instruksi ini dari beliau KH. M. Anwar Manshur langsung. Beberapa bulan terakhir ini, setiap malam selepas sekolah kami membaca hizib nawawi dan hizib nashar. Beliau benar-benar mengharap santri untuk ikut ikhtiar dalam mendinginkan situasi negara dengan senjata kami, yakni doa,” tukas Anas Lauhil Mahfudz, salah satu pengurus kelas Tiga Aliyah.

Mari bersama mewujudkan Indonesia yang damai dan berdaulat, dengan terus berupaya dari segala aspek yang kita bisa. Karena dengan ikhtiar yang simultan dari berbagai lapisan masyarakat, sesuai apa yang ditekankan Rois ‘Am PBNU, sekecil apapun amal jika disatukan dengan rahmat Allah, dengan doa yang terus dipanjatkan, akan menjadi besar. Senjata ini akan melipatgandakan impact dan pengaruh ikhtiar lahiriah kita, sehingga bisa berguna bagi kemaslahatan nusa dan bangsa.][