Tag Archives: santri kece

Tentang Karangan Bunga

Sudah menjadi kebiasaan warga nusantara ketika ada orang meninggal, biasanya ungkapan belasungkawa diungkapkan dengan mengirimkan karangan bunga yang bertuiskan “Turut berdukacita atas meninggalnya bapak fulan, semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah Swt dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kesabaran oleh Allah Swt”. hal ini disunahkan dan termasuk bagian dari ta’ziah, sebagaimana hadits nabi:

عن النبي صلى الله عليه وسلام أنه قال ما من مؤمن يعزي أخاه بمصيبة إلا كساه الله سبحانه من حلل الكرامة يوم القيامة.( رواه إبن ماجه في سننه

Artinya: Dari Rasulullah Saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Tidak ada seorang mukmin yang mentakziahi saudaranya yang tertimpa musibah kecuali Allah Swt. mengenakan pakaian kemuliaan kepadanya di hari kiamat”. (HR. Ibnu Majah dalam kitab sunannya) Hadits ini hasan menurut Imam an-Nawawi.

قال الشافعي : قد عزى قوم من الصالحين بتعزية مختلفة فأحب أن يقول قائل هذا القول ويترحم على الميت ويدعو لمن خلفه

Artinya: “Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: Orang-orang shalih telah berta’ziyah dengan berbagai bentuk takziah yang berbeda-beda, kemudian aku suka ketika ada orang yang berucap demikian (yang dimaksud adalah ucapan dari redak kitab  sebelum ucapan Imam Syafi’i ini) dan mendo’akan rahmat kepada orang yang meninggal serta mendoakan keluarga yang ditinggalkan”.

Al-Imam Asy-Syafi’i menjelaskan, bahwa ta’ziah bisa diungkapkan dengan berbagai macam bentuk. Dan beliau  menjelaskan bahwa dalam ta’ziyah sebaiknya juga disertai mendo’akan rahmat bagi yang meninggal,dan mendoakan keluarga yang ditinggalkan. Jika menilik uraian-uraian di atas, maka karangan bunga pun juga termasuk bentuk ta’ziyah.()

____________________

Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Umm, Bab Al-Qoul ‘Inda Dafni Al-Mayit.

Tentang Ya’fur, Keledai Rasulullah Saw

Imam as-Suyuthi meriwayatkan dari Ibnu Asakir, dari Abi Mandhur, ia berkisah:

“Ketika Rasulullah Saw. menaklukkan kota Khoibar, Beliau mendapatkan keledai hitam. Rasulullah berdiri di depannya seraya mengajaknya bicara. Beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Keledai itu menjawab: ‘Namaku Yazid bin Syihab. Allah Swt, mengeluarkan keturunan dari kakekku sebanyak 60 ekor keledai, semuanya tidak dikendarai kecuali oleh seorang Nabi. Sungguh aku telah berharap Tuan dapat mengendaraiku. Dari keturunan kakekku tidak ada yang tersisa kecuali diriku, dan tiada dari golongan para Nabi yang hidup selain Tuan. Sebelumnya, diriku adalah milik seorang Yahudi. Aku sengaja berbuat liar terhadapnya. Ia membuatku lapar dan memukul punggungku’. Rasulullah pun berkata padanya: ‘Sekarang engkau bernama Ya’fur’.

Rasulullah Saw. sering mengirim Ya’fur menuju rumah seorang sahabat. Ia mendatangi pintu rumahnya lalu mengetuknya dengan kepalanya. Ketika pemilik rumah keluar, maka ia memberi isyarat kepada Ya’fur  bahwa ia akan segera mendatangi Rasulullah Saw. Lalu, Ya’fur pulang kembali menemui Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ya’fur berjalan lunglai ke arah sumur milik Abil Khaitsam bin Taihan. Kesedihan membuatnya tidak sadar akan keadaan sekitar. Kemudian, Ya’fur pun jatuh ke sumur  itu dan mati.

Sumber: Al-Khasha’isul Kubra, Imam Jalaluddin As-Suyuthi., Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah.