Tag Archives: Renungan

Utamakanlah Ilmu

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)  (النجم: ٣-٤

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”

Hampir seribu lima ratus tahun silam, Nabi Muhammad SAW wafat. Namun, hingga kini kita masih tetap bisa membaca dan “mendengarkan” sabda-sabda beliau. Beliau seolah masih hadir membimbing kita, menuntun, bahkan telah sejak lama membaca apa yang akan terjadi pada kita; umat beliau satu millenium lebih selepas beliau diutus.

Nabi mampu melihat masa depan, sebagai mana beliau mampu dengan indah bercerita tentang kisah-kisah umat-umat terdahulu. Tentang kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan Bani Israil, misalkan. Sebagaimana yang dapat kita temukan dalam beragam kitab-kitab hadis, jika kita telaah. Kisah-kisah tersebut beliau ceritakan, menjadi pelajaran, juga renungan bagi para sahabat beliau.

Beliau juga membaca tentang hari esok. Beliau menjanjikan kerajaan besar Persia dan Romawi seutuhnya akan menjadi milik umat muslim. Sebuah berita yang terkesan mustahil, sebab saat itu umat islam barulah membentuk suatu komunitas kecil. Komunitas yang bahkan tak begitu diperhitungkan keberadaannya. Kekuatan masih lemah, tak memiliki tanah, apalagi armada militer. Ditambah lagi, saat itu dakwah masih terhalang kelompok kafir Quraisy sebagai musuh utama.

Tatkala Kisra, Persia masih menjadi kerajaan adidaya yang hanya mampu disaingi bangsa Romawi, sabda beliau terdengar seperti “candaan”. Kala itu beliau mengutarakan kepada Suraqah bin Malik, “Wahai Suraqah, bagaimana jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”. Dan ucapan itu tidaklah luput. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat Umar RA diangkat menjadi khalifah. Saat itu pasukan muslim berhasil meruntuhkan kekuasaan kerajaan Kisra, Persia. Tentara muslim menuai keberhasilan telak. Mereka mampu memboyong banyak sekali harta rampasan perang. Termasuk diantaranya adalah mahkota dan gelang kebesaran kerajaan Kisra. Oleh sahabat Umar RA, gelang itu dipakaikan sesaat kepada Suraqah bin Malik, sebagai pembuktian atas sabda Nabi Muhammad SAW. Pembuktian bahwa Nabi tidak pernah berdusta.

Tatkala ibukota Bizantium, Konstantinopel ditaklukkan oleh bangsa Turki, itu bukanlah sebuah kebetulan. Jauh sebelum itu, Nabi pernah menjanjikan kota itu akan menjadi milik orang islam. Kelak, sabda Nabi, dibawah panji-panji pemimpin terbaik, dan bendera-bendera tentara muslim terbaik, kota itu akan takluk.

Kita masih dapat membaca beragam nasihat dalam hadis-hadis beliau. Sepintas memang terlihat beliau tujukan untuk para sahabat pada hari itu. Akan tetapi, nasihat-nasihat dan pesan-pesan itu hakikatnya “abadi” dan ditujukan kepada siapapun. Bahkan kepada umat beliau yang hidup terpaut hingga beberapa abad. Dari bahasa yang kentara, beliau telah membaca banyak hal dan perubahan besar yang akan terjadi pada umat beliau. Secara tidak langsung, bahasa yang beliau gunakan memang adalah untuk kita. Kita yang hidup hari ini. Di zaman ini. Sahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan suatu hadis,

وقال صلى الله عليه وسلم إنكم أصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل

Nabi SAW bersabda; kalian semua (para sahabatku) berada di zaman yang banyak para ahli fikihnya (ulama), sedikit ahli membaca Alquran, dan orang yang pandai bicara. Sedikit para peminta-minta, banyak para pemberi. Amal pada masa ini lebih baik daripada ilmu.dan kelak akan datang, masa dimana sedikit ahli fikihnya, banyak orang yang pandai bicara, sedikit yang memberi, dan banyak yang meminta. Ilmu akan lebih utama daripada amal.

Meskipun hadis ini tidak sampai berstatus shahih, namun masih bisa kita pakai sebagai bahan renungan. Pada zaman nabi diisi oleh orang-orang yang masih “berfikir sederhana”. Meskipun tak banyak orang yang pandai bicara dihadapan umum, dan jarang sahabat yang mau berfatwa, tak lantas berbanding lurus dengan kenyataan bahwa sedikit orang yang mengerti agama. Dulu, masa Nabi Muhammad SAW tetap disebut sebagai masa yang terbaik. Karena pada waktu itu, mudah kita temukan ahli ilmu yang sejati.

Mengapa Kita Lebih Mendahulukan Ilmu

Salah satu yang ditekankan dalam hadis diatas, adalah pesan tersirat untuk senantiasa memperbanyak mencari ilmu. Syahdan, Imam Ahmad bin Hanbal, pernah mengaji bersama murid-muridnya. Tiba ditengah-tengah, terdengar suara azan. Dengan khidmat, beliau bersama murid-muridnya mendengarkan azan tersebut hingga selesai. Selesai azan berkumandang, para murid bergegas berbenah meninggalkan majlis ilmu, demi mendapat fadhilah salat di awal waktu. Bukannya mengizinkan, justru Imam Ahmad melarang. Mengaji lebih didahulukan, kata beliau. Bukannya amaliyah salat yang buru-buru dikejar, tapi sudah sejak lebih seribu tahun silam, mereka mendahulukan tholabul ‘ilmi.

Memang jika kita menelisik, tsamroh, buah dari ilmu adalah amaliyah. Tujuan utama orang belajar, salah satunya adalah agar dapat memiliki amaliah yang didasari ‘ilmiyah. Maka seharusnya yang lebih kita dahulukan adalah beramal. Karena apalah artinya suatu ilmu, jikalau tak pernah tersentuh untuk dilakukan.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, mudah sekali menemukan ahli ilmu. Hadis tersebut menjadi buktinya. Para sahabat dapat langsung menimba ilmu dari sumbernya, ada masalah apapun langsung dapat dimintakan fatwa kepada Nabi. Dalam bimbingan langsung Nabi tersebut, muncullah generasi-generasi emas, sebut saja sebagai contoh, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, sang perawi hadis diatas. Tak banyak tindakan penyimpangan, dan tak banyak perilaku yang keluar dari ajaran islam. Pantaslah kiranya, masa tersebut disebut sebagai era keemasan. Sesuai sabda Nabi,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متفق عليه

Umat manusia terbaik adalah kurunku, lalukurun setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak banyak orang yang gemar meminta, karena sikap zuhud mereka. Banyak yang suka memberi karena berlomba-lomba mengejar kebaikan. Maka sudah sepantasnya pada masa itu, amaliyah lebih diutamakan, sebab ilmu sudah tersebar dimana-mana. Dan menuntut ilmu sebatas menjadi fardhu kifayah. Berbanding terbalik dengan saat ini, saat manusia berlomba-lomba menumpuk harta, dan menuntut ilmu sebagai wasilah mendapatkan kekayaan. Maka sedikit kita temukan, orang-orang yang benar-benar cakap dalam hal pemahaman agama. Qolîlun fuqohâuhu, sebagaimana sabda Nabi. Untuk membentengi diri, setidaknya kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Kita perlu takut, sebab beberapa sabda Nabi tentang tanda-tanda kiamat sudah mulai kita rasakan saat ini.

عن أنس ­ رضي الله عنه ­ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم، ويبث الجهل، وتشرب الخمر، ويظهر الزنى» رواه البخاري و مسلم

Dari sahabat Anas RA,Rasulullah SAW bersabda, sebagian tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya arak, dan nampaknya perilaku zina.” (HR. Muslim)


إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا . رواه البخاري

Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari seorang hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama. Sampai suatu saat tatkala tak tersisa lagi orang ‘alim, umat manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu ketika mereka ditanyai, mereka menjawab dengan tanpa landasan ilmu. Maka tersesatlah umat manusia, dan menyesatkanlah mereka.” (HR. Bukhari)

Kembali Pada Renungan yang Terlupakan

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3)

Ayat di atas menyuguhkan sebuah renungan kepada para makhluk-Nya. Sebuah renungan yang selalu dilupakan oleh para hamba-Nya. Renungan bahwa segala sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan bertahap, tidak dilakukan tergesa-gesa. Dalam ayat tersebut merekam kejadian penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Kenapa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan keduanya dalam jangka cukup lama, tidak dalam sekejap saja. Padahal kita tahu jika Allah adalah Dzat yang ketika ingin mewujudkan sesuatu pasti akan terwujud dan sekejap langsung jadi; “Kun Fayakun”. Diantara ulama yang menginterpretasikan ayat tersebut, ada yang memberikan sebuah statemen jika hikmah dibalik penciptaan langit dan bumi dalam enam masa itu adalah agar para manusia sadar jika segala sesuatu yang ingin dilakukan hendaknya secara bertahap, tidak atau jangan sampai dilakukan dengan adanya ketergesa-gesaan.

Sesuatu yang diidam-idamkan jika terwujud pasti akan memberikan sebuah kesan yang sungguh berarti pada orang yang mempunyai keinginan tersebut. Untuk menuju kesana, tentu diperlukan sebuah usaha keras agar keinginan bisa tercapai dengan sempurna. Dan bukanlah hal yang mudah proses menuju kesana, karena banyak kerikil tajam yang siap menghadang. Setiap individu pasti mempunyai keinginan, namun keinginan itu belum tentu atau tidak akan pernah terwujud jika ia tidak mau melakukan usaha secara intensif. Ini merupakan harga mati jika keinginannya ingin terwujud. Seseorang bisa menyandang gelar ulama, karena berkat usaha keras yang dilakukannya dan yang pasti untuk menempuhnya diperlukan tenggang waktu yang tidak sebentar. Dia harus mempelajari, membahas, menelaah ulang, dan lain sebagainya yang mestinya butuh waktu cukup lama. Tidak bisa diraih secara instan seperti menimba air dari dalam sumur.

Ketika seseorang telah mempunyai suatu keinginan dan dia telah merencanakan usaha untuk kesana dengan membuat beberapa langkah, yang perlu dia lakukan selanjutnya ialah hendaknya menjalaninya dengan pelan-pelan. Sikap ini dibutuhkan karena ketika menjalani suatu hal dengan tanpa adanya kehati-hatian, bisa-bisa ketika telah sampai pada tujuan dia akan sedikit menemui keganjalan karena merasa telah salah arah. Adanya sikap hati-hati yang dimanifestasikan dengan pelan-pelan atau bertahap, sebenarnya berguna untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedang tindakan tergesa-gesa adalah sebuah kebiasaan yang negatif. Apalagi ciri khas grusa-grusu-nya itu, membuat orang di sekitar menjadi tidak ‘mantap’. Disamping tindakan yang kurang baik, agama pun mengatakan jika tindakan tergesa-gesa merupakan salah satu tindakan musuh bebuyutan kita, setan.

Sebenarnya kalau kita mau merenungkan semua hal yang diciptakan oleh Allah Swt., pasti kita akan menemukan secercah kebeningan hati karena telah merasa mendapat pentunjuk atau hidayah-Nya. Ingat, merenungkan apa yang diciptakan, bukan Yang Menciptakan. Sebab jika pikiran kita merenungkan pada sang Pencipta, akal kita tidak akan pernah menjamah kesana. Bahkan yang paling ditakuti adalah malahan bisa jadi kita tersesat terlalu jauh.

Banyak sekali ayat Alquran yang menyetir tentang perenungan tentang apa-apa yang telah diciptakan-Nya. Seperti dalam surat Ali Imran ayat 190-191: 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka’.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa termasuk orang berakal atau kata lainnya pintar adalah orang yang mau berfikir tentang penciptaan langit dan bumi. Tujuan perenungan itu adalah agar mengetahui jika segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi pasti ada hikmahnya. Dan biasanya orang yang mengoptimalkan pikirannya dengan seringnya merenung tentang ciptaan Tuhan, pasti akan mempunyai ide-ide cemerlang. Bahkan tidak hanya sampai di situ, bisa jadi ide itu dikembangkan sehingga menjadi sebuah bidang ilmu khusus, seperti kemajuan teknologi saat ini.

Dalam pembahasan sikap tergesa-gesa, sebenarnya agama Islam juga dalam melarangnya ada banyak sekali hikmah yang terkandung. Hanya saja tidak ada atau jarang yang tahu. Seperti anjuran pelan-pelan ketika makan. Ketika makanan sampai di mulut, ada anjuran sebaiknya tidak langsung ditelan, tapi dikunyah terlebih dahulu sampai benar-benar halus. Hikmah yang terkandung, menurut ahli pencernaan, adalah jika makanan yang masuk ke dalam perut tidak dalam keadaan halus, maka akan merusak lambung, karena lambung adalah termasuk organ tubuh yang sensitif. Makan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang, juga akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan dan proses pencernaan berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Kalau kita sejenak mau melirik kembali tentang historis Nabi tatkala menerima wahyu, mungkin kita akan sadar jika memang perlakuan tergesa-gesa bukanlah hal yang baik. Kisah ini terekam dalam Alquran surat al-Qiyamah ayat 16-19: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”

Dulu, Nabi Muhammad ketika menerima wahyu lewat malaikat Jibril sempat ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa menggerakan bibirnya sebelum Jibril membacakan wahyu itu. Teguran kepada Nabi yang terekam rapi dalam Alquran ini secara tidak langsung juga menyuruh kita agar tidak melakukannya.

Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat ditarik sehelai benang merah, jika sikap tergesa-gesa itu memang sungguh sikap yang tidak baik diterapkan dalam semua tindakan dan banyak akibat yang fatal jika orang telah terlanjur melakukannya. Oleh karenanya, mulailah dari sekarang kita mengatur pola hidup dengan sikap yang tenang, tidak tergesa-gesa. Disamping karena sikap ini banyak menguntungkan, Allah pun akan menyayangi kita sehingga kita akan mendapatkan pahala dari-Nya. Sebab sikap tenang adalah sikap yang dicintai-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Penulis : Zainal Faruq

Saat Cinta Tersandung Kehendak Orang Tua

Kisah cinta Laila-Majnun dan Siti Nurbaya adalah salah satu kisah cinta mengharukan sepanjang sejarah kehidupan manusia yang sampai saat ini tetap dikenang. Kisah percintaan mereka harus berakhir dengan air mata dan penderitaan yang mendalam saat kehendak orang tua menjadi batu penghalang, sehingga meski hati Laila hanya untuk Qois, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mencinta tanpa bisa memiliki.

Tak bisa dibayangkan jika kisah percintaan semacam itu harus terulang kembali dalam pentas kehidupan modern saat ini. Tetapi, apa yang terjadi pada masa silam bukan hal yang mustahil akan terulang di masa mendatang. Sebab, kehidupan ini menyimpan beragam teka-teki yang penuh misteri, tak hanya kebahagiaan namun juga ada penderitaan.

Cinta tak direstui tak ubahnya disuguhi buah si malakama “dimakan bapak mati, tidak di makan ibu yang mati”. Sebuah pilihan yang benar-benar membingungkan dan tak bisa ditentukan. Dalam kondisi seperti ini seseorang akan serba salah dalam menentukan pilihannya, antara mengikuti kehendak cintanya ataukah kehendak orang tuanya, yang pasti akan ada hati yang tersakiti apapun yang dipilih.

Namun, yang mesti menjadi catatan dalam keadaan seperti ini adalah bahwa tak ada yang mengharuskan seseorang tunduk dan patuh pada kehendak hatinya. Secara norma agama dan sosial mengikuti kehendak orang tua adalah suatu keharusan bagi seorang anak, kepatuhan kepada kedua orang tua adalah perintah agama yang semua orang mengetahuinya karena ridhollah fii ridhol walidain, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua. Sehingga, tidak heran ketika ada sahabat Nabi yang hendak ikut serta berperang, Nabi tidak langsung mempersilahkannya sebelum ia mendapat restu dari orang tuanya, “Wahai, Rasulullah… Aku ingin ikut berperang bersamamu,” pinta sahabat Jahimah kepada Nabi. “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Tanya Nabi. “Iya..” jawabnya. “Kalau begitu pulanglah, mintalah izin kepadanya karena surga berada di telapak kaki keduanya.” (HR. Bukhori)

Hadis di atas bisa dipahami bahwa kalau fardu kifayah saja harus ada izin dari orang tua, apalagi yang mubah. Maka dari sini adalah sebuah keharusan dan sebagai bentuk etika yang luhur seorang anak haruslah meminta doa dan restu orang tua sebelum mengambil keputusan untuk menempuh hidup baru. Doa restu kedua orang tua mutlak dibutuhkan untuk mengiringi perjalanan hidup mengarungi bahtera rumah tangga.

