Tag Archives: Ramadhan

Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah, Apa Maksudnya?

Ada sebuah kalimat yang populer dan santer dikutip oleh umat Islam ketika memasuki bulan Ramadan. Kalimat tersebut berbunyi:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبادَةٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.”

Bahkan sebagian orang mengutipnya sebagai hadis Rasulullah saw. Beberapa orang pun dibuat bingung dengan pernyataan semacam ini. Masa, iya, Nabi Muhammad saw. menganjurkan umatnya untuk beribadah dengan tidur.

Faktanya kalimat di atas memang telah dikutip sebagai hadis oleh ulama-ulama abad pertengahan, Imam Al-Gazali dalam kitab Iḥyā’ misalnya. Namun, sebagaimana lazimnya beliau dalam mengutip hadis, beliau tidak menjelaskan apakah hadis tersebut sahih atau lemah.

Hadis tersebut juga dinukil oleh Imam As-Suyuti dalam kitab Al-Jāmi’ aṣ-Ṣaghīr. Di sana As-Suyuti secara tegas menyatakan hadis tersebut ḍa’īf; lemah. Selaras dengan As-Suyuti, Al-Minawi dalam Faiḍul-Qadīr dan Al-’Iraqi dalam Takhrīj Aḥādīśil-Iḥyā‘ menyebutkan hadis di atas ḍa’īf.

Bahkan, belakangan ini beredar pernyataan salah satu ustaz yang memiliki banyak pengikut serta ribuan penggemar di jaringan Youtube, menyatakan hadis tersebut tidak hanya lemah, namun juga mauḍū’; palsu. Ustaz kondang tersebut juga menerangkan bahwa makna hadis ini bertentangan dengan spirit dari ibadah puasa. Puasa seharusnya diisi dengan amal saleh, bukan tidur.

Dari sini, ada suatu hal yang mengganjal pikiran saya. Jika memang makna hadis ini keliru, untuk apa Imam Al-Gazali mengutipnya? Al-Gazali justru mengutipnya dalam rangka menjelaskan besarnya fadilah puasa.

Az-Zabidi yang dalam Ittiḥāf-nya mengatakan sanad hadis itu memang lemah, justru membenarkan maknanya. Pada bab adab makan misalnya, Az-Zabidi mengutip hadis di atas dalam rangka menjelaskan pentingnya makan agar kuat beribadah. Lalu beliau mengutip hadis “Tidurnya orang puasa itu ibadah” dan menjelaskan bahwa tidur itu akan bernilai ibadah jika menjadi perantara kuatnya beribadah. Artinya, menurut Al-Gazali dan Az-Zabidi, secara makna—bukan status sahih/tidaknya—tidak ada yang salah dengan hadis ini.

Kita tahu bahwa puasa, dari terbitnya fajar sampai Magrib, adalah ibadah. Mau diisi dengan tidur, belajar atau berselancar di dunia maya, puasa tetaplah ibadah. Lalu, jika dengan tidur saja puasa tetap bernilai ibadah, apalagi jika sambil kita isi dengan salat sunah, baca Quran, dan amal-amal saleh lainnya, maka nilai ibadahnya semakin berlipat-lipat.

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa hadis “Tidurnya orang puasa itu ibadah” sebenarnya adalah motivasi untuk memperbanyak ibadah, bukan untuk memperbanyak tidur. Wallahu A’lam.

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, S.Ag. lulusan Ma’had Aly Lirboyo, Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

Press Release LBM NU Jatim: KADAR ZAKAT FITRAH

Bismillahirrahmanirrahim.

Sehubungan dengan permohonan pembahasan kadar zakat fitrah kepada Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Jawa Timur, maka dengan ini disampaikan:

1. Zakat fitrah ditunaikan dengan mengeluarkan satu (1) sha’ beras yang berkualitas atau setara dengan 2.75 kg.

2. Bila zakat fitrah ditunaikan dengan mengeluarkan uang, maka dapat dilakukan dengan solusi sebagai berikut:

a. Dilakukan secara tidak langsung dengan tetap mengikuti mazhab Syafi’i, yaitu amil zakat (LAZISNU) dan pengelola zakat lainnya menyediakan paket beras yang berkualitas (per paket berisi 2.75 kg dan dapat dilakukan dengan kerjasama pihak ketiga), untuk kemudian dibeli oleh muzakki dan dikeluarkan sebagai zakat fitrahnya disertai niat dan bimbingan dari amil.

b. Dilakukan secara langsung dengan mengikuti atau taqlid terhadap mazhab Hanafi, yaitu dengan mengeluarkan uang senilai harga 3.8 kg kurma yang berkualitas di daerah masing-masing disertai niat dan bimbingan dari amil.

Demikian rumusan ini dibuat dengan sebenar-benarnya agar dapat menjadi rujukan dan disosialisasikan di tengah masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Surabaya, 13 Ramadhan 1440 H/18 Mei 2019 M

KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I. (Ketua)

Ahmad Muntaha AM (Sekretaris)

Fidyah dengan Uang

Asslamu’alaikum

Min, mau tanya nih masalah teman saya. Namanya Umar, Nasibnya sungguh mujur, di antara anggota keluarga, hanya dia yang mengenyam pendidikan pesantreen. Ia ingin membalas budi ayahnya yang telah membiayainya di pesantren. Yaitu dengan membayar fidyah ayahnya yang selama bulan Ramadhan tidak menjalankan ibadah puasa lantaran usianya yang sudah cukup tua. Agar lebih efisien, ia membayar fidyah tersebut dalam bentuk uang yang kemudian dibagikan kepada fakir-miskin.

Pertanyaannya gini pak admin Bolehkah membayar fidyah dalam bentuk uang ?

Sebelumnya terima kasih.

Wassalamu’alaikum

Jawaban :

Wa’alaikum salam wr. Wb.

Terima kasih atas pertanyaannya, untuk masalah membayar fidyah dengan menggunakan uang itu ada perbedaan pendapat :

Menurut madzhab Syafi’iyyah tidak boleh. Karena pembayaran fidyah sama seperti pembayaran zakat fitrah, yaitu harus berupa makanan pokok. Hal ini berdasarkan pemahaman kata ith’am pada teks al- Qur an dan al- Hadits yang berarti memberi makanan. Dalam al- Qur an disebutkan:

وَعَلَى الّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang-orang miskin.” (QS. Al- Baqarah: 184)

أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلام فَقَالَ هَلَكْتُ وقَعْتُ عَلَى أَهْلِي فِي رَمَضَانَ قَالَ أَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَيْسَ لِي قَالَ فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أَسْتَطِعُ قَالَ فَأَطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا روه البخري

“Seorang lelaki mendatangi Rasulullah Saw., ia berkata: celakalah aku! Aku telah bersetubuh dengan istriku pada bulan Ramadhan. Nabi bersabda: merdekakanlah budak! Lelaki itu berkata: aku tidak punya budak. Nabi bersabda: berpuasalah dua bulan berturut-turut! Lelaki itu berkata: aku tak mampu. Nabi bersabda: berilah makan 60 orang miskin!” (HR. Bukhori)

Menurut Madzhab Hanafiyyah boleh. Karena inti dari kewajiban membayar fidyah adalah mencukupi kebutuhan fakir-miskin. Hal ini terwujud meskipun dengan uang, yakni uang yang senilai harga gandum seberat dua kilo gram.

Referensi :

Fiqh al- ‘ibadatu syafi’I (1 /555) al- maktabah as- syamilah

Ittihaf as- sadah al- muttaqin (4 /94) darul fikr

al- fiqh al- islamy wa adalatihi (9/185) darul fikr

 

Masuk Surga karena Ramadan

Diceritakan pada zaman dahulu hiduplah seorang Majusi, penganut agama yang menyembah api. Ia memiliki seorang putri kecil yang masih belia.

Suatu hari, dengan santainya anak Majusi itu makan di tengah pasar. ia tak mengetahui bahwa hari itu adalah bulan Ramadhan. Yang mana pada saat itu seluruh umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Mengetahui hal itu, sang ayah memarahi dan memukulnya. “Seharusnya engkau pandai menghormati umat Islam yang sedang melaksanakan puasa ramadhan, tapi mengapa kamu tidak tahu diri dengan cara makan di tengah pasar?

Setelah mendapatkan peringatan keras dari ayahnya, anak Majusi itu tak pernah lagi makan di siang Ramadhan secara terbuka di muka umum. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian orang Majusi tersebut meninggal dunia.

Pada suatu malam, ada seorang ulama yang alim tengah bermimpi bertemu dengan orang Majusi tersebut. Dalam mimpinya, ia melihat bahwa orang Majusi itu sedang berada di suatu istana yang megah di surga. Merasa ada yang janggal, ulama itu memberanikan diri untuk bertanya kepada Majusi tersebut.

Kenapa engkau masuk surga. Bukankah engkau seorang Majusi?” tanya ulama tersebut.

Dengan santainya orang Majusi itu menjawab, “Iya memang pada awalnya aku pemeluk agama Majusi. Namun ketika aku hampir mendekati ajalku, aku mendengar sebuah seruan di atasku yang berkata: Wahai para malaikatku, janganlah biarkan dia tersesat dengan agama Majusinya, jadikanlah ia seorang muslim. Sebab ia telah menghormati bulan suci Ramdhan”.

 

________________

Disarikan dari kitab Zubdatul Majalis yang dikutip dalam kitab Dzurrotun Nashihin, hal. 13, cet. Al-Hidayah.

Santri Lirboyo Dakwah di Sekolah Formal

Lirboyonet, Kediri – Ramadhan bulan karim penuh dengan keberkahan yang membuat seluruh umat islam berlomba untuk meraih kebaikan di setiap kegiatan. Hal itu juga di manfaatkan bagi lembaga pendidikan sekolah-sekolah formal untuk menambah keberkahan bulan Ramadhan dengan mengadakan Pesantren Ramadhan dalam rangka memperdalam ilmu agama.

Dalam pengembangan ilmu agama tersebut. Pondok Lirboyo ikut andil dalam membantu dengan mengerahkan para santrinya di bawah kepengurusan LIM (Lembaga Ittihadul Mubalighin) yang merupakan badan otonom milik Pondok Pesantren Lirboyo.

Masih seperti tahun-tahun sebelumnya para santri Lirboyo menjadi pengajar diberbagai sekolah formal seperti SMA, SMK, SMP, MTsN, SD dan TK. Untuk tahun ini santri Lirboyo yang diamanati mengajar sekolahan formal berjumlah 261 santri dengan perincian santri putra 137 yang direkrut dari siswa-siswa tingkat Aliyah dan santri semester awal Ma’had Aly Lirboyo dan santri putri berjumlah 124 yang direkrut dari Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi’at dan Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur-an.

Senin (21/05) merupakan hari pertama para santri terjun ke sekolah, dan yang pertama di masuki ada tiga sekolahan yakni SMPN 07, SMAN 06 dan TK MELATI Kediri. Untuk di SMPN 07 ada 5 santri putra dan 6 santri putri dan di SMAN 06 terdapat 6 santri putra dan 6 santri putri sedangkan untuk di TK MELATI ada 2 santri yang ditugaskan. Dan untuk sekolahan yang lain menyusul karena telah tersusun jadwal tersendiri.

Dengan adanya peran LIM masuk kesekolah tidak lain untuk membantu para santri mengenal dan mengemabangkan ilmunya kepada siswa siswi sekolah formal secara praktik, juga bagi sekolah formal sendiri bisa mendapatkan ilmu dari pesantren.

Di tempat lain, pengurus LIM berharap santri Lirboyo yang bertugas ini bisa ikut membantu para pendidik untuk memperbaiki akhlakul karimah dari anak-anak penerus bangsa yang berpendidikan di luar pesantren. Semoga berhasil dan sukses selalu untuk santri Lirboyo Kota Kediri dalam mewujudkan semboyan mereka, “dari Lirboyo untuk umat dan bangsa.”