Tag Archives: resolusi jihad

Bersama Santri, Damailah Negeri

Dalam rekam sejarah, santri memiliki peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan caranya yang begitu unik, para santri bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain dalam melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, serta mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih. Puncaknya adalah ketika dikeluarkannya resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

Keputusan resolusi jihad NU yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tidaklah secara instan. Akan tetapi telah melewati serangkaian ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi Jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya.

Penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober merupakan Keppres No.22 tahun 2015. Kenapa Hari Santri Nasional begitu krusial sampai diganjar sebuah peringatan berskala nasional? Kenapa gak ada hari ulama atau kyai yang notabenenya merupakan guru dari santri tersebut? Hal tersebut merujuk pada sejarah perjuangan pasca kemerdekaan dimana saat itu tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA pimpinan Jenderal A.W.S. Mallaby kembali menduduki Indonesia guna merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Mendengar hal itu, membuat KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Nahdhlatul Ulama (NU) menyerukan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Inti dari resolusi jihad tersebut yaitu “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ain atau wajib bagi setiap individu”. Resolusi Jihad memantik semangat para santri arek Surabaya untuk perang melawan penjajah NICA selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 27-29 Oktober yang menyebabkan Jenderal Mallaby tewas. Efek dari tewasnya Jenderal Mallaby membuat angkatan perang inggris geram sampai puncaknya peristiwa 10 November 1945 yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Melalui penetapan dan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), diharapkan sinergi antara pemerintah, santri, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia, bahkan dunia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik bangsa. Pesantren—sebagai wadah santri—akan terus berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]

 

 

 

Khotbah Jumat: Mengenang Ulama, Mewarisi Semangat Juang

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

tidak henti-hentinya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Bulan ini di 73 tahun yang lalu, KH. Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama terdahulu berkumpul dalam satu meja. Sebelumnya, tak pernah para ulama merasa resah seperti ini. Mereka memiliki suatu tanggungjawab besar yang mereka panggul, yakni merawat dan menjaga kehidupan beragama masyarakat mereka masing-masing. Tapi di hari itu, mereka harus meninggalkan masyarakat mereka sementara waktu. Mereka pergi dari rumah menuju satu titik untuk bertemu dengan ulama lainnya. Apa gerangan yang memaksa mereka meninggalkan tanggungjawab besar itu? Tiada lain adalah mereka telah mendapat tanggung jawab yang lebih besar: menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ketika itu sedang mendapat ancaman serius dari tentara penjajah. Keadaan telah demikian genting.

Maka demi kepentingan negara, para ulama rela meninggalkan kewajiban mereka sejenak kepada masyarakat sekitar. Karena menjaga negara sesungguhnya kewajiban paling besar yang ditanggung oleh ulama. Ini selaras dengan apa yang diucapkan oleh KH. Wahab Hasbulloh:

ِحُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْمَان

Mencintai tanah air, memperjuangkan kedamaian tanah kelahiran adalah bagian dari Iman. Tanpa ghirah  dan semangat membela negara, mustahil seseorang dianggap sempurna keimanannya. Sudah barang tentu, para ulama, yang memiliki kadar keimanan yang telah tinggi, akan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk memperjuangkan kedamaian tanah kelahirannya itu.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Dari pertemuan itu, dihasilkan sebuah keputusan besar: Fatwa Resolusi Jihad. Fatwa ini menghendaki bahwa setiap muslim berkewajiban untuk melindungi negaranya dari serangan penjajah. Hanya dengan kondisi negara yang aman dan tentram lah ajaran agama dapat dilestarikan dengan sempurna. Dalam surat al-Baqarah ayat 190 disebutkan:

 

ِوَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

Ayat di atas menegaskan bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk mempertahankan agama Allah. Kita harus memperjuangkan kelestarian agama kita dengan sepenuh jiwa dan raga. Kita bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para ulama di zaman dahulu. Mereka rela turun ke medan, menghadapi langsung para musuh.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Perjuangan melawan penjajah dalam rangka menjaga kemerdekaan pada saat itu amatlah berat. Para pejuang Indonesia berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan lengkap. Bahkan mereka telah mengepung kota dari seluruh daratan, laut dan udara. Meski begitu, para pejuang Indonesia tidak sedikitpun gentar menghadapi musuh. Mengapa? karena cinta tanah air telah merasuk dalam jiwa mereka, sehingga menjadi kekuatan yang menggebu-gebu.

Karenanya, jangan pernah sekali-kali kita melupakan jasa para ulama. Perjuangan yang mereka lakukan bukan hanya berdiam di masjid, duduk berdzikir, memutar tasbih. Justru mereka adalah para pejuang yang paling gigih, yang tak sedikitpun melirik hal lain dalam memperjuangkan negara, selain bahwa negara harus dibela mati-matian. Negara adalah harta yang paling berharga bagi mereka. Berkat jasa mereka lah, kita bisa hidup di dalam negara yang damai, dan menjalani hidup dengan santun dan tentram.

 

ِبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Satu Milyar Shalawat dari Umat Moderat

LirboyoNet, Kediri—Malam 21 Oktober tahun 1945, adalah malam genting. Wadah para ulama Nahdlatul Ulama, PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah para ulama membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertemuan itu berakhir pada tanggal 22 Oktober. Di tanggal itu pula, PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Malam yang sama, 72 tahun kemudian, adalah malam tenang. Di tengah ketenangan itu, puluhan ribu santri khidmat berkomat-kamit. Mulut mereka mendzikirkan wirid agung: Shalawat Nariyah. Berpusat di Aula al-Muktamar, santri-santri itu patuh mengikuti bacaan yang dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dimulai pukul 20.00 WIB, acara “Satu Milyar Sholawat Nariyah” itu diikuti oleh ulama se-Kediri Raya.

KH. Anwar Iskandar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Ngasinan, Kediri, menegaskan bahwa pembacaan shalawat Nariyah ini sangat perlu digalakkan. “Bangsa kita sekarang sedang dirundung kegelisahan, kegalauan. Dengan shalawat Nariyah ini, semoga kegalauan ini cepat-cepat dihilangkan oleh Allah dari bangsa kita,” harap beliau.

Pembacaan Satu Milyar Sholawat Nariyah ini, selain sebagai upaya untuk mendoakan keselamatan bangsa, juga menjadi salah satu agenda dalam memperingati Hari Santri Nasional, yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. Bagi santri, hari ini begitu istimewa, karena dengan adanya hari khusus bagi mereka, ada tuntutan penting untuk mereka renungkan. “Kita harus introspeksi diri. Sampai di mana kita menyumbangkan jasa kepada bangsa?” tekan Gus War, sapaan akrab beliau. Ini tak lepas dari fakta sejarah, bahwa para ulama telah begitu besar jasanya kepada bangsa. Sejak jauh sebelum kemerdekaan, ikut mempertahankan kemerdekaan, hingga melanjutkan dan mengisi kemerdekaan, seperti sekarang.

Salah satu jasa pesantren adalah menjaga kedamaian dan ketentraman bangsa. “Sejak dulu, pesantren tidak pernah bergeser arah visinya. (yakni) Terus berupaya menelurkan santri-santri yang moderat,” ungkap beliau. Dengan kemampuan santri inilah, harapan untuk meneruskan perjuangan Nabi terus dibumbungkan. Yakni, merawat umat dan bangsa agar menjadi umat yang wasathan, yang moderat, yang tidak mudah bergejolak oleh isu-isu negatif.

