Tag Archives: santri putri

Bahtsul Masail Sughro Ponpes Putri HMQ

Lirboyonet, Kediri- P3HMQ jum’at kemarin (06/10/17) usai melakukan agenda tahunannya yakni bahtsul Masail Sughro Pondok Putri HMQ, agenda yang dilaksanakan sebelum libur maulud ini bertujuan untuk mengasah kemampuan bermusyawaroh dengan mencetuskan suatu hukum yang diperoleh dari ibarot kitab-kitab salaf. Dan bahtsul masail juga merupakan salah satu ciri khas lirboyo.

Peserta yang hadir dalam bhatsul masail ini tidak hanya pondok putri dari unit-unit lirboyo saja melainkan dihadiri dari pondok luar lirboyo seperti pondok Putri dari Sumber Sari, dari Jombang yakni Tambak Beras An- Naja, Pacul Gowang, Ar- Rifa’i dari Malang dan dari Blitar Mantenan.

Dari bhatsul yang berjalan dengan berat karena penuh dengan argumen-argumen setiap perwakilan pondok akhirnya dapat memutuskan hukum bagi iddahnya wanita yang secara medis sudah tidak haidl. Dan juga hukum bagi santri putri yang dijemput saudara sepupu laki-laki untuk pulang.

hasil rumusan bisa di download di link ini :

 

Santri Putri Senang Bersih-Bersih

LirboyoNet, Kediri—Sebagaimana yang diyakini tiap pribadi muslim, sehat dan kebersihan jasmani adalah satusyarat bagi iman yang sempurna. Maka sudah sewajarnya jika para santri menjaga kebersihan jasmaninya, layaknya menjaga kebersihan hatinya.

Beragam cara mereka lakukan demi terwujudnya lingkungan bersih dan nyaman. Salah satunya adalah apa yang menjadi rutinitas santri Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ). Setiap Jumat pagi, mereka rutin melaksanakan kegiatan Roan Akbar. Roan, seperti yang akrab di telinga santri, adalah kegiatan gotong royong dalam berbagai macam hal. Khusus hari jumat itu, mereka roan membersihkan seluruh area pesantren.

Area itu mencakup kamar mandi, aula, jemuran, ruang tamu, juga ndalem (kediaman pengasuh). Dalam membersihkan seluruh area itu, tidak serta merta dilaksanakan serampangan. Ada ustadzah khusus yang menangani teknis roan ini. Di setiap titik,  ditugaskan 5-6 santri, yang ditemani beberapa ustadzah.

Sebelum roan dimulai, terlebih dahulu mereka melaksanakan senam pagi. Selepas pukul 06.00 Wis (Waktu Istiwa), barulah bel roan dibunyikan. Wajah-wajah mereka terlihat sumringah.  Tidak seperti ketika menerima tugas berat lainnya. Pasalnya, selain mereka memang menyukai kegiatan ini, mereka juga dihibur dengan alunan musik dari tape recorder. Nurfah, salah satu santri menyatakan alasan kenapa mereka senang dengan kegiatan ini. “Sebagai perempuan, kami merasa memiliki fitrah sebagai makhluk yang menyukai kebersihan dan keindahan. Tentu kami merasa senang jika hari libur dan waktu luang diisi dengan bersih-bersih pesantren.”][

Kelas Khusus Pesantren Putri

LirboyoNet, Kediri-berbagai upaya dilakukan pesantren untuk mengajarkan ilmu agama kepada lapisan masyarakat di bulan Ramadan ini. contohnya apa yang diprogramkan oleh Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ). Selain dengan pengajian kitab, para santri juga diajarkan beberapa pelajaran khusus. Program ini disebut Kelas Khusus. Karena khusus, santri yang menjadi peserta juga khusus.

Ada sekitar 45 santri putri yang menjadi peserta kelas khusus itu. Hampir seluruhnya adalah para santri pasanan, atau mereka yang mesantren di P3TQ hanya saat bulan Ramadan. Rerata, mereka masih awam dengan ilmu-ilmu pesantren, seperti membaca kitab kuning, menulis huruf pegon, memaknani kitab, dan semacamnya. Di kelas khusus inilah, mereka dapat mempelajari ilmu-ilmu itu.

Kelas ini terbagi menjadi tiga bagian, A, B, dan C. Kelas A diperuntukkan bagi para santri yang berusia 12 tahun ke bawah. Sedangkan kelas B, diperuntukkan bagi para santri yang berusia 12 tahun ke atas, namun kemampuan baca-tulis kitab dinilai masih minim. Sementara peserta kelas C, adalah mereka yang sudah mampu membaca kitab kuning, dan menguasai dasar-dasar ilmu alat. “Mereka sudah bisa menulis pegon dan membaca kitab sedikit-sedikit. Karenanya, di sini mereka mendapat pelajaran khusus yang disetarakan dengan kelas Lima Ibtidaiyah,” tukas salah satu pengurus Ramadan.][

 

Khotmil Quran dan Haflah PPHMQ

LirboyoNet, Kediri – Dua tahun sekali, Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (PP HMQ) menyelenggarakan Khotmil Qur’an ke XI dan Haflah Akhirussanah. Dan pada tahun ini, acara terselenggara di Aula Al Muktamar, Senin (24/04).

