Tag Archives: syekh

Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia

Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia |
Di usianya yang telah menginjak kisaran angka 102 tahun, Syekh Al-Muhib At-Thabari memiliki fisik yang prima. Tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang melemah, baik kekuatan tangan, kaki, penglihatan atau pendengarannya. Di usianya yang lebih dari satu abad tersebut, Syekh Al-Muhib At-Thabari tetap mengajar dan berfatwa yang telah menjadi aktivitas kesehariannya.

Melihat hal itu, para murid Syekh Al-Muhib At-Thabari pun penasaran.

“Wahai guruku, bagaimana Allah SWT tetap menjaga tubuh engkau di usia lanjut ini?” tanya salah seorang murid Syekh Al-Muhib At-Thabari yang memberanikan diri untuk bertanya.

“Bagaimana Allah tidak menjaga tubuh ini, sementara aku selalu menjaganya dengan tidak melakukan maksiat sama sekali.” jawab Syekh Al-Muhib At-Thabari singkat. []WaAllahu a’lam


Disarikan dari Kitab Al-Manhaj As-Sawi, halaman 283, Karya Habib Zain bin Ibrahim bin Smith.

Baca juga:
KISAH KAWANAN PERAMPOK TOBAT BERKAT KEJUJURAN SYEKH ABDUL QODIR AL-JILANI

Simak juga:
“Santri Paku”nya Kyai Abdul Aziz Manshur

# Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia

Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Saat masih belia, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mencari ilmu dengan melakukan perjalanan dari Kota Mekah menuju Kota Baghdad, Irak. Sang ibu pun membekalinya uang sebanyak 40 dinar yang dijahit di dalam ketiak bajunya. Sang ibu juga berpesan agar ia senantiasa menjaga kejujuran.

Ketika sampai di wilayah Hamdzan, datanglah sekelompok orang yang berusaha menghadang dan merampok rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Saat yang lain merampas harta para rombongan, salah seorang perampok menghampiri Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil dan bertanya, “Apa yang kau miliki?”

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani pun memberitahu apa yang ia miliki, yakni uang saku sebanyak 40 dinar pemberian ibunya yang diletakkan di jahitan ketiak.

Perampok itu pun merasa aneh dan kemudian membawa Syekh Abdul Qodir Al-Jilani untuk dihadapkan pada pimpinannya. Pemimpin perampok itu pun menanyakan hal serupa. Dan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kembali mengulangi jawaban yang sama.

Mendengar jawaban itu, pemimpin perampok itu pun curiga dan bertanya, “Apa yang membuat engkau berkata jujur wahai anak kecil?”

“Ibu berpesan kepadaku agar aku senantiasa jujur. Dan aku takut untuk berkhianat terhadap pesan ibuku.” Jawab Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dengan polosnya.

Untuk membuktikan kejujuran itu, pemimpin perampok itu pun menyobek pakaian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Dan benar, di dalamnya ada uang 40 dinar.

Meleleh

Sambil terharu, pemimpin perampok berkata, “Engkau takut untuk mengkhianati pesan ibumu. Sementara aku tidak sekali pun takut mengkhianati Allah.”

Ia pun memerintahkan para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang hasil rampokan dari rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

“Aku bertobat kepada Allah di depanmu.” Kata pemimpin perampok kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil.

Ia pun bertobat dan disusul para anak buahnya. Salah satu dari mereka pun berkata, “Engkau (pemimpin rampok) adalah pembesar kita dalam hal merampok. Dan Engkau (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil) adalah pembesar kita dalam bertobat.”

Sejak saat itu, semua perampok bertobat berkat kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. []WaAllahu a’lam


Disarikan dari kitab Irsyad al-Ibad, halaman 71, karya Syekh Zainuddin al-Malibari.

Baca juga:
KISAH IMAM IBNU HAJAR DAN SEORANG YAHUDI PENJUAL MINYAK

Ikuti Juga:
Pengajian Kemis Legi 04 Februari 2021

# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani
# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Kunjungan Syekh Muhammad Bin Ismail Zain al-Yamani di Lirboyo

Lirboyonet, Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo Senin malam (24/07/17) mendapat kunjungan ulama yang berasal dari kota mulia, Mekah. Beliau adalah Syekh Muhammad bin ismail Zain al-Yamani. Beliau adalah ulama yang masih cukup muda, namun sudah banyak berkiprah dalam bidang dakwah dan pendidikan.

Bertempat di serambi Masjid Lawang Songo, Syekh Muhammad bin Ismail memberikan kalam hikmahnya kepada santri-santri untuk menyegarkan santri yang haus akan ilmu.

“Allah menginginkan dengan keberadaan pesantren, madrasah islamiah, agar mempunyai peran penting di dalam memperluaskan ajaran agama. Sejarah mencatat, ulama berperan besar dalam melindungi dan menjaga keselamatan sosial masyarakat, sehingga dengan ajaran dari ulama ini, negara menjadi kuat,” buka beliau. Di hadapan ratusan santri, beliau mengungkapkan bahwa jasa para pendiri dan pengasuh pesantren tidak bisa diremehkan. “Para masyayikh di pondok pesantren, terutama pondok ini adalah orang-orang yang utama juga luar biasa. Mereka mengokohkan seluruh umur dan waktunya untuk kepentingan khidmah dan menyebarluaskan akhlakul karimah.”

 

Beliau dilahirkan pada bulan Rabi`ul Awal tahun 1352 Hijriyah di kota Dhahi. Kota ini terletak di wilayah Wadi Sardud, kota yang banyak mengeluarkan ulama dan orang yang shaleh-shaleh. Semasa kecil, kira–kira usia lima tahun, beliau selalu dijaga betul oleh ayahnya, sehingga hampir tiada waktu tanpa belajar dan mengaji. Jika madrasah libur, beliau disuruh untuk berguru ke Syekh Ahmad Barizi Muhammad Fatahillah. Suatu hari, ketika sedang menunaikan ibadah haji,  ayahanda Syekh Ahmad Barizi bermimpi mendengar anak kecil membaca Al-Quran dengan suara yang lantang dan syahdu. Kemudian beliau mencari sumber suara itu. Ketika sampai, beliau melihat seorang anak kecil yang tak lain adalah Syekh Muhammad bin Ismail, yang pada waktu itu masih berusia 10 tahun. Itulah sebagian tanda bahwa beliau akan menjadi orang besar.

Semoga kita bisa meniru jejak langkahnya dalam rihlah ta’allum, perjalanan mencari ilmu, sehingga mampu menjadi manusia yang berilmu dan berakhlakul karimah. Amin.][