Tag Archives: syariat

Toleransi di Era Globalisasi

Tidak dapat dipungkiri, kemunduran dunia Islam hingga saat ini telah berdampak negatif pada kondisi umat Islam secara transnasional. Hegemoni dibidang politik, budaya, ekonomi, dan pemikiran,  yang terus dibangun oleh pihak-pihak penentang Islam merupakan sebagian contoh dari konspirasi yang mutakhir untuk memposisikan Islam pada pihak yang inferior.

Lebih fokus pada bidang pemikiran, saat ini umat Islam sudah berada ditengah pusaran arus perang pemikiran (al-ghozwah al-fikriy) yang sangat dahsyat. Pihak-pihak yang mengcounter (melawan) Islam sudah mulai menyerang dan menggerogoti ajaran-ajaran Islam. Dan dalam waktu yang bersamaan, mereka mulai mengintervensikan konsep dan ajaran mereka melalui upaya-upaya pencucian otak terhadap generasi muda Islam.

Salah satu yang menjadi sasaran serangan mereka adalah konsep toleransi dalam Islam. Kaum fundamentalis mengkampanyekan bahwa Islam anti toleransi. Begitu juga sebaliknya, kaum liberalis menyuarakan toleransi Islam yang melebihi batasnya. Opini-opini seperti itulah yang menjadikan pengkaburan pada konsep toleransi sebenarnya yang ada dalam syariat. Dan upaya tersebut sangatlah membahayakan jika dilakukan secara sistematis, terprogram, dan berkelanjutan.

Memahami keadaan yang mencemaskan tersebut, maka sangat diperlukan usaha bersama dari umat Islam untuk menjaga eksistensi ajaran dan konsep yang sudah mulai dikaburkan. Demi melawan propaganda pihak-pihak tersebut, memberikan pemahaman atas konsep toleransi Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi formula utama di era globalisasi ini. Semuanya dilakukan demi sebuah tujuan untuk meluruskan persepsi yang keliru (tashih al-afham), menghilangkan keraguan (izalah as-syubuhat), dan menjelaskan konsepsi yang sebenarnya (taudih al-haqaiq).

Sekilas Tentang Toleransi

Secara etimologi, kata toleransi berasal dari kata tolerare yang berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti  dengan sabar membiarkan sesuatu. Atau bisa juga diartikan sebagai sifat atau sikap toleran. Kata toleran sendiri didefinisikan sebagai suatu bentuk upaya untuk menghargai, membiarkan, atau memperbolehkan pendirian, pendapat, kepercayaan dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Adapun dalam bahasa Arab, suatu istilah senada yang lazim digunakan untuk toleransi adalah tasamuh atau samahah. Pada dasarnya, kata ini memiliki arti kemuliaan, lapang dada, dan suka memaafkan. Kemudian, makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada dan terbuka dalam menghadapi perbedaan.[1]

Jika dicermati secara seksama, kata tasamuh atau samahah sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam redaksi alQur’an. Meskipun demikian, hal tersebut bukan berarti alQur’an tidak menyinggung serta mengajarkan toleransi. Ajaran alQur’an mengenai hal ini antara lain dapat ditelusuri dari penjelasan tentang keadilan (al-‘adl/al-qisth), kebajikan (al-birr), perdamaian (as-sulh/as-salam) dan lain sebagainya.

Realita di Nusantara

Pada dasarnya, sejak dahulu masyarakat di Indonesia sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan sebagai dalih untuk saling menyudutkan atau bahkan pertikaian. Akan tatapi, hal tersebut justru dijadikan sebagai kekuatan utama menuju terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis, semuanya melakukan konsolidasi dibawah payung ideologis bernama ke-Indonesia-an. Karenanya tidak bisa dipungkiri, rangkaian perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah terbukti begitu kokoh dalam pijakan kemajemukan bangsa, mulai dari suku, agama, ras hingga budaya.

Sejarah mencatat, bangsa Indonesia yang plural memiliki komitmen yang kuat dalam mewujudkan kerukunan seluruh warga negaranya. Dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi modal penting dalam mewujudkan kerukunan ditengah pluralitas yang ada.

Namun bagi Bangsa Indonesia, pluralitas baik dari aspek agama, budaya, aliran, etnis dan lain-lain, tidak hanya akan bermuara menjadi konflik, namun juga bisa menjadi potensi kerukunan dan kekuatan tersendiri. Manakala persoalan pluralitas ini dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi kerukunan. Sebaliknya manakala persoalan pluralitas ini tidak dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi keresahan dan konflik yang melelahkan di tengah masyarakat. Di sinilah dibutuhkan pendekatan dialog yang baik, agar bisa memberi kesejukan bagi umat, sehingga bisa memperkokoh keutuhan dan persatuan bangsa.

Toleransi beragama yang tinggi sejak dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia, baik yang Muslim, Kristiani maupun yang lainnya. Karenanya, keanekaragaman yang selama ini ada menjadi tonggak Bhinneka Tunggal Ika yang kuat dalam menopang berdirinya bangsa Indonesia, mesti tetap terus dipertahankan.

Pluralitas dan multikulturalitas bagi bangsa ini merupakan suatu keniscayaan, sesuatu yang memang harus ada dan tidak akan terbantahkan. Pluralitas dan multikulturalitas yang kita miliki ini telah menciptakan mozaik yang indah dalam tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia di sepanjang perjalanan sejarahnya. Sungguh memilukan melihat nilai-nilai pluralitas dan multikulturalitas yang telah tumbuh sejak awal terbentuknya republik ini, akhir-akhir ini seolah-seolah sudah mulai luntur. Sementara di sisi lain, eksklusivisme kelompok justru terlihat semakin menonjol. Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satupun suku, tak satupun agama, yang bisa mengakui keberadaannya tanpa andil pihak lain. Tak satupun.

Dengan demikian, sikap dan penerimaan kultural seperti ini tidak akan memberi izin  atau permisi kepada siapa pun untuk arogan, menganggap dirinya lebih benar, dan merasa berhak untuk menghakimi pihak lain. Dengan sikap seperti itu pula, bangsa ini dapat terhindar dari pelbagai cedera sosial yang belakangan ini menimpa bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia.

Konsep Toleransi Islam

Apabila ditelisik lebih cermat, pemahaman tentang toleransi tidak dapat berdiri sendiri. Konteks toleransi sangat terkait dengan suatu realitas lain di alam yang merupakan penyebab langsung dari lahirnya toleransi, yaitu pluralitas dan multikulturalitas.

Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan kekuasaan Allah SWT, sesuai dalam firmannya:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS ar-Rum:22)

Dalam ayat lain, Allah menunjukkan tujuan adanya suku-suku yang sangat beragam agar mereka saling mengenal. Namun dalam konteks ini, bukan dari aspek kebahasaan saja, akan tetapi lebih mengarah pada aspek turunan dari rasa saling mengenal, yaitu untuk menumbuhkan suatu peradaban. Dalam Alquran ditegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: al-hujarat: 13)

Sulit dipungkiri, bahwa pluralisme yang ada dalam masyarakat sangat sarat dengan gesekan-gesekan. Interaksi sosial yang dijalin antar individu di masyarakat pada hakikatnya sangat berpotensi melahirkan tarik ulur kepentingan yang bisa mengarah pada hal-hal yang destruktif. Oleh karena itu, perbedaan yang ada perlu disikapi secara konstruktif dan positif dan membutuhkan aturan main tersendiri demi menjamin terciptanya kemaslahatan semua pihak, yaitu dengan menjaga toleransi dan perdamaian.

Islam adalah agama yang adil dan menjunjung tinggi toleransi. Keadilan bagi siapa saja, menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya dan memberikan haknya.  Karena Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Maka dari itu sangat diperlukan usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat manusia. Salah satu caranya yaitu mengembangkan sikap toleransi dan etika pergaulan.

Dalam kacamata Islam, toleransi merupakan sebuah bentuk kontekstualisasi dari ajaran keimanan. Termasuk toleransi dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan agama Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Toleransi Islam menolak sikap fanatisme dan perbedaan ras. Islam telah menyucikan diri dari ikatan dan belenggu jahiliyyah, maka Islam pun menghapus pengaruh fanatisme yang merupakan sumber hukum yang dibangun diatas hawa nafsu.

Allah SWT mengatur umatNya agar saling mengenal, dan saling menghormati serta saling menyayangi. Meskipun berbeda agama namun dalam ajaran agama tetap seorang muslim itu dianjurkan untuk berbuat baik kepada mereka yang berlainan agama.

Namun soal akidah dan ibadah tidak ada toleransi, dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang diluar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang di luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. 

Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Allah SWT berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ .. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Pendeklarasian Piagam Madinah (misaq al-madinah) pada hakikatnya adalah contoh lain yang fenomenal dari praktik nyata toleransi dalam Islam. Dengan undang-undang inilah Rasulullah SAW menata kehidupan masyarakat Madinah yang plural. Dan pada perkembangan selanjutnya, spirit dari Piagam Madinah tetap terpelihara oleh generasi-generasi selanjutnya. Dan keberadaannya telah menolak mentah-mentah tuduhan intoleransi yang dilontarkan golongan fundamentalis Islam.

Namun perlu ditegaskan kembali, upaya legalitas toleransi antar umat beragama yang diberikan syariat masih memiliki batas-batas tertentu yang perlu diperhatikan. Yaitu hanya dalam dalam konteks hubungan mu’amalah dan hubungan antar kemanusiaan saja. Hal ini ditujukan agar tidak ada upaya akulturasi ranah akidah dan ibadah dengan alasan toleransi beragama yang justru sudah sangat berlebihan. Konteks ini sangat berbeda dengan toleransi yang disuarakan kaum liberal yang dinilai berlebihan dan tidak memperhatikan etika dan batasan yang telah ditetapkan syariat.

Toleransi yang berlebihan ini ternyata sudah ada sejak Rasulullah SAW memperjuangkan agama Islam di masa-masa awal Islam. Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy yaitu al-Walid bin mughirah, al-‘Ash bin Wail, al-Aswad Ibn al-Mutholib, dan Umayah bin Khalaf menemui Rasulullah SAW. Mereka menawarkan toleransi “kebablasan” kepada Beliau dengan berkata:

“Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkna hal itu. Sebaliknya, apabila ada ajaran kami yang lebuh baik dari utntunan agamamu, maka engkau juga harus mengamalkannya”.[2]

Kemudian turunlah malaikat Jibril membawa ayat berikut:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku’.” (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Dari pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa Islam begitu terbuka atas kemajemukan. Bahkan, Islam memandang bahwa keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah tersebut harus disikapi secara positif dan konstruktif. Dengan demikian,  peran toleransi sangat  dibutuhkan demi terciptanya kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Hanya saja Islam mengarisbawahi bahwa toleransi hanya akan efektif jika masing-masing pihak tetap berjalan di atas relnya tanpa merongrong eksistensi pihak lain. [] waAllahu a’lam.

_________

[1] Lisan al-‘Arab, juz 7 hal 249, Dar Shadir.

[2] Tafsir AlQurthubi, juz  20 hal 225, Versi Maktabah Syamilah.

Menelaah Dispensasi Syariat

Hidup di dunia merupakan dinamika kehidupan yang tidak pernah terlepas dari yang namanya keterbatasan. Kesulitan-kesulitan pun selalu setia mengiringi setiap perputaran roda kehidupan manusia.  Fenomena tersebut sudah menjadi realita yang terbantahkan lagi karena sudah menjadi sunnatullah yang tidak akan pernah sirna dari muka bumi.

Dengan memahami kenyataan demikian, syariat Islam tidak pernah lepas dari keterlibatannya untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi sedikit kesulitan dan keterbatasan yang dialami oleh manusia, terlebih lagi dalam masalah tatanan hukum agama. Karena agama Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan para pemeluknya, sesuai firman Allah SWT dalam Alquran:

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS al-Baqarah:185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

 “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS al-Hajj:78).

Ayat-ayat di atas menjelaskan agama Islam tidak pernah menghendaki adanya kesulitan yang sangat memberatkan pengikutnya. Justru kemudahan dan kelonggaranlah yang selalu disuguhkan dalam mengimbangi berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Hal tersebut tentu dengan melihat kondisi objek hukum yang mengitarinya.

Andaipun terjadi juga kesulitan yang luar biasa, maka syariat memberinya sebuah dispensasi atau kelonggaran. Di samping itu, seluruh tuntutan hukum syariat pada dasarnya masih dalam batas kemampuan seorang mukallaf untuk melakukannya. Karena Allah SWT tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya, sesuai dalam AlQuran:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ

 “Allah tidak membabani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dia mendapatkan (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya” (QS al-Baqarah:286).

