Tag Archives: Tafsir

Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Oleh: A. Zaeni Misbaahuddin A*

Kajian tafsir di pesantren bukanlah hal yang asing bagi kita, terlebih di Pondok Lirboyo tercinta ini. Bagaimana tidak? Sejak tingkatan Aliyah kita sudah dijejali dengan Itmam al-Dirayah gubahan Imam as-Suyuthi. Meski kitabnya tergolong tipis tapi tidak dengan isinya.

Para Masyayikh pun turut serta membacakan Tafsir al-Jalalain karya monumental dari dua “Jalal”—guru dan murid—yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Hal ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di pesantren, mengaji dengan sistem bandongan; yakni sang Kyai membaca dan santri memaknai kitabnya dengan makna gandul. Ini menandakan bagitu eratnya hubungan santri dengan kitab-kitab tafsir.

Di tingakatan Ma’had Aly yang notabene merupakan jenjang tertinggi di Lirboyo, kita dikenalkan dengan mustholahah tafsir yang lebih konkret dan komprehensif yaitu at-Tahbir fi Ilmi Tafsir karangan Jalaluddin as-Suyuti. Di dalamnya dijelaskan apa itu muthlaq, muqoyyad, munasabah, dan apa itu muthobaqoh beserta contoh-contohnya secara rinci.
Kemudian terdapat kitab Mukhtasor Tafsir Ayat al-Ahkam yang biasa disingkat MTA. Ini adalah ringkasan dari Rawa’i al-Bayan karya mufassir kontemporer kenamaan asal Makkah, Ali al-Shabuni. Kitab ini bisa dikatakan paling lengkap dan sistematis dalam penulisannya. Sebab, isinya tidak hanya menafsiri ayat al-Qur’an secara tekstual, melainkan ada uraian lafadh (tahlil al-Lafdzi), sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) yang diselaraskan dengan dalil-dalil hukum fikih. Terkadang juga menanggapi isu-isu kekinian. semisal teori evolusinya Charles Darwin, isu poligami, dan lain-lain.

Definisi Tafsir

Menurut Ibn ‘Athiyyah dalam kitabnya al-Muharrar al-Wajiz, ilmu tafsir secara etimologi adalah derivasi dari masdar ‘fassara’ yang bermakna ‘jelas’ (idloh) dan ‘menjelaskan’ (al-Bayan). Sedangkan menurut terminologi adalah disiplin ilmu yang membahas teknis mengucapkan lafad-lafad al-Qur’an, madlul, hukum, tarkib, serta maknanya.
Az-Zarkasyi, sebagaimana dikutip dalam Majma’ al-Zawaid mendefinisikan ilmu tafsir dengan ilmu yang digunakan untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna dan hukum-hukumnya. Berlandaskan ilmu bahasa, nahwu, shorof, ilmu balaghah, ushul fikih, qiraat, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, dan seperangkat disiplin ilmu lainnya.

Corak Metode Penafsiran

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D (Rais Syuriah PCINU Australia dan New Zealand serta Dosen Senior di Monash Law School Australia), atau yang akrab dengan sapaan Gus Nadir ini, dalam bukunya: Tafsir al-Qur’an di Medsos, memberikan gambaran kepada kita secara umum terdapat dua metode tafsir dalam Islam. Yakni tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra’yi.

1. Tafsir bir Riwayah

Tafsir bir riwayah maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir menaruh pemikirannya. Tafsir ath-Thobari misalnya, dianggap mewakili corak penafsiran model ini.
Dari model tafsir bir riwayah dikelompokkan lagi menjadi dua macam bentuk penafsiran; yakni tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surah an-Nas. Ia uraiankan sesuai urutan surah dalam al-Qur’an. Selanjutnya adalah tafsir maudhu’i (tematik). Artinya mufassir tidak memulai dari surah pertama sampai surah ke-114, tetapi memilih satu tema dalam al-Qur’an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut.

2. Tafsir bir Ra’yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dari tafsir bir riwayah, ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra’yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis, tetapi porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari dari kalangan Mu’tazilah, Tafsir al-Manar karangan Rasyid Ridho dan lain-lain.

Jika ingin kita pilah lagi, maka tafsir model ini terbagi menjadi tiga. Pertama, tafsir bil ‘ilmi (seperti menafsirkan fenomena alam dengan merujuk ayat al-Qur’an). Kedua, tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat untuk membedah ayat al-Qur’an). Ketiga, tafsir sastra (lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur’an). Ketiga model penafsiran ini dapat kita temukan di kalangan kontemporer baru-baru ini.

Pengelompokkan Kitab-Kitab Tafsir

Secara garis besar, ada dua pengelompokkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh kalangan mufassirin. Pertama, salaf (klasik). Kedua khalaf (modern).

Salaf

Corak penafsiran dengan gaya salaf bisa kita temukan dalam Tafsir ar-Razi karya Fakhruddin ar-Razi, Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, Tafsir Ibn Katsir karya Ibu Katsir, Tafsir al-Qurtubhi karya al-Qurtubhi, Tafsir al-Khozin karya al-Khozin, Tafsir Fathul Qodir karya al-Syaukani, Tafsir al-Baidhowi karya al-Baidhowi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir ibn Abbas karya Ibn Abbas, Tafsir ath-Thobari karya ibn Jarir ath-Thobari, Tafsir at-Tsa’labi karya at-Tsa’labi, Tafsir al-Qosimi karya Al-Qosmi, Tafsir al-Mawardi karya Abu Hasan Ali al-Mawardi, Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, Tafsir Bahrul Ulum karya al-Samarqandi, dan masih banyak yang lainnya.

Khalaf

Sedangakan corak penafsiran dengan gaya khalaf (modern), bisa kita temukan dalam Tafsir al-Munir, karangan ulama kenamaan asal Syiria, Wahbah al-Zuhaili, dan Tafsir al-Wasit yang berdasarkan kajian tafsir beliau lewat radio di Damaskus, Suriah. Dapat kita temukan pula dalam Shafwatut Tafaasir karya Ali as-Shobuni, Zahrat at-Tafsir-nya Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka dari Mesir. Tafsir al-Wasit gubahan Sayyid Thantowi yang semasa hidupnya pernah menjadi Grand Syaikh Al-Azhar, serta Tafsir as-Say’rawi karya Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi. Di Indonesia sendiri ada Tafsir al-Misbah karya Habib Prof. Dr. Quraisy Shihab dan lain sebagainya.

Demikian sederet kitab-kitab tafsir yang dipelajari di pesantren. Ini menandakan luasnya khazanah keilmuan pesantren. Khususnya dalam bidang mustholahah tafsir al-Qur’an. Terlebih di pesantren tidak hanya mempelajari tafsirnya saja, melainkan juga nahwu shorof, balaghoh dan ushul fikih sebagai piranti untuk memahami al-Qur’an.

Kesimpulan

Walhasil, kaum sarungan dalam hal ini memiliki transmisi keilmuan yang jelas serta kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi. Fenomena munculnya ustadz-ustadz virtual yang serampangan dalam menafsiri serta menjelaskan al-Qur’an patut kita sayangkan. Mereka tidak pernah mengenyam bangku pesantren, bahkan hanya bermodalkan terjemahan saja. Konten-konten dakwah yang semestinya diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni seperti kalangan santri ini malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sudah saatnya santri mengisi dan meramaikan konten-konten di medsos guna men-counter ideologi yang tidak sesuai dengan manhaj ulama nusantara.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester III-IV bagian C 02, asal Purwakarta, Jawa Barat yang juga menjabat sekretaris tim FKI.

Baca juga:
NGAJI TAFSIR; MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

# Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Ngaji Tafsir: Tanggung Jawab Keluarga

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

[]waAllahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid

Ngaji Tafsir; Memberdayakan Masyarakat

Berbicara soal peradaban, tentu akan membuka ruang dialog yang begitu intensif. Pasalnya, sebuah peradaban merupakan hal yang paling penting dalam tatanan dan perjalanan roda kehidupan. Sebuah masyarakat yang memiliki nilai peradaban akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik daripada golongan masyarakat yang yang tidak beradab. Dan satu hal yang perlu dicermati, peradaban dalam pengaplikasiannya tidak pernah terlepas dengan pelaku-pelaku sosial yang menggerakkan, menumbuhkembangkan, serta memberdayakan masyarakat tersebut.

Dalam konteks realita ini, Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”, (QS. At-Taubah: 122).

Dalam kitab tafsirnya yang berjudul Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an atau yang lebih sering dikenal dengan nama Tafsir At-Thabari, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari menjelaskan begitu banyak perbedaan pendapat para ulama Ahli Tafsir dalam memahami ayat tersebut. Diantara mereka, ada yang menitikberatkan dalam kajian historis, pendekatan kritis sosial, dan aktualisasi isi kandungan ayat. Beberapa diantaranya terangkum dalam beberapa pendapat berikut:

Diriwayatkan dari sahabat Mujahid Ra, beliau berkata: “Dulu, para Sahabat Nabi banyak yang ditugaskan di daerah suku pedalaman tanah Arab. Di sana, mereka membangun interaksi yang baik dan memajukan sektor pertanian yang bermanfaat bagi penduduk setempat. Selain itu, para Sahabat Nabi tersebut juga mendakwahkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Setelah menapaki jalan kesulitan, akhirnya mereka kembali dan menemui Rasulullah Saw untuk menceritakan apa yang telah mereka alami. Sehingga turunlah ayat tersebut”.

Sahabat Qatadah Ra, mengambil pemahaman bahwa ketika Rasulullah Saw mengutus angkatan perang, hendaklah sebagian diantara mereka tetap tinggal bersama Beliau untuk lebih memperdalam pengetahuan agama mereka. Kemudian sebagai upaya tindak lanjut, mereka juga berkewajiban mendakwahkan apa yang telah didapat terhadap kaumnya. Ada juga ulama yang menafsiri dengan pola terbalik dari penafsiran sahabat Qatadah Ra, yaitu para angkatan perang itu lah yang memperdalam keilmuan secara umum demi pembangunan peradaban masyarakatnya setelah mereka kembali.

Sahabat Ibnu Abbas Ra, menceritakan sebuah kisah terkait dengan penafsiran ayat tersebut. Yaitu, pada zaman dahulu bangsa Arab memiliki kelompok-kelompok suku yang begitu banyak jumlahnya. Kemudian, sebagian diantara mereka menemui Rasulullah Saw seraya bertanya, “Apa yang Anda perintahkan untuk kami kerjakan, dan beri tahu kami terhadap apa yang harus kami sampaikan pada keluarga kami saat kami kembali pada mereka?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah Saw menyuruh mereka untuk menyampaikan perintah shalat, zakat, dan kewajiban yang lain dan senantiasa taat terhadap Allah dan rasul-Nya. Setelah mereka kembali ke daerah masing-masing, mereka menyampaikan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw dan mendakwahkan agama Islam di tengah-tengah masyarakatnya.

Secara garis besar, dari QS. At-Taubah ayat 122 dapat ditarik sebuah pemahaman. Kandungan dan penafsiran ayatnya bermuara pada kewajiban seorang muslim untuk bertanggungjawab atas keadaan umat yang ada di sekitarnya. Karena dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat sekitar merupakan sebuah amanah yang murni muncul dari kesadaran sosial semata. Sehingga, tidak berlebihan kiranya apabila membangun ruh keilmuan dan peradaban masyarakat merupakan sebuah keharusan yang menjadi lahan implementasi nyata dari tanggung jawab yang sebenarnya.[] waAllahu a’lam

 

_________

Disarikan dari kitab Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an (Tafsir At-Thabari), karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari.

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.

Tafsir Modern VS Klasik dalam Problematika Umat

Alquran dalam pandangan Islam adalah intisari dari semua pengetahuan. Bukan sekedar pengetahuan metafisis-religius yang berisi petunjuk moral dan hukum agama yang menjadi pedoman kehidupan, akan tetapi Alquran juga mengandung beberapa tingkatan pengertian dan pemahaman sesuai dengan karakter dan tingkat keilmuan pribadi sang pemaham. Terkadang sebuah kepentingan, situasi, serta kondisi juga ikut andil dalam memahami pesan yang disampaikan Allah melalui Alquran.

