Tag Archives: Sejarah

Lawatan Sejarah Nasional

(lirboyo.net) Senin (09/13) Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan kunjungan kehormatan dari para pelajar perwakilan Propinsi Se-Indonesia dalam rangka Lawatan Sejarah Nasional yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudyaan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

Pukul 13.00 WIB rombongan tiba di Aula Muktamar dengan menggunakan empat armada mini bus dan langsung disambut oleh para Pimpinan Pondok Pesantren  Lirboyo. Acarapun dibuka dengan membaca surat al-Fatihah dengan harapan acara bisa berjalan lancar dan mendapatkan manfaat, kata pembawa acara.

Sambutan atas nama Pimpinan Pondok diwakili oleh HM. Mukhlas Noer, beliau menyampaikan ucapan terimakasih atas kunjungan kehormatan para Pelajar Se-Indonesia dalam rangka Lawatan Sejarah Nasional dan tak lupa menyampaikan mohon maaf atas segala kekurangan baik dalam penyambutan, tempat dan lain sebagainya mungkin tidak sesuai harapan dan kapasitas para peserta. Sambutan selanjutnya dari Ketua Rombongan yang diwakili oleh Dra. Amor Wanie M.Hum, beliau menjelaskan agenda lawatan ini diikuti oleh 177 Peserta dari pelajar  se-indonesia yang mewakili Propinsinya masing-masing, hanya satu yang tidak ikut yaitu Propinsi Lampung dikarenakan ada tes disekolahnya sendiri . Mengakhiri sambutannya beliau mengucapkan terimaskasih atas segala bantuan para Pengurus Pondok Pesantren Libroyo yang telah menyiapkan semuanya dan beliau merasa kagum atas penyambutan rombongan dengan kekeluargaan kerena ini sedikit berbeda dengan tempat lainnya. Beliau juga menyampaikan minta maaf atas segala kesalahan para peserta.

Acarapun dilanjutkan dengan penyampain materi oleh KH. Anwar Iskandar yang merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo. Materi mengambil tema tentang “Kontribusi agamawan dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI”. Beliau mengawali penjelasannya tentang peran Walisongo  menyebarkan agama Islam di Indonesia sampai perlawanan terhadap penjajah. Kontribusi dan peran Walisongo ini diteruskan oleh para ulama baik bidang pendidikan diantaranya melaui pondok pesantren atau di bidang lainnya. Harapan beliau, generasi muda bisa meneruskan perjuangan para pendahulu dan diridoi oleh Allah Swt. Acara ditutup dengan penyerahan cindera mata dari Pondok Pesantren Lirboyo maupun rombongan. (ais)

Sejarah Pembangunan Gedung

Dari tahun ke tahun kuantitas santri yang mondok ke Lirboyo benar-benar mencapai klimaks tak terduga sehingga fasilitas gedung yang ada sudah tidak memadai. Belajar mengajar yang ada di Liboyo tidak terbatas pada tempat yang diselenggarakan di serambi-serambi masjid saja. Akan tetapi juga meluber ke area tempat yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya Madrasah Hidayatul Mubtadi-in, sehingga tahun 1949 dimulailah proyek pembangunan Madrasah Al Ikhwan, disusul beberapa gedung yang berdiri tegak menyambut para santri belajar di dalamnya, untuk profil gedung-gedung itu diantaranya;

 Gedung Al-Ikhwan.

Menurut saksi sejarah, dibangunnya gedung Al Ikhwan yang diprakarsai langsung oleh KH. Marzuqi Dahlan (sumber lain oleh KH. Mahrus Aly) merupakan salah satu sarana pendidikan tertua selain Al-Ihsan dan Pondok Lama. Gedung Al Ikhwan mulai diproyeksikan sekitar 5 tahun sebelum gedung Al-Ihsan. Gedung pendidikan pertama ini dibangun tahun 1956 dibawah pengawasan langsung KH. Marzuqi Dahlan. Gedung ini mempunyai dua lantai. Fasilitas gedung yang berlokasi berhadapan dengan pohon juwet dan bersebelahan dengan kamar huni santri Magelang tersebut lantai dasar difungsikan sebagai tempat tinggal santri. Sedangkan lantai atas digunakan untuk penunjang pendidikan, tempat kegiatan belajar-mengajar siswa dan aktifitas diskusi santri (musyawarah). Tepatnya pada tahun 2001, lantai atas dialih fungsikan sebagai kantor pusat Lajnah Baths al-Masâîl dan menjelma sebagai perpustakaan yang dilengkapi dengan turats-turats peninggalan salaf ash-Shâlihîn.

Gedung Al-Ihsan

Nama Ihsan merupakan singkatan dari nama-nama panitia pembanguan, alif diambilkan dari nama Ilham Nadzir, Ha’ diambilakan dari nama Hafidz (Ahmad hafidz), Sin diambilkan dari nama Sunadi dan Nun diambilkan dari nama Anwar Manshur, jadilah nama Al Ihsan. Gedung ini menjelma sebagai Muqabalah (semacam gedung tandingan) dari Gedung Al-Ikhwan serta Pondok lama yang diberi nama “Iman” oleh KH. Mahrus Aly beberapa tahun sebelumnya.

Gedung ini dibangun secara bertahap, mulai tahun 1972 hingga tahun 1977. Peletakan batu pertama oleh KH. Marzuqi Dahlan, Mbah Kurdi dari Desa Lirboyo. Awal mulanya, KH. Mahrus Aly mengusulkan agar gedung Al-Ihsan dibangun dua tingkat dengan pertimbangan saat itu belum ada otot besi penguat (beton). Akan tetapi, Kyai Marzuqi menganjurkan tiga tingkat, beliau dawuh ; “Wis ora usah otot-ototan, otote shalawat wae” (tidak usah pakai otot/penguat, tapi pakai shalawat saja).

Perjuangan panitia pembangunan Al-Ihsan sangat berat, Kyai Ilham Nadzir bersama Kyai Anwar mengendarai sepeda motor mencari kayu untuk lantai dua dan tiga ke daerah Tuban. Gedung ini memiliki tiga lantai, lantai satu dan dua masing-masing memiliki enam lokal kelas dan berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Sedangkan lantai tiga di desain tanpa sekat dan difungsikan sebagai auditorium yang digunakan berbagai HP (himpunan pelajar) yang belum mempunyai auditorium untuk melangsungkan Jam’iyyah pusat atau seminar. Gedung yang dibangun tanpa penguat besi tersebut hingga kini belum sedikitpun direnovasi dan menjadi cagar budaya Lirboyo.

Gedung Al-Barakah

Gedung ini dibangun tepatnya pada tahun 1986, berkapasitas tiga lantai dan digunakan sebagai wahana kegiatan belajar-mengajar santri MHM. Dikarenakan membludaknya santri putri,  pada tahun 2005 gedung ini menjadi bagian dari Pondok Pesantren Hidayah Al-Mubtadiât atas permintaan lembaga tersebut sebagai sarana belajar mengajar.

Gedung Al-Ittihâd I Dan II

Menurut para saksi sejarah, santri tempo dulu jika nderes Al-Qur`an dan belajar tidak hanya di serambi masjid melainkan juga diarea persawahan yang ada disekitar Pondok. Ajaib, petilasan santri dulu itu kini malah menjelma menjadi gedung kembar Al-Ittihâd I dan II. Sang kakak, Gedung al-Ittihâd I memiliki kapasitas 28 ruang kelas. Lantai satu dan dua digunakan untuk asrama santri sebanyak 16 hunian, ditambah dengan Kantor Pramuka, Kantor Info II, dan LIM (Lembaga Ittihâd al-Muballighîn). Sedangkan lantai tiga yang dilengkapi dengan 6 ruang kelas berfungsi untuk kegiatan belajar mengajar siswa MHM. Adiknya, Gedung al-Ittihâd II dilengkapi 12 ruangan kelas yang semuanya berfungsi sebagai tempat belajar mengajar siswa MHM. Pembanguan gedung ini selesai tahun 1987. Barulah pada tanggal 8 mei 1998 gedung ini diresmikan oleh Pof. Dr. Quraish sihab.

