Tag Archives: Sejarah

Pencipta Sholawat Badar Itu Kiai NU Alumni Lirboyo Asal Tuban Jatim

Shalawat Badar sangat familiar di kalangan nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama). Di hampir seluruh kegiatan Nahdlatul Ulama, shalawat ini selalu didengungkan. Berikut sebagian teks Shalawat Badar:

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ * عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah

Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Thaaha* utusan Allah

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ * عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Yasin* kekasih Allah

تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ *** وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ

Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah

Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”, dan dengan Nabi sang Petunjuk, lagi utusan Allah

وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ *** بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Dan dengan berkah seluruh orang yang berjuang karena Allah, sebab berkahnya para sahabat yang berjuang dalam perang Badar ya Allah.

Shalawat Badar digubah oleh KH. Raden Muhammad Shiddiq Baa Syaiban asal Makam Agung, Tuban  di Banyuwangi, tepatnya di rumah orang tua bapak Syamsul Hadi(Mantan Bupati Banyuwangi). Beliau adalah salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember. Syair itu digubah pada era 60-an. Saat itu, Kiai Ali Mansur menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama.

Proses terciptanya Shalawat Badar tidaklah seperti terciptanya syair pada umumnya. Pada suatu malam, Kiai Ali Mansur tidak bisa tidur. Ia terus dirundung gelisah. Pasalnya, situasi negara dan masyarakat Indonesia terbilang carut marut. Apalagi, situasi politik yang ada semakin tidak menguntungkan Nahdlatul Ulama, yang saat itu masih menjadi partai politik, bukan organisasi kemasyarakatan seperti sekarang.

Orang-orang PKI, yang menjadi lawan utama NU dalam ranah politik, semakin leluasa mendominasi kekuasaan. Bahkan, mereka dengan terang-terangan ingin memusnahkan NU dengan melemahkan posisi kiai-kiai di pedesaan. Bahkan membunuh para kiai itu. Ini tidak lain didasari fakta bahwa para kiai inilah yang dengan sekuat tenaga membendung virus ideologi yang disebarkan PKI.

Kegelisahan Kiai Ali Mansur ini bertambah masygul. Di malam sebelumnya, beliau bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena di malam yang sama istri beliau , Nyai Khotimah binti H. Ahmad Faqieh asal desa Maibit Rt. 07/ Rw. 08 Kec. Rengel Kab. Tuban itu bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.

Keesokan harinya, beliau segera sowan kepada salah satu ulama besar ketika itu, Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Ditanyakanlah perihal mimpi itu, “Itu Ahli Badar, ya Akhy,” jawab Habib Hadi.

Peristiwa aneh ini kemudian menginspirasi beliau untuk menggubah syair. Perlu diketahui, beliau adalah ulama yang sangat mahir dalam menggubah syair. Kemahiran ini beliau peroleh saat masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa arab. Beliau memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Di pesantren ini, beliau mengenal ilmu ‘arud, sebuah ilmu yang khusus mempelajari rumus-rumus syair Arab yang rumit. Hingga sekarang, pelajaran ini menjadi bahan ajar wajib bagi santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Peristiwa aneh ini ternyata tidak berhenti. Keesokan harinya, tetangga sekitar rumah berbondong-bondong menuju rumah beliau. Mereka membawa beras, daging, sayur mayur dan lain sebagainya, seperti akan ada hajat besar di rumah beliau. Saat ditanya mengapa mereka bertingkah demikian, jawaban yang ada juga mengherankan. Mereka bercerita, bahwa di pagi-pagi buta, pintu rumah masing-masing dari mereka didatangi orang berjubah putih. Ia memberi kabar, bahwa di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka, mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Di malam harinya, para tetangga itu bekerja di dapur untuk mengolah bahan-bahan yang telah terkumpul siang tadi. Sampai malam itu pula, tidak ada satupun orang yang tahu, masakan yang mereka buat untuk acara apa.

Hingga kemudian menjelang matahari terbit, datanglah serombongan berjubah putih-hijau. Usut punya usut, mereka adalah rombongan habib yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi, Kwitang, Jakarta.

“Alhamdulillah,” kiai Ali Mansur sangat bergembira dengan kedatangan rombongan itu. Mereka adalah rombongan para habaib yang sangat dihormati oleh keluarganya. Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali Kwitang menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur, “Ya Akhy! Mana syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”

Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam tanpa siapapun yang memberitahu beliau. Namun ia memaklumi, itulah karomah yang diberikan Allah kepadanya.

Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan para tamu. Suara Kiai Ali Mansur yang merdu, membuat alunan suara Shalawat Badar sangat dinikmati oleh para Habaib. Mereka  mendengarkannya dengan khusyuk, hingga meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dialunkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib Ali Kwitang segera bangkit. “Ya Akhy! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar!” serunya dengan nada mantap.

Sejak saat itu, Shalawat Badar perlahan menjadi semacam bacaan wajib bagi warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI. Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan.

Peringatan Haul beliau akan dilaksanakan pada Selasa, 17 oktober 2017. Dan akan disiarkan secara live oleh TV9, mulai pukul 18.00 WIB, dari halaman gedung MTs Siar Islam, Maibit, Rangel, Tuban.

Teks lengkap Shalawat Badar berserta terjemahannya bisa didownload di sini.

*Thahaa dan Yasin adalah beberapa nama yang dimiliki Nabi Muhammad saw. Beliau juga memiliki nama-nama lain, seperti Ahmad, Hamid, Aqib, Fatih, Syahid, Hasyir, Hafi, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam kitab Dalail al-Khairat, disebutkan secara rinci nama-nama dan gelar beliau, yang secara total berjumlah 201 nama dan gelar.

Nilai Penting Mempelajari Sejarah Nabi

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy dalam karyanya yang berjudul Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah menjelaskan, bahwa mempelajari dan memahami perjalanan hidup Nabi saw. bukanlah semata-mata bertujuan mencermati pelbagai peristiwa sejarah, bukan pula sekedar meriwayatkan aneka kisah dan kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, tujuan mempelajari sejarah perjalanan hidup Nabi saw. adalah agar umat Muslim dapat menggambarkan hakikat Islam yang menjelma dalam kehidupan Nabi saw.[1]

Apabila tujuan tersebut diperinci, ada beberapa tujuan khusus dalam mempelajari dan memahami sejarah Nabi saw., yaitu:

Pertama, untuk memahami kepribadian Rasulullah saw. dengan cara mempelajari kehidupan serta situasi dan kondisi di masa beliau hidup sehingga dapat menegaskan bahwa Rasulullah saw. bukan sekedar sosok yang paling cerdas dan jenius pada masanya, tetapi juga menunjukkan bahwa beliau adalah rasul yang disokong oleh Allah swt. dengan wahyu serta taufiq dari-Nya.

Kedua, agar setiap Muslim menemukan potret ideal yang bisa diteladani dalam menjalani seluruh kehidupannya, yang menjadikannya pedoman utama dalam seluruh aktivitasnya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Quran:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Ketiga, menjadi salah satu jalan untuk meemahami kitab Allah. Sebab banyak sekali ayat al-Quran yang hanya dapat ditafsirkan dan dijelaskan dengan mencermati kejadian yang dialami Rasulullah saw. serta bagaimana sikap beliau dalam menghadapinya.

Keempat, dapat menghimpun porsi terbesar wawasan dan pengetahuan Islam yang benar, baik yang berkaitan dengan akidah, hukum, maupun akhlak. Selain itu bagi pendidik atau pendakwah memiliki contoh hidup dalam mendidik dan mengajar.