Ratusan santri putri PPHMQ hadir di Aula. Mereka diantar sejak pagi hari, guna mengikuti seluruh rangkaian acara. Dari ratusan itu, ada sekitar 226 santri putri terpilih yang berhak menerima penghargaan di atas panggung. Mereka adalah para santri yang telah menyelesaikan studinya dalam beberapa jenjang pendidikan.

Dari kategori tahfidul qur’an, ada 93 santri yang menerima syahadah, atau penghargaan. Mereka terbagi atas santri yang telah mengkhatamkan juz ‘amma sebanyak 21 santri, bin nazhar sebanyak 34 santri, bil ghaib putri sebanyak 36 santri, dan bil ghaib putra berjumlah dua santri.

Selain memberikan penghargaan kepada para santri yang telah menekuni hafalan Al-Qur’an, PPHMQ juga merasa perlu untuk mewisuda para siswi Madrasah Al-Hidayah, tempat mereka menimba ilmu-ilmu pesantren yang lain. Perlu diketahui terlebih dahulu, Madrasah Al-Hidayah terbagi menjadi beberapa jenjang pendidikan, diantaranya Ma’had Aly, Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah. Dari masing-masing tingkatan itu, para siswi yang berhak diwisuda berjumlah total 97 siswi, dengan perincian siswi Ma’had Aly sebanyak sembilan sisiwi, madrasah Aliyah 22 siswi, dan tingkat Tsanawiyah sebanyak 66 siswi.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada 36 siswi yang telah menghafalkan secara penuh 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik, serta berhasil lolos dalam festival Hifzhu Alfiyah yang diadakan pada tahun ini.

Pagi itu, selain dihadiri oleh pengasuh PPHMQ, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan Ibu Nyai Azzah Nur Laila Muhammad, Haul Haflah Akhirussanah ini juga dihadiri oleh segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo. Serta hadir pula beberapa ulama Kediri.

Sebelum acara mencapai ujung, KH. Thoifur Mawardi dari Purworejo, Jawa Tengah, diminta untuk memberikan mauizhah hasanah. Beliau berpesan, diantaranya, “Jadilah wanita shalihah bagi suami-suami kalian. Wanita shalihah itu bagaimana? Yaitu istri yang mampu mengajak suaminya berpindah dari kebiasaan buruk kepada yang lebih baik. Kalian harus bisa mengajak suami agar menjadi penerus akidah ahlussunah wal jamaah yang kuat,”.

Di penghujung acara, dilaksanakan  penyerahan seluruh penghargaan itu kepada para santri terkait, juga foto bersama para siswi terpilih itu dengan pengasuh.

Sementara Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo, akan diselenggarakan pada Jumat malam Sabtu, 09 Sya’ban 1438 H./05 Mei 2017 M. besok.][

Kisah Wanita Mulia yang Tuli, Bisu, Buta

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah kekasih Allah yang sangat kita kenal. Beliau adalah wali Allah yang begitu mulia di sisi Allah dan di antara sekalian manusia. Beliau menjadi insan mulia, di samping karena perjuangan keilmuan dan ketabahan sangat berat, ada satu faktor penting yang membuatnya mulia: ia lahir dari rahim ibu yang shalehah.

Alkisah, ada seorang pemuda berhenti di tepian sungai. Di aliran sungai itu, ia menemukan sebutir apel. Karena lapar, ia ambil dan segera memakannya. Ia baru sadar ketika apel itu habis dimakkannya: apel ini pasti ada yang punya. Ia tidak ingin perutnya berisi perkara haram, karenanya ia susuri sungai itu. Barangkali akan bertemu sang pemilik. Setelah berjalan jauh, ia menemukan satu pohon apel di tepian sungai.

Sang pemilik ternyata ada di rumah di sebelah pohon itu. Setelah berucap sapa, pemuda itu mengutarakan niat awal ia berkunjung. Namun, permohonan keikhlasan untuk merelakan apel yang telah ia makan itu berujung buntu. “Tidak bisa begitu saja. Ada satu yang jadi syarat: kamu harus menikahi putri saya.” Pemuda yang belum memiliki niat memadu kasih itu bingung. Dan lebih bingung lagi ketika sang pemilik mengatakan calon istrinya nanti adalah wanita yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tapi membayangkan perutnya yang berisikan hal-hal yang diharamkan, ia langsung mengiyakan syarat itu.

Setibanya ia di kamar pengantin, setelah melakukan akad nikah yang sangat sederhana, ia kaget. Wanita yang dihadapannya sangat cantik, menatapnya halus, mendengar salam dan menjawabnya, dan berjalan mendekat menuju dirinya. Rupanya, ia mengerti setelah mertua barunya memberi penjelasan. “Ternyata,” ujar Habib Syekh, “wanita itu buta dari melihat hal selain yang halal baginya. Tuli dari suara-suara haram, ghibah, dan lain-lain. Bisu dari ngrasani. Lumpuh karena tidak pernah keluar rumah untuk hal-hal tidak berguna.”

Begitu mulianya ibunda Syekh Abdul Qadir al-Jailani, sehingga keturunannya pun menjadi orang mulia. Semoga wanita-wanita muslim dapat meniru yang telah dicontohkan beliau-beliau semuanya.][

 

Dikisahkan oleh Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaff saat berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), Lirboyo, Kamis 13 April 2017.