 

Gedung Al-Ikhlâsh

Gedung yang berdampingan dengan Blok R ini dibangun tahun 1993, mempunyai tiga lantai dan berkapasitas 18 ruang kelas. Selain berfungsi sebagai kegiatan belajar mengajar, gedung ini sering digunakan untuk baths al-Masâîl HP (Himpunan Pelajar) yang belum mempunyai auditorium sendiri. Berbagai daerah yang belum memiliki ruang pertemuan sendiri juga melaksanakan Jamiyyah wilayah di gedung ini.

Gedung An-Nahdlah

Gedung ini mulai dibangun tahun 1998, pembangunannya dengan sistem bertahap, gedung ini berkapasitas 29 lokal. Lantai satu paling utara digunakan sebagai kantor pusat M3HM. Dua lokal Lantai dua sebelah utara digunakan sebagai kantor pusat kelas dua dan tiga Aliyah. 7 lokal lantai dua digunakan sebagai aula  yang berfungsi sebagai tempat digelarnya Muhafadhah Akhîr as-Sanah. Dikarenakan lokasinya berdekatan dengan Aula al-Muktamar, gedung ini sering digunakan sebagai penginapan peserta yang menghadiri acara di aula seperti pada saat muktamar NU XXX tahun 1999, Munas Himasal, Reuni Akbar Himasal tahun 2004 dan MQKN II pada tahun 2006.

Gedung Al-Muhafadzah

Gedung ini dibangun pada tahun 1994, didesain tanpa sekat dan berkapasitas menampung 500 orang. Awal dari fungsi gedung ini untuk kegiatan lalaran rutinan (muhafadzah mingguan). Gedung ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan Jam’iyyah atau seminar para santri. Tepatnya pada tahun 2002, gedung ini disekat menjadi 6 ruang kelas. Selain kedua fungsi di atas, mulai tahun 2005, gedung ini juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar siswa tingkat I’dadiyyah I dan II pada siang hari.

Sejarah dan Peran Pondok Pesantren

Sejarah pendidikan agama Islam yang independent, kemudian populer dengan jargon “Pesantren” sebenarnya merupakan sejarah tipologi Institusi Pendidikan Islam yang usianya sudah mencapai ratusan tahun, para ahli sejarah mencatat bahwa eksistensi pondok pesantren telah lahir jauh sebelum Republik Indonesia dibentuk. Hampir di seluruh penjuru Nusantara, terutama di pusat-pusat Kerajaan Islam telah banyak para ulama yang mendirikan pondok pesantren dan menelorkan ratusan bahkan ribuan alumni yang mumpuni di medan perjuangan masyarakat beragama.

Sebagai Lembaga Pendidikan Islam pertama yang mendukung keberlangsungan pendidikan Nasional, Pesantren tidak hanya berkembang sebagai Lembaga yang isinya cuma ngaji dan menelaah kitab salaf melulu, sekaligus juga berperan penting bagi keberlangsungan komunitas yang mempertahankan tradisional sebagai wajah bagi keaslian budaya Indonesia, disamping Lembaganya yang bercorak pribumi (indegenous), pesantren juga mampu merekonstruksi budaya kemarut yang kian menghantam jantung ideology masyarakat Indonesia. Maka dalam Sejarahnya, perkembangan pesantren telah memainkan peran sekaligus kontribusi penting dalam pembangunan Indonesia. Sebelum Kolonial Belanda masuk ke Nusantara, pesantren tidak hanya berperan sebagai Lembaga Pendidikan yang berfungsi menyebarkan ajaran Islam sekaligus juga mengadakan perubahan-perubahan tertentu menuju keadaan masyarakat yang lebih baik (progresif). Sebagaimana tercermin dalam berbagai pengaruh pesantren bagi kelancaran kegiatan politik para raja dan pangeran di-Jawa, kegiatan perdagangan dan pembukaan pemukiman daerah baru. Di saat Penjajah Belanda menduduki Kerajaan-Kerajaan di Nusantara, pesantren malah menjelma sebagai pusat perlawanan dan pertahanan terhadap Kolonial Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan, pasca kemerdekaan tahun 1959-1965, pesantren masih dikategorikan sebagai ‘Alat Revolusi’ dan ‘Bahan Peledak’ yang mampu menghancurkan kelancaran politik yang stagnan. Dan saat memasuki orde baru, pesantren dipandang sebagai ‘potensi pembangunan’ negara bagi masyarakat Indonesia.