Nilai terpenting mengapa sejarah Nabi saw. dapat mewujudkan semua tujuan di atas adalah karena kehidupan Nabi saw. meliputi seluruh aspek kemanusiaan dan kemasyarakatan, baik sebagai individu, maupun anggota suatu komunitas. Kehidupan Rasulullah saw. menjadi contoh luhur tentang seorang pemuda yang dipercaya mengemban amanah kau dan sahabatnya. Beliau adalah pemimpin negara yang mengelola segala urusan dengan cerdas dan sangat bijaksana; beliau adalah suami ideal yang selalu bersikap santun kepada keluarganya; beliau adalah seorang ayah yang penyayang, yang dapat membedakan secara rinci antara hak dan kewajiban istri dan anaknya; beliau adalah panglima perang dan politisi yang jujur dan cerdik; beliau adalah seoarng Muslim paripurna yang cermat dan adil membagi antara penghambaan dan pertapaan kepada Allah dan pergaulan yang jenaka serta lembut bersama keluarga dan para sahabatnya. []waAllahu a’lam

 

 

______________________________

[1] Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah, hal 15-16, cetakan Maktabah Darus Salam.

Allah Pamerkan Umat Muhammad kepada Nabi Musa

Diriwayatkan dari Akhbar Ra. Beliau berkata; “aku membaca sepotong keterangan yang diwahyukan kepada Nabi Musa As.”wahai Musa, ada dua rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat subuh, seorang yang salat pada dua rakaat ini Aku akan mengampuni seluruh dosa yang ia lakukan disiang maupun malah hari, menjadi tanggunganku” firman Allah Swt. Kepada Musa As.

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat duhur. Pada rakaat pertama aku memberi mereka ampunan. Dirakaat kedua aku memberi mereka timbangan amal baik yang paling berat.

“Dirakaat ketiga aku memasrahkan para malaikat yang akan bertasbih dan memohon ampunan bagi mereka. dirakaat keempat aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka, bidadari memandangi mereka dari atas”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat ashar, tiada satupun malaikat yang ada dimuka bumi dan penjuru langit kecuali memintakan ampun bagi mereka, dan orang yang dimintakan ampun oleh malaikat, aku takkan pernah menyiksanya.”

“Musa, tiga rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya kala mentari terbenam, aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka , mereka tidak meminta apapun tentang kebutuhannya kecuali akan aku kabulkan.”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya saat mega merah hilang, yang mana salat ini lebih baik bagi mereka daripada dunia dan seisinya, mereka keluar dari salatnya dengan keadaan bersih dari dosa layaknya dimana ibunya melahirkannya”

“Musa, Muhammad dan umatnya berwudu seperti yang telah aku perintahkan, aku memberi mereka surga pada setiap tetes dari wudunya, surga yang luasnya laksanya luas jagat raya ini.”

“Musa, Muhammad dan umatnya berpuasa sebulan penuh disetiap tahunnya dibulan ramadan, setiap sehari puasa aku akan memberi mereka satu kota megah di surga, aku juga memberi mereka pahala setiap ibadah sunah yang mereka lakukan dibulan itu dengan pahalanya ibadah fardu. Aku juga menjadikan satu malam dibulan itu malam lailatul qadar, siapa yang meminta ampuna waktu itu penuh penyesalan dan membenarkan dengan hatinya, apabila ia mati dimalam itu atau dibulan itu, aku akan memberinya pahala seorang syahid dengan kelipatan tiga puluh”

“Musa, pada umat Muhammad ada sekelompok orang yang mendirikan sebuah kemuliaan, mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selai allah, maka balasan bagi mereka dengan sebab itu adalah balasan yang sama yang diberikan kepada para nabi, rahmatku atas mereka adalah sebuah kepastian, murkaku kepada mereka adalah sebuah ketiadaan, tiada pernah aku menghalangi pintu taubat pada seorangpun dari mereka selagi mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah” [ABNA]

 

______________

dikutip dari kitab at-Tanbih al-ghafiliin

Sejarah Awal Mula Adzan

Mayoritas umat Islam mengetahui masuknya waktu shalat dengan lantunan suara adzan. Adzan merupakan salah satu syiar Islam untuk memanggil umat muslim guna melaksanakan shalat wajib lima waktu. Sebagian besar umat muslim bertanya-tanya bagaimana awal mula munculnya adzan hingga saat ini dikumandangkan di seluruh penjuru dunia.

