Tag Archives: reuni

Gerak Sunyi HIMASAL Jateng: Mengabdi Kepada Kiai, NU Dan NKRI

HIMASAL (Himpuan Alumni Santri Lirboyo) Jawa Tengah terus melakukan konsolidasi organisasi sejak pelantikan (2015) hingga sekarang, di bawah kreativitas dan keuletan komandannya, Gus Mahin Tegalrejo Magelang.

Beliau telaten menyapa, silaturrahim dan memberi support kepada para alumni mulai Himasal tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga tingkat Jawa Tengah untuk semakin menyambung ‘alaqah bathiniah’ (ikatan batin, red.) terhadap Masyayikh Lirboyo dan patuh serta tunduk terhadap berbagai arahannya dalam situasi sosial seperti apapun.

Berbagai program sosial juga terus digulirkan. Di antara yang paling menarik adalah beasiswa santri tidak mampu agar dapat menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur.

HIMASAL Jawa Tengah terus bergerak dalam kesunyian, jauh dari hingar-bingar media, dalam berkhidmah kepada para Masyayikh Lirboyo dan berkiprah secara istiqamah di tengah masyarakat dan umat.

Bukankah kerja-kerja sunyi seperti ini juga mengandung semangat mengokohkan Ahlussunah wal Jama’ah, NU dan NKRI dari berbagai tantangan atas eksistensinya di negeri ini yang silih berganti?

__
Keterangan photo:
Gus Mahin (Jaket hitam pegang rokok) bersama Himasal Kab Banjarnegara dalam acara silaturahim awal Januari 2019.

Rindu Yai Imam, Rindu yang Beku

Peringatan Haul (pendak, -jw) oleh sementara orang diyakini sebagai ajang mengenang kisah sang almarhum. Kisah-kisah kebaikannya, kisah perjuangannya, kisah dakwahnya, atau sekedar kisah ringan yang membuat keluarga tersenyum-tertawa. Mengulang kisah ini, akan mencairkan bongkahan-bongkahan rindu, atau justru menambah beku.

Tadi malam, Sabtu, 19 Oktober 2016, saya dihampiri rindu yang ambigu itu. Semula hal-hal biasa terjadi: menyiapkan buku catatan, kamera, dan obat batuk. Itu saya lakukan hampir di setiap acara agung lainnya. Seperti yang lalu-lalu, di acara agung itu selalu ditebar kalam-kalam hikmah, ilmu pengetahuan, yang terlalu banyak untuk diingat memori hafalan saya yang payah. Karenanya, buku catatan menjadi begitu penting bagi saya, sebagaimana pentingnya membawa obat batuk. Saya tak mau mengganggu kekhusyuan hadirin dengan dentuman batuk dari tenggorokan saya, yang sedang menikmati kemesraan dengan demam.

Sampai kemudian maghrib tiba. Saya segera shalat, dan menemui kawan-kawan yang telah datang. Mereka berkumpul di gedung sekolah MA HM Tribakti, sekitar 300 meter dari masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo. Mereka yang datang di luar perkiraan saya. Dari Blitar, Semarang, Jogja, Indramayu, Cirebon, Bekasi, dan tempat jauh lain, satu per satu memarkir kendaraannya. Dari raut muka mereka yang lelah, ada tanda bahwa mereka didatangi rindu yang sama.

Setelah berbasa-basi sejenak (tahulah anda rupa “basa-basi” para santri yang lama tak jumpa, dan maksud “sejenak” itu), mobil dan motor yang diparkir dihidupkan kembali, berarah ke utara, tempat di mana Ponpes Al-Mahrusiyah III berada. Beberapa ratus meter menjelang lokasi, nampak kubah kuning masjid besar pondok ini. Megah nian.

Tiba di sana, masjid itu ternyata masih menyimpan pembacaan maulid untuk kami. Kenangan bertahun lalu menyeruak: setiap kamis sore, syair maulid dilantunkan di mushola. Ada yang memejamkan mata. Menangis haru. Sebagian dari kami malah ndusel, mendesak sambil cubit-cubitan. Tak sopan sebenarnya. Tapi kami yang lugu belum tahu apa itu khusyu.

