Tag Archives: Salat

Salat Qasar dan Jamak

I. Sholat Qashar
A. Hukum Qashar Sholat
Orang yang bepergian jauh diperbolehkan untuk meringkas (qashar) salat fardlu yang bilangan rakaatnya empat. Yakni sholat dhuhur, ashar, dan ‘isya. Sementara hukum mengqashar sholat secara lebih terperinci adalah sebagai berikut:
1. Boleh, bila perjalanan telah mencapai dua marhalah.
2. Lebih baik qashar, bila jarak tempuh telah mencapai tiga marhalah atau lebih.
3. Wajib, jika waktu sholat tidak cukup untuk melakukan sholat kecuali dengan cara meringkas sholat.
B. Syarat-Syarat Qashar Sholat

1. Tujuan bepergian tidak untuk maksiat.
2. Jarak yang ditempuh telah mencapai dua marhalah/16 farsakh. Jarak ini bila diukur menggunakan satuan kilometer, maka terdapat beberapa pendapat :

Menurut Mayoritas ulama’ 119,9 KM
Menurut Ahmad Al-Husain Al-Mishny 94,5 KM
Menurut Al-Ma’mun 89,999992 KM
Menurut Kitab At-Taqnrat Syadidah 82 KM
Menurut Kitab fiqh Al-Islamiy 88,7C4 KM
Menurut Kitab Tanwir Al-Qulub 80, 64 KM

3. Sholat yang diqashar adalah sholat yang dikerjakan dalam waktunya (ada).
4. Niat qashar sholat pada saat takbiratul ihram:

أصلي فرض الظهر مقصورة لله تعالى

 

5. Tidak dilakukan dengan cara bermakmum kepada imam yang tidak mengqashar sholat, baik imam ltu seorang musafir atau muqim.
6. Dilakukan setelah keluar dari batas desanya.
7. Dilakukan ketika masih dalam bepergian.
8. Memiliki tujuan daerah atau tempat yang jelas.
9. Mengetahui hukum diperbolehkannya qashar sholat.

II. Sholat jama’
A. Hukum dan Ketentuan Jama’
Orang yang telah memenuhi syarat-syarat diperbolehkan melakukan qashar sholat, juga diperbolehkan untuk jama’ (mengumpulkan) sholat dalam satu waktu. Sementara pelaksanaannya bisa dengan jama’ taqdim (dilakukan pada waktu sholat pertama ) atau dengan jama’ ta’khir (dilakukan pada waktu sholat kedua).
1. Jama’ taqdim, yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar yang dilakukan pada waktu sholat dhuhur, dan mengumpulkan sholat maghrib dan ‘isya yang dilaksanakan pada waktu sholat maghrib.
2. Jama’ ta’khir, yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar yang dilakukan pada waktu sholat ashar, dan
mengumpulkan sholat maghrib dan ‘isya yang dilaksanakan pada sholat ‘isya.
B. Syarat-Syarat Jama’ Taqdim
1. Niat jama’ ketika melaksanakan sholat yang pertama pada saat takbiratul ihram.
• Niat sholat pertama (Dhuhur):

أصلى فرض الظهر مجموعا إليه فرض العصر جمعا تقديما لله تعالى

• Niat sholat kedua (Ashar):

أصلى فرض العصر مجموعا إليه فرض الظهر جمعا تقديما لله تعالى

2. Tertib, dalam artian mendahulukan sholat dhuhur dari sholat ashar dan mendahulukan sholat maghrib dari isya’.
3. Muwalab, artinya setelah melaksanakan sholat pertama, langsung melakukan sholat kedua tanpa dipisah oleh waktu yang lama menurut keumuman. Sebagian ulama’ berpendapat, standar pemisah yang lama adalah waktu yang cukup digunakan untuk melakukan sholat dua rakaat, kecuali jika pemisah tersebut masih berkaitan dengan kemaslahatan sholat seperti melaksanakn wudhu, mendengarkan adzan dan lain-lain.
C. Syarat-Syarat Jama’ Ta’khir
1. Niat (menyengaja) akan melaksanakan sholat pertama dalam waktu sholat yang kedua, dimana niat tersebut dilakukan mulai masuknya waktu sholat yang pertama hingga akhir waktu sekira cukup digunakan untuk mengerjakan kira-kira satu rakaat sholat.
2. Dikerjakan dalam bepergian hingga selesai melaksanakan sholat yang kedua.
Dalam jama’ ta’khir tidak disyaratkan tertib, muwalah dan niat jama’ dalam waktu sholat pertama. Namun ketiganya sunah dilakukan.
• Niat sholat pertama (Dhuhur):