Sekarang, saat orang tua tidak merestui dikarenakan pertimbangan yang matang, maka tidak ada alasan bagi seorang anak untuk tidak mengikuti kehendak mereka. Sebab sejatinya tidak ada orang tua yang tak ingin melihat anaknya tersenyum bahagia, hanya saja mereka juga tak ingin melihat anaknya terjerumus pada derita disebabkan pilihan hatinya yang salah, sebab kesalahan sedetik memilih pasangan hidup maka penderitaannya akan dirasakan selamanya. Disinilah mengapa orang tua terkadang enggan memberikan doa restu.

Hati memang tak bisa dikompromi. Saat hati sudah terlanjur cinta, sangat sulit untuk bisa dilupa. Namun demikian, pilihan hati masih bisa dicari dan diganti meski hal itu butuh waktu yang amat panjang dan menyulitkan, takkan selamanya derita itu ada, inna ma’al usri yusroo. Namun halnya dengan orang tua, apapun yang terjadi, ibu tetaplah dia yang melahirkan dan membesarkan kita dan ayah tetaplah dia yang banting tulang demi menjaga keberlangsungan hidup kita, maka akankah hanya karena sedetik kehadiran orang lain, air susu ibu selama bertahun-tahun akan dibalas dengan air tuba?][

 

Penulis: Musthofa

Sepotong Roti Penebus Dosa

Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Musa al Asy’ari, bahwasanya ketika menjelang wafat, Abu Musa memberikan nasihat kepada salah seorang putranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita seorang yang mempunyai sepotong roti?” kata beliau.

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ia melakukan ibadah selama lebih dari 70 tahun lamanya. Selama itu pula ia tidak pernah meninggalkan tempat ibadahnya, kecuali pada hari-hari yang telah ditentukan. Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik. Dan dia pun tergoda dalam bujuk rayunya. Akhirnya, mereka masuk dalam lautan asmara, bergelimang di dalam dosa. Tujuh hari lamanya mereka tenggelam dalam nafsu setan, melakukan hubungan layaknya suami istri.

Setelah itu, ia pun sadar akan perbuatannya yang telah melanggar perintah Tuhan, karena itu ia bertaubat. Kemudian ia melangkahkan kakinya, pergi mengembara. Dalam pengembaraannya ia selalu mengerjakan salat dan bersujud. Setelah sekian lama melanglang buana kesana kemari, akhirnya sampailah perjalanannya ke sebuah pondok yang didiami oleh dua belas orang fakir miskin. Karena sudah sangat letih, ia bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, sehingga akhirnya ia pun tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.

Di samping kedai itu, hidup seorang pendeta yang setiap malam mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu. Masing-masing mendapatkan jatah sepong roti. Suatu ketika datanglah seseorang yang membagi-bagikan sedekah kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok itu. Begitu pula lelaki itu, ia juga mendapat bagian karena disangka orang miskin.

Setelah sedekah selesai dibagikan ternyata ada seorang di antara mereka yang tidak mendapat bagian. Sehingga ia menanyakan kepada orang yang membagikan roti itu: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku?” Orang yang membagikan roti itu pun menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, lelaki itu megambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya orang yang bertaubat itu didapati telah meninggal dunia.

Di hadapan Allah, ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukannya selama lebih kurang 70 tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh hari. Namun ibarat panas setahun hujan sehari. Ternyata kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh hari itu mengalahkan berat timbangan amal yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun. Namun untunglah, pahala yang didapat dari memberikan roti itu lebih berat dari dosa yang dilakukan selama tujuh hari, dan akhirnya selamatlah ia dari api neraka yang sangat pedih.

Kepada putranya, Abu Musa berkata lagi: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu.”

 

Oleh: Ieda Assalmiyah, P3TQ Lirboyo