Dalam acara ini, juga dibacakan Ikrar Santri Indonesia. Ikrar ini untuk menegaskan bahwa santri selamanya akan menjadi generasi yang berjuang demi kemashlahatan bangsa.][

Hijrah, Maulid dan Hari Santri

Dulu ketika Nabi saw. berhijrah dari Makkah menuju Madinah, Beliau menyabdakan bahwa sesungguhnya setiap seseorang yang berhijrah akan dibalas sesuai dengan niatnya dalam berhijrah. Jika ia berhijrah dengan tujuan wanita yang dicintai atau maksud dunia lainnya, maka ganjaran itulah yang akan ia peroleh. Dan barang siapa yang berhijrah dengan niat mencari ridla Allah swt. dan RasulNya, maka pahala itu jugalah yang bakal ia dapat.

Hadis tersebut, atau lebih tepatnya momen itu, adalah sesuatu yang sangat berkesan bagi Umar ra., salah satu sahabat utama Nabi yang juga sekaligus periwayat utama hadis yang sangat masyhur itu. Maka, ketika beliau menjadi pengganti Abu Bakar ra. dalam memimpin umat Islam mengarungi rintangan-rintangan dunia, segeralah beliau menetapkan momen hijrah tersebut sebagai diawalinya penanggalan resmi umat Islam. Bagi beliau, momen itu merupakan babak baru bagi kehidupan umat Islam, meskipun hijrah itu sendiri adalah sesuatu yang berat bagi umat Islam karena harus meninggalkan tanah kelahiran mereka. ”Andai bukan karena kaumku mengusirku,” sabda Nabi, ”maka takkan kutinggalkan dirimu, wahai Makkah.”

Namun demi kemajuan agama Islam yang hendak menghapuskan barbaritas (jahiliyah), maka umat Islam rela meninggalkan Makkah demi kemajuan Arab khususnya dan dunia umumnya. Bisa kita lihat, bahwa dalam setiap zaman ternyata memiliki momentumnya sendiri. Dan bagi Umar ra., siksaan yang diterima umat Islam di Makkah selama lebih dari tiga belas tahun merupakan babak yang sangat berat dalam fase kehidupan umat. Sehingga ketika belenggu despotisme Kafir Quraisy berhasil mereka lepaskan dengan hijrah, maka hal itu haruslah diperingati sebagai sesuatu yang penting. Oleh karena itu, tahun hijrahnya umat Islam ditetapkan sebagai tahun resmi agama Islam. Maka dengan sendirinya momen menjadi fenomena.

Bahwa tahun tatkala momen hijrah dilaksanakan dijadikan sebagai tahun pertama agama Islam bukanlah sesuatu yang tanpa alasan. Ada banyak sekali momen yang sangat berkesan dalam agama Islam, namun yang dipilih oleh Umar ra. justru momen hijrah. Di antara kejadian-kejadian yang berupa unforgettable moment dalam perjalan umat selain hijrah diantaranya adalah kelahiran Nabi, diangkatnya Beliau sebagai Rasul sekaligus turunnya ayat Alquran pertama dan takluknya kota Makkah dengan tanpa darah yang dilukiskan Allah sebagai pertolongan-Nya (nasrullah) serta banyak momen lain. Namun, bagi Umar ra., hal itu mengalahkan pentingnya momen hijrah. ”Hijrah,” Ibn Hajar dalam Fathul Bari menulis, ”Merupakan wujud indepedensi umat.” Hal itu dikarenakan orang Romawi menggunakan kelahiran tokohnya dalam mengawali titi mangsa dan orang Persia menggunakan kematian rajanya sebagai awal mula penanggalan. Begitulah, bagi Umar hari hijrah merupakan hal yang penting.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hal yang sama dirasakan oleh para ulama dalam menyikapi hari meninggalnya Nabi, dua belas Rabiul Awal. Sebelum adanya perayaan Maulid, hari meninggalnya Nabi selalu diperingati dengan kesedihan berkepanjangan karena kehilangan tokoh panutan. Memang terkadang perpisahan lebih dikenang ketimbang perjumpaan dan kebersamaan. Sebagai penjaga moralitas, ulama ketika itu tentu tidak tinggal diam. Beliau-beliau menjadikan tanggal dua belas Rabiul Awal (hari meninggalnya Nabi menurut mayoritas) sebagai peringatan hari kelahiran Nabi, yang menurut mayoritas justru tanggal delapan Rabiul Awal. Hal itu dilakukan sebagai pengabadian momen milad Nabi sehingga Nabi senantiasa ”hidup” dalam kewafatannya. Dalam satu kesempatan Allah swt. berfirman, ”Tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rasul yang rasul-rasul lain telah lewat sebelumnya. Apakah jika ia meninggal atau dibunuh kalian akan berpaling…” Firman ini sedikit memberi arahan kepada kaum beriman agar mereka tidak larut dalam kesedihan-kesedihan yang tiada gunanya. Dan para ulama menganjurkan agar kesedihan ini diganti dengan kegembiraan, yakni perayaan Maulid. Sekilas mungkin terdapat reduksi sejarah. Namun sebenarnya sama sekali tidak ada reduksi sejarah di sini. Yang dilakukan hanyalah merubah tanggal perayaan, bukan menyampaikan bahwa kelahiran beliau adalah tanggal dua belas. Toh, tanggal kelahiran beliau tidak disepakati secara pasti. Jadi, tidak ada salahnya memperingatinya di tanggal dua belas. Dan toh juga ini dilakukan agar kita tidak bersedih atas meninggalnya Nabi yang hal itu berakibat kepada pesimisme yang tak berfaedah.