Geneologi ideology pesantren dapat dirujuk kepada tumbuh kembangnya pesantren yang cukup panjang. Sebagai salah satu wujud entitas budaya, Pesantren ternyata mampu survive mempertahankan diri ditengah kehidupan masyarakat modern dan kebangsaan global sepanjang jaman. Awalnya, pesantren tumbuh sebagai simbol perlawanan terhadap agama dan kepercayaan poliestik, khurafat dan takhayul. Kehadiran Pesantren di tanah air selalu diawali dengan perang nilai antara “nilai putih” yang dibawa Pesantren dengan “nilai hitam” yang telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Sehingga pertarungan tersebut selalu dimenangkan pihak pesantren sekalipun sinkretisasi antara kejawen dan ajaran Islam sulit dibantahkan.

Kapan dan dimana model pesantren pertama kali didirikan masih terjadi perbedaan. Ada yang mengatakan bahwa pesantren sudah ada sejak abad ke-16 M yang ditandai dengan munculnya karya-karya Jawa klasik, seperti Serat Cabolek dan Serat Centini, sejak abad ke-16 M. di Indonesia telah banyak dijumpai Lembaga-Lembaga yang mengajarkan pelbagai kitab Islam klasik dan disiplin ilmu pengetahuan Islam seperti Fiqh, Aqidah, Tasawuf, dan variable ilmu Islam yang universal. Di samping itu, ada pula yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren tak lain dan tak bukan adalah “jiplakan” dari sistem pendidikan Hindu-Budha pada abad ke-18 M. Dengan demikian, sejak abad ke 19-20, model pendidikan pesantren mulai banyak mengalami perubahan dipelbagai segi sosial sebagai konsekuensi logis dari “muncratnya trend jaman” akibat terpengaruh globalisasi. Bahkan, tidak sedikit akhir-akhir ini dari Lembaga-Lembaga Pesantren yang mulai menerjuni dunia pendidikan sebagai alternative pembangunan bangsa kearah yang lebih baik .

Tidak sedikit kontribusi yang diberikan Pesantren dalam pembangunan nation-state selama ini. Tengoklah pada masa penjajahan, Pesantren telah memainkan perlawanan dan mengambil posisi uzlah sebagai bentuk perlawanan sekaligus pertahanan dari para penjajah. Sebab dari uzlah inilah sebuah pesantren mampu mendapatkan stereotip dari Pemerintah Kolonial yang pada waktu itu dikonotasikan sebagai Lembaga Pendidikan yang semrawut, sehingga banyak orang yang tidak tahu secara jelas sampai mana batas-batas Lembaga Pendidikan Pesantren apakah sebagai Lembaga Sosial, ataukah Lembaga Penyiaran Agama. Banyak para Kyai yang kedudukannya juga ikut-ikut tidak jelas apakah peran mereka sebagai guru, pemimpin spiritual, penyiar agama ataukah sebagai pekerja social, sehingga masih banyak Lembaga Pesantren yang hingga detik ini tidak mendapat stigmatisasi pendidikan, sistem evaluasi, metode pengajaran, dan sebagainya.

