Tag Archives: tahun baru

Muharram dalam Sudut Pandang Budaya Jawa

Dalam kalender Islam (Hijriyah), bulan Muharram merupakan bulan pertama. Urutan tersebut bukan berarti tanpa alasan, karena pada kenyataannya terdapat banyak keistimewaan yang ada di dalamnya. Hal ini dibuktikan dalam beberapa hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah hadis yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahu itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati,  tiga bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, terdapat diantara bulan Jumada al-Akhirah dan Sya’ban”.[1]

Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa bulan Muharram tergolong bulan yang dimuliakan. Dalam penjelasannya, salah satu bukti kemuliaan Muharram ialah umat Islan zaman dahulu dilarang melakukan peperangan di bulan tersebut.[2] Bahkan jauh sebelum masa itu, peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam terjadi di bulan Muharram, seperti Nabi Nuh diselamatkan Allah swt. keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah swt. dari pembakaran Raja Namrud, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan peristiwa-peristiwa besar lainnya.

Dengan beragam kandungan sejarah yang ada di dalamnya, tak ayal lagi bahwa terdapat beberapa amaliah sunah yang dianjurkan pada bulan Muharram. Seperti puasa Tasua’ (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram), menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, dan bersedekah.

Meskipun demikian adanya, bulan Muharram sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain, salah satunya adalah bulan suci Ramadhan. Karena di dalam bulan Ramadhan, keseluruhan tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat masih bisa dianggap murni syariat. Ibadah puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid dan lain sebagainya merupakan tuntutan syariat semata.

Hal tersebut sangat berbeda dengan bulan Muharram, karena amaliah dan tradisi yang telah mengakar di masyarakat sudah beraroma kebudayaan. Dengan artian, akulturasi syariat dan budaya sangat terasa kental di dalamnya. Salah satu bukti nyata adalah kebudayaan masyarakat Jawa. Mereka menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro. Masyarakat Jawa menganggap bulan Suro (Muharram) memiliki aura dan nilai magis yang cukup tinggi. Sehingga mereka memiliki beberapa ritual khusus di dalamnya, diantaranya adalah ritual larung sesaji, memandikan pusaka atau keris, Tapa Bisu, sesajen para Danyang, dan lain sebagainya.

Melihat realita budaya yang demikian adanya, umat Islam memiliki cara pandang atas langkah yang harus diambil. Jika terdapat sebuah budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipertahankan,  maka Islam akan mempertahankannya. Atau jika budaya tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syariat akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya.

Tindakan dan cara tersebut telah dicontohkan Rasulullah saw. dalam strategi dakwahnya. Kedatangan Rasulullah saw. memiliki misi meluruskan norma-norma yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid di samping melestarikan budaya masyarakat Arab yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.[3] []waAllahu a’lam

 

________________

[1] Shahih Al-Bukhari, IV/107.

[2] Umdah al-Qori’, XXI/149, CD Maktabah Syamilah.

[3] Hujjah Al-Balighah, juz 1 hal 284.

Dawuh KH. Abdul Kholiq Ridlwan: Waktu Seperti Pakaian

Yang perlu dilakukan dalam Menghadapi Tahun baru ini hendaknya kita:

-Bersyukur karena masih bisa menemuinya

-meneliti diri sebagaimana dawuh shabat Umar Ra.: “Hisablah diri kalian sebelum datang hari penghisaban amal”

 

Abdullah bin Umar Ra. Berkata: “Tatkala engkau memasuki pagi hari, janganlah menunggu sorenya. Begitupun sebaliknya; Dan pergunakanlah hidupmu untuk matimu”

 

Mencari ilmu itu hukumnya wajib, sebab apa? Sebab manusia diciptakan untuk beribadah dan ibadah memerlukan ilmu.

 

Dalam ilmu Manthiq (logika: red.) pengertian manusia adalah hayawanun natiq (mahluk yang punya potensi untuk berfikir: red.) maka jika tidak berilmu, sifat natiq/pikiran-nya akan tenggelam dan nanti yang muncul adalah sifat-sifat kebinatangannya belaka; Bahkan bisa lebih parah daripada binatang, sebagaiman firman Allah Ta’ala:

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

“Mereka layaknya binatang ternak, bahkan lebih sasar (buruk) lagi” (QS al-A’raf: 179)

 

Waktu itu seperti pakaian yang dimasukkan ke dalam tas. Jika tidak dilipat dengan baik maka baju sedikit saja tas sudah terasa penuh. Namun jika dilipat dengan baik, maka akan lebih banyak pakaian yang bisa masuk. Demikian pula waktu, bila tidak diatur dengan baik maka yang terasa seolah-olah selalu sempit.

 

Menunda-nunda sesuatu yang bisa kita kerjakan sekarang sama saja dengan melamar kegagalan.

disampaikan  dalam acara Masbro di aula Al muktamar 13 sep. 2018 M.(IM)

Istighosah 1 Muharam 1440 H.

LirboyoNet, Kediri-(10/09/18) Sore itu, sepanjang jalan Pondok Pesantren Lirboyo dipenuhi para santri yang berbondong-bondong berjalan bersama. Wajah sumringah begitu tampak dari mereka. baju putih yang mereka kenakan semakin menambah suasana khas pada sore itu. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap pergantian tahun hijriah para santri Lirboyo dan segenap masyarakat Kediri mengadakan istighosah pembacaan doa akhir dan awal tahun di masjid Agung kota Kediri.

Acara yang dimulai selepas ashar itu dihadiri oleh segenap Ulama dan Umaro kota kediri. Hadir pada acara itu, diantaranya KH. M. Anwar Manshur, KH. An’im Falahudin Mahrus, KH. Anwar Iskandar, KH. Abdul Hamid Abdul Qadir dan segenap jajaran pemerintahan Kota Kediri. Polisi, segenap pengurus Pondok, Banser dan satpol PP ikut urun keringat dalam mengawal lancarnya acara dan lalu-lintas jalan yang dilalui oleh ribuan santri itu.

KH. Anwar Iskandar dalam sambutannya pada kesempatan itu menuturkan bahwa hendaknya momen pergantian tahun ini digunakan untuk introspeksi diri dan cerminan untuk menjalani tahun-tahun berikutnya, “Hendaknya, pergantian tahun ini bisa menjadi momentum untuk muhasabah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik ditahun berikutnya.” Demikian tutur beliau.

Setelah Jemaah salat Isya, acara diakhiri dengan doa oleh KH. M. Anwar Manshur. Sesaat setelah para hadirin beranjak dari duduknya, letupan-letupan kembang api membumbung memperindah suasana pada malam tahun baru itu. Semoga dengan adanya istighosah rutinan ini kota kediri khusunya dan Indonesia umumnya bisa semakin menjadi negeri yang damai, aman dan sejahtera. Amin.(IM)

Khotbah Jumat: Amalan Pergantian Tahun

أَلْحَمْدُ للهِ مُنْشِئِ الْأَيَّامِ وَ الشُّهُوْرِ وَ مُفْنِي الْأَعْوَامِ وَ الدُّهُوْرِ وَ مُضَاعِفِ الثَّوَابِ لِمَنْ أَطَاعَهُ وَ الْأُجُوْر فَسُبْحَانَهُ مَنْ تