Tag Archives: Safari

Bekali Delegasi Sebelum Berangkat Safari

LirboyoNet, Kediri – Salah satu program penting tahunan pondok adalah safari dakwah. Program yang digiatkan ini bertujuan sebagai media syiar Islam dan praktek lapangan bagi santri untuk belajar bermasyarakat secara langsung. Program ini sendiri diwajibkan menjelang mereka lulus dari Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Tepatnya, ketika para santri menginjak jenjang kelas dua Aliyah. Namun juga tidak sebaku itu, program ini bersifat terbuka, dalam artian, semua santri yang masih berdomisili di pondok tetap boleh dan berhak ikut. Baik dikoordinir oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) daerah masing-masing, atau melalui LIM pusat.

Realisasi safari dakwah memang masih lama, bulan Ramadhan yang akan datang. Namun persiapan yang matang mutlak perlu dan tetap harus dilakukan sedini mungkin, agar delegasi yang nantinya dikirim benar-benar siap menjawab tantangan di medan safari.

Kemarin (14/02), sebelum terjun ke lapangan, Pimpinan Pusat Lembaga Ittihadul Muballighin menggelar diklat dan pembekalan safari dakwah. Tutornya Ust. Ma’rifatus Sholihin dari Blitar. Beliau merupakan alumnus Ponpes Lirboyo tahun 2004. Beliau memiliki riwayat mengajar di Ponpes Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo semenjak beliau tamat, hingga tahun 2010 lalu. Beliau juga dikenal sebagai salah satu dai yang aktif di kawasan Blitar, Jawa Timur.

Banyak sebenarnya hal tak terduga yang mewarnai agenda safari dakwah. Delegasi tidak bisa menebak-nebak masyarakat seperti apakah yang nantinya akan mereka hadapi. Tidak hanya masyarakat yang plural; beda aliran, beda ras, beda adat, bahkan beda agama. Tapi juga  kondisi dan budaya yang berbeda harus benar-benar siap dipahami oleh setiap delegasi. Beliau, Ust. Ma’riatus Sholihin mencontohkan kondisi masyarakat yang sama juga terjadi pada era walisongo. Namun para aulia tanah Jawa tersebut mampu membaca situasi masyarakat yang ada, hingga akhirnya mereka mudah merangkul masyarakat. “Para walisongo piawai sekali. Mereka tidak memakai Alquran, tidak memakai hadis, tapi memakai lagu-lagu”. Ungkap beliau.

Memang juga tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat, untuk segera menerima perubahan. Meskipun perubahan itu juga berarti kebenaran. Mengubah tatanan masyarakat secara frontal justru akan lebih banyak punya potensi kegagalan. Dalam arti, dakwah harus dilakukan bertahap. Mengambil hati masyarakat terlebih dahulu, baru setelah mereka terpikat, naik tingkatan. “(Masyarakat dibuat) seneng disek, baru dilakukan tahap selanjutnya”. Kata Ustadz yang dijuluki Pak Dalang, karena kepiawaianya menguasai panggung itu. “Kalau kita bisa menyatu bersama masyarakat, mereka akan suka dan ilmunya akan mudah (diterima).

Peserta dan delegasi yang hadir tampak sepakat saat diberikan banyak pemahaman-pemahaman baru untuk meraih strategi dakwah secara maksimal. Tentunya memang butuh terjun langsung, namun setidaknya pengalaman dari senior juga cukup membantu.  Seperti saat delegasi dihimbau untuk tidak sembarangan dalam “berfatwa”. Menjawab problematika yang bergulir di masyarakat jelas butuh kejelian. “Proporsional dalam memberikan solusi, sebab masing-masing individu butuh solusi yang berbeda”, jelas Ustadz yang juga aktif sebagai dewan harian LIM Blitar ini. Kadang, setiap pertanyaan yang muncul tidak selamanya bersifat ingin tahu, kadang sifatnya menjebak, kadang juga hanya sebatas mengetes. Disitulah kepekaan delegasi diuji. Manakah pertanyaan yang harus dijawab dengan detail, mana yang harus dijawab dengan guyonan, dan mana yang tidak harus dijawab, namun dialihkan menuju pembahasan lain.

Sampai menjelang maghrib, ratusan peserta tetap setia menyimak materi yang disampaikan. Hingga acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB. Para delegasi kembali ke kamar masing-masing dengan kesiapan yang cukup untuk menghadapi safari dakwah.

Ballighû ‘annî walau âyatan, sampaikanlah apa yang kalian dengar dariku (Nabi Muhammad SAW) meskipun hanya satu ayat. Diharapkan muncul generasi-generasi yang tetap tabah dan ikhlas berdakwah, sebab andai kata dulu Nabi Muhammad SAW dan generasi setelahnya tidak berdakwah, agama Islam mungkin saja tidak akan bisa tersebar sampai sebesar ini.[]

Berdakwah, Tidak Ada Alasan Tidak Siap

LirboyoNet, Kediri – Sembari menunggu datangnya peserta yang lain, Qomarul Faizin, Ketua Safari Ramadlan Daerah Blitar, menandatangani lembar absensi kehadiran. Ada 38 baris nama daerah yang tertera di sana, yang berarti, untuk tahun ini Safari Ramadlan akan dilaksanakan serentak di 38 daerah di seluruh Indonesia.