Karena anggapan miris Pemerintah Kolonial pada waktu itu, maka Pesantren lebih memprioritaskan diri untuk pengajaran fiqh-sufistik daripada hal-hal yang berkaitan langsung dengan masalah keduniawian. Tentu saja prioritas ini menimbulkan kerugian sekaligus keuntungan. Keuntungannya, pesantren menjelma menjadi Lembaga Pendidikan yang berhasil mengembangkan pertahanan mental spiritualitas, solidaritas, dan kesederhanaan hidup yang kokoh. Namun di sisi lain, kerugian yang harus ditanggung pesantren ialah, pesantren seakan-akan telah terlepas dari kehidupan nyata, tidak membumi, terlalu melangit ke akhirat serta kurang mengapresiasi diri bahkan melupakan kehidupan duniawi.

Pada masa pergerakan dan persiapan kemerdekaan saja, pesantren berperan sebagai pusat perjuangan / gerilyawan seperti Hizbullah dan Sabilillah. Pada masa-masa awal pembentukan Tentara Nasional Indonesia khususnya Angkatan Darat, banyak berasal dari santri dan sedikitnya diwarnai oleh kultur santri. Banyak dari para Kyai dan pengasuh pesantren menjadi pemimpin diplomasi yang cukup piawai untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia melalui penyusunan dasar-dasar institusi negara. Meski saat itu, Lembaga Pendidikan Pesantren masih menjadi Lembaga Pendidikan Agama yang bercorak fiqh-gnostik dan klinik sosial-keagaman masyarakat.

Pada abad ke-20, pesantren mampu mereposisi diri kearah sistem pendidikan yang berorientasi ke arah masa depan dengan tanpa menghilangkan tradisi-tradisi yang baik, dengan berpedoman kepada prinsip “al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah”. Sejak tahun 1970-an, Pesantren mulai mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan dengan berusaha mengadaptasi dan mengakomodasi perubahan-perubahan khususnya di bidang pendidikan, perubahan pendidikan khususnya masalah pendidikan meliputi orientasi pendidikan serta aspek-aspek administrasinya, diferensiasi struktural dan ekspansi kapasitas bahkan transformasi kelulusan yang berkenaan dengan nilai, sikap, dan perilakunya. Pondok Pesantren Lirboyo yang terletak di kawasan Kota Kediri saja pada abad ke-20, mulai mengajarkan pendidikan ketrampilan di pelbagai bidang. Seperti menjahit, pertukangan, perbengkelan, peternakan, dan sebagainya. Pendidikan ketrampilan ini diberikan dengan tujuan supaya civitas pesantren memiliki wawasan keduniawian sesuai profesi yang diinginkan melalui pendidikan ketrampilan, santri tidak hanya fasih dalam  hal-hal yang bersifat karitas atau charitable, tetapi juga professional menghadapi hal-hal yang bersifat sekuler, pragmatis, dan kalkulatif.

Dengan demikian, para sejarawan akhirnya berhasil menyimpulkan bahwa sejarah geneologi sistem pendidikan ala pesantren sebenarnya dapat ditelusuri dari era sebelum masuknya Agama Islam. Istilah pesantren yang berawal dari surau Sunan Ampel dianggap oleh sebagian ahli sejarah sebagai tonggak eksistensi awal munculnya bendera Lembaga Pendidikan Pesantren dalam rangka mentransfomasikan keilmuan dan kebangkitan Islam di Indonesia. Berawal dari tempat inilah, Pesantren menjelma sebagai Lembaga Pendidikan rakyat yang berorientasi mencetak agen-agen perubahan dan pembangunan masyarakat.

Pesantren sebagai Benteng Spiritual
Di samping sistem pendidikannya yang amat sederhana, di dalamnya juga terdapat interaksi sosial antara Kyai atau ustadz yang berperan penting sebagai guru bagi para santri dan telah menjadikan standar pendidikan yang cukup efektif bagi keberlangsungan sumber daya manusia. Kyai, sebagai top leader (uswah) yang menjadi pemimpin tunggal, aktif mengatur langsung komunitas yang diembannya, mulai urusan para tamu, santri baru, penentuan kitab-kitab kajian hingga berbagai aktifitas yang dijalankan dalam tubuh Pesantren. Bertambah banyaknya santri, biasanya menjadikan Kyai menunjuk santri seniornya menjadi Lurah Pondok. Melalui Lurah inilah, semua urusan Kyai didelegasikan. Sejarah metodologi pendidikan salaf semacam ini tak ayal menempatkan Pesantren sebagai “kerajaan-kerajaan kecil” (muluk al-thawaif, emiret), dimana antara satu Pesantren dengan yang lain memiliki aturan dan aktifitas yang berbeda.