أصلى فرض الظهر مجموعا إليه فرض العصر جمعا تأخيرا لله تعالى

 

• ,Niat sholat kedua (Ashar):

أصلى فرض العصر مجموعا إليه فرض الظهر جمعا تأخيرا لله تعالى

 

Catatan:
Keringanan melakukan sholat jama’ taqdim dan ta’khir juga diperuntukkan bagi orang sakit yang merasa berat bila harus melakukan sholat secara sempurna. Menurut qoul aujah, batasan sakit yang diperbolehkan jama’ taqdim dan ta’khir adalah sakit yang
sekira menyebabkan diperbolehkan duduk di dalam sholat fardlu.

Catatan Penting:
Jama’ dan qoshor juga terkadang hukumnya wajib. Seperti ketika mengluarkan waktu sholat dluhur hingga sampai waktu ashar dengan niat jama’, dan belum melakukan sholat hingga waktu ashar tersisa hanya cukup untuk melakukan sholat empat rakaat, maka dalam keadaan tersebut wajib baginya untuk melakukan jama’ dan qoshor.

 

Disarikan dari buku Kado Turats, karya tamatan MHM Lirboyo 2011.

Keutamaan Salat Malam

Syahdan. Ada seorang laki-laki yang membeli budak. Setelah budak itu dia miliki, si budak berkata: “Wahai tuanku, izinkan saya meminta tiga persyaratan: Pertama, janganlah tuan melarang saya untuk melaksanakan salat ketika sudah masuk waktunya. Kedua, pekerjakanlah aku siang hari dan janganlah tuan mempekerjakan atau menyibukkanku saat malam hari. Ketiga, buatkanlah rumah untukku yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali diriku”. Sang majikan menjawab: “Akan aku kabulkan permintaanmu. Lihatlah rumah-rumah itu, silahkan kamu memilihnya”.

Budak itu mengelilingi dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya dia memilih sebuah rumah yang rusak, sebuah gubug yang tidak layak huni.

Mengetahui pilihan si budak, sang majikan bertanya: “Kenapa kamu memilih gubug itu?” Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, apakah anda tidak mengerti bahwa sebuah rumah rusak ketika ada Allah SWT maka akan ramai dan akan menjadi taman?”. Sang majikan akhirnya mengiyakan pilihan si budak dan diapun lantas menempatinya.

Hingga suatu malam, laki-laki itu mengajak teman-temannya untuk sekedar minum dan bermain. Setelah jamuannya sudah habis dan teman-temannya pulang, ia pun pergi mengelilingi rumahnya dan tanpa disengaja ia melihat kamar budaknya yang bersinar dimana cahaya itu turun dari langit. Ia melihat budaknya sedang bersujud dan bermunajat kepada Tuhannya. Dia mendengar si budak berdoa: “Ya Allah, telah Engkau wajibkan atas diri hamba untuk untuk melayani majikan hamba di siang hari. Seandainya tidak seperti itu, hamba tidak akan menyibukkan diri ini dengan siapapun kecuali hamba sibukkan diri ini hanya kepadaMu di waktu siang dan malam hari. Untuk itu, ampunilah hamba”. Tanpa sadar, sang majikan tidak berhenti melihat budaknya yang sedang bermunajat itu hingga fajar muncul. Kilau cahaya dari langitpun kembali naik, hilang, tanpa merusak atap gubug tempat si budak bermunajat.

Sang majikan lantas menceritakan peristiwa malam itu pada istrinya. Pada malam selanjutnya, sang majikan beserta istrinya berdiri di pinggir kamar budaknya, mereka melihat kembali cahaya turun dari langit, sementara budaknya dalam keadaan bersujud, bermunajat kepada Allah hingga terbitnya fajar. Setelah itu mereka berdua memanggil budaknya dan mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah merdeka di hadapan Allah, sehingga kamu melayani orang yang sudah merepotkanmu.” Sang majikan menceritakan apa yang ia lihat bersama istrinya akan karomah yang si budak miliki. Ketika si budak mendengar cerita itu, ia lantas langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, bukankah hamba sudah berdoa kepadaMu agar menutup rahasia dan keadaan hamba. Maka ketika Engkau sudah membuka rahasia hamba ini, cabutlah nyawa hamba ini.” Dan seketika itu juga, budak itu terjatuh. Meninggal dunia.

