Tag Archives: sunah

Tata Cara Salat Gerhana Bulan

Sejak dulu hingga sekarang, hamparan alam semesta menyimpan jutaan rahasia. Sehingga tak aneh, sejak zaman dahulu, masyarakat jahiliyah memiliki perhatian lebih terhadap berbagai fenomena dan kejadian alam yang terjadi, tak terkecuali mengaitkannya dengan hal-hal yang berbau gaib. Namun semenjak kedatangan agama Islam, paradigma yang mengakar kuat di masyarakat tersebut sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Dalam konteks ini, yang menjadi bukti nyata adalah terkait fenomena gerhana bulan.

Dalam al-Qur’an, Allah swt. telah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fusshilat [41]: 37)

Sebagai bentuk dari representasi ayat tersebut adalah adanya kesunahan salat Khusufaian (dua gerhana) yang mencakup salat gerhana bulan (Khusuf) dan salat gerhana matahari (Kusuf). Kedua salat ini merupakan salah satu ibadah yang hanya dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad Saw. Salat gerhana matahari (Kusuf) pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Sementara untuk salat gerhana bulan (Khusuf) baru disyariatkan sekitar tiga tahun setelahnya, yakni bulan Jumadil Akhiroh di tahun kelima Hijriyah.[1]

Hukum Salat Gerhana Bulan

Dalam sudut pandang tuntutan hukumnya (taklifi), salat gerhana bulan termasuk kategori salat sunah yang mukkadah. Artinya, salat gerhana merupakan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, baik secara Munfarid (sendirian) ataupun berjamaah. Namun, yang lebih utama adalah dilakukan secara berjamaah.

Waktu Salat Gerhana Bulan

Salat gerhana memiliki kaitan yang sangat erat dengan waktu terjadinya gerhana itu sendiri. Salat gerhana bulan disunahkan untuk dilakukan sejak awal mula terjadinya gerhana. Kesunnahan ini akan berakhir apabila proses gerhana telah usai (injila’). Secara spesifik, gerhana bulan (Khusuf) akan berakhir dengan selesainya proses gerhana atau terbitnya matahari.[2]

Tata Cara Salat Gerhana Bulan

Apabila merujuk dalam khazanah fiqih, salat gerhana bulan sedikit berbeda dengan yang lainnya. Dikatakan berbeda karena dalam segi praktek pelaksanaannya, salat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, yakni di setiap rokaatnya terdapat dua kali berdiri, dua kali ruku’ dan dua kali I’tidal.  Meskipun pada dasarnya salat gerhana dapat dilakukan sebagaimana salat sunah yang lain, yakni dua rokaat tanpa menggandakan berdiri, ruku’, dan i’tidal di setiap rokaatnya. Akan tetapi para ulama berpendapat, praktek yang demikian merupakan pelaksanaan paling minimalis dan kurang utama untuk dilakukan (khilaful afdhol).[3]

Adapun tata cara pelaksanaan salat gerhana bulan yang sempurna adalah sebagai berikut:

1.Niat sholat gerhana bulan;

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

“saya niat (melaksanakan) salat sunah gerhana bulan 2 rokaat karena Allah ta’ala”.

2.Takbiratul ihram;

3.Membaca do’a iftitah dan ta’awudz, kemudian membaca surat al-Fatihah dan membaca surat;

4.Ruku’;

5.Bangkit dari ruku’ (i’tidal);

6.Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah (berdiri kedua);

7.Ruku’ kembali (ruku’ kedua);

8.Bangkit dari ruku’ (i’tidal);

9.Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;

10.Bangkit dari sujud lalu mengerjakan rokaat kedua sebagaimana rokaat pertama;

11.Setelah sujud kedua di rokaat kedua, diakhiri dengan duduk tahiyyat akhir;

12.Salam.[4]

Salat gerhana bulan akan lebih sempurna apabila dilakukan sesuai urutan dan tata cara sebagaimana yang telah disebutkan di atas dan menambahkan hal-hal berikut:

  1. Pada rakaat pertama, setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri pertama membaca surat al-Baqarah atau jumlah ayat yang menyamainya. Dan setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri kedua membaca sekitar 200 ayat. Pada rokaat kedua, setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri pertama membaca sekitar 150 ayat. Dan setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri kedua membaca sekitar 100 ayat. Menurut pendapat lain, secara berturut-turut empat kali berdiri dalam dua rokaat itu disunnahkan membaca surat al-Baqarah atau jumlah ayat yang menyamainya, surat Ali ‘Imran atau jumlah ayat yang menyamainya, surat an-Nisa’ atau jumlah ayat yang menyamainya, dan surat al-Maidah atau jumlah ayat yang menyamainya.
  2. Dalam 2 rokaat tersebut terdapat empat kali ruku’. Secara berturut-turut disunahkan membaca bacaan tasbih dengan kadar menyamai membaca surat al-Baqarah sebanyak 100 ayat, 80 ayat, 70 ayat, dan 50 ayat.
  3. Bacaan al-Fatihah dan surat dibaca secara secara keras (Jahr).
  4. Apabila dilakukan secara berjamaah, bagi imam disunahkan membaca dua khutbah setelah salat gerhana bulan. Adapun syarat dan rukunnya sama persis dengan khutbah jum’at. Adapun substansi khutbah yang disampaikan dalam salat gerhana ditekankan berupa ajakan untuk berbuat baik, seperti taubat, sedekah, dan lain-lain.[5]

[]waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:


[1] Tarsyih al-Mustafidin, hal. 97, cet. Al-Haromain.

[2] Hamisy Fathil Qorib, vol. I hal. 230, cet. Dar al-‘Ilmi.  

[3] Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, vol. I hal. 361, cet. Al-Hidayah.

[4] Kifayatul Akhyar, vol. I hal. 151, CD. Maktabah Syamilah.

[5] Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, vol. I hal. 361-363, cet. Al-Hidayah.

Keutamaan dan Anjuran Puasa Bulan Dzulqa’dah

Bulan Syawwal telah berlalu, kini sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan ini termasuk dari beberapa bulan yang sangat dimuliakan Allah swt. Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt. telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertakwa.” (Q.S. At-Taubah [9]: 36)

Dalam  Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan  empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empa di antaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari bulan itu jatuh secara berurutan, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga syahrul mudhar) terletak di antara dua jumadil (jumadil ula dan jumadil tsani) dan sya’ban.”[1]

Bulan Dzulqa’dah merupakan bulan yang mana Rasulullah saw melaksanakan semua ibadah umroh di dalamnya. Sebagaimana dalam kitab Shahih Al-Bukhari dijelaskan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنْ جِعْرَانَةَ حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang mengiringi haji beliau. (yaitu) Umrah dari Hudaibiyah atau di tahun perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqa’dah, Umrah di tahun berikutnya di bulan Dzulqa’dah, Umrah dari Ji’ranah, dimana beliau membagi harta rampasan perang Hunain di bulan Dzulqa’dah, dan umrah ketika beliau haji.”[2]

Anjuran Puasa Sunah

Sebagai bulan yang mulia, syariat menganjurkan untuk lebih memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di dalamnya, salah satunya dengan melakukan puasa sunah. Bahkan puasa sunah di bulan ini memiliki nilai lebih dibandingkan berpuasa sunah di bulan yang lain. Sebagaimana ungkapan imam As-Syarwani:

أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ،  ثُمَّ رَجَبَ ثُمَّ الْحِجَّةُ ثُمَّ الْقَعْدَةُ

“Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan, yang paling utama dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah.[3]

Anjuran berpuasa di bulan Qzulqa’dah diperuntukkan bagi setiap umat Muslim yang tidak keberatan dan dipastikan tidak ada hal-hal yang membahayakan kesehatan. Sehingga bagi orang sakit dan yang memiliki uzur lain tidak dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah bulan Dzulqa’dah.

Meskipun tidak ada ketentuan dan tata cara khusus dalam pelaksanaanya, berpuasa di bulan yang mulai merupakan kesempatan emas dalam menambahkan ghirah (semangat) ibadah dan mengumpulkan pundi-pundi amal kebaikan.

[]WaAllahu a’lam


[1] Tafsir Ibnu Katsir, vol. IV hal. 127, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Shahih Al-Bukhari, hadis nomor 1780, vol. III hal. 3.

[3] Hawasyi As-Syarwani, vol. III hal. 461.