Kini, seiring dengan perkembangan waktu, Lembaga yang sering disebut-sebut “tradisional” itu, memasuki era globalisasi dan milenium ketiga dan mendapat sorotan cukup tajam. Masalahnya, meski dikatakan tradisional, toh kenyataannya, Pesantren sampai sekarang masih tetap eksis, bahkan mendapat simpati dan animo masyarakat luas. Terlebih lagi dalam merespon krisis berkepanjangan di Indonesia. Karenanya, topik sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, pelestarian dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tinjau dari berbagai manfaat guna dijadikan sebagai suri tauladan umat.

Hal ini tak lain karena “omongan” para ahli sejarah yang memprediksikan bahwa keberadaan Pesantren di Indonesia merupakan benteng pertahanan terakhir bagi spiritualitas Negara Kesatuan Repuplik Indonesia maupun Umat Islam di negeri ini. Harus di akui bahwa sejarah berdirinya republik ini tak lepas dari jasa para ulama alumnus pesantren, begitu pula dengan lenyapnya komunitas serta gerakan pengacau Republik Indonesia. Bagi umat Islam, melalui Pesantrenlah mereka berharap kontinuitas estafet dakwah Islam terus dilanjutkan. Hilangnya Pesantren, berarti lenyapnya para ulama (agamawan) serta orang-orang shalih. Kalau sudah demikian, maka tinggal tunggu kehancuran keindahan spiritual agama tersebut. Sungguhpun saat ini telah menjamur institusi pendidikan formal yang berlabelkan Islam, akan tetapi out-put Lembaga mereka nyata-nyatanya tidak mampu menelorkan para ulama yang menjadi pewaris para Nabi.

Apalagi jika menengok sejarah penanaman nilai-nilai moral dan metodologi pendidikan salaf bernafas religius seperti yang diterapkan Pondok Pesantren Lirboyo sampai saat ini ternyata mampu membuktikan dirinya mempertahankan anak bangsa dari erosi akhlaq dan dekadensi moral. Pembentukan jati diri manusia yang ber-akhlakul karimah hingga terwujudnya insan paripurna merupakan salah satu misi Lembaga-Lembaga Pesantren Salaf di Indonesia. Sikap Kyai yang tulus, ikhlas, sabar. Tawakal (berserah diri), tawadlu’ (hormat), jujur serta independensi merupakan dinamika energy power bagi nilai-nilai luhur Bangsa dan Negara. Manusia-manusia tipe mereka saat ini sungguh langka ditemukan. Padahal hanya dengan jiwa yang terpatri pada nilai-nilai mulia itulah Bangsa Indonesia bisa terselamatkan dari dekadensi moral serta penyakit-penyakit lain yang akan menyeret Bangsa ke dalam kondisi “krisis” berkepanjangan, tidak mustahil jika nantinya terjadi big bang kehancuran bagi umat manusia.

Sejarah independensi Pesantren dari generasi ke generasi telah membuktikan betapa kokohnya Lembaga-Lembaga ini dalam memikul beban meneruskan perjuangan Nabi dan Rasul. Di tambah, dengan sejarah keberadaan Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam tidak hanya berperan atas unsur politik dan ekonomi, tapi lebih dari itu, ia hadir sebagai bentuk tingginya animo masyarakat atas keilmuan para ulama salaf. Sejak era Kolonial sampai Kemerdekaan, keberadaan Pesantren yang berdiri baik di wilayah pedesaan atau pinggiran. Demografis serta doktrin jihad yang diterapkan, menjadikan Pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan rakyat tetapi telah menjadi simbol kebudayaan Bangsa Indonesia itu sendiri.

