Tag Archives: Rasulullah

Orang Yang Menyuapiku itu Tak Sekasar Ini

*Sebuah catatan ringan Muwasholah Baina Ulamail Muslimin di Aula Al-Muktamar, Ponpes Lirboyo, Sabtu 06 Safar 1438 H./05 Nopember 2016 M.

Malam itu (05/11/16), tidak ada tanda-tanda mau hujan. Seekor kupu cantik terbang bebas, meliuk-liuk diantara bakul cincin, kain surban, poster habaib, kaca mata, dan gorengan. Ribuan santri Lirboyo hanya sesekali meliriknya. Mereka tampak terburu-buru masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Karena mereka telah menyiapkan sebuah buku catatan untuk ruang mauidzah bagi habaib dari Yaman.

***

“Hei, anak muda, tahukah kau kalau di Mekkah itu ada orang yang mengaku sebagai nabi padahal dia orang gila? Muhammad namanya. Jika kau bertemu dengan dia patutlah pedangmu basah oleh darah saat kepalanya terpisah dari tempatnya, karena, dia itu sungguh tukang tipu! Hatinya busuk. Manusia laknat. Jangan kau percaya ocehannya mengenai Tuhan yang Tunggal. Mengerti, Kau?”

“Saya mengerti.”

Hampir tiba di rumahnya, perempuan Yahudi itu hendak mengucapkan terimakasih pada orang asing yang baru ditemuinya hari ini dan membantunya menenteng barang bawaan yang berat. “Anak muda, terimakasih banyak. Aku hanya ingin tahu siapa namamu. Tentu kau punya nama, bukan?”

Rosul tersenyum lantas menyebutkan namanya. Nama yang singkat. Sesingkat jarak antara kesadaran perempuan itu dan keyakinannya untuk segera masuk Islam. “Jangan. Jangan bersujud. Berdirilah.” Begitu selalu sikap Rosul jika ada orang yang ingin mencium kaki mulianya.

***

Acara yang mengangkat tema “Merajut Ukhuwah Wathoniyyah dengan Akhlaqul Karimah” ini memang sudah menjadi rutinitas tahunan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau al-Habib Ubaidillah al-Habsyi dari Surabaya, selaku pimpinan Majelis Muwasholah, menegaskan dalam mauidzahnya, bahwa kekayaan Islam itu dibangun atas tiga pilar utama. Yakni ukhuwah islamiyyah, wathaniyyah dan basyariyyah. “Tanpa tiga hal itu, maka Islam tidak akan bisa berjaya seperti saat sekarang ini.”

Beliau banyak memberikan cerita akhlak Nabi Muhammad SAW. sebagai suri tauladan terbaik bagi seluruh lapisan umatnya. Akhlak kepada istri, akhlak kepada teman, hingga akhlak kepada musuh-musuhnya.

***

“Wahai, Rosulullah, aku mau melihat mereka menari dari dekat. Bisakah kita lebih maju dan berdiri di dekat pintu sana?”

Rosul menjawab dengan tersenyum. Beliau hampir tidak pernah berkata ‘tidak’ untuk istri yang amat dicintainya itu. Untuk sekian lama, mereka menonton penari Habasyah yang indah itu berdua. ‘Aisyah meletakan dagunya pada pundak Nabi nan mulia. “Apakah sudah cukup, ‘Aisyah?” tanya Rosulullah.

“Masih belum, wahai Rosul. Masih belum.”

***

Setelah mauidzah dari Habib Ubaidillah, ternyata masih ada tiga mauidzah lagi. Yakni dari Habib Sholeh al-Jufri  Solo, Habib ‘Ali Zainal ‘Abidin dari Malaysia dan Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qodir al-Habsyi dari Yaman. Banyaknya penceramah ini membuat para santri menyiapkan setidaknya lima kertas lebih, untuk sekedar mencatat dan mencatat, sebagai bekal yang barokah dan penuh manfaat.

***

Suatu ketika Rosulullah tengah tidur siang. Kamarnya yang sempit dan amat sederhana membuat ruangan itu menjadi gerah untuk sekedar dipakai istirahat. Rosulullah pun tidur dengan berkeringat. Hingga seorang pelayan masuk kamar dengan botol kecil di tangannya, diam-diam, dimasukkannya tetes demi tetes keringat itu dan menjadi minyak wangi terbaik yang membuat tubuhnya harum di dunia dan akhirat.

