Tag Archives: sidogiri

Taubat, Seorang Tunasusila Lahirkan Nabi

Sebuah cerita unik tempo dulu dari kaum bani Israel, tentang seorang tunasusila. Wanita cantik jelita yang kehadirannya meresahkan orang disekitar karena keelokan paras dan penampilannya.Wanita ini selalu duduk di depan ruang rumahnya dengan pose yang menggoda, pintu rumahnya selalu terbuka, sehingga orang yang lewat akan melihatnya dari luar sehingga terpesona.

Setiap orang yang ingin masuk kerumah wanita ini dikenakan “tarif”. meski demikian, banyak orang yang tertarik untuk bisa masuk kerumah tersebut.

Suatu kesempatan, tanpa disengaja seorang ahli ibadah lewat di depan rumah wanita itu, matanya sampai juga ke dalam isi rumah itu. Saat yang sama wanita tersebut sedang duduk di atas dipannya. Serr, desiran setan mendesir hebat dalam hati Si ahli ibadah itu, dengan susah payah ia berdoa dan memaksakan diri untuk menghilangkan godaan setan dalam hatinya. Lama sekali.

Namun gagal, gejolak hatinya terus mengajak serong. mengakui kalah, tanpa basa-basi ia menjual perkakas rumah yang ia punya guna membeli “tiket” masuk, setelah terkumpul dan cukup untuk membeli, ia pun pergi menemui wanita tersebut.

Ia serahkan segepok uang kepada penjaga kasir yang ada di depan rumah, sedangkan  si wanita menyuruhnya untuk sejenak menunggu, ia akan mempersiapkan diri untuk menyambut sang tamu, ia berbenah, memoles wajahnya dan mengenakan pakaian yang terbaik.

Setelah dirasa cukup, ia duduk seperti biasanya, lalu menyuruh ahli ibadah tadi untuk masuk. Setelah masuk, ahli ibadah tadi segera duduk berdampingan dengan wanita yang diharap-harapkan ini. Tanpa selang panjang, ia julurkan tangannya untuk meraih tubuh perempuan di sampingnya tersebut.

Tiba-tiba, belum saja melakukan hal-hal dusta, sampai akhirnya datanglah kasih sayang Allah kepada ahli ibadah ini, berkat ibadah-ibadah yang ia lakukan waktu dulu, terbersit dalam hatinya bahwa Allah mengawasi semua yang ia perbuat.

Bahwa aku sekarang berada pada perilaku yang terlarang. Amal ibadahku akan lebur tak tersisa. Hatinya bergetar hebat, rasa takut yang dahsyat ia alami, raut mukanya berubah drastis, pucat pasi, tubuhnya geloyoran.

Melihat perubahan-perubahan yang dialami pria disampinya, wanita ini bertanya

Ada apa denganmu?”

“Aku takut kepada Tuhanku, izinkan aku keluar dari sini,”  jawabnya.

“Kamu gila, banyak orang yang ingin menikmatiku, mereka hanya bisa menelan ludah tak kesampaian.  sedangkan kamu sekarang sudah berada disini malah ingin keluar sebelum melakukan apa-apa,” Tukas wanita tersebut merasa heran dengan apa yang terjadi di hadapannya.

Aku takut Allah. sudah, uang yang kuberikan kepadamu halal untuk kau miliki, sekarang izinkan aku keluar dari sini,” kata si ahli ibadah kukuh pada pendiriannya.

Apa engkau belum pernah melakukan hal ini sebelumnya?” tanya si wanita penasaran dengan sikap ahli ibadah.

Belum.

Dari mana asalmu? dan siapa namamu?” tanya si wanita menyelidik.

Dari daerah ini, namaku ini,” jawabnya tak sabar ingin cepat enyah dari tempat maksiat ini.

Dengan terpaksa wanita tersebut merelaka pria ahli ibadah ini keluar rumah, setelah keluar ia langsung menyerapahi dirinya, kenapa ia begitu bodohnya melakukan hal yang keji ini, penyesalan yang sangat mendalam ia rasakan, ia menangis, ia raup segenggam pasir lalu menyawurkan di kepalanya.

Diwaktu bersamaan, dengan perantara keberkahan ahli ibadah ini, wanita lajang tadi merasakan guncangan batin yang tak kalah hebatnya. Tiba-tiba rasa takut menyelimutinya.

“Laki-laki ini baru saja melakukan satu dosa kecil, namun ia sudah merasakan ketakutan yang mencengangkan, sedangkan aku sudah tak terhitung jumlah dosa yang kuperbuat, sekian tahun lamanya, tak merasakan apa-apa. padahal Tuhan yang ia takuti pun adalah Tuhanku juga. Seharusnya akulah yang lebih merasakan takut dibanding laki-laki ini.”

Setelah kejadian batin ini, ia pun bertobat dari perbuatannya, ia kunci pintu rumahnya dari yang sebelumnya selalu terbuka bagi siapapun. Ia mulai menutup auratnya rapat-rapat dari yang sebelumnya selalu menggoda bagi siapa yang melihat. Ia lekas mengabdikan diri untuk beribadah dengan sepenuh penyesalan.

Setelah sekian lama ia ibadah, terbersit dalam hatinya “Kenapa aku tidak mendatangi laki-laki yang kemarin datang kepadaku itu, siapa tahu ia mau menikahiku, sehingga aku bisa belajar darinya tentang agama, dan ia akan menjagaku.”

Segeralah ia mempersiapkan diri dengan membawa semua harta dan pelayannya, sampailah ia disebuah daerah yang disebut laki-laki itu dulu. Setelah sedikit bertanya dimana rumah ahli ibadah itu, dipanggillah ia bahwa ada seorang wanita yang mencarinya.

Keluarlah si ahli ibadah tadi dari tempat ibadahnya, setelah mereka berhadapan, si wanita membuka penutup wajahnya, seketika ahli ibadah tahu siapa gerangan wanita dihadapannya ini.

Memori masa lalu antar keduanya terekam kembali dalam benaknya. Takut terjadi hal-hal lain. Seketika ia teriak dengan sangat keras, sampai akhirnya ruhnya keluar dari jasad, mati.

Sedih sekali si wanita itu, ia menempuh perjalanan jauh supaya dinikahi oleh laki-laki idamannya dan menjadi seorang hamba yang taat namun setelah bertemu ia meninggal.

Ia tak ingin jerih payahnya tak menghasilkan apa-apa “Adakah dari kerabat laki-laki ini yang mau dengan wanita seperti saya,” tanyanya kepada orang disekitar. menawarkan diri.

“Ia mempunyai saudara laki-laki, hanya saja saudaranya ini sangatlah miskin,” jawab masyarakat sekitar.

“Tak apa, aku mempunyai banyak harta untuk keperluannya.”

Segera ia mencari kerabat laki-laki tadi, singkat cerita merekapun sepakat menjalin hubungan keluarga, setelah waktu berselang, pasangan ini dikarunia tujuh orang anak, yang ternyata kelak dari ketujuhnya semua menjadi nabi yang diutus kepada kaum bani israel.

Subhanallah. Dahsyatnya taubat yang didasari atas ketulusan, semoga kita mampu dengan segera bertaubat dari dosa-dosa setiap harinya. Amiin [ABNA]

Basis Metamorfosa Umara di Negeri Surga

Umara sebagai media (mu’awin) amar ma’ruf yang bersifat kolektif ini, telah menjadi jalan koordinasi (instrumen) dari pimpinan tertinggi dimuka bumi pertiwi serta merupakan opsi besar yang berpengaruh
kepada kehidupan rakyat berbangsa.

Kedatangan Islam sebagai pementah ajaran bangsa Jahiliyyah telah membedakan dua kelompok ini dengan mengakomodir terhadap urusan yang tidak hanya duniawi saja, melainkan juga hal agama (religius).

