Tag Archives: sanad

Tekad Meneguhkan Sanad

Salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang ada dalam agama Isam adalah terjaganya keorsinilan Alqur’an. Karena hampir sebagian besar dalam pengajaran dan periwayatannya, Alqur’an diajarkan melalui periwayatan yang sambung menyambung sampai Rasulullah SAW. Adapun jaminan atas terjaganya keautentikan tersebut sudah menjadi janji Allah SWT sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alqur’an;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alqur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, contohnya adalah kitab Injil. Dari sejak masa nabi Isa AS, kitab Injil pernah mengalami masa vakum sampai seratus tahun. Dalam jeda waktu yang cukup lama ini sangat besar kemungkinan adanya tindakan distorsi atau tahrif terhadap isi kitab tersebut. Dan hal tersebut ternyata benar adanya, bahkan untuk saat ini segala bentuk perubahan dalam kitab Injil yang ada telah memutuskan status para penganut Injil tidak masuk dalam kategori Ahlul Kitab sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alqur’an.[1] Allah SWT sudah berfirman;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui,” (QS. Al-Baqoroh; 146).

Demikian juga dalam periwayatan hadis, di dalam menjaga keauntentikan dan kemurniannya, bagi seseorang yang meriwayatkan hadis (Rawi) diharuskan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Pembebanan syarat tersebut bukan berarti menghalang-halangi dan mempersulit seseorang dalam meriwayatkan hadis, melainkan hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya pemalsuan maupun distorsi. Sanad periwayatan ini memiliki peranan penting dalam menyaring adanya pemalsuan hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Konteks ini sedikit berbeda dengan sanad hadis yang merupakan langkah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi sebuah hadis.

Memahami hal demikian, para ulama sangat berhati-hati dalam menyandarkan sebuah hadis terhadap Rasulullah SAW dan meriwayatkannya, sehingga dalam masalah seperti ini muncul istilah hadis Shahih, hadis Hasan, dan hadis Dhoif dan istilah lainnya dalam pembahasan ilmu Mustholah Hadits. Karena Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam hadisnya;

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari).

Sebenarnya, diskursus pembahasan mengenai sanad pernah disinggung dalam Alqur’an;

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab sebelum Alquran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dai pengetahuan (orang-orang terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar,” (QS. Al-Ahqaf: 4).

Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, imam Qurthubi menafsiri kata “au itsarotan min ‘ilmin” dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung.[2]

Dari sini sudah dapat dipahami, kejelasan sanad dan mata rantai yang sambung menyambung dari generasi ke generasi selanjutnya sangat dibutuhkan dan merupakan upaya yang mendesak demi terjaganya warisan keilmuan dari masa ke masa. Urgensitas sanad dalam menjaga kemurnian agama Islam sudah tidak dapat dipungkiri lagi melihat begitu besar sumbangsih dan peranannya. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik RA berkata;

اَلْاِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْاِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad/sanad adalah bagian dari agama, dan seandainya tidak ada sanad maka seseoarang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin dia katakan”.[3]

Sanad Keilmuan

Banyak sederetan ulama yang mengeluarkan pendapat dan statementnya mengenai masalah pentingnya sebuah sanad,  diantaranya adalah Imam Malik bin Anas RA. Beliau pernah berkata;

اِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْا دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu),”.[4]

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang untuk mengamalkan atau menjadikan sebuah argumentasi terhadap suatu pendapat atau keterangan yang tercantum dalam beberapa redaksi kitab. Karena menurut mereka, sanad keilmuan atau periwayatan tak ubahnya seperti periwayatan sebuah hadis. Karena tujuan utama dari adanya sanad keilmuan atau periwayatan adalah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan dan penjelasan yang didapat dari generasi sebelumnya dan untuk generasi selanjutnya.

Salah satu akibat fatal apabila mengesampingkan permasalahan sanad ini adalah munculnya berbagai aliran yang menyimpang. Apalagi di zaman modern yang serba instant seperti saat ini, banyak orang belajar dari buku terjemahan atau situs internet yang tidak jelas kemudian dia memahami dengan akal pikirannya sendiri, sehingga praktek tersebut akan memunculkan ketidaksesuaian dengan maksud sebenarnya atau terkadang salah faham terhadap makna yang dikandungnya. Jadilah pemahaman tersebut menyesatkan dirinya bahkan orang lain.

Mengantisipasi hal yang demikian, metode pembelajaran yang memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas sudah menjadi sebuah keharusan. Untuk mendapat sanad dalam ranah mata rantai keilmuan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah mendengarkan secara langsung (As-Sima’i), membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru (Al-Qira’ah/Talaqqi), izin seorang guru untuk meriwayatkan atau mengajarkan (Al-Ijazah).