Salatnya Laki-laki yang Lututnya Terbuka

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya punya beberapa permasalahan tentang aurat dalam salat, baik bagi pria maupun wanita.
1. Adakah perbedaan definisi wajah wanita saat wudhu dan salat?
2. Bagaimana salatnya laki-laki yang terlihat bagian atas lututnya dari belakang saat sujud?
Sekian pertanyaan saya, semoga berkenan dijawab dengan tuntas.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rohim

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Admin – Pak Rahim yang semoga saja dimuliakan Allah. Kalau kita melihat dalil yang mewajibkan membasuh wajah di dalam wudlu yang disebutkan Allah Swt. dalam firman-Nya di QS. Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْن

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”

Di sana tidak dijelaskan batas wajah yang harus dibasuh, hanya umum yang berarti semua wajah. Demikian pula dalam hal salat yang disebutkan dalam hadis riwayat Hakim dan menetapi syaratnya Sahih Muslim dan disahihkan Ibnu Humaizah.

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . رواه الحاكم وقالا أنه على شرط مسلم ورواه أيضا الخمسة وصححه ابن خزيمة عن عائشة

“Wahai Asma’, sesungguhnya ketika perempuan itu sedang mengalami menstruasi, tidak patut melihat dirinya kecuali ini dan ini (dan Nabi memberi isyarat ke wajah dan telapak tangan)”

Hadis tersebut pun tidak memberi batasan wajah. Hanya memerintahkan menutup semua kepala. Dan dalam konteks ushul fiqh ditegaskan, manakala ada lafad syari’at yang masih mujmal (umum), maka harus diartikan dengan makna syari’at itu pula. Sebagaimana salat yang disebutkan dalam firman Allah:
أَقِيمُوا الصَّلَاةَmaka haruslah diartikan dengan makna syara’, yaitu sebagaimana hadis صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Jika syara’ tidak menyebutkan, maka harus diartikan menurut bahasa, sebagaimana لا ريب diartikan dengan لا شكّ.

Tetapi apabila syara’ tidak menyebutkan, dari bahasa juga tidak pernah memberi batasan makna, maka harus diartikan dengan makna urfy (makna yang patut menurut penilaian orang-orang yang sempurna akalnya), sebagaimana pernyataan bahwa imam dan makmum harus dekat, dengan arti satu tempat. Syara’ tidak memberi batas berapa meter pengertian jauh dekat. Demikian pula bahasa, maka dikembalikan pada umumnya kepantasan jarak disebut dengan dekat atau jauh, sesuai dengan keputusan yang ditetapkan orang yang mempunyai akal yang sampurna.

Mengingat arti wajah baik di dalam wudlu atau salat dan lain-lainnya tidak pernah tersentuh oleh batasan syara’, maka kita kembalikan dengan batasan bahasa, yaitu dari sisi panjang antara tempat tumbuhnya rambut kepala yang wajar dengan tulang rahang, lebarnya antara telinga satu dengan lainnya. Tanpa membedakan antara wajah yang ada pada wudlu dan salat. Hanya saja, di dalam basuhan wudlu harus membasuh sebagian kepala yang menjadi kesempurnaan basuhan wajah. Sedangkan menutup kepala harus menutup sebagian wajah yang menj adi penyempurna tertutupnya kepala.

Untuk permasalahan terlihatnya kaki seorang laki-laki di atas lutut karena sedang sujud, menurut pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, itu tidak membahayakan. Karena hal tersebut dianggap terlihat dari bawah, walau realitanya dari belakang. Yang dikehendaki dari bawah adalah bawah yang menjadi batas akhir aurat. Dan sebaliknya, walau terlihat dari bawah, namun bukan dari batas akhir aurat, seperti ketika seorang perempuan memakai rukuh potong kemudian terlihat dari sela-sela potongan dari arah bawah, tetap tidak sah karena dihukumi dari samping. Sebagaimana yang diterangkan dalam Bughyatul Mustarsyidin, Fiqh Islam, dan Bajuri.