Tag Archives: Salat

Perbedaan Salat Pria dan Wanita

Ibadah salat merupakan ibadah sentral dalam agama Islam. Kewajibannya bersifat universal, menyeluruh atas seluruh umat Islam yang telah mukallaf (berakal dan baligh), baik pria maupun wanita. Dalam sudut pandang syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkan salat, tidak ada perbedaan mendasar di antara salat pria dan wanita. Namun dalam beberapa aspek ibadah salat, terdapat perbedaan di antara keduanya. Sebagaimana Imam Abi Syuja’ meringkas hal ini dalam kitab Matan Taqrib menjadi beberapa perbedaan mendasar.

Bagi pria, karakteristik salatnya adalah:

(1) Pria mengangkat siku dan merenggang dari lambungnya saat rukuk,

(2) Mengangkat perut diangkat dari pahanya saat sujud, 

(3) Bersuara keras pada tempatnya (pada salat jahr),

(4) Apabila terjadi sesuatu kekeliruan imam dalam salat, maka membaca tashbih (dengan maksud dzikir, atau dengan maksud memberitahu Imam. Maka hal ini tidak membatalkan shalat, berbeda jika memang bermaksud memberitahu saja, maka batal shalatnya),

(5) Aurat pria (batasannya dalam salat) mulai dari anggota tubuh diantara pusar sampai lutut.

Adapun wanita, karakteristik salatnya adalah:

(1) Adapun wanita mempersempit sebagian anggota tubuh pada anggota lain (baik ketika rukuk maupun sujud),

(2) Suaranya disamarkan (sewaktu melakukan salat di sebelahnya banyak pria lain, berbeda jika shalat munfarid yang jauh dari kaum pria, maka boleh jahr/bersuara keras),

(3) Sewaktu salat berjamaah, terjadi sesuatu kekeliruan pada Imam, maka wanita mengingatkannya dengan bertepuk tangan (yakni perut telapak tangan kanan memukul punggung telapak tangan kiri. Apabila melenceng dari ketentuan tersebut, maka batal shalatnya, misalnya bertepuk tangan dengan perut kedua telapak tangannya dengan maksud main-main (bergurau) walaupun pelan, padahal ia telah mengetahui bahwa tindakan tersebut terlarang, maka batal salatnya),

(4) Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat yang wajib ditutupi selain wajah dan telapak tangan.

[]WaAllahu a’lam

Referensi:

Hamisy Fathil Qorib, I/64.

al-Iqna, I/46

Kifayah al-Akhyar, I/117.

Hukum Salat “Rebo Wekasan”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sering kita mendengar istilah Rebo Wekasan. Masyarakat meyakini bahwa pada hari itu diturunkan bermacam-macam marabahaya. Banyak pemuka agama yang melakukan shalat berjamaah dengan kaifiyah yang agak beda dengan salat yang lain dengan tujuan supaya Allah menjaga dari macam-macam marabahaya. Bagaimanahkah hukum melakukan salat Rebo Wekasan? terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Idris H.,-Wonosobo Jawa Tengah)

_______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Persoalan salat Rebo Wekasan (Rabu terakhir di bulan Shafar) merupakan khilafiyyah (perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian besar mengatakan bahwa salat Rebo Wekasan tidak disyariatkan dalam Islam, karena tidak terdapat dalil yang secara khusus menjelaskannya. Sehingga apabila ada seseorang niat secara khusus misalkan “Saya niat salat Shafar” atau “Saya niat salat Rebo Wekasan” hukumnya tidak sah bahkan haram. Sebagaimana ungkapan para ulama yang dikutip Syekh Sulaiman al-Jamal:

إِنَّ الصَّلَاةَ إِذَا لَمْ تُطْلَبْ لَمْ تَنْعَقِدْ

Hukum asal dalam salat ketika tidak dianjurkan maka tidak sah.”[1]

Namun apabila salat Rebo Wekasan diniati salat sunnah mutlak, maka ulama berbeda pendapat. KH. Hasyim As’ari tetap tegas mengatakan tidak boleh dengan alasan berikut:

وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ اَنَّهُ قَالَ الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلَاةٍ مَشْرُوْعَةٍ

Tidak boleh bagi setiap individu untuk berdalih dengan hadis shahih Rasulullah: bahwa sesungguhnya salat itu sebaik-baiknya tempat, maka siapa yang berkehendak perbanyaklah atau sedikitkanlah. Alasannya, hadis tersebut hanya ditujukan pada salat yang disyariatkan.”[2]

Namun dalam beberapa referensi kitab lain para ulama justru memperbolehkan dengan cara melakukan salat sunah mutlak, seperti dikutip dalam kitab al-Ghunyah, Jawahir al-Khams, dan Kanz an-Najah wa as-Surur. Syekh Abd al-Hamid Quds Al-Makki menegaskan:  

ﻗُﻠْﺖُ ﻭَﻣِﺜْﻠُﻪُ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﺼَّﻔَﺮِ ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻓِﻰ ﻭَﻗْﺖِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷْﻭْﻗَﺎﺕِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻮِ ﺍﻟﻨَّﻔْﻞَ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖَ ﻓُﺮَﺍﺩَﻯ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﻋَﺪَﺩٍ ﻣُﻌَﻴَّﻦٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳُﺘَﻘَﻴَّﺪُ ﺑِﻮَﻗْﺖٍ ﻭَﻻَ ﺳَﺒَﺐٍ ﻭَﻻَ ﺣَﺼْﺮَ ﻟَﻪُ

Saya berkata, termasuk dari bid’ah adalah salat bulan Shafar. Maka siapa yang ingin mengerjakan salat di waktu ini, niat salatnya dengan niat salat sunah mutlak dengan sendirian dan tanpa hitungan tertentu. Sebab salat sunah mutlak itu tidak terikat dengan sebab dan tidak terikat dengan batas.”[3] []WaAllahu a’lam


[1] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, I/511

[2] Hasyim Asyari, sebagaimana dikutip dalam kumpulan hasil bahtsul masail PWNU Jawa Timur.

[3] Abd al-Hamid Quds Al-Makki, Kanz an-Najah wa as-Surur, hlm. 22

Hukum Salat Jumat bagi Wanita

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Terkadang saya melihat di sebagian tempat, para wanita yang mengikuti salat Jumat. Apa hukumnya salat Jumat bagi wanita? Dan bagaimana kewajiban salat Dzuhurnya? Mohon jawabannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Yuniar T., Bekasi)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pada dasarnya, salat Jumat diwajibkan dan sah dilakukan bagi setiap orang Islam laki-laki dewasa, merdeka dan sedang bermukim (tidak dalam perjalanan). Hal ini berdasarkan salah satu hadis Rasululllah Saw.:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Salat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dengan berjamaah kecuali empat orang yakni budak yang dimiliki, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Dawud).[1]

Meskipun tidak wajib, bagi mereka diperbolehkan untuk mengikuti salat Jumat. Dan konsekuensinya sudah menggugurkan salat Dzuhur yang seharusnya dilakukan pada hari itu. Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menjelaskan:

يَجُوْزُ لِمَنْ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ كَعَبْدٍ وَمُسَافِرٍ اَوْ اِمْرَاَةٍ يُصَلِّى الْجُمْعَةَ بَدَلاً عَنِ الظُّهْرِ وَيُجْزِئُهُ بَلْ هِيَ اَفْضَلٌ لاَنَّهَا فَرْضٌ لاَهْلِ الْكَمَالِ وَلاَ تَجُوْزُ اِعَادَتُهَا بَعْدُ حَيْثُ كَمُلَتْ شُرُوْطُهَا

Diperbolehkan bagi setiap orang yang yang tidak berkewajiban salat jumat, semisal budak, musafir, dan wanita, untuk mengikuti shalat Jumat sebagai pengganti dari salat Dzuhur. Bahkan salat Jumat dinilai lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sempurna memenuhi syarat.  Tidak boleh mengulangi salat Dzuhur sesudah salat Jumat (bagi wanita, budak dan musafir) ketika syarat-syaratnya sudah terpenuhi.”[2]

Meskipun diperbolehkan, namun bagi wanita memiliki perincian hukum lain. Imam asy-Syarwani menjelaskan:

 يُسَنُّ الْحُضُورُ لِعَجُوزٍ إلَخْ حَيْثُ أَذِنَ زَوْجُهَا أَوْ كَانَتْ خَلِيَّةً وَمَفْهُومُهُ أَنَّهُ يُكْرَهُ الْحُضُورُ لِلشَّابَّةِ ، وَلَوْ فِي ثِيَابِ بِذْلَتِهَا ع ش أَيْ وَأَذِنَ زَوْجُهَا

Keterangan sunah menghadiri salat Jumat bagi orang yang lanjut usia: kebolehan menghadiri salat Jumat bagi wanita yang bersuami apabila mendapatkan izin dari suaminya atau boleh bagi wanita yang masih jomblo. Namun dapat dipahami bahwa hukumnya makruh salat Jumat bagi perempuan muda meskipun dengan pakaian sederhana dan mendapat izin dari suaminya.”[3]

[]WaAllahu a’lam


[1] Ibn Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawum, vol. I hlm. 173.

[2] Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 78.

[3] Asy-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, vol. II hlm. 443.