Dari beberapa faktor di atas, pemahaman Alquran yang merupakan sebuah sumber hukum primer dan menjadi sentral untuk menciptakan produk hukum (fikih) menjadi semakin tidak karuan. Mungkin benar ungkapan Jalaludin Rumi yang menyatakan: “Alquran adalah ibarat pengantin wanita dari Timur Tengah yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya tapi tidak mampu mendapat kebahagiaan, itu mungkin disebabkan oleh tata cara membukamu yang telah menipu dirimu, sehingga keanggunan wajahnya tampak jelek bagimu.” Ungkapan Rumi ini seakan mewakili kebingungan para kiai sepuh melihat figur muda yang dengan keterbatasan ilmu dan kurangnya tanggung jawab secara ilmiah, begitu bersemangat dalam berpendapat.

Semoga keanekaragaman tafsir yang ada tidak sampai masuk dalam sabda Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi: “Barang siapa yang menafsiri Alquran dengan tanpa melalui pendekatan keilmuan, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.”

Ahmad Shawi Al-Maliki mengelompokkan guru yang belum mencapai derajat mufassir dalam tiga kelompok, sekalipun latar belakang keilmuan dan kemampuan berbeda. Di antaranya ada yang lebih cenderung tekstual, ada yang terlalu kontekstual, dan ada juga mufassir yang memadukan antara keduanya.

Golongan pertama (cenderung tekstual) memiliki metode pemahaman Alquran melalui beberapa hal:

  1. Penjelasan langsung dari Nabi (al-manqul)
  2. Pendapat dari mufassir yang sudah diakui keilmuannya.
  3. Asbabun nuzul (sebab turunya ayat)
  4. Ma’ani al-Harf (kandungan arti huruf)
  5. Aujuh al I’rab (bentuk-bentuk perubahan kalimat)

Golongan ulama kedua (cenderung kontekstual) mempunyai gaya pemahaman yang agak berani. Mereka lebih mengandalkan pemahaman melalui akal dan pikiran. Padahal banyak ulama berpendapat bahwa akal dengan keterbatasannya hanya mampu mengarahkan hukum (al-mubdi), dan tidak
bisa memproduksi hukum (al-wadi). Sehingga dari pendapat kedua ini mengundang kontroversi antar ulama.

Golongan yang terakhir adalah mufassir yang memadukan dua metode di atas (aljamu). Golongan ulama inilah yang paling berhati-hati dalam berpendapat dibandingkan dengan dua golongan ulama di atas. Sebagian dari ulama ini adalah Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuti.

Uraian di atas mungkin sudah bisa menjadi bahan untuk mengetahui sebuah pendapat, dari golongan manakah dia.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Baru-baru ini mencuat beberapa pemahaman Alquran modern dengan mengusung metode penafsiran barat dengan nama hermeneutika. Hermeneutika, kalau kita telaah secara letterlijk jelas bukan bahasa islami. Apalagi mengarah kepada konsep islami, sekalipun juga banyak dikaji dan diajarkan sebagai kurikulum khusus di sebagian lembaga Islam. Katakanlah seperti Nasr Abu Zaid, Hassan Hanafi, Fazlul Rahman, Muhamed Arkoun, Amina Wadud, Muhsin dan yang seirama dengan mereka yang kemudian diamini serta agak ‘diimani’ oleh beberapa cendikiawan muslim di Indonesia. Upaya peniruan terhadap tradisi dan filsafat barat jelas menjadi faktor terpenting pemikiran mereka.

Ini semua merupakan hal yang lazim disaat sebuah budaya dan kemajuan segala aspek kehidupan mendominasi dan menjadi harapan negara-negara berkembang. Istilahpun berkembang di masyarakat dengan nama ke barat-baratan bagi segala sesuatu yang diambil dari gaya budaya yang dominan, yaitu budaya Barat. Hal yang demikian ini pernah terjadi disaat konsep budaya Islam mendominasi beberapa negara non Islam, seperti Spanyol. Spanyol pernah kalah perang budaya melawan budaya Arab yang sedang mendominasi negaranya, sehingga banyak orang-orang Eropa yang meniru tradisi Arab (mozarabic culture).

Dengan wajah baru dan metode baru, kaum intelektual Indonesia memberikan konsep agama yang juga baru sesuai dengan tuntutan realita. Sehingga mereka membuat hukum fikih yang sesuai dengan negara Indonesia atau dengan nama fikih ke-Indonesiaan. Mungkin nantinya ada fikih ke-Araban, dan fikih ke-Amerikaan. Perbedaan daerah, golongan, dan budaya -menurut mereka- juga merupakan peluang berbedanya formulasi fikih yang dicetuskan.

Mungkin kita perlu sedikit menelaah pertanyaan ulama bahwa hukum itu akan berbeda melihat perbedaan zaman, tempat, ruang, situasi, dan waktu. Realita menunjukkan bahwa sebagian hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Mesir sangatlah berbeda dengan sebagian hukum yang dicetuskan di Iraq. Inilah yang melatarbelakangi munculnya istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Seharusnya telaah kita berangkat dari mengapa Imam Syafi’i punya dua pendapat yang berbeda dalam menyikapi keadaan negara yang berbeda? Mungkin kita juga perlu menelaah hukum yang bagaimana yang bisa berubah dan hukum mana pula yang tidak bisa berubah? Dan yang terpenting lagi apakah semua hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Iraq berbeda dengan yang di Mesir? Jadi, intinya tidak semua hukum bisa berubah dengan hanya melihat perbedaan tradisi dan lingkungan yang ada.

Ciri khas dan karakter ayat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. di kota Mekah memang sedikit berbeda dengan ayat yang diturunkan di kota Madinah. Karakter ayat makiyyah banyak menjelaskan tentang ketuhanan dan ayat madaniyah lebih terfokus pada tatanan legal formal. Akan tetapi, sekali lagi jangan disalah artikan bahwa perbedaan ayat di atas dilatarbelakangi oleh situasi, kondisi sosial, dan budaya yang berbeda, sehingga timbul kefahaman yang jauh dari kebenaran bahwa hukum agama Islam adalah “hasil perjumpaan wahyu dengan nilai-nilai budaya lokal.” Ironis sekali kalau hukum yang bersumber dari Alquran dan lebih dijelaskan melalui ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW. sebagai qudwah seluruh alam adalah potret dari budaya lokal.

Hukum Islam dilihat dari sisi tarikh tasri’ (sejarah pembentukan dan penerapan syari’at) memang tampak berbeda dengan rumusan al-aimmah al-arba’ah, padahal berangkat dari sumber yang sama, yaitu nash Alquran dan sunnah. Mungkin dalam hal ini para mujtahid punya cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam mehahami nash Alquran dan sunnah dengan perbedaan qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah mereka. Jadi, setiap hukum yang mereka rumuskan sebagai legitimasi dan solusi permasalahan agama di masyarakat tetap berlandaskan nash Alquran dan sunnah dengan didukung qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah. Silahkan mengembangkan dan mengamati fikih dengan pandangan yang berbeda. Akan tetapi tetap berpedoman pada kajian yang jelas dan bersumber dari literatur kitab yang jelas, sehingga bentuk kajian hukum itu akan menjadi sesuatu yang diterima, bukan ditolak, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa melakukan suatu aktivitas (agama) yang tidak pernah dilakukan dan tidak termasuk ajaran kami, maka ia ditolak.

Demikian bentuk pemikiran ulama dalam memproduksi hukum. Sehingga bisa membawa ‘buletin’ pemikiran Islam kepada zaman keemasan, telah mampu membawa Islam dalam kancah peradaban dunia pada masanya. Dan hukum yang dirumuskan juga menjadi rahmatan lil ummah, tidak malah menimbulkan kebingingan umat.[]

Penulis: Muhammad Zainuri, mantan Perumus Lajnah Bahtsul Masail PP. Lirboyo (LBM P2L)