Siang itu (02/02), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pusat memang sedang mempunyai hajat. Salah satu ruangan di Rusunawa dipersiapkan guna acara Pelatihan Delegasi Safari Ramadlan Daerah. Para pesertanya adalah seluruh dewan harian panitia Safari Ramadlan Daerah.

Agus Zulfa Ladai Robbi, Ketua Dua Panitia mengatakan, acara ini difokuskan untuk memberikan pengarahan kepada delegasi bagaimana proses dakwah yang baik. “Regenerasi adalah proses yang penting. Untuk itu, kalian yang sudah senior, ajaklah adik-adik kelas kalian untuk berkecimpung di dalam kegiatan Safari ini. Agar dakwah tidak berhenti di tengah jalan,” terang beliau saat memberikan sambutan.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Setelahnya, sang tutor, Bapak Widodo Hamid S. Kom. segera memulai pengarahannya dengan ringan. Beliau terlebih dahulu menceritakan riwayat dakwahnya di beberapa daerah, “waktu itu saya masih nyantri di Lirboyo. Ada satu tokoh masyarakat yang ternyata memelihara tujuh ekor anjing. Apa langsung saya katakan ‘harom’?! ‘neroko’?!”. Masih dalam cerita beliau, perlahan tokoh itu dirayu. Anjing itu ternyata untuk mengusir babi yang mendekati kebun. “‘Apa masih ada babinya?’ kata saya. ‘sudah nggak ada’. ‘anjingnya nganggur sekarang?’. ‘iya’.’berarti sampean memelihara barang nganggur? Kalau misalnya anjing itu dijual, terus diganti kambing gimana? Kan lebih berguna?”.

“Ngunu kang. Sampean rayu, terus dikasih solusi. Jangan dibeli anjingnya. Kasih saran saja. Kalau main beli saja, wah, tekor sampean,” canda beliau yang juga alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1998 itu.

Acara yang berlangsung hingga pukul 16.30 itu memang berlangsung renyah. Kisah-kisahnya selain lucu dan segar, juga menginspirasi para peserta. “Yang penting adalah, santri jangan pernah bilang tidak bisa. Tidak siap. Buang kosakata itu dari kamus kalian. Kiai saya pernah dawuh, kamu santri lirboyo, tidak ada gunanya jika tidak siap setiap saat. Disuruh ceramah, siap. Tahlil, ya. Khutbah nikah, sanggup. Cuci piring, jangan.” Tawa peserta kembali pecah. “Loh, kalian harus bisa menempatkan diri. Kalau sampean terima saja jadi cuci piring, kemudian kok bersih, sampai kapanpun sampean terus yang cuci piring. Lah yang memperjuangkan dakwahnya siapa?” lanjut beliau.

Di akhir acara, beliau membuka fakta bahwa salah satu ormas di Kediri, sudah menyiapkan 1.200 dai untuk disebar di bulan Ramadlan. “Jangan kalah dengan mereka. Wis toh, kalau masalah rizki, sampean percaya apa yang dipesankan Kiai Marzuqi. ‘Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah’. Yang penting ngajar. Dakwah. Murobbi ruuhina Mbah Manab sudah mewanti-wanti, ‘santri nek mulih ojo lali ngedep dampar’. Ingat-ingat pesan beliau itu.”][

Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM)

Ittihadul Muballighin adalah lembaga yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo. Lembaga ini bergerak di bidang dakwah keagamaan. LIM resmi berdiri pada 12 Februari 2003 melalui putusan sidang Badan Pembina Pondok Pesantren Lirboyo (BPK-P2L). Awal mula berdirinya LIM adalah ketika puluhan siswa MHM tamatan 2002 yang berasal dari daerah Kediri sowan ke KH. A. Idris Marzuqi. Saat sowan itulah, beliau memberi amanat pada mereka untuk terjun langsung ke masyarakat pada bulan Ramadhan guna mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama mesantren di Lirboyo.

Setelah alumni 2002 tersebut melaksanakan amanat yang diberikan Romo Kiai, ternyata tanpa diduga hasilnya memuaskan. Masyarakat merespon kegiatan yang mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu dengan positif. Bahkan, mereka berharap kegiatan itu bisa tetap berjalan di luar bulan Ramadhan. Menanggapi respon masyarakat itu, alumni 2002 akhirnya merangkul angkatan 2003 untuk ikut dakwah di tengah masyarakat.

Melihat respon masyarakat selama dua tahun kegiatan itu, dimotori Agus Abdul Qodir Ridlwan, setiap tahun LIM menerjunkan santri-santri Lirboyo ke masyarakat. Teknisnya, setiap Kamis sore (saat kegiatan pondok aktif) santri tingkat Aliyah MHM diterjunkan ke pelosok-pelosok Kediri. Sedangkan saat liburan (bulan Ramadhan), santri Lirboyo tingakt Aliyah diharuskan mengikuti kegiatan dakwah LIM ini. Lokasi dakwahpun bukan hanya daerah sekitar Kediri, tapi di seluruh penjuru Negeri.

Santri-santri Lirboyo bukan hanya menyampaikan pengetahuannya dalam surau dan masjid di daerah terpencil. Karena dalam prakteknya, mereka juga masuk ke dalam lembaga-lembaga formal; SMP, SMA, MA, SMK, dan perguruan tinggi.