Hari Maulid setidaknya juga menjadi pengingat bagi kita yang sering lupa meneladani Nabi saw. Hal ini bukan berarti bahwa kita hanya meneladani Beliau saat Maulid saja, namun setidaknya, adanya formalitas perayaan ini menjadi sebuah momen resmi dan pernyataan sikap bahwa kita masih meneladani Nabi saw. secara formal, logikanya berarti lebih-lebih secara informal. Sakralisasi (dengan konotasi positifnya) terhadap hijrah seperti yang Umar ra. lakukan ataupun formalisasi maulid seperti yang ulama teladankan adalah contoh dari corong-corong budaya yang dibutuhkan masyarakat yang kering akan nilai-nilai tradisi. Dengan kedua fenomena itu, masyarakat yang kering akan nilai-nilai penghargaan atas sejarah menjadi sadar bahwa mereka tidak dibangun dengan hura-hura dan pesta pora, tapi dengan keringat dan asa.

Konsekuensi positif dari formalisasi dan sakralisasi yang dilakukan oleh teladan-teladan umat Islam zaman dahulu inilah yang sepertinya hendak ditangkap oleh beberapa tokoh Nahdliyin dengan mengusulkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tokoh-tokoh Nahdliyin yang mengusulkan tanggal ini sebagai Hari Santri Nasional agaknya tidak ingin momen Resolusi Jihad (sebagai inspirasi Hari Santri) yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai sesuatu yang penting ini hilang ditelan sejarah dan hanya abadi secara literasi saja. Mereka, para penggagas Hari Santri, menyadari perlu ada sakralisasi seperti yang dilakukan Umar ra. terhadap momen hijrah. Dan mereka juga sadar akan perlunya formalisasi seperti halnya para ulama memformalkan sikap meneladani Nabi saw. dalam hari perayaan maulid.

Dengan kedua inti ini, formalisasi dan sakralisasi, akan terwujudlah sebuah penghargaan terhadap Resolusi Jihad. Meskipun secara esensi Resolusi Jihad itu sendiri sudah formal dan sakral. Jadi, yang dihargai dan diingat dalam konteks ini bukan 22 Oktober yang akan kita lalui di tahun-tahun mendatang, namun 22 Oktober 1945 yakni ketika para pejuang, khususnya santri dan kiai, gugur dalam pertempuran. Peringatan yang akan diperingati setiap tahun adalah sarana dalam mengingat momen tujuh puluh satu tahun yang lalu itu.