Tak lama setelah doa diamini, telepon saya berdering. Satu teman saya, yang sudah tamat MHM dan memasuki masa khidmah, ingin hadir, tapi tak bisa berkendara. Dengan senang hati saya menjemputnya. Semua santri almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus rupanya dirasuk kerinduan-kerinduan bertumpuk.

Saat menuju tempat parkir, saya mendengar lamat-lamat dari pengeras suara, “apa yang kita perjuangkan, apa yang Yai Imam perjuangkan, akan menjadi amal yang abadi.” Saya kemudian teringat apa yang Walikota Kediri ceritakan beberapa menit sebelumnya, “Yai Imam itu sangat peduli pada gerakan pemuda. Waktu saya masih muda, beliau dengan telaten membimbing kami, pemuda-pemuda Kediri untuk bekerja keras, sehingga dapat ikut serta dalam memakmurkan Kediri, lebih-lebih negara.”

Sebagai kawula muda, tentu saya tergugah. Betapa pemuda adalah pihak yang paling sah untuk dijadikan tumpuan harapan. Karena itu saya mengira-kira, barangkali Pak Imam, begitu yang sering diucapkan KH. Imam Yahya Mahrus untuk menyebut diri beliau di hadapan santri, sekarang sedang berbahagia. Anak-anak didiknya benar-benar menjadi pembangun negeri, Walikota Abu Bakar itu contohnya.  Dan banyak lagi, meminjam istilah Gus Mus, Pak Imam-Pak Imam lain, dengan skala yang lebih kecil, mampu menerangi lingkungan masyarakatnya.

Setelah acara usai—tentu saja—kami memilih warung kopi, bercanda, dan berwefie ria. “Sejatinya, haul bukan hanya peristiwa mengingat-kenang,” sela teman saya dengan nakal, “tapi juga menjadi ajang pertemuan-pertemuan jenaka, antarteman, dengan guru, dan kawan-kawan ‘rahasia’. Hehehe.”][

 

Penulis, Hisyam Syafiq, alumnus HM Al-Mahrusiyah tahun 2010.

Pentas Barongsai di Haul KH. Imam Yahya Mahrus

Salah satu tanda orang besar adalah pengakuan orang banyak atas kebesaran jasa kehidupannya.

LirboyoNet, Kediri – Pergantian tahun Masehi beberapa hari yang lalu menjadi momen tak terlupakan bagi santri Lirboyo, khususnya unit Al Mahrusiyyah. Pasalnya selama sepekan sejak 30 Desember 2012 hingga 5 Januari 2013 ada agenda Haul I KH. Imam Yahya Mahrus dan Reuni Akbar I Ponpes HM Al Mahrusiyyah. Acara yang tak hanya melibatkan santri namun juga masyarakat setempat ini tak dilaksanakan di area Ponpes Lirboyo seperti biasanya. Akan tetapi di desa Ngampel, Mojoroto, tepatnya di area pesantren peninggalan almarhum, Al Mahrusiyyah III.

Sejumlah rangkaian acara yang telah diagendakan oleh pihak penyelenggara. Mulai dari bazaar, parade band, festival musik Islami, Reuni Akbar I, seminar nasional, tahlil akbar dan istighotsah kubro. Dalam hal ini HIDAYAH menyempatkan diri untuk mengikuti beberapa di antaranya.Terhitung ada 3 agenda yang berhasil kami liput. Apa saja? Let’s check it out!

Pembukaan Bazaar

Tenda besar terpampang di tengah lapangan yang menjadi pusat acara. Di dalamnya terdapat sejumlah stand yang kebanyakan dikelola oleh santri dan mahasiswa Tribakti. Namun petang itu, 30 Desember 2012 suasana area bazaar belum begitu ramai. Karena memang belum resmi dibuka.

Hingga pukul 20.00 WIB pengunjung yang kebanyakan adalah masyarakat setempat berduyun-duyun memenuhi area panggung. Rangkaian acarapun dimulai dengan penampilan salah satu band lokal. Beberapa saat kemudian seremonial resmi dilaksanakan begitu rombongan tamu kehormatan tiba.