Berpuluh-puluh tahun silam, pemerjuang kemerdekaan Negara telah memeras otak demi mengkodifikasi Dasar Negara yang memiliki korelasi antara negara berbangsa dengan tanpa berseberangan dengan faham hukum formal agama Islam (syariat).

Hal ini merupakan keniscayaan yang terjadi disebabkan nenek moyang (grand founder) Indonesia mayoritas muslim. Meski demikian, nenek moyang (grand founder) pemerjuang kemerdekaan Negara tidak memaksakan bumi pertiwi untuk dijadikan Negara Islam (khilafah).

Acap kali beberapa kelompok Fundamental paksa-memaksa serta memiliki statemen untuk menjadikan Indonesia bak Negara Timur Tengah (khilafah). Mereka merasa berhak ikut andil menghakimi kericuhan publik.

Padahal pernyataan verbal secara rektorik yang terdapat didalam Dasar Negara (Pancasila / UUD 1945) sudah mencerminkan bukti-bukti Islamic Oriental di negeri ini. Namun mereka tetap acuh tak
acuh , buta membuta dan melihat sebelah mata kepada kenyataan demikian.

Presiden RI ke 4 beliau K.H. Abdurrahman Wahid pernah menyatakan “Indonesia tidak akan banyak kericauan apabila tidak dijadikan sebagai negara khilafah” dinilai keliru oleh mereka.

Anggapnya, Indonesia adalah Negara berprinsip Islamic Liberal yakni bangsa prospektif kepada faham yang tidak bersumber kepada induk yang disepakati oleh madzhab – madzhab dalam agama serta bertujuan membongkar ajaran yang telah disepakati oleh ulama.

Tidak, justru Dasar-dasar Negara selaras dengan nilai keagamaan. Bahkan , public figure Indonesia selalu menitikberatkan segala urusan siyasahnya agar tetap dalam eksistensi literatur kuno. Sebagaimana yang terlansir:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

“Memperhatikan sistem lama yang masih relevan dan mengadopsi ha-hal yang layak dijadikan pijakan dengan tetap meneladani masa lalu yang mengantarkan pendahulu ke gerbang kesuksesan”.

Sebab standarisasi hukum pemerintahan negara tidak akan bersilang paham denagn syariat. Seperti yang disebutkan di dalam salah satu literatur kuno :

قلنا أن ما يخالف الشرع من قنون او لائحة او قرار باطل بطلانا مطلق

segala hal yang menyalahi syariat baik berupa suatu dasar, prospektur (kinerja), maupun ketetapan , maka hal demikian itu batil secara mutlak.”

Salah satu bukti bahwa siyasah bangsa ini tak ayal dari wacana agama, dengan digambarkan bahwa sebagai umat berbangsa Indonesia yang kehidupannya diatas rata-rata diharuskan untuk menginfakkan sebagian hartanya kepada orang-orang menengan kebawah dengan tanpa menuntut paham aliran transgender sebagaimana isu sentral liberalisme.

Sebenarnya norma ini telah tersirat di dalam pancasila yakni sila ke-5 yang berupa Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menilik dan memahami bahwa pondasi bangsa berprinsip teguh kepada ajaran agama, Ulama adalah bayangan serta suksesi besar secara implisit dalam keberhasilan kesejahteraan negeri.

Sebab, siapa lagi yang tahu-menahu tentang maksud amanat nenek moyang (grand founder) sebagai salafuna as-sholih dimasa lampau melainkan ulama?

Sedangkan umara adalah suksesi besar secara eksplisit dimuka negara (dalam hal materi). Bagaimana tidak? Kiprahnya sebagai prasarana untuk mewujudkan kehidupan yang baik serta etos kerja masyarakat yang baik pula.

Seperti memberikan kemudahan berupa alat-alat yang menunjang kemajuan pertanian, perdagangan, pertukangan, dan juga memberikan lapangan kerja yang baik. dengan demikian, maka antara nilai hukum formal agama islam serta dasar negara memiliki korelasi (ta’aluq) yang begitu erat.

Dan agar asupan moral serta material bisa diserap dengan seimbang, maka ulama dan umara perlu menjalin interaksi mutualisme dengan menggalang persatuan demi menciptakan negeri yang damai dan sejahtera.

Bukankah Allah lebih mencintai persatuån yang memprioritaskan hal baik? Seperti yang

dijelaskan dalam kitab tafsir al-Fakhru al-Razi juz 3 hal 386:

أن الله تعالى يحب الموافقة و الألفة بين المؤمنين وقد ذكر والمنة بها عليهم حيث قال : ” واذكروا نعمة الله عليكم ” (ال عمران103) الى قوله “إخوانا” (ال عمران103) ولو توجه كل واحد فى صلاته الى ناحية أخرى لكل ذلك يوهم اختلافا ظاهرا فعين الله لهم جهة معلومة وامرهم جميعا بالتوجه نحوها ليحصل لهم الموافقة بسبب ذلك وفيه اشارة الى ان الله تعالى يحب الموا فقة بين عباده فى اعمال الخير

_______________________________________

REFERENSI:

Al-Imamah AL-‘Udhma                Hal.151

AL-Majmu’                                       Hal. 360

Juz 8Al-Fiqh Al-Islami                   Hal 337 Juz 1

Al-Tasyrii’ Wa Al-Janaiy              Hal.337 Juz 1

Al-Fakhru Al-Rozi                           Hal.386 Juz 3

_________________________

Oleh : Umi Fajar fauziah

Asal : Blitar

Kamar : Blok M, P3HM

Kelas : 1 Tsanawiyyah

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putri

 

Siyasat Politik Ulama Plat Merah

Dalam rekam sejarah, sistem kenegaraan paling ideal adalah masa kepemimpinan Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Rasulullah SAW. membuat Piagam Madinah— yang oleh Prof. Jimly Ash-Shiddiqy—sebagai konstitusi tertulis pegama dimuka bumi yang
menjamin keberlangsungan pluralitas bangsa.

Dengan Piagam Madinah, Rasulullah saw. menjamin keberlangsungan tata kelola kehidupan yang pluralis, bahkan soal kebebasan keyakinan beragama sekalipun. Kesuksesan yang telah dibangun Rasulullah saw. tidak terlepas dari dualisme kepemimpinan yang beliau pikul, yakni pemimpin umat dan kepala pemerintahan. Model dualisme seperti ini terus berlanjut hingga masa Khulafaur Rasyidin.

Namun setelah masa itu, dua kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin mulai pudar. Sebagian besar kepala pemerintahan memiliki bekal keilmuan syariat yang kurang memadai. Begitu pula para ulama yang kurang memiliki kecakapan dibidang pemerintahan atau tidak memiliki posisi strategis di dalamnya.

Realita demikian diakui oleh para pemegang kekuasaan. Mereka sadar, bahwa keberadaan ulama menjadi sangat penting sebagai kekuatan penyeimbang untuk memastikan proses check and balances berjalan dengan baik. Keberadaan ulama dalam upaya pertimbangan serta pengawalan sebuah kebijakan memiliki peranan penting agar kebijakan tersebut memiliki payung hukum syariat.

Arti penting keberadaan ulama—dalam sudut pandang politik—ketika memang memiliki arah pandang dan tujuan yang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga ketika keberadaan ulama berada dijalur oposisi atau bahkan anti pemerintah, maka akan sebaliknya, pemerintah justru menjadikan ulama sebagai ancaman atas imperium kekuasaannya.

Dalam sejarah peradaban Islam, manuver pemerintah yang demikian telah menjadi realita politik. Salah satunya adalah Imam Malik yang dihukum oleh Gubernur Kota Madinah pada tahun 147 H/ 764 M karena telah mengeluarkan fata bahwa hukum talak yang coba dilaksanakan oleh kerajaan Abbasid sebagai tidak sah. Kerajaan Abbasid ketika itu telah membuat fatwa sendiri bahwa semua penduduk perlu taat kepada pemimpin dan barang siapa yang enggan akan terjatuh talak atas isterinya.

Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal pernah hidup didalam penjara karena kekerasannya menentang mazhab Mu’tazilah yang diterima oleh pemerintah Abbasid ketika itu. Pihak pemerintah memaksa Imam Ahmad mengesahkan mazhab baru tersebut. Imam Ahmad enggan dan ini menyebabkan beliau dirotan didalam penjara sehingga tidak sadarkan diri.

Menyimak apa yang terjadi atas diri para imam mazhab tentu penjara dan ‘serangan’ dari pihak pemerintah terhadap ulama bukanlah sesuatu yang baru. Penjara bahkan kematian sebagai konsekuensi mempertahankan atas apa yang diyakini sebagai sebuah kebenaran tentu akan lebih terhormat daripada menjadi ulama ‘plat merah’ yang selalu melegitimasi seluruh kebijakan negara tanpa reserve.

Reaktualisasi Fikih Siyasah

Belajar dari corak sejarah peradaban islam yang dinamis, ulama lokal memiliki cara pandang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusantara. Kebhinnekaan bangsa yang ada menuntut formulasi khusus dalam misi Himayatul Islam bi Himayatid Daulah (menjaga agama dengan jalan menjaga negara).

Salah satunya adalah dengan aktualisasi fikih siyasah yang berupa sinergi dengan pemerintah. Sinergi dengan pemerintah (Umara) dilakukan dengan menguatkan simbiosis antara agama dan negara. Sebagaimana ungkapan oleh Al-Ghazali—sang argumentator islam, filusuf kenamaan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulum ad-Din:

Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[1]

Sekilas, analogi yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan.

Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Karena bagaimanapun, negara merupayan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama.

Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari pemahaman semacam inilah para Ulama Nusantara berusaha meyakinkan dan merangkul pihak pemerintah sebagai pemegang kendali atas kehidupan kenegaraan. Karena sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan.

Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa. Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung antara ulama dan umara.

 

 

­­­­­­­­­­­­­­­­______________________

[1] (Al-Ghazali, lhya’ ‘Ulum ad-Din, vol. 1 hal. 17, cet. Al-Haromain)

Oleh : Ahmad Mahbubi Samana.

Asal : Pasuruan

Kamar : G 16

Kelas : Ma’had Aly Semester 1-2

Sebagai Juara Kedua Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

Relasi Umara dengan Ulama

“Dalam Bingkai Menjaga Keutuhan Negara Persatuan Republik Indonesia”

“Orang bilang tanah kita, tanah surga”. Sebuah petikan kata yang menggambarkan betapa indahnya bumi  yang kita tempati, bumi yang sempat menjadi rebutan beberapa Negara untuk menguasai kekayaan didalamnya yang pada saat itu menjadi primadona dibelahan dunia. Bumi yang juga pernah berada dibawah kaki tangan penjajah selama beberapa abad, mulai Portugis, Spanyol Belanda, Inggris pernah secara silih berganti menguasai tanah surga ini.

Selang beberapa waktu kemudian, dengan pengorbanan besar, tanah surga benar benar menjadi surga bagi pemiliknya, banyak Negara dari berbagai belahan dunia tercengang melihat hasil jerih payah yang berbuah kemerdekaan, diperoleh bukan sebab belas kasih bangsa lain.

Sebenarnya apa faktor X apa yang mengantarkan kesuksesan ini ? , bukankah sejak periode awal penjajahan telah terdapat perlawanan, lantas mengapa baru di peroleh pada akhir abad ke 19 ?

bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan sehingga memuncullah klaim sepihak bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah pihak sekutu. Untuk menolak klaim sepihak, marilah kita telusuri beberapa potongan sejarah kemerdekaan Indonesia dibawah ini.

Pada tahun 151 beberapa Negara mulai memasuki sebagian wilayah nusantara, diawali Maluku sampai di Sunda Kalapa, dengan bermanis muka para penjajah berhasil menarik simpati dari pribumi, selang waktu berjalan didukung begitu polosnya pribumi menjadikan para penjajah sebagai penguasa diberbagai bagian bumi nusantara, dengan melahirkan kebijakan yang menguntungkan ekonomi mereka dan mencekik pribumi.

tidak berlangsung lama muncullah benih-benih kebencian sehingga terpeciklah berbagi perlawanan kecil dari penduduk sekitar. namun perlawanan ini tidak begitu berarti dikarenakan belum terorganisir, motivasi dari perlawanan mereka berbeda, tergantung kepentingan masing-masing.

belum sekalipun terlintas dipikiran mereka tentang kemerdekaan, kebebasan dan mendirikan Negara, tidak ada persatuan dalam perjuangan sehingga dengan mudah dapat dipatahkan oleh pihak penjajah, berbagai lapisan masyarakat tetap mempertahankan ego mereka.

pribumi yang menempati struktural pemerintahan (umara) terlanjur nyaman dengan kekayaan yang terus disuplai oleh penjajah. sementara tokoh masyarakat (ulama) sekitar terlanjur benci dengan orang-orang yang terlihat dekat dengan penjajah, disaat itu belum dikenal istilah Diplomasi.

Fakta sejarah yang terjadi, beberapa kali perjuangan kemerdekaan justru digagalkan oleh sesama pribumi, dengan berbagai penyebab, bahkan menurut Ahmad Manshur Suryanegara dalam bukunya mengatakan :

secara kuantitas pasukan perang dari penjajah terpaut sangat jauh dari pribumi, namun dengan politik pecah belah untuk dikuasai (Divide and rule-divide et impera) mereka dapat dengan mudah menggunakan pribumi sebagai pasukan tambahan yang ironisnya ditempatkan pada baris paling depan guna memperkuat posisi mereka di nusantara

Dan hal ini tidak pernah disadari oleh pribumi. Dari sedikit kutipan sejarah diatas, setidaknya kita dapat mengetahui dua faktor utama kegagalan para pejuang kemerdekaan untuk mengusir penjajah. Pertama, tidak adanya sosok pemimpin yang mampu mengkoordinasi dengan menggunakan strategi yang cerdas.

Kedua, kurangnya relasi dari lapisan masyarakat, baik dari golongan agamis atau negarawan. Relasi hubungan agama dan Negara dalam sejarah keduanya, banyak mengambil bentuk dan pola yang beragam. Sebelum kita tahu pola mana yang menjadi pilihan paling ideal, kita harus ketahui tipologi hubungan keduanya dalam beberapa kategori.

Pertama, penyatuan agama dan Negara secara totalitas, yakni kepemerintahan berdasarkan kepercayaan, bahwa pemimpin telah mendapatkan mandat dari Tuhan. Kategori ini dapat diaplikasikan ketika pemimpin menempati posisi sebagai nabi.

Kedua, kepemerintahan yang menjadikan agama sebagai rujukan dalam penyelenggaraanya, dengan menjadikan seseorang yang berkapatibel ulama sebagai umara yang berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan ajaran agama pada setiap keputusan. Pola ini diterapkan diera Khulafa al-Rasyidin.

Ketiga, Negara yang menjadikan agama tertentu sebagai konstitusi atau dasar untuk memutuskan setiap permasalahanya. Negara ini melegitimasi keabsahan kekuasaanya dengan agama. Pada pola ini roda pemerintahan dipimpin oleh seorang raja, politikus, atau pimpinan militer bukan kelompok elit agama (ulama) dan ini pernah diterapkan ketika periode imperium (muluk) islam, sejak Umayyah hingga Saudi Arabia sebagai presentasi didunia modern.

Keempat, pemerintah yang tidak sepenuhnya merujuk kepada yurisprudensi agama tertentu, namun tetap menjadikan agama sebagai rujukan, mengingat aspirasi keagamaan, kebudayaan dan norma masyarakatnya. Dalam prakteknya, kategori keempat ini berusaha menyerap seluruh ajaran agama, untuk diterapkan dalam keputusan dalam pemerintah, baik secara formal, substansi bahkan sebatas esensi. Pola ini yang jamak diterapkan dalam negara muslim diera modern.

Kelima, pemisahan antara keduanyan, atau biasa dikenal negara sekuler. Dalam menjalankan pemerintahannya, agama tidak diberikan ruang sedikitpun. Sehingga penyelenggaraan negara sesuai dengan hal yang rasional dan profan. namun bukan berarti anti agama, tetapi negara menempatkan diri sebagai posisi netral terhadap beberapa agama.

Keenam, agama diposisikan sebagai hal yang membahayakan kemajuan peradaban, pola ini tidak membiarkan ritual keagamaan hidup ditengah masyarakat. Pola ini pernah diterapkan era revolusi Turki dan komunisme Uni Soviet.

Dalam tinta emas sejarah islam, kejayaan islam terdapat ketika tampuk kepemimpinan berada dibawah Rasulullah Saw. dengan menjadikan nabi sebagai rujukan semua keputusan dari setiap permasalahan.bermodalkan kebenaran yang bersifat anti kritik karena semua berlandaskan hukum Tuhan.

Berlanjut periode kedua dimana islam berada di bawah pimpinan Khulafa al-Rasyidin (seorang umara berkapatibel ulama), meski tidak secara pasti kebenaran dari setiap keputusanya, namun dalam setiap pencetusan hukum selalu bersandar pada hukum Tuhan.

Dimasa itu islam mampu melebarkan sayap hingga beberapa belahan dunia. Setidaknya seperti sistem dimasa kebangkitan islam, dimana umara mempunyai penasehat seorang ulama yang membuat keputusan pemerintah selaras dengan kebutuhan religius masyarakat, namun hal ini tidak berlangsung lama karena dengan berjalannya waktu tingkah laku umara mulai melenceng jauh dari ketentuan syariat.

Sehingga banyak para ulama yang berusaha lari sejauh mungkin dari pemerintahan dan banyak pertumpahan darah yang ironisnya berada dibawah pimpinan kedua. Beberapa observasi pengamat politik menyimpulkan, dewasa ini banyak contoh buruk yang disebabkan kurangnya relasi diantara keduanya.

Palestina, negara dengan Jerussalemnya tengah menjadi tempat bermain zionis-zionis Israel, karena disaat mereka mempunyai satu musuh yang sama, mereka belum bisa menemukan kata sepakat dalam perjuangan kemerdekaanya. sehingga dalam menggalang persatuan masih terdapat perbedaan.

Yaman, negeri dengan sejuta keilmuan, tidak sedikit ulama yang berada disana namun ironisnya terjadi perang saudara yang menelan ribuan korban.

Di era modern, kita tidak bisa memungkiri bahwa sangat sedikit orang yang cakap dalam menjalankan peran ganda (umara dan ulama), terlampau sulit untuk menemukanya bahkan hanya untuk satu kriteria saja.

Banyak orang yang tidak berkemampuan menjadi umara mencalonkan diri dan dia terpilih secara sistem demokratis atau seseorang yang mendapatan label ulama melalui pengangkatan politik.

Maka dari itu harus ada relasi kuat diantara keduanya dengan saling melengkapi, pemerintah menjalankan peran sebagai pengatur hukum dengan selalu melihat kemaslahatan ditengah masyarakat dengan menjadikan ulama sebagai rujukan, karena secara ikatan sosial ulama menempati posisi terdepan dalam mengetahui maslahat dan mafsadah dalam konteks kemasyarakatan.

Diusia ke -73, Indonesia sendiri telah mengalami berbagai sistem perpolitikan yang turut mempengarui pasang surut relasi keduanya, dimulai dengan Fase awal (kemerdekaan) diisi dengan kesamaan visi dan misi dari beberapa orang yang mewakili keduanya, dengan itu menjadikan Indonesia sedikit demi sedikit merangkak menjadi Negara berkembang dengan mengusung prinsip Bhineka tunggal ika.

Fase kedua, ketidak seimbangan situasi perpolitikan Indonesia dengan beberapa peristiwa pemberontakan yang menimbulkan saling tuduh dan curiga, menjadikan relasi keduanya terganggu. Karena dalam beberapa kesempatan umara mengarahkan tuduhanya kepada ulama dengan menjadikanya sebagai sasaran operasi untuk mencari tokoh utama pemberontakkan.

Fase ketiga, disaat umara berusaha kembali merangkul ulama dengan memberikan posisi strategis secara struktural,
untuk turut berperan dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun praktek dilapangan berbeda, dimana peran para ulama’ dikikis habis, masukan dari mereka diabaikan sehingga semakin memperlebar jarak keduanya.

Fase keempat, dimana ulama berusaha untuk berperan ganda dengan masuk ke beberapa parlemen Negara, mulai Lembaga Legislatif sampai Eksekutif dengan kesadaran untuk memperbaiki Indonesia dari dalam.

Mendekati ulang tahun ke -74 pada tahun 2019 terjadi beberapa peristiwa guna menguji seberapa kuat relasi keduanya yang semakin membaik dengan bertambahnya usia, ditengok dari beberapa kebijakan terbaru nampak beberapa konsep keagamaan dapat diterapkan dengan baik, mungkin dengan semakin banyaknya umara berkapatibel ulama akan membawa indonesia ke arah yang lebih baik.

Masa depan Negara berada ditangan seluruh rakyat, apakah memilih untuk mempertahankan yang telah ada dengan konsep relasi yang begitu baik atau mengganti dengan hal baru yang mungkin akan memunculkan fase kelima.

______________________

Diolah dari berbagai sumber referensi.

Oleh : Muhammad Hazbullah

Asal : Kediri

Kamar : F 17

Kelas : Ma’had Aly semester 1-2

Sebagai Juara Ketiga Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

Silaturahim IASS Sidogiri dan HIMASAL Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Seusai salat Jumat kemarin (13/01), keluarga Pondok Pesantren Lirboyo menyambut kedatangan tamu para pengurus pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) di Kantor Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL), dengan Kiai Kafabihi sebagai Ketua Umum dan Kiai Atho’illah sebagai Sekretaris Umum, membuka acara dengan menunjukkan program-program yang telah disusun oleh HIMASAL. Baik dalam bidang dakwah, pendidikan, organisasi, hingga ekonomi. Khusus dakwah, Ponpes Lirboyo dengan dukungan HIMASAL telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. “LIM (Lajnah Ittihadul Muballighin, sebuah wadah bagi para pendakwah, -red) Lirboyo telah mempunyai 63 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini yang memudahkan kita untuk nasyrul ‘ilmi (menebar ilmu),” terang beliau.

Setelah itu, IASS juga mengungkapkan beberapa perihal yang telah dicanangkan oleh organisasi mereka. Dari sistem dan program yang dimiliki oleh masing-masing organisasi inilah, muncul harapan untuk dapat bersinergi dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga ke depannya, kerjasama yang berkelanjutan ini akan menumbuhkan benih-benih mashlahah yang dapat dituai oleh masyarakat.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani suatu MoU (memorandum of understanding/ nota kesepahaman) terkait sebuah kerjasama penting: saling memperkuat posisi dalam mensyiarkan dan membentengi ideologi Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di Indonesia. Hal ini dinilai urgen, memandang semakin maraknya ideologi-ideologi di luar ideologi ini, yang menjangkiti dan merusak tatanan masyarakat, baik dalam ranah aktivitas intelektual, lebih-lebih sosial.
Kedua organisasi alumni ini sama-sama meyakinkan diri untuk terus berusaha agar silaturahim ini dapat berjalan secara istiqamah, sehingga apa yang telah menjadi tujuan bersama bisa diperjuangkan dengan baik.][