***

Sebagai catatan, di setiap jeda antara mauidzah satu dan dua, santri disuguhkan tembang sholawat dari Tim Nasional (Timnas) Rebbana Lirboyo, dan  al-Habib Muhsin Al-Hamid sebagai sang vokalis.  Beliau telah mahsyur dengan julukan Habib Syech-nya Jawa Timur karena suaranya sebelas-duabelas dengan Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf Solo.

***

Alkisah. Suatu hari saat Nabi telah wafat, Abu Bakar bertanya pada putrinya, “Wahai, ‘Aisyah, adakah amalan Rosulullah yang belum pernah kukerjakan selama hidupku?”

‘Aisyah menjawab, “Mungkin ada satu, ayahanda”

“Katakanlah.”

“Saban sore Rosul pergi ke pasar membawa roti gandum dan kismis. Beliau menemui seorang pengemis buta di pinggiran pasar dan menyuapinya makanan.”

Tanpa buang tempo, Abu Bakar langsung pergi mencari pengemis itu. Di pinggir pasar, Abu Bakar berhasil menemukan orang yang dicari. Tapi Abu Bakar justru heran melihat pengemis itu, mulutnya tidak berkata apa pun selain menyumpahi nabi Muhammad SAW.

Setelah pengemis itu mulai tenang, Abu Bakar membuka bekalnya. Secara perlahan, disuapinya pengemis buta itu dan dilihatnya seraut wajah kecewa disana. Makanan yang sudah terlanjur dikunyah itu lantas dibuang. Abu Bakar terheran-terheran untuk kali kedua.

“Kenapa dibuang?” Tanya Abu Bakar.

“Kamu siapa?” Pengemis itu justru balik bertanya.

***

Acara malam itu ditutup dengan doa oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qodir, sekaligus pembacaan ijazah kitab Khulashoh Madain Nabawiy dan Simthud Duror. Saat catatan ringkas ini saya masukan kantong baju, jam menunjukan pukul 01.30 dini hari. Tak terasa rasanya duduk dalam majelis dari malam hingga pagi.

***

“Saya Abu Bakar. Dan orang yang biasa ke sini itu, dia telah wafat. Dialah Muhammad bin Abdullah. Orang yang sedari tadi kau bicarakan. Mulai sekarang aku akan menggantikannya.”

Pengemis itu lama terdiam. Muhammad yang kusebut gila itu? Hatinya ngilu. Abu Bakar kembali bertanya, “Bagaimana kau bisa mengenaliku?”

“Orang yang biasa menyuapiku itu memiki tangan yang sangat lembut. Tidak sekasar ini. Dia menghaluskan terlebih dahulu makanan itu sebelum memasukkannya ke dalam mulutku. Disamping itu, dia juga punya bau yang khas. Aku tidak tahu kalau itu wangi seorang nabi. Sungguh bodoh orang yang mengatainya gila sepertiku ini.”

Mendadak, Abu Bakar sangat merindukan sahabatnya itu.

“Keselamatan bagimu, keselamatan bagimu.” {}

 

Lirboyo, 2016

 

Penulis, Ackyl Mustavid, Santri Lirboyo Kamar HY 04, Kontributor Majalah Dinding Hidayah.

 

Santri Putri Al Baqoroh Ziarahi Wali

LirboyoNet, Kediri — Ziarah adalah sesuatu yang terlarang, sebelum kemudian Rasulullah berbalik menyuruhnya. Kenapa terlarang (kuntu nahaitukum)? Karena iman muslimin diawal perjumpaannya dengan dakwah Rasulullah masih dinilai rapuh. Belum menjadi sebuah keputusan yang tepat jika ziarah—sesuatu yang sebenarnya telah menjadi adat kuno bagi masyarakat Makkah—diperbolehkan begitu saja. Saat itu, ziarah di makam begitu negatif: sebuah tempat untuk meratap, meluapkan kekesalan, meragukan—lebih-lebih mencaci kehendak yang telah dituliskan Tuhan.

Lalu mengapa kemudian larangan itu berbalik (fazūruhā)? Bahwa indikasi negatif itu dinilai telah hilang, benar. Namun yang tertulis di hadits berikutnya, li annahā tudzakkirukum al-maut, memberi pengertian bahwa ziarah adalah peristiwa yang begitu penting. Penting karena ia mengingatkan kita kepada kematian, yang dalam etos selanjutnya, mengingat mati berarti sadar bahwa apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menghamba pada tuhannya (QS 51: 56).

Itulah mengapa Pondok Pesantren Lirboyo begitu kental dengan kebiasaan berziarah. Salah satunya adalah yang terlaksana Senin kemarin, (24/10/16). Salah satu unitnya, Pondok Pesantren Al-Baqoroh, mengantar sekitar 200 santrinya berziarah Wali Lima (Jawa Timur). Berangkat sejak subuh, mereka memulai perjalanannya dengan berziarah di makam muassisul ma’had (pendiri pesantren), almaghfurlah KH. Abdul Karim.

Rombongan itu dipimpin langsung oleh sang pengasuh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, dengan menggunakan dua armada bus. “Ziarah ini adalah agenda tiap tahunnya dari pondok Al-Baqarah. Tahun-tahun kemarin cuma satu bus. Karena santri sekarang bertambah banyak, otomatis kendaraan juga bertambah. Tapi, ziarah ini khusus untuk santri putri. Panitia juga dari putri,” tukas Luthfil Hakim, salah seorang pengurus PP Al-Baqarah.

Selain Lima Wali (Sunan Gresik, Sunan Ampel Surabaya, Sunan Giri Gresik, Sunan Bonang Tuban, dan Sunan Drajat Lamongan), rombongan juga berziarah ke makam wali Madura.][

Berhaji dipandu Al-Ghazali

LirboyoNet, Kediri –Haji sebenarnya tidak rumit. Hanya, ia tidak kita lakukan setiap hari. Itu yang membuatnya terkesan susah dan berat. Maka, diperlukan semacam pengingat dan praktek untuk lebih mengetahui bagaimana sebenarnya haji disyariatkan.

Untuk itulah Jumat (23/09) kemarin, ratusan siswa kelas 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mendapatkan training khusus terkait ibadah haji. Training ini, selain untuk memperdalam wawasan haji dan sebagai bekal mereka setelah tamat sekolah nanti, juga digagas demi memperlancar ujian praktek yang menjadi agenda sesudahnya.

Malam itu, KH. Munawar Zuhri selaku tutor membuka penjelasan dengan kisah bertahun-tahun lalu. “Saat sekolah dulu, saya diberi ijazah oleh guru saya. Beliau mendengarnya dari Yai Juki (KH. Marzuqi Dahlan). ‘kalau pengen haji, baca doa ini setiap di antara dua khutbah Jumat’. Tidak disangka, Allah berkenan dan saya haji tidak lama setelah nikah,” kenang beliau. Doa itu berbunyi “Allâhumma ballighnâ ziyârotal makkata wal madînah yusran la ‘usran”.

Kemudian beliau mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf. Ibadah lain boleh ada perkhilafan (perbedaan) tentang wajib dilakukan atau tidak. Tapi kewajiban wukuf telah mutlak disepakati para ulama. Selain sebagai inti ibadah, wukuf memiliki keistimewaan tersendiri. “Pada waktu wukuf, kok tidak yakin bahwa semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah, itu sebuah dosa tersendiri.” Karenanya, saat wukuf, seluruh jamaah haji dihadirkan. Tidak terkecuali yang sakit. Karena syarat wukuf sendiri mudah. Hanya berdiam di Arafah, meskipun sebentar, sakit, bahkan tidak sadarkan diri.

Untuk melengkapi panduan ibadah haji, kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali adalah referensi yang lengkap. “Kalau kitab lain hanya seputar ibadah jasmani saja, kitab Ihya memberikan bimbingan haji secara dzahiran wa bathinan. Lahiriyah dan ruhaniyah lengkap semua di sana. Cukup sampean bawa fotokopian bab hajinya saja.” imbuh beliau.

Setelah selesai menyajikan teori, beliau mengajak seluruh siswa untuk keluar masjid Al Hasan dan segera menuju lapangan. Di sana sudah tersedia miniatur tempat-tempat yang dilalui saat melaksanakan haji: Ka’bah, lintasan Safa dan Marwa, Jamaraat (tempat melempar jumrah), Mina dan lain sebagainya.

Yang beliau fokuskan pada malam hari itu adalah pelaksanaan haji yang sederhana. Mengingat, jika juga disajikan hal-hal lain yang bersifat komplementer, justru titik-titik penting dari ibadah haji akan hilang. “Itu yang selama ini menjadi masalah bagi banyak jamaah haji. Thawaf tidak sah, rukun yang lain hilang, dan seterusnya. Mereka terlalu fokus pada hal-hal lain. Misalnya cium hajar aswad, doa-doa panjang,” terang beliau. Mengenai kesunahan mencium Hajar Aswad, sebagaimana yang dikisahkan Yai Munawar, Rasulullah sendiri pernah mewanti-wanti sahabat Umar ra. “Badanmu itu tinggi besar. Jangan sampai saat mencium hajar aswad, kau mengganggu dan menyakiti orang-orang sekitarmu.”][