Shaf Wanita Sejajar Shaf Pria

Dalam kitab fikih, salat jamaah mempunya porsi pembahasan yang cukup panjang. Banyak hal mendetail yang dibahas dan diatur di dalamnya. Salah satunya yaitu mengenai aturan barisan salat (shaf) ketika makmumnya terdiri dari golongan laki-laki dan perempuan.

Secara umum, aturan  shaf (barisan salat) yang utama adalah jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb:

إِذَا صَلَّتِ النِّسَاءُ مَعَ الرِّجَالِ جَمَاعَةً وَاحِدَةً وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ فَأَفْضَلُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا لِحَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) “خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ketika para perempuan salat jamaah bersama laki-laki tanpa adanya pemisah, maka yang lebih utama bagi perempuan adalah yang paling belakang. Berdasarkan hadis riwayat abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Yang paling utama bagi bagi barisan laki-laki adalah yang paling awal dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Yang paling utama bagi bagi barisan perempuan adalah yang paling akhir dan yang paling buruk adalah yang aling awal.”[1]

Namun realitanya, banyak sekali ditemukan tempat jamaah perempuan yang sejajar dengan jamaah laki-laki beralasan sudah aman dari fitnah dengan adanya satir (penutup) yang berupa kelambu atau semacamnya. Mendukung alasan tersebut, maka Syekh Wahabh Az-Zuhaily pernah menjelaskan:

يَقِفُ خَلْفَ الْإِمَامِ الرِّجَالُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ الصِّبْيَانُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ النِّسَاءُ فَالنِّسَاءُ يَكُنَّ فِيْ آخِرِ الصُّفُوْفِ اِتِّقَاءً لِلْفِتْنَةِ وَإِذَا ضَاقَ المُصَلَّى عَلَيْهِنَّ اُتُّخِذَ لَهُنَّ مُصَلَّى أَخَرَ تَوَسُّعَةً لِلْأَوَّلِ وَمُوَازِياً لِصُفُوْفِ الرِّجَالِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ لِلْحَاجَةِ تَنْزِيْلاً لَهَا مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْفُقَهَاءُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ وَيَكُوْنُ ذَلِكَ بِضَوَابِطِهِ الَّتِيْ تَمْنَعُ تَقَدُّمَ النِّسَاءِ عَلَى الرِّجَالِ وَعَدَمَ رُؤْيَةِ بَعْضِهِمِ الْبَعْضَ الآخَرَ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ فَلَابُدَّ مِنْ وُجُوْدِ الْفَوَاصِلِ الثَّابِتَةِ بَيْنَ مُصَلَّى الرِّجَالِ وَمُصَلَّى النِّسَاءِ

Yang berdiri di belakang imam adalah laki-laki, anak kecil, kemudian perempuan. Keberadaan perembuan berada di akhir barisan untuk menghindari fitnah. Namun ketika tempat salat sempit, maka boleh bagi golongan perempuan mengisi tempat lain dan menyesuaikan pada barisan laki-laki. Hal tersebut diperbolehkan dalam rangka hajat (kebutuhan) yang diposisikan seperti saat darurat, sebagaimana penjelasan para pakar fikih. Namun tetap ada beberapa batasan, di antaranya tidak diperbolehkan barisan perempuan lebih maju daripada laki-laki dan mereka tidak bisa saling memandang. Sehingga diharuskan adanya pemisah antara tempat salat laki-laki dan tempat salat perempuan.” [2]

Penjelasan di atas berlaku ketika keadaan menuntut untuk menjajarkan antara shaf perempuan dan laki-laki karena sebuah kebutuhan tertentu. Namun apabila tidak ada kebutuhan, maka perempuan tetap dianjurkan berada di belakang. Apabila masih ada di samping dan sejajar dengan shaf laki-laki, maka sebagian ulama ada yang mengatakan dapat menggugurkan keutamaan (fadhilah) jamaah, dan ada juga yang mengatakan hanya mengugurkan keutamaan barisan (shaf).[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb, vol. IV hal. 192, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Fatawa Muashirah, hal. 121, cet. Darul Fikr.

[3] Hasyiyah At-Tarmasi, vol. III hal. 62. Cet. Darul Minhaj.

Puasa di Bulan Rajab

Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (Al-Asyhur Al-Ḥurum). Di bulan ini, Allah Swt. akan melipatgandakan pahala amal kebaikan hamba-hamba-Nya. Di antara amal yang sering kali diyakini sebagai ibadah khusus pada bulan ini adalah amalan puasa Rajab. Sebagian orang mengatakan bahwa pada bulan ini tidak ada anjuran amalan khusus untuk berpuasa. Hadis-hadisnya pun kebanyakan dinilai ḍa’īf (lemah) dan bahkan mauḍū’ (palsu). Benarkah demikian?

Allah Swt. berfirman:

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (ada) empat bulan haram (dimuliakan). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam menjelaskan larangan melakukan kezaliman (menganiaya) dalam ayat di atas, Al-Qurtubi menulis dalam tafsirnya:

فيضاعف فيه العقاب بالعمل السيء، كما يضاعف الثواب بالعمل الصالح

“Maka, siksaan (dosa) atas perbuatan buruk di bulan mulia tersebut akan dilipatgandakan, seperti halnya ganjaran (pahala) atas perbuatan baik juga dilipatgandakan.”

Ulama sepakat bahwa empat bulan yang dimaksud pada ayat di atas adalah bulan Muharam, Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Rajab. Dari sini saja, kita sudah bisa memahami, berpuasa di bulan-bulan ini memiliki nilai lebih dari pada berpuasa di bulan lainnya. Kepahaman ini ditegaskan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam Fatḥul-Mu’īn:

أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم،  ثم رجب ثم الحجة ثم القعدة

“Bulan yang paling afdal untuk berpuasa setelah bulan Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan, yang afdal dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah.”

Ibn Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatāwā Al-Kubrā secara tegas menyatakan bahwa cukuplah kiranya dalil-dalil kesunahan puasa, baik dalil mutlak atau dalil khusus pada Al-Asyhur Al-Ḥurum, menjadi dalil untuk memperbanyak ibadah puasa di bulan Rajab. Dalil umum yang dimaksud Ibn Hajar adalah seperti hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan lainnya yang berbunyi:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ

“Sungguh, bau mulutnya orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah Swt. dari pada wangi minyak misik.”

Sedangkan dalil khusus Al-Asyhur al-Ḥurum salah satunya adalah hadis riwayat Abu Dawud yang bermula dari kedatangan Al-Bahili, seorang laki-laki yang sangat kurus karena berpuasa setiap hari sepanjang tahun. Rasulullah saw. menegurnya seraya bersabda: “Kenapa kau menyiksa dirimu? Berpuasalah di bulan Ramadan dan satu hari dalam setiap bulan.” Al-Bahili menjawab, “Tambahkanlah (puasa) untukku, sungguh aku masih memiliki kekuatan.” Rasulullah saw. menyarankan, “Berpuasalah dua hari.”

“Tambahkanlah (lagi) untukku.” Al-Bahili meminta lagi. “Berpuasalah tiga hari,” Rasulullah menambahkan.

Al-Bahili sedikit memaksa, “Tambahkanlah untukku.” Pada akhirnya Rasulullah saw. bersabda, “Berpuasalah dari/pada bulan haram dan kemudian tinggalkanlah puasa.” Kalimat ini diulangi hingga tiga kali oleh beliau seraya memberi isyarat dengan tiga jarinya.

Masih dalam kitab yang sama, Ibn Hajar al-Haitami berkata:

قال العلماء وإنما أمره بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث فأما من لا يشق عليه فصوم جميعها فضيلة

“Para ulama berpendapat, Nabi melarang Al-Bahili berpuasa setiap hari karena Al-Bahili mendapatkan masyaqqah (kesulitan) dengan banyak berpuasa, sebagaimana bisa dipahami dari permulaan hadis ini. Adapun bagi orang yang tidak mendapatkan kesulitan, maka berpuasa sepanjang tahun baginya adalah amal keutamaan.”

Sebagai penutup, Ibn Hajar menyampaikan kalimat yang sangat tegas untuk menolak terhadap orang-orang yang menentang kesunahan puasa Rajab.

نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة، وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره

“Memang benar banyak diriwayatkan hadis maudū’ mengenai keutamaan puasa rajab, tetapi para imam kita dalam menetapkan kesunahannya tidak berdasarkan pada hadis-hadis tersebut. Beliau-beliau hanya berlandaskan pada hadis-hadis sahih yang di antaranya telah saya sampaikan.”

Kembali ke hadis Al-Bahili di atas, terkait isyarat tiga jari Rasulullah saw., Syekh Syaraful Haq dalam kitab ’Aunul-Ma’būd menjelaskan:

وأشار بالأصابع الثلاثة إلى أنه لا يزيد على الثلاث المتواليات وبعد الثلاث يترك يومًا أو يومين والأقرب أن الإشارة لإفادة أنه يصوم ثلاثًا ويترك ثلاثًا والله أعلم قاله السندي

“Dengan tiga jarinya Rasulullah saw. memberi isyarat bahwa berpuasa berturut-turut dianjurkan tidak melebihi tiga hari, selanjutnya tidak berpuasa selama satu atau dua hari. Namun, kepahaman yang lebih dekat dari isyarat ini, yang dianjurkan adalah berpuasa tiga hari kemudian tidak berpuasa tiga hari. Wallahu A’lam. Demikianlah yang disampaikan oleh As-Sanadi.”

Akhiran, dari beberapa dalil sahih yang telah dipaparkan di atas, memang tidak ada ketentuana atau tata cara khusus terkait berpuasa di bulan Rajab, sebagaimana ketentuan yang ada pada beberapa bulan istimewa lainnya (Syawal; enam hari, Dzulhijah; tanggal 9, Muharam; tanggal 10, dsb.). Kendati demikian, berpuasa sunah (baik sunah mutlak, berpuasa tiga hari sebagaimana isyarat jari Rasulullah saw., ataupun sunah khusus semacam puasa Senin-Kamis) di bulan ini memiliki nilai pahala yang lebih utama dari pada bulan-bulan biasa.

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester VIII. Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

kontak twitter @mad_rojak

Perdebatan Hukum Puasa Rajab

Rajab adalah nama bulan ketujuh dalam hitungan kalender Hijriyah. Sebagaimana telah diketahui bahwa bulan Rajab termasuk salah satu bulan dari empat bulan yang mendapatkan kemuliaan khusus (arba’atun hurum). Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada dua belas bulan. Seluruhnya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (dua belas bulan) itu terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Tentunya sebagai bulan yang memiliki kemuliaan lebih, bulan Rajab mendapat perlakuan yang begitu istimewa. Tak heran jika di kalangan umat Islam banyak yang melakukan amalan-amalan ibadah yang secara khusus dilaksanakan saat bulan Rajab, termasuk salah satunya ialah puasa Rajab.

Namun, sebagian kalangan memiliki asumsi dan pendapat bahwa puasa Rajab tidak memiliki landasan hukum (dalil) secara spesifik. Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian, karena dalam salah satu hadis yang ada dalam kitab Shahih Muslim disebutkan:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ، عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ

Utsman bin Hakim al-Anshari berkata: Saya bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab. Said bin Jubair menjawab: Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa  hingga kami menduga Beliau SAW selalu berpuasa, dan Beliau tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga Beliau tidak  berpuasa.” (HR. Muslim)[1]

Dalam kitab Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim dikutip mengenai pendapat imam an-Nawawi dalam menanggapi kasus ini:

قَالَ النَّوَوِيُّ الظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِهَذَا الِاسْتِدْلَالِ أَنَّهُ لَا نَهْيَ عَنْهُ وَلَا نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ بَلْ لَهُ حُكْمُ بَاقِي الشُّهُورِ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ وَلَا نَهْيٌ لِعَيْنِهِ وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَرَجَبٌ أَحَدُهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Imam an-Nawawi berkata: Proses penggalian dalil yang dilakukan Sa’id Ibnu Jubair menunjukan tidak ada larangan dan kesunahan khusus puasa di bulan Rajab. Akan tetapi hukumnya sama dengan puasa di bulan-bulan yang lain, karena tidak ada larangan dan kesunahan khusus terkait puasa Rajab, akan tetapi hukum asal puasa adalah sunah. Dan di dalam kitab Sunan Abi Dawud disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW menganjurkan melakukan puasa di bulan haram (bulan-bulan mulia) dan bulan Rajab termasuk salah satunya.”[2]

Dalam salah satu fatwanya, imam Ibnu as-Shalah juga menjelaskan secara terperinci mengenai anjuran puasa Rajab beserta jawaban atas dalil tandingan yang dibuat-buat untuk mengharamkan amaliah tersebut. Beliau berkata:

مَسْأَلَةٌ صَوْمُ رَجَبَ كُلُّهُ هَلْ عَلَى صَائِمِهِ إِثْمٌ أَمْ لَهُ أَجْرٌ وَفِيْ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيْهِ ابْنُ دِحْيَةِ الَّذِيْ كَانَ بِمصْرٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جَهَنَّمَ لَتَسْعَرُ مِن الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ لِصُوَّامِ رَجَبَ هَل صَحَّ ذَلِكَ أَمْ لَا أَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ وَلَمْ يُؤَثِّمْهُ بِذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ فِيْمَا نَعْلُمُهُ بَلَى قَالَ بَعْضُ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ لَمْ يَثْبُتْ فِيْ فَضْلِ صَوْمِ رَجَبَ حَدِيْثٌ أَيْ فَضْلٌ خَاصٌ وَهَذَا لَا يُوْجِبُ زُهْدًا فِيْ صَوْمِهِ فِيْمَا وَرَدَ مِنَ النُّصُوْصِ فِيْ فَضْلِ الصَّوْمِ مُطْلَقًا وَالْحَدِيْثُ الْوَارِدُ فِيْ كِتَابِ السُّنَنِ لِأَبِيْ دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِيْ صَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ كَافٍ فِي التَّرْغِيْبِ فِي صَوْمِهِ وَأمَّا الحَدِيْثُ فِيْ تَسْعِيْرِ جَهَنَّمَ لِصُوَّامِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ وَلَا تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَاللهُ أَعْلَمُ

Masalah: Apakah melakukan puasa Rajab secara keseluruhan mendapatkan pahala ataukah dosa? karena ada suatu hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Dihyah yang ada di Mesir. Ibnu Dihyah berkata: Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya neraka jahanam akan membara dari tahun ke tahun yang diperuntukkan bagi orang yang berpuasa Rajab. Apakah hadis itu shahih atau tidak?. Ibnu Shalah menjawab: (orang yang berpuasa Rajab) tidak ada dosa baginya. Dan yang saya ketahui tidak ada satu ulama pun yang menganggapnya dosa. Sebagian ulama yang hafal hadis mengatakan bahwa tidak ada dalil yang secara khusus menjelaskan keutamaan puasa Rajab. Namun hal ini bukan berarti harus menghindari puasa Rajab. Adapun hadis yang ada dalam kitab Sunan Abi Dawud dan lainnya yang menjelaskan puasa di bulan-bulan yang mulia itu sudah mencukupi untuk anjuran puasa Rajab. Menaggapi hadis yang mengatakan bahwa api neraka jahanam untuk orang yang puasa Rajab, bahwa hadis tersebut tidak shahih dan dilarang untuk meriwayatkannya. waAllahu a’lam”.[3]

Dari beberapa keterangan di atas nampak jelas sekali bahwa hukum puasa Rajab adalah sunah. Hukum ini telah menjadi konsensus para ulama salaf. Hal ini dibuktikan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi’iyyah yang semuanya hampir mencantumkan keterangan bahwa puasa Rajab sebagai bagian dari puasa sunah. Salah satu contoh ialah keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Mu’in karya syekh Zainuddin al-Malibari:

أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ: الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ ثُمَّ رَجَبَ ثُمَّ الْحِجَّةُ ثُمَّ الْقَعْدَةُ ثُمَّ شَهْرُ شَعْبَانَ

Bulan-bulan yang utama untuk berpuasa setelah Ramdhan adalah bulan-bulan mulia (asyhurul hurum), dan yang lebih utama dari keempat bulan itu adalah Muharram, kemudian Rajab, kemudian Dzulhijjah, kemudian Dzulqo’dah, kemudian Sya’ban”.[4] []waAllahu a’lam

______________________

[1] Shahih Muslim, II/811, Maktabah Syamilah.

[2] Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim, V/47.

[3] Fatawa Ibni as-Shalah, I/180.

[4] Fathul Mu’in, hlm 59, al-Haromain.