Dengan sanad pula, akan memunculkan kesadaran umat Islam akan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap seluruh ajaran Islam dengan menetapkan jalur ketelitian dalam kritik maupun analisis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dengan beegitu, klaim musuh Islam yang selalu membuat keraguan terhadap ajaran Islam dengan sendirinya akan runtuh.

Cukup sudah pengalaman suram yang telah terjadi di masa silam, sudah saatnya umat Islam untuk menyisingkan lengan baju dan benar-benar memperhatikan permasalan sanad yang menjadi ujung tombak dalam menjaga kemurnian syariat tersebut demi terealisasinya pemahaman, pengamalan, dan penyebaran agama Islam secara universal. []. waAllahu A’lam.

____________________________________

[1] Hasyiyah Al-Jamal, juz 4 hal 197, Maktabah Syamilah.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, juz 16 hal 182, Maktabah Syamilah.

[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqadimah Shohih Muslim, juz 1 hal 15.

[4] Syarah Muslim Li An-Nawawi, juz 1 hal 84.

Sanad Itu Pedang Para Pencari Ilmu

Sanad itu bagai pedang. Bagaimana orang berangkat perang tanpa membawa pedang? Dengan sanad, kita akan tahu siapa guru-guru kita. Guru adalah termasuk orang tua kita. Sangat buruk kalau kita tidak tahu siapa orang tua kita.

Orang Indonesia yang rajin mengumpulkan sanad keilmuan ada dua, yaitu Syekh Mahfudz at-Turmusi dan Syekh Yasin al-Fadani. sanad ilmu yang ada di Indonesia banyak sekali yang bersumber dari beliau-beliau ini. Sebelumnya, para ulama di Indonesia sangat susah mencari sanad ilmu. Ada yang rela pergi jauh, sampai ke tanah Arab untuk memperolehnya.

Yang diwariskan Nabi kepada kita bukanlah harta, tapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu, mendapat ilmu, maka ia mendapatkan sesuatu yang berharga nilainya. Ilmu adalah warisan tidak ternilai yang diberikan oleh Rasulullah saw. Kenapa? Karena dengan ilmu, umat Islam akan terhindar dari fitnah-fitnah kebodohan. Kalau orang itu bodoh, akan banyak salahnya.

Dengan ilmu, para santri harus siap hijrah. Hijrah paling mudah adalah hijrah ke rumah mertua. Nggeh? Orang-orang sukses kebanyakan adalah mereka yang berani hijrah. Pindah ke tempat lain. Banyak pondok pesantren yang penerusnya adalah menantu-menantu. Lirboyo sendiri yang meneruskan perjuangan KH. Abdul Karim adalah menantu-menantunya [KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly].

[Di tempat hijrah nanti] Kalau ada hajat, perbanyaklah baca fatihah. Kalau punya hajat, punya anak nggak nurut, agar kerasan dan tidak kapok mondok, bacakan surat al-fatihah.

Teruslah belajar. Pilihan santri itu cuma dua, kalau tidak belajar ya mengajar. Harus betah untuk terus dalam keadaan-keadaan itu. Inilah maksud dari nggak kapok mondok. Di manapun berada, ilmu, belajar dan mengajar yang harus dinomorsatukan. Mondok itu jalur ke surga. Jangan disudahi. Mondok itu cobaannya macam-macam. Salah satunya istri. Anak bisa tidak mondok gara-gara si ibu tidak rela. Makanya,

“فعليكم بذات الدين”

Wajib bagi kalian untuk mencari istri yang faham agama.

Kerja silahkan, tapi jangan sampai mengganggu aktivitas mengajar kalian. Mengajar jangan sampai disudahi hanya gara-gara harta. Tapi ingat, jangan sampai ilmu dikomersialkan.][

 

Disampaikan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam ijazahan siswa kelas III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien tahun pelajaran 2016-2017 M.

*Sanad adalah ketersambungan ilmu antara guru dan murid. Dalam kajian pesantren, sanad sangat penting artinya. Sanad menunjukkan hubungan berantai antara guru (kiai) dan murid (santri). Dengan sanad, ilmu yang didapat sangat bisa dipertanggungjawabkan. Karena, terutama dalam tradisi pesantren, ilmu yang diperoleh santri adalah ilmu yang diperoleh dari gurunya, dari gurunya gurunya, dari mushannif (pengarang kitab), hingga sampai kepada Rasulullah saw.