Lebih jauh lagi, peringatan ini bukan sekedar ingatan yang masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Dengan peringatan ini, para santri harusnya lebih mak jleb lagi dalam menghayati sifat nasionalismenya, seperti yang dicontohkan Hadlrotusyaikh Mbah Hasyim. ”Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah,” kutipan teks Resolusi Jihad tertulis, ”untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan agama Islam.” Dengan Hari Santri, sesuai dengan amar Resolusi itu sendiri, para santri haruslah mempertahankan Republik tercinta ini. Secara konteks, mempertahankan bukan lagi dengan senjata, namun akhlak-akhlak mulia sebagaimana tercontoh dalam tindak lampah Mbah Hasyim. Dengan Hari Santri pula, berdasar isyarat Resolusi itu, para santri diharapkan untuk bisa terus mempertahankan agama Islam. Dan secara konteks, hal itu hendaknya dilakukan dengan pena dan pemikiran yang sesuai dengan ideologi bangsa, seperti yang dipegang teguh oleh Mbah Hasyim.

Dan dengan momen Hari Santri ini, semoga kita, siapapun yang mengaku dan ingin diaku sebagai santri, bisa meneladani Khalifah Umar, para ulama pencetus Maulid, dan juga Mbah Hasyim.][

Penulis, AK. Kholili Kholil, Santri Lirboyo Kamar HM 14

Diskusi Film Jalan Dakwah Pesantren

LirboyoNet, Cirebon – Semalam (20/10/2016), Panitia Bahtsul Masa’il XXX, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-Jawa dan Madura, dalam rangka turut serta memperingati Hari Santri Nasional, menggelar pemutaran dan diskusi film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Pemutaran film menggunakan 2 layar tancep, dengan lokasi yang agak berjauhan untuk santri putra dan santri putri. Pemutaran dan diskusi ini dihadiri lebih dari 4.000 santri putra dan putri dan tentunya juga oleh warga sekitar pesantren. Jumlah ini adalah setengah dari total keseluruhan santri putra dan putri pesantren Babakan yang berjumlah lebih dari 11.000 santri.

Secara singkat, film tersebut mencoba meyakinkan para penonton bahwa betapa Indonesia memiliki sebuah lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.

Film ini sangat menarik bukan hanya karena banyaknya pihak yang dilibatkan, mulai pesantren-pesantren, kiai-kiai, santri, peneliti, sejarahwan dan tentunya orang-orang dibalik layarnya, tetapi juga karena harapan dan semangat yang terkandung di dalamnya. Mulai semangat menjalin “ukhuwah islamiyah” (persaudaraan sesama umat muslim), “ukhuwah wathaniyah” (persaudaraan sesama warga bangsa), hingga “ukhuwah insaniyah” (persaudaraan sesama umat manusia).

“Karena citra pesantren sebagai suatu tempat mencari ilmu, menempa diri, dialog membangun masyarakat beradab, berkebudayaan, itu sudah semakin luntur dimata masyarakat luas. Saya berharap, film ini menjadi jendela kecil bagi orang yang ingin melihat pesantren dalam artian yang lebih luas,” ungkap salah seorang produsernya, Hamzah Sahal, dalam diskusi selepas nonton bareng.

Sampai hari ini memang film tersebut belum bisa kita nikmati secara luas, karena memang belum tersebar didunia maya. Jika anda bertanya kenapa, direktur film, Yuda Kurniawan berkomentar, “Secara pribadi saya bingung harus jawab apa. Karena, disisi lain, saya juga merasa sedih. Sebegitu parahkah minat mengapresiasi sebuah film di sebagian penonton kita? Ataukah Youtube sudah merubah semua budaya menonton kita menjadi sangat individualistik, menonton sendiri-sendiri di gadget, di laptop, nonton di kamar, di mobil, di commuterline bahkan di toilet. Tak ada lagi ruang interaktif, tak ada lagi ruang berdiskusi, bertukar pikiran dan gagasan, semuanya serba sendiri-sendiri. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan, saya selalu menjawab, ’Tunggu saja, sampai dititik dimana kami lelah memutarkan keliling film ini’.”][