Nilai-nilai Pesantren
Harus diakui bahwa pada dasarnya, Pesantren dibangun atas dasar keinginan bersama dua komunitas yang saling bertemu. Komunitas santri yang ingin menimba ilmu sebagi bekal hidup dan kyia/guru yang secara ihklas ingin mengajarkan ilmu dan pengalamannya. Relasi simbiosis mutualisme ini saling melangkapi, santri dan Kyai merupakan dua entitas yang memiliki kesamaan kesadaran dan bersama-sama membangun komunitas keagamaan yang kemudian disebut Pesantren. Kyai, ustadz, dan santri hidup dalam satu keluarga besar berlandaskan nilai-nliai Agama Islam yang dilengkapi dengan norma-norma.

Komunitas keagamaan Pesantren berlandaskan oleh keinginan tafaqquh fî ad-dîn (mendalami ajaran Agama), dengan kaidah yang menjadi soko gurunya, al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Keinginan dan kaidah ini merupakan nilai pokok yang melandasi kehidupan dunia pesantren. Suatu bentuk falsafah yang cukup sederhana, tetapi mampu mentransformasikan potensi dan menjadikan diri Pesantren sebagai agent of change bagi masyarakat. Sehingga, eksistensi Pesantren identik dengan Lembaga pemberdayaan serta pengembangan masyarakat.

Selain kedua nilai diatas, eksistensi pesantren menjadi kokoh karena dijiwai oleh panca-jiwa, Seperti jiwa keihlasan yang tidak pernah didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu, khsusnya material, melainkan karena semata-mata karena beribadah kepada Allah. Jiwa keikhlasan memanifestasikan dalam segala rangkaian sikap dan perilaku serta tindakan yang dilakukan secara ritual oleh komunitas pesantren. Jiwa kiekhlasan ini dilandasi oleh keyaqinan bahwa perbuatan baik pasti diganjar oleh Allah dengan sesuatu yang tak bisa dilukiskan oleh akal.

Selain itu dalam budaya Pesantren salaf juga telah terpatri jiwa kesederhanaan, kata’sederhana’ disini bukan berarti pasif, melarat, miskin, dan menerima apa adnya, akan tetapi lebih dari itu mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, kemampuan mengendalikan diri dan kecakapan menguasai diri dalam menghadapi kesulitan. Dibalik jiwa kesederhanaan ini tersimpan jiwa yang besar, berani, maju, dan pantang menyerah dalam menghadapi dinamika sosial secara kompetitif. Jiwa kesederhanaan ini menjadi ‘baju’ identitas yang paling berharga bagi civitas santri dan Kyai. Apalagi dengan adanya jiwa kemandirian yang peranannya mampu mengurusai persoalan-persoalan internal pesantren, namun kesanggupan membentuk Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang independen, tidak menggantungkan diri kepada bantuan dan pamrih pihak lain. Pesantren dibangun diatas pondasi kekuatan sendiri sehingga banyak dari mereka yang benar benar menjadi merdeka, otonom dan mandiri di dalam budaya Pesantren salaf, biasanya ada jiwa kebebasan dalam mengandalkan civitas Pesantren sebagai manusia yang kokoh dalam memilih jalan hidup dan masa depannya, hanya dengan jiwa besar dan sikap optimis inilah maka dalam lembaran sejarahnya, Pesantren mampu mengahadapi segala problematika kehidupan umat manusia dengan dilandasi nilai-nilai Islam. Kebebasan ini juga berarti sikap kemandirian yang tidak berkenan didikte oleh pihak luar dalam membangun orientasi kepesantrenan dan kependidikan. Sehingga muncullah jiwa jiwa lain seperti ukhuwwah Islamiyyah, jiwa ini memanifesatasi dalam keseharian civitas Pesantren yang bersifat dialogis, penuh keakraban, penuh kompromi, dan toleransi. Jiwa ini mematri suasana sejuk, damai, saling membantu, senasib dan saling mengharagai bahkan saling mensupport dalam pembentukan dan pengembangan idealisme santri.  Semua itu menjadikan Pesantren tetap “bernilai” dan mampu eksis sepanjang sejarah kehidupan dan dinamika jaman. Globalisasi teknologi industry yang massif dan mendunia tidak menggoyahkan eksistensi Pesantren sebagai penjaga sekaligus pelestari nilai-nilai luhur. Dikarenakan Pesantren hanya tergantung terhadap kebenaran mutlak (tuhan) yang diaktualisasi dalam fiqh-sufistik yang berorientasi kepada amalan ukhrawiy, maka kebenaran didalamnya relative bersifat empiris pragmatis dalam memecahkan beragam persoalan kehidupan sesuai dengan hukum agama. Semua aktivitas Pesantren selalu mengacu kepada keseimbangan antara ukhrawiy dan duniawi. Keimanan civitas Pesantren senantiasa memanifestasikan setiap perilaku, sikap dan tindakan sehari-hari. Karena itulah, identitas Kyai dan santri menjadi sesuatu yang layak diteladani bagi setiap pengembangan masayarakat secara utuh.