Membalik Posisi Jenazah Ketika Disalati


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum membalik posisi kepala salat jenazah ketika disalaati (berada di selatan)? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Fajar-Tuban)

________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika prosesi salat jenazah, ada anjuran mengenai aturan peletakan posisi kepala jenazah sesuai jenis kelaminnya. Anjuran ini banyak dijelaskan dalam beberapa kitab literatur fikih, salah satunya keterangan dalam kitab Fath Al-‘Alam berikut:


وَيَقِفُ نَدْبًا غَيْرُ مَأْمُوْمٍ مِنْ إِمَامٍ وَمُنْفَرِدٍ عِنْدَ رَأْسِ ذَكَرٍ وَعَجْزِ غَيْرِهِ مِنْ أُنْثَى وَخُنْثَى. وَيُوْضَعُ رَأْسُ الذَّكَرِ لِجِهَّةِ يَسَارِ الْإِمَامِ، وَيَكُوْنُ غَالِبُهُ لِجِهَّةِ يَمِيْنِهِ، خِلَافًا لِمَا عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْآنَ. أَمَّا الْأُنْثَى وَالْخُنْثَى فَيَقِفُ الْإِمَامُ عِنْدَ عَجِيْزَتَيْهِمَا وَيَكُوْنُ رَأْسُهُمَا لِجِهَّةِ يَمِيْنِهِ عَلَى عَادَةِ النَّاسِ الْآنَ؛.


Bagi Imam salat dan orang yang salat sendirian, disunnahkan memposisikan berdirinya—ketika salat janazahdi dekat kepala mayit laki-laki dan di dekat bokong mayit perempuan dan kelamin ganda. Kepala mayit laki-laki diletakkan pada posisi arah kiri imamsedangkan yang mentradisi ada pada arah kanan imamhal ini berbeda dengan yang biasa dilakukan masyarakat saat ini. Adapun mayit perempuan dan kelamin ganda, maka imam memposisikan dirinya di dekat bokong janazah, sedangkan kepala janazah diletakkan pada posisi arah kanan sebagaimana biasa dilakukan saat ini.”[1]

Dengan demikian, apabila mayat lelaki sebaiknya posisi kepala diletakkan di arah kirinya orang yang shalat (sebelah selatan untuk konteks Indonesia). Sedangkan apabila mayat wanita atau berkelamin ganda, bagian kepala diletakkan di arah kanannya orang yang shalat (sebelah utara untuk konteks Indonesia). []waAllahu a’lam


[1] Fath Al-‘Alam, vol. III hlm. 172.

Ringkasan Salat Idul Adha

Mengerjakan salat Idul Adha hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Salat Idul Adha sendiri boleh dikerjakan dengan berjamaah dan bisa juga dikerjakan sendirian. Untuk orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji lebih baik mengerjakan salat Idul Adha berjamaah, sedang bagi mereka yang sedang berhaji sebaiknya melakukan salat Idul Adha sendiri-sendiri. Salat Idul Adha dimulai dapat dikerjakan sejak terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah bulan Hijriyah sampai dengan masuknya waktu Dzuhur hari tersebut.

Sebelum berangkat salat Idul Adha, disunnahkan mandi sunah yang waktunya dimulai sejak pertengahan malam. Niatnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلأَضْحَى سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Saya berniat melakukan sunnahnya mandi untuk salat Idul Adha karena Allah ta’ala.”

Setelah itu, juga disunnahkan berhias dengan pakaian yang bagus—yang lebih utama adalah warna putih—dan memakai wewangian. Namun bagi perempuan tidak disunahkan untuk memakai berhias berlebihan dan tidak dianjurkan untuk memakai wangi-wangian.

Apabila slaat Idul Adha dilakukan di masjid, maka disunahkan untuk melakukan salat Tahiyatul Masjid. Setelah itu melantunkan kalimat takbir hingga salat didirikan. Bagi makmum, kalimat niat salat Idul Adha adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

Saya berniat menjadi makmum salat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah ta’ala.”

T cara salat Idul Adha dilakukan dengan dua rakaat. Rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram serta ditambah 7 (tujuh) kali takbir. Sedangkan pada rakaat kedua ditambah 5 (lima) kali takbir. Di antara beberapa takbir tersebut, baik dalam rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih berikut:

سُبْحَانَ اللَّهِِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِِ وَلَا إلَهَ إلَّااللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.”

Setelah salat Idul Adha didirikan, dilanjutkan pembacaan dua khutbah sebagai penutup rangkaian salat Idul Adha.

___________________

Disarikan dari kitab Hamisy Fath Al-Qarib, vol. I hlm 224-226.