Dalam riwayat sejarahnya, ketika umat muslim masih berjumlah sedikit, maka tidak sulit untuk mengumpulkan mereka guna melaksanakan shalat berjamaah. Sebelum adanya adzan, umat muslim biasanya berkumpul di masjid menurut waktu dan kesempatan yang dimiliki masing-masing. Ketika sudah berkumpul, barulah mereka melaksanakan shalat berjamaah.

Sebagai upaya mencari solusi agar umat Islam saat itu bisa melaksanakan shalat tepat waktu, maka sebagian para sahabat kemudian memberikan saran kepada Rasulullah Saw. Diantara mereka ada yang menyarankan untuk menyalakan api di tempat tinggi sehingga mudah dilihat oleh orang-orang ataupun asapnya bisa dilihat dari kejauhan. Ada juga yang memberikan saran untuk membunyikan lonceng ataupun meniup tanduk kambing. Bisa dikatakan ada banyak saran yang disampaikan dengan maksud untuk mempermudah pelaksanaan shalat berjamaah tepat waktu.

Meski masuk akal, namun banyak sahabat lainnya yang tidak setuju dengan cara-cara tersebut. Ini karena cara itu merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh umat lain seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi. Para sahabat pun tak ingin bila Islam seakan tercemar oleh berbagai budaya kaum kafir.

Dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in, Syekh Zainuddin al-Malibari menceritakan hadis riwayat Abu Dawud, bahwasanya Abdullah bin Zaid Ra berkata:

Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.Orang tersebut malah bertanya ”Untuk apa?”

Aku menjawabnya,” Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.”

Orang itu berkata lagi,” Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?”

Dan aku menjawab “Ya”.

 Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , “Allahu Akbar, Allahu Akbar..” ia melantunkan seluruh bacaan adzan. “Ketika shalat akan didirikan, ucapkanlah Allahu Akbar Allahu Akbar…” ia pun melantunkan seluruh bacaan iqamah.

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata, Insya Allah. Berdirilah di samping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.”

Ketika mendengar kemerduan adzan yang dikumandangkan oleh Bilal, Umar bin Khattab mendengar suara itu dari rumahnya. Ia keluar dan segera menemui Rasulullah Saw seraya berkata “Demi Tuhan yang telah mengutusmu, aku juga telah bermimpi persis dengan apa yang ada dalam mimpi Abdullah bin Zaid”.

Bahkan menurut salah satu riwayat, mimpi yang dialamai oleh sahabat Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khattab juga dialami oleh puluhan Sahabat Nabi yang lain. []waAllahu a’lam

 

______________

Disarikan dari kitab Fathul Mu’in, hal. 29, cet. Al-Haromain

Sejarah dan Hikmah Ibadah Kurban

Dahulu pada masa Jahiliyyah, orang-orang kafir Mekah memiliki banyak ritus adat istiadat yang begitu aneh. Salah satunya adalah sebuah ritual menyembelih binatang tertentu untuk dijadikan atas nama ‘kurban’. Ritual tersebut merupakan simbol atas persembahan mereka kepada berhala-berhala yang berada di sekeliling bangunan Ka’bah. Selesai menyembelih binatang yang dijadikan kurban, kemudian mereka memotong-motong daging dan melumurkan darahnya pada dinding-dinding Ka’bah dan benda apapun yang berada di sekelilingnya. Melalui ritual tersebut, orang-orang kafir Mekah menggantungkan harapan atas keselamatan dan terhindarnya dari segala bentuk bahaya dan musibah.

Setelah datangnya ajaran Islam serta disyariatkannya Udhiyyah (kurban) pada tahun kedua Hijriyyah, ritual kemusyrikan orang-orang kafir Mekah yang merupakan ritus adat-istiadat Jahiliyyah tersebut diarahkan menjadi ibadah yang sangat bermanfaat dan lebih baik. Karena pada mulanya, ritual kurban orang-orang Jahiliyyah tersebut hanya membuang-buang harta dan mengotori area Masjidil Haram, Mekah. Dengan begitu, kedatangan syariat Islam benar-benar telah merubah adat istiadat yang penuh kebatilan tersebut menjadi ibadah yang bernilai pahala, baik dari sisi ritual maupun sosial.

Kurban yang dalam kajian fikih disebut dengan istilah Udhiyyah diartikan sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah swt. dengan menyembelih hewan tertentu pada yaumun nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) dan ayyamit tasyriq (tanggal 11,12,dan 13 Dzulhijjah). Dalil legalitas ibadah kurban adalah salah satu firman Allah swt. dalam al-Qur’an صل لربك وانحرAllah :  yyamit tasyriqi pada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu di hari raya idul adha dan hari tasyriq:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah kamu (sholat idul adha) dan sembelihlah (kurban).” (QS: Al-Kautsar 02)

Dan sabda Nabi Muhammad saw.:

اُمِرْتُ بِالنَّحْرِوَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Aku diperintahkan untuk menyembelih Kurban, dan hal itu sunnah bagi kalian”.[1]

Di balik syariat berkurban, tersirat berbagai hikmah dan faedah yang terkandung di dalamnya. Setidaknya, ada beberapa dimensi atau tinjauan penting dalam ibadah yang menjadi syi’ar besar agama Islam ini. Diantaranya ialah:

  1. Aspek Sosio-Historis

Ibadah Kurban disyariatkan untuk mengingatkan kembali (flash back) kepada umat Islam akan peristiwa agung nabi Ibrahim as. Lewat sebuah mimpi, nabi Ibrahim as. mendapat perintah dari Allah swt. untuk menyembelih putranya, yaitu nabi Ismail as. sebagai tebusan dari nadzar yang pernah beliau ucapkan.[2]

Dalam peristiwa agung tersebut, terdapat hikmah dan uswah (suri tauladan) bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan nabi Ibrahim as. rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya. Tugas pengabdian seperti itulah yang diharapkan dapat dimiliki umat islam di tengah kehidupan yang serba individualitas dan materialistis di era globalisasi seperti saat ini.

Selain itu, dalam peristiwa itu terdapat sebuah penerapan demokrasi dalam pengambilan keputusan telah ditunjukkan oleh nabi Ibrahim as.  Sebelum menjalankan perintah Allah Swt, beliau terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada nabi Ismail as. untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Meskipun sebenarnya nabi Ibrahim as. mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun beliau memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

  1. Aspek Spiritual

Dengan melaksanakan ibadah Kurban, berarti seorang muslim telah melaksanakan perintah anjuran yang telah tercantum di dalam al-Qur’an dan hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah kurban tidak memiliki tujuan apapun kecuali menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. serta mengharapkan rida dan ampunan-Nya. Selain itu, ibadah kurban memiliki hikmah spiritual dalam pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt.[3]

Dengan demikian tidak heran betapa besar pahala dan balasan yang telah Allah swt. janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban tersebut. Salah satunya sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah saw dalam hadisnya:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ

“Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih kurban) yang lebih disenangi oleh Allah swt kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang Kurban). Sesungguhnya hewan kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi. (HR. At-Turmudzi)

    1. Aspek Sosial

Ibadah Kurban tergolong ibadah Ghoiru Mahdhoh. Dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah swt., ibadah kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin dan kaum yang lemah (dhuafa’).[4]

Melihat hal tersebut, tidak terasa aneh bahwa dalam kajian fikih mengenai pendistribusian daging kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (konsumsi). Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).[5]

Akhir kata, ibadah kurban sebagai salah satu syiar agama Islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt seraya mengikuti jejak historis nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah Tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek tersebut, diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah anjuran berkurban dan mampu menerapkan dan mengamalkan substansi dan tujuannya dalam kehidupan sehari-hari. [] Wallahu A’lam

 

 

_______________

[1] Al-Masalik, juz 5 hal 146.

[2] Dzurrotun Nashihin, hal 136.

[3] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 4 hal 251, cet. Al-Haromain.

[4] Mukhtashor Tafsir Ayatil Ahkam, hal 187, cet. MHM Lirboyo.

[5] Fathul Wahhab, juz 2 hal 189, cet. Al-Hidayah.