Nilai kemandirin yang menjadi pondasi eksistensial pesantren merupakan nilai utama paling signifikan bagi perubahan sosial dan budaya yang otonom. Dengan kemandiriannya, Pesantren telah mampu menjelma sebagai creative cultural makers dan figure sang kyai sangat penting dalam kehidupan bermasyrakat. Sehingga, profesi Kyai selain sebagai pengasuh Pondok juga sebagai tokoh masyarakat, mediator, dan pialang. Kenyatan semacam ini tentu saja disebabkan Kyai mempunyai integritas keilmuan tinggi yang mampu mempriteksi kesadaran masyarakatnya sehingga terbentuk komunitas keagamaan dan budaya kemandirian. Dengan kemandiriannya pula, Pesantren mampu terlepas dari jerat-jerat dependensi dan hegemoni pihak lain.

Pesantren, Institusi Pendidikan yang komprehensif
Rentang waktu yang kian panjang mengantarkan berbagai Pondok pesantren mengalami perubahan yang amat signifikan, baik di teropong dari metodologi pendidikan maupun mekanisme struktur pondok pesantren yang diterapkannya. Jika dahulu Pesantren hanya menggunakan sistem bandongan kini telah banyak menggunakan sistem modern. Jika dahulu banyak Pesantren yang masih bergelut dalam khazanah kutub as-salaf sebagai kurikulum pendidikan, kini telah banyak di antara pesantren (meskipun sebagian besar juga belum) yang memasukkan pelajaran umum sebagai kurikulum dalam metodologi pendidikannya, pembaharuan ini tentu saja dinilai sebagai eksistensi Pesantren dengan harapan bahwa kelak para alumninya mampu menggembleng masyarakat dengan berbagai kedisiplinan ilmu yang membumi. Meski di lain pihak, banyak pula sebagian pesantren yang masih memegang teguh corak stagnasi pendidikan salaf (konservatif dan cenderung eksklusif), dengan harapan mampu menjaga ke-orisinal-an substansi pendidikan pesantren seperti yang diinginkan para pendahulunya.

Pondok Pesantren Lirboyo yang berareal di Kawasan Kota Kediri merupakan satu diantara ribuan Pesantren yang hingga kini masih tetap percaya diri memegang teguh corak dinamisasi metodologi pendidikan salafnya. Fenomena ini bukan berarti Pondok Lirboyo antipati terhadap perkembangan modernisasi zaman, terbukti, meski masih memegang teguh corak pendidikan salaf, Pondok Lirboyo banyak mengadakan variable rekonstruksi kegiatan ekstrakulikuler berupa pendidkan bahasa Inggris, Komputer, jurnalistik dan berbagai macam dinamisasi modern yang marak di tengah masyarakat dunia. Wallahu A’lam