Sebagai jawaban atas problematika tersebut, rukhshah (dispensasi) merupakan salah satu bentuk nyata yang ditawarkan syariat sebagai formula untuk membantu umat manusia dalam menjalankan tatanan syariat demi terciptanya kemaslahatan umum (maslalah ‘ammah) sebagai khalifah di muka bumi.

Apa itu Rukhshah?

Secara etimologi, rukhshah memiliki arti kemudahan. Syaikh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya, Lubb al-ushul, mendefinisikan rukhsah sebagai berikut:

وَالْحُكْمُ إِنْ تَغَيَّرَ اِلَى سُهُوْلَةٍ لِعُذْرٍ مَعَ قِيَامِ السَّبَبِ لِلْحُكْمِ الْأَصْلِيِّ فَرُخْصَةٌ

 “Hukum syar’i jika berubah menjadi ringan karena adanya udzur besertaan masih adanya sebab bagi hukum asal maka dinamakan dengan rukhshah”.[1]

Sebenarnya, andaikan kita menelaah beberapa referensi yang lain, sangat banyak sekali perbedaan pendapat para ulama dalam mengartikan rukhshah. Definisi semacam ini senada dengan konsep rukhshah yang diungkapkan oleh Imam Tajuddin as-Subki. Namun, mayoritas ulama Syafi’iyyah mendefinisikan rukhshah dengan redaksi:

اَلْحُكْمُ الثَّابِتُ عَلَى خِلَافِ الدَّلِيْلِ لِعُذْرٍ

 “Sebuah hukum yang berlaku yang berbeda dengan dalilnya dikerenakan ada udzur”.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa tingkat kemampuan umat manusia dalam menjalankan seluruh hukum syariat sangatlah beragam. Perkara yang dilakukan seseorang dalam keadaan normal mungkin bagi orang-orang tertentu ataupun keadaan tertentu dirasakan begitu berat dan diluar kemampuannya. Karena itulah demi menciptakan kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah) bagi seluruh elemen kehidupan manusia, Allah SWT memberi berbagai macam dispensasi dan kelonggaran terhadap pihak-pihak tertentu untuk menjalankan hukum syariat yang berbeda dengan ketentuan hukum secara umum. Sehingga fenomena penerapan beberapa hukum yang tidak sesuai dengan dalil asalnya tidak dapat dihindari lagi.

Dalam kitab Mizan al-Kubro, Imam as-Sya’roni memaparkan pembagian dua tingakatan dalam menempatkan tuntunan syariat. Golongan pertama adalah golongan yang kuat untuk menjalankan tuntutan-tuntutan yang berat, golongan kedua adalah golongan yang menjalankan tuntutan-tuntutan yang ringan dan penuh dengan toleransi. Beliau juga menggarisbawahi, bagi tingkatan yang kuat tidak diperbolehkan mengamalkan pendapat-pendapat yang lemah. Begitu juga sebaliknya, bagi tingkatan yang lemah tidak dituntut untuk melakukan tuntutan yang berat sebagaimana tingkatan pertama.

Dengan demikian, dapat dipahami  bahwa bentuk kelonggaran dari syariat ini merupakan sebuah pengecualian dari hal-hal yang dilaksanakan sesuai dengan konteks hukum asalnya. Dan juga bentuk kemurahan Allah SWT terhadap hamab-Nya, terutama ketika kondisi tidak memungkinkan melaksanakan ‘azimah (hukum asal) ibadahnya.

Sebab dan Pembagian Rukhshah

Legalitas sebuah rukhshah yang diberikan oleh syariat merupakan alternatif ketika umat muslim menemukan kesulitan maupun hambatan dalam menjalankan syariat. Dengan demikian, ada beberapa keadaan tertentu yang hanya bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan dispensasi tersebut.

Dalam beberapa literatur kitab Qowaid al-Fiqh, beberapa keadaan dan kondisi yang menjadi sebab bagi seorang muslim mendapatkan dispensasi ada 7, yaitu terpaksa (ikrah), lupa (nisyan), ketidaktahuan (jahl), kesukaran (‘usr),  perjalanan (safar),  sakit (marodl), dan sifat kurang (naqsh). [2]

Karakteristik dan pola pelaksanaan dalam berbagai macam syariat Islam sangatlah beragam. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap konsep rukhshah yang akan diberikan ketika ditemukan kendala-kendala yang menghalanginya.  Sehingga, apabila ditinjau dari segi bentuk keringanan yang diberikan, rukhshah terbagi menjadi tujuh macam, yaitu: takhfif isqot (keringanan dalam bentuk meringankan kewajiban), takhfif tanqish (keringanan dalam bentuk mengurangi kewajiban), takhfif ibdal (keringanan dalam bentuk mengganti kewajiban), takhfif taqdim (keringanan dalam bentuk mendahulukan kewajiban), takhfif ta’khir (keringanan dalam bentuk mengakhirkan kewajiban), takhfif tarkhish (keringanan dalam bentuk kemurahan dalam kewajiban), takhfif taghyir (keringanan dalam bentuk mengubah kewajiban).

Dispensasi Sebagai Solusi

Merupakan sebuah keniscayaan bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi, kemajuan ekonomi, dan beberapa aspek kehidupan lainnya menuntut suatu panduan rohaniah yang memiliki relevansi erat dan melekat dengan masalah-masalah nyata  yang akan terus menerus muncul seiring dengan perkembangan peradaban manusia.

Apabila syariat (fikih) gagal melayani kebutuhan pokok ini dengan pendekatan kontekstual yang dinamis, dapat dipastikan bahwa umat manusia akan semakin terjauhkan dari nilai transedental, yang pada gilirannya akan memunculkan watak dan sikap sekuler. Dengan demikian, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin menjauh meninggalkan masa keemasan Islam, semakin jauh pula animo masyarakat untuk tetap konsisten menjalankan syariat Islam.

Salah satu hal yang menjadi pemicu terjadinya hal tersebut adalah penerapan hukum syariat dirasakan memberatkan sehingga masyarakat tidak mampu menjalankan bahkan ada kecondongan untuk meninggalkan.

Oleh karena itu, hal terpenting yang dibutuhkan oleh masyarakat yang telah silau dengan gegap gempita modernitas di zaman sekarang ini adalah, sebuah solusi yang meringankan sebagai upaya menggugah hati para masyarakat untuk senantiasa menjalankan segala kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat Islam secara konsisten dan seimbang. Terkait dengan hal tersebut, Nabi telah bersabda:

مَنْ وَلَّى مِنْ أَمْرِ أُمَّتِيْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ

 “Barang siapa memimpin urusan umatku sekecil apapun kemudian dia memberatkannya maka beratkanlah (Ya Allah) urusannya” (HR. Muslim)

يِّسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

 “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” (HR. Bukhari)

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulitnya melainkan (agama itu) mengalahkan dia (mengembalikan ia kepada kemudahan)” (HR. Bukhari)

 اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ,مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 “Diceritakan dari sahabat Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Ketika kalian semua diperintah untuk melakukan suatu hal, maka maka kerjakanlah semampu daya dan upaya kalian semua” (HR. Bukhari Muslim).

Walhasil, salah satu karakteristik yang menonjol dalam ajaran Islam adalah mudah dan tidak mempersulit umat. Konteks ini mudah dijumpai saat seseorang menemukan keterbatasan dan kesulitan dalam menjalankan syariat. Kehadiran rukhshah atau dispensasi sebagai tawaran dalam menghilangkan atau mengurangi beban menjadi solusi berarti dalam mengentas problematika tersebut. Sehingga tak ayal lagi, ajaran Islam sangat mudah diterima dan berkembang di tengah-tengah poros kehidupan yang serba kompleks dan beragam. Dengan relevansi dan kelenturan hukum ini pula, substansi dari legislasi syariat tetap berjalan dan tumbuh sebagai pelita dalam merajut kemaslahatan umat manusia. waAllahu a’lam… []

 Penulis: Nasikhun Amin

 [1] Thoriqoh al-Hushul ‘Ala Ghoyah al-Wushul, hal 40, Mabadi’ Sejahtera.

[2] Al-Fawaid al-Janiyyah, juz 1 hal 192-196, maktabah al-Bidayah.

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-1)

Ushul fiqih merupakan kekayaan khazanah ilmu keislaman yang  kedudukannya sangat urgen dalam perumusan produk hukum syariat. Karena dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengetahui bagaimana hukum fiqih itu diformulasikan dari sumber-sumbernya. Ilmu fiqih yang berfungsi menyuplai hukum terhadap segala bentuk ibadah, takkan terlahir tanpa adanya ushul fiqih. Dengan pengembangan bidang keilmuan ushul fiqih di era modern seperti saat ini, diharapkan mempermudah kontekstualialisasi fiqih dan menjaganya agar tetap dinamis dan up to date dalam menyikapi problematika umat Islam sesuai tantangan zaman.