Agenda yang dilaksanakan adalah pembukaan bazaar secara simbolis oleh Walikota Kediri, dr. Samsul Ashar dengan menabuh genderang yang Kemudian disusul dengan penampilan barongsai dan liang-liong. selanjutnya adalah launching buku Biografi KH. Imam Yahya Mahrus oleh KH. Reza Ahmad Zahid. Setelah itu rombongan meninggalkan area panggung untuk meninjau lokasi bazaar.

“Sebenarnya sudah sejak lama saya menanti terbitnya buku yang menguak tentang Kiai Imam yang amat kharismatik ini. Dan alhamdulillah kini sudah terealisasi,” ujar walikota dalam  sambutannya. “Insya Allah buku ini amat bermanfaat dan akan menjadi pustaka yang harus dimiliki oleh kita masyakarat Kediri.”

[ads script=”1″ align=”center”]

Tahlil Akbar

Sudah menjadi tradisi NU tiap malam Jum’at mengadakan tahlilan. Tak terkecuali malam itu, 3 Januari 2013 di lokasi acara. Beratus-ratus orang menyempatkan diri untuk mengikuti serangkaian dzikir dan doa untuk umumnya umat muslim, khusunya almarhum Kiai Imam Yahya. Tahlil kali ini dipimpin oleh sejumlah ulama besar. Antara lain Habib Abdulloh Al Haddar, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir dan KH. Sholeh Saifuddin. Dilanjutkan dengan pembacaan maulid Diba’.

Agenda malam itu kian semarak dengan ceramah ilmiah yang disampaikan oleh ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj. Dalam sambutannya Kiai Said banyak menyampaikan pentingnya andil warga NU dalam pembangunan bangsa di tengah zaman global sekarang ini. Dan yang terpenting adalah dengan tetap memegang teguh visi misi NU sebagai golongan ahlussunah wal jamaah.

“Al Qur’an tidak menjelaskan secara gamblang nama-nama sholat, rukun dan sebagainya. Lha kalau kenyataannya demikian, berarti orang-orang yang berkoar-koar cukup Al Qur’an dan Hadits saja adalah orang bodoh!” tegasnya.

Sebagai penutup acara rombongan tamu berziarah ke makam almarhum dan memanjatkan doa dengan diamini oleh para jamaah.

 Istighotsah Kubro

Hujan belum juga reda malam itu, 5 Januari 2013. Namun hal ini tidak menyurutkan para jamaah untuk mengikuti acara pamungkas rangkaian Haul I KH. Imam Yahya kali ini, yakni Istighotsah Kubro. Hadir malam itu KHA. Idris Marzuqi, KHA. Mustofa Bisri, KH. Anwar Iskandar, Gubernur Jatim, DR. Sukarwo beserta wakilnya, Walikota Kediri, dr. Samsul Ashar beserta wakilnya dan sejumlah tokoh lainnya. Habib Lutfi yang awalnya diagendakan hadir ternyata tidak bisa hadir.

Di tengah hujan hadirin diajak melantunkan dzikir dan sholawat bersama para masyayikh. Dilanjutkan pula lantunan sholawat dan maulid nabi. Hadirin tetap belum mau beranjak ketika sejumlah tokoh menyampaikan prakatanya.

Pakde Karwo dan Gus Ipul, sapaan gubernur jatim dan wakilnya banyak menyampaikan BOS Pesantren dan Madin yang kini sedang dalam proses pengajuan ke pemerintah pusat. Tak lain karena ternyata metode pengajaran ala pesantren adalah yang terbukti optimal di antara yang selama ini diterapkan pemerintah.

Setelah itu mau’idhoh hasanah disampaikan oleh KH A. Mustofa Bisri. Dengan tetap dalam bingkai Haul KH Imam Yahya, Gus Mus banyak bercerita nostalgia ketika masih mondok di lirboyo dulu. “Bagaimanapun juga Gus Imam adalah kawan dekat saya ketika di sini (lirboyo) dulu. Semoga beliau diterima di sisiNya,” lanjut beliau.Selain itu kiai yang juga budayawan ini juga melengkapi alasan gubernur terkait BOS Madin kenapa harus pesantren yang mendapat kucurannya. “Faktor utama semua itu sebenarnya adalah barokah kiai,” tandasnya. Seluruh rangkaian acara haul ini kemudian ditutup dengan ngeblek bareng bersama jamaah, santri dan alumni Al Mahrusiyyah. {}akhlis