Tag Archives: syariat

Hukum Pemasangan Peraga Kampanye Sembarangan


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya memasang baliho atau banner kampanye di pohon, pagar, atau lahan milik orang lain tanpa seiizinnya? Apakah termasuk ghosob? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(An’im A. -Lamongan Jawa Timur.)

________________________________

Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pesta demokrasi tinggal menunggu hitungan hari. Meskipun sudah hampir mendekat masa tenang, masih banyak APK (Alat Peraga Kampanye)—baik yang berupa stiker, pamflet, banner, baliho, hingga spanduk—yang dipasang di sembarang tempat yang tidak sesuai dengan aturan dari Komisi Pemilihan Umum. Bahkan sering kali ditemukan pemasangan APK di lahan dan pagar rumah orang lain, tanpa izin pemiliknya.

Menggunakan atau memanfaatkan harta orang lain terang-terangan tanpa izin pemiliknya disebut ghasab. Ini termasuk perbuatan yang dilarang seperti halnya mencuri dan korupsi. Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini mengatakan:

فَلَوْ جَلَسَ عَلَى بِسَاطِ الْغَيْرِ أَوِ اغْتَرَفَ بِآنِيَةِ الْغَيْرِ بِلَا إِذْنٍ فَغَاصِبٌ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ الْإِسْتِيْلَاءَ لِأَنَّ غَايَةَ الْغَصْبِ أَنْ يَنْتَفِعَ بِالْمَغْصُوْبِ

Duduk di teras (perkarangan) orang lain atau menciduk air menggunakan gayung orang lain tanpa izin berarti sudah termasuk ghasab, meskipun tidak bertujuan untuk menguasai dan memilikinya. Karena tujuan ghasab adalah mengambil manfaat atas barang ghasaban.”[1]

Dengan demikian, memasang Alat Peraga Kampanye sembarangan di perkarangan atau lahan orang lain termasuk dalam kategori ghasab. Karena yangdimaksud menguasai di sini adalah penguasaan dalam sudut pandang syariat, yang mencakup memanfaatkan barang orang lain tanpa izin.[2]

Agar proses kampanye berjalan lancar dan tidak menimbulkan mudharat, alangkah baiknya masing-masing tim sukses perlu berhati-hati dalam memasang poster ataupun spanduk kampanye. []waAllahu a’lam


[1] Kifayah Al-Akhyar, vol. I hlm. 238, cet. Al-Hidayah

[2] Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khatib, vol. III hlm. 502

Shaf Wanita Sejajar Shaf Pria

Dalam kitab fikih, salat jamaah mempunya porsi pembahasan yang cukup panjang. Banyak hal mendetail yang dibahas dan diatur di dalamnya. Salah satunya yaitu mengenai aturan barisan salat (shaf) ketika makmumnya terdiri dari golongan laki-laki dan perempuan.

Secara umum, aturan  shaf (barisan salat) yang utama adalah jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb:

إِذَا صَلَّتِ النِّسَاءُ مَعَ الرِّجَالِ جَمَاعَةً وَاحِدَةً وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ فَأَفْضَلُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا لِحَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) “خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ketika para perempuan salat jamaah bersama laki-laki tanpa adanya pemisah, maka yang lebih utama bagi perempuan adalah yang paling belakang. Berdasarkan hadis riwayat abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Yang paling utama bagi bagi barisan laki-laki adalah yang paling awal dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Yang paling utama bagi bagi barisan perempuan adalah yang paling akhir dan yang paling buruk adalah yang aling awal.”[1]

Namun realitanya, banyak sekali ditemukan tempat jamaah perempuan yang sejajar dengan jamaah laki-laki beralasan sudah aman dari fitnah dengan adanya satir (penutup) yang berupa kelambu atau semacamnya. Mendukung alasan tersebut, maka Syekh Wahabh Az-Zuhaily pernah menjelaskan:

يَقِفُ خَلْفَ الْإِمَامِ الرِّجَالُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ الصِّبْيَانُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ النِّسَاءُ فَالنِّسَاءُ يَكُنَّ فِيْ آخِرِ الصُّفُوْفِ اِتِّقَاءً لِلْفِتْنَةِ وَإِذَا ضَاقَ المُصَلَّى عَلَيْهِنَّ اُتُّخِذَ لَهُنَّ مُصَلَّى أَخَرَ تَوَسُّعَةً لِلْأَوَّلِ وَمُوَازِياً لِصُفُوْفِ الرِّجَالِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ لِلْحَاجَةِ تَنْزِيْلاً لَهَا مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْفُقَهَاءُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ وَيَكُوْنُ ذَلِكَ بِضَوَابِطِهِ الَّتِيْ تَمْنَعُ تَقَدُّمَ النِّسَاءِ عَلَى الرِّجَالِ وَعَدَمَ رُؤْيَةِ بَعْضِهِمِ الْبَعْضَ الآخَرَ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ فَلَابُدَّ مِنْ وُجُوْدِ الْفَوَاصِلِ الثَّابِتَةِ بَيْنَ مُصَلَّى الرِّجَالِ وَمُصَلَّى النِّسَاءِ

Yang berdiri di belakang imam adalah laki-laki, anak kecil, kemudian perempuan. Keberadaan perembuan berada di akhir barisan untuk menghindari fitnah. Namun ketika tempat salat sempit, maka boleh bagi golongan perempuan mengisi tempat lain dan menyesuaikan pada barisan laki-laki. Hal tersebut diperbolehkan dalam rangka hajat (kebutuhan) yang diposisikan seperti saat darurat, sebagaimana penjelasan para pakar fikih. Namun tetap ada beberapa batasan, di antaranya tidak diperbolehkan barisan perempuan lebih maju daripada laki-laki dan mereka tidak bisa saling memandang. Sehingga diharuskan adanya pemisah antara tempat salat laki-laki dan tempat salat perempuan.” [2]

Penjelasan di atas berlaku ketika keadaan menuntut untuk menjajarkan antara shaf perempuan dan laki-laki karena sebuah kebutuhan tertentu. Namun apabila tidak ada kebutuhan, maka perempuan tetap dianjurkan berada di belakang. Apabila masih ada di samping dan sejajar dengan shaf laki-laki, maka sebagian ulama ada yang mengatakan dapat menggugurkan keutamaan (fadhilah) jamaah, dan ada juga yang mengatakan hanya mengugurkan keutamaan barisan (shaf).[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb, vol. IV hal. 192, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Fatawa Muashirah, hal. 121, cet. Darul Fikr.

[3] Hasyiyah At-Tarmasi, vol. III hal. 62. Cet. Darul Minhaj.

Hukum Mencuci Menggunakan Mesin Cuci

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kepada admin yang terhormat, mohon penjelasannya mengenai hukum mencuci dengan menggunakan mesin cuci apakah sudah dianggap suci? Terima kasih.

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.

(Kholifah, Banyuwangi-Jawa Timur)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebagian orang masih enggan menggunakan mesin cuci. Mereka beranggapan bahwa kesucian pakaian yang dicuci menggunakan mesin cuci patut dipertanyakan. Anggapan tersebut bermula karena air yang digunakan dalam mesin cuci terbilang sedikit, sehingga airnya dianggap najis dan tidak bisa mensucikan. .

Faktanya, tata cara mensucikan dan membilas pakaian dalam fikih amatlah sederhana. Air yang dibutuhkan pun tidak perlu sebanyak dua qullah (kurang lebih 216 liter), karena yang terpenting airnya dianggap wurud (air yang mendatangi benda yang disucikan) tidak sebaliknya (benda yang disucikan dimasukkan dalam air). Hal tersebut sama persis dengan proses pembilasan yang digunakan dalam mesin cuci. Syekh Muhammad Ahmad bin Umar Asy-Syathiri pernah menegaskan:

وَالْغَسَالَاتُ نَوْعَانِ نَوْعٌ يُسَمُّوْنَهُ اُوْتُوْمَاتِيْكِيْ يَرِدُ اِلَيْهَا الْمَاءُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَرِدُ مَاءٌ جَدِيْدٌ ثُمِّ يَتَكَّرَرُ اِيْرَادُ الْمَاءِ عِدَّةً مَرَّاةٍ فَهَذَا لَا خِلَافَ فِيْهِ فِيْ طَهَارَةِ الْمَلَابِسِ

Alat pencuci ada dua macam, salah satunya adalah yang sering disebut dengan mesin cuci otomatis. Cara kerjanya air yang mendatangi (membilas pakaian yang disucikan) kemudian keluar (dibuang). Setelah itu datanglah air yang baru. Pembilasan air tersebut terjadi berulang kali. Maka untuk hal ini tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai kesucian pakaian tersebut.”[1]

Bahkan seandainya prakteknya dibalik, yakni pakaian yang disucikan mendatangi air sedikit, maka menurut pendapat yang paling shahih bisa berkonsekuensi najis, kecuali pendapatan imam Ibnu Suraij. Sebagaimana ungkapan imam Khotib Asy-Syirbini:

وَيُشْتَرَطُ وُرُوْدُ الْمَاء.ِ..وَالثَّانِيْ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ لَا يُشْتَرَطُ لِأَنَّهُ إِذَا قَصَدَ بِالْغَمْسِ فِي الْمَاءِ الْقَلِيْلِ إِزَالَةَ النَّجَاسَةِ طَهُرَ كَمَا لَوْ كَانَ الْمَاءُ وَارِدًا

“(Mensucikan menggunakan air sedikit) disyaratkan air yang harus mendatangi perkara yang disucikan… Pendapat kedua yang merupakan perkataan imam Ibnu Suraij, hal itu tidak disyaratkan. Karena ketika merendam sesuatu yang akan disucikan disertai dengan niat untuk menghilangkan najis, maka hukumnya bisa suci. Sebagaimana ketika air itu yang mendatanginya.”[2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mencuci dengan menggunakan media mesin cuci sudah dianggap suci memandang proses yang terjadi di dalamnya, yaitu air yang mengalir dalam mesin cuci sudah dianggap mendatangi (wurud) terhadap pakaian yang ingin disucikan. Dalam kitab fikih, hal tersebut sudah sapat mensucikan meskipun air yang digunakan terbilang sedikit.

[]waAllahu a’lam


[1] Syarh Al-Yaqut An-Nafis, hal. 98

[2] Mughni Al-Muhtaj, vol. I hal. 86

Sistem Jual Beli Online dalam Perspektif Fikih

Seiring perkembangan zaman, industri kreatif berbasis online menjadi peluang usaha yang memiliki pangsa pasar menjanjikan. Reformasi tersebut juga berdampak terhadap model transaksi bisnis jual beli, salah satunya adalah yang berbasis online shop.

Sebagimana syarat jual beli konvensional, sistem jual beli online tidak terlepas dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Dari kesamaan tersebut, terdapat tiga poin penting yang perlu diperhatikan dalam jual beli online.

Pertama, komoditas barang yang dijual harus diketahui pihak pembeli (ma’luman). Hal itu bisa digambarkan ketika pembeli pernah melihat barang yang akan dijual secara langsung atau penjual menyebutkan sifat-sifat atau spesifikasi terperinci dari barang tersebut. Sebagimana penjelasan syekh Al-Bujairomi dalam kitabnya yang berjudul Hasyiyah Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khatib:

أَنَّ الْمَبِيعَ إنْ كَانَ مُعَيَّنًا غَيْرَ مُخْتَلِطٍ بِغَيْرِ الْمَبِيعِ كَفَتْ مُعَايَنَتُهُ عَنْ مَعْرِفَةِ قَدْرِهِ تَحْقِيقًا… وَإِنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ أَوْ مُخْتَلِطًا بِغَيْرِهِ كَصَاعٍ مِنْ صُبْرَةٍ، فَالشَّرْطُ الْعِلْمُ بِقَدْرِهِ وَصِفَتِهِ لَا عَيْنِهِ

Sesungguhnya apabila barang yang dijual apabila sudah ditentukan dan tidak bercampur dengan selainnya, maka cukup menentukannya saja tanpa mengetahui spesifikasinya secara nyata… Namun apabila barang yang dijual ada di tanggungan pihak penjual atau bercampur dengan barang lain misalkan dalam tumpukan, maka disyaratkan untuk mengetahui spesifikasi dan sifatnya, meskipun bukan barang aslinya.”[1]

Kedua, sighat atau perkataan yang digunakan dalam akad transaksi jual beli online. Bentuk akad transaksi, baik menggunakan tulisan atau suara melalui media telekomunikasi dapat dibenarkan dan dihukumi sah. Beda halnya dengan permasalahan akad nikah. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Al-Fawaid Al-Mukhtaroh karya Al-Habib Zain bin Smith dengan ungkapan demikian:

اَلتِّلْفُوْنُ كِنَايَةٌ فِي الْعُقُوْدِ كَالْبَيْعِ وَالسَّلَمِ وَالْإِحَارَةِ فَيَصِحُّ ذَلِكَ بِوَاسِطَةِ التِّلْفُوْنِ, أَمَّا النِّكَاحُ فَلَا يَصِحُّ بِالتِّلْفُوْنِ لِأَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيْهِ لَفْظٌ صَرِيْحٌ, وَالتِّلْفُوْنُ كِنَايَةٌ, وَأَنْ يَنْظُرَ الشَّاهِدُ إِلَى الْعَاقِدَيْنِ, وَفُقِدَ ذَلِكَ إِذَا كَانَ بِالتِّلْفُوْنِ, أَوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ

Telepon tergolong kinayah (kiasan) dalam beberapa akad, seperti akad jual beli, akad pesanan, dan akad sewa. Maka akad-akad tersebut sah menggunakan perantara telepon. Adapun akad nikah, maka tidak sah menggunakan perantara telepon. Karena di dalam akad nikah disyaratkan menggunakan lafadz yang sharih (jelas dan asli), sementara telepon tergolong kinayah. Dan karena syarat lain dalam akad nikah adalah keberadaan saksi yang harus melihat langsung kedua orang yang akad (wali dan pengantin pria) yang mana hal ini tidak bisa dipenuhi apabila menggunakan perantara telepon atau sesamanya.”[2]

Ketiga, mengenai metode pembayaran dengan sistem transfer. Dilihat dari esensinya, transfer memiliki kesamaan dengan bentuk serah terima (Qabdl) dalam kitab fikih klasik, yaitu bentuk penyerahan hak kepemilikan kepada pihak lain yang sekiranya ia mampu dan mungkin untuk mengambil haknya. Dengan mentransfer uang, penjual sudah mengetahui dan mampu untuk mengambilnya. Sebagimana penjelasan imam Ibnu Hajar Al-Haitami: .

وَيَكْفِي وَضْعُ الْعَيْنِ بَيْنَ يَدَيْ الْمَالِكِ بِحَيْثُ يَعْلَمُ وَيَتَمَكَّنُ مِنْ أَخْذِهَا

“(Menyerahkan itu) mencukupi dengan menaruh barang di hadapan pemiliknya sekiranya ia tahu dan mungkin untuk mengambilnya.”[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Hasyiyah Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khatib, vol. III hal. 7, CD. Maktabah Syamilah

[2] Al-Fawaid Al-Mukhtaroh, hal. 246, cet. Ma’had Dalwa

[3] Tuhfah Al-Muhtaj, vol. VI hal. 9

Mengusap Wajah Setelah Qunut

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika selesai melantunkan doa Qunut, sering kali sebagian orang mengusap wajah dengan kedua tangannya dan ada pula yang tidak melakukannya. Sebenarnya bagaimana yang sebaiknya kita lakukan? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 (Husnul M.- Tuban, Jawa Timur)

______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu perkara yang sering dilakukan sebagian masyarakat adalah mengusap wajah setelah melaksanakan doa Qunut. Pada dasarnya, hal tersebut tidak disunahkan. Maka maklum saja ketika sebagian masyarakat yang lain tidak melakukannya. Sebagaimana penjelasan Sayyid Bakr Syato ad-Dimyati dalam kitabnya yang berjudul I’anah At-Thalibin berikut:

وَلَا يُسَنُّ مَسْحُ الْوَجْهِ وَغَيْرِهِ بَعْدَ الْقُنُوْتِ بَلْ قَالَ جَمْعٌ: يُكْرَهُ مَسْحُ نَحْوِ الصَّدْرِ.

Tidak disunnahkan mengusap wajah atau selainnya setelah doa Qunut. Bahkan para ulama lain mengatakan makruh untuk mengusap dada atau sesamanya.”[1]

Senada dengan penjelasan tersebut, dalam redaksi lain juga dijelaskan:

لَا يُشْرَعُ مَسْحُ الْوَجْهِ أَوِ الصَّدْرِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الْقُنُوْتِ لِعَدَمِ الدَّلِيْلِ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ الْبَيْهَقِيُّ فِيْ سُنَنِهِ : فَأَمَّا مَسْحُ الْيَدَيْنِ بِالْوَجْهِ عِنْدَ الْفِرَاغِ مِنَ الدُّعَاءِ فَلَسْتُ أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ فِيْ دُعَاءِ الْقُنُوْتِ

Tidak disyariatkan mengusap wajah atau dada menggunakan kedua tangan setelah doa Qunut, karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Imam Al-Baihaqi berkata dalam kitab Sunan Al-Baihaqi: Adapun mengusapkan kedua tangan pada wajah setelah merampung bacaan doa, maka aku tidak menemukan satu pun dari ulama salaf (yang melakukannya) dalam doa Qunut.”[2]

Apabila sudah terlanjur melakukan, itu tidak menjadi persoalan. Karena tidak berpengaruh terhadap keabsahan salat yang ia lakukan. Bahkan imam An-Nawawi menjelaskan sebagian ulama pengikut Madzhab Syafi’i ada yang tetap menganjurkan untuk tetap mengusap wajah setelah doa Qunut.[3] []waAllu a’lam


[1] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, I hal. 186

[2] Shahih Fiqh As-Sunnah Wa Adillatuhu, vol. I hal. 393

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, vol. III hal. 501