Fan ilmu ushul fiqih menjadi sangatlah penting untuk dipelajari, dikaji dan dikembangkan saat ini. Mengingat masalah-masalah baru karena pengaruh teknologi sudah tidak mungkin kita hindari. Masalah lama belum tuntas, sudah muncul permasalahan lagi. Hal tersebut menuntut untuk diberi jawaban dengan tanpa merubah maqashid al-syar’i, apalagi sampai menghilangkannya sama sekali. Sementara rumusan kitab klasik dan nushush al-fuqaha’ relatif tidak memadai, kecuali kalau kita kaji secara manhaji (metodologis) yang dapat dihasilkan dengan memahami ilmu ushul fiqih. Dan kalau kita akan membicarakan epistemologi ushul fiqih secara terperinci, maka seharusnya kita mengaitkannya terlebih dahulu dengan teori-teori pembangunnya. Tetapi dalam tulisan ini, kita hanya membahas epistemologi ushul fiqih secara umum, dan itu pun hanya memakai kerangka muqoddimah (pendahuluan) dalam kitab-kitab ushul fiqih itu sendiri.

Sejarah Singkat Ushul Fiqih

Sebenarnya, istilah ilmu ushul fiqh belum dikenal di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Karena pada masa itu, kebutuhan akan penyelesaian hukum masih ditangani langsung oleh Rasulullah SAW dan permasalahan umat Islam belum begitu kompleks. Setelah beliau wafat, problematika umat Islam semakin berkembang dan seringkali masalah tersebut belum pernah dijumpai pada masa hidup Nabi, sementara kebutuhan akan penyelesaian problematika hukum syariat terus berkembang. Ditambah lagi meluasnya pengaruh Islam ke berbagai jazirah di luar Arab, semakin mendesak dibuatnya peraturan gramatika bahasa Arab demi terhindarnya percampuran dengan tatanan bahasa selain Arab. Maka disitulah umat Islam mulai menggunakan metode ushul fiqih dalam menggali hukum dari Alquran dan Hadis. Begitu seterusnya, metode istinbat al-ahkam menggunakan teori kaidah ushul fiqih digunakan berlanjut pada generasi-generasi selanjutnya.

Ilmu ini baru dikodifikasikan dan dijadikan sebagai cabang ilmu keislaman tersendiri atas prakarsa Muhammad bin Idris as-Syafi’i rohimahullah (w. 204 H) pada abad ke-2 Hijriyyah.  Beliau menulisnya dengan dibantu oleh murid beliau, Robi’ bin Sulaiman al-Murodi untuk dikirim kepada Abdurrahman bin Mahdi. Kemudian surat setebal 300 halaman tersebut dibukukan menjadi kitab ushul fiqih pertama dan diberi nama ar-Risalah. Dalam kitab tersebut, imam Syafi’i menuangkan kaidah-kaidah ushul fiqih yang disertai dengan pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan berbagi keterangan dan metode penelitian. Di dalam kitab tersebut, beliau mengumpulkan rancangan ilmu ushul fiqih para ulama madzhab pendahulunya yang tersebar tanpa dibatasi oleh kaidah-kaidah yang tertata rapi. Namun, mereka dalam merumuskan hukum selalu menyebutkan dalil-dalil yang menjadi pijakannya dan metodologi pengambilan hukumnya.

Ada beberapa hal  yang mendorong imam Syafi’i dalam mengkodifikasikan ilmu ushul fiqih, diantaranya adalah:

  1. Terjadinya perbedaan yang sangat tajam diantara beberapa pendapat ulama madzhab. Seperti perbedaan pendapat antara ulama Madinah dan ulama Iraq.
  2. Menurunnya pengetahuan dzauqul ‘arabiyyah disebabkan banyaknya bangsa selain Arab yang masuk Islam. Dengan demikian diperlukan penjagaan kemurnian tata bahasa Arab demi menghindari kesulitan dalam mengkaji hukum pada dalilnya.

Dan selanjutnya, banyak ulama-ulama yang mengikuti jejak imam Syafi’I dalam mengkodifikasikan ilmu Ushul Fiqih dengan berbagai macam aliran dan metode hingga saat ini.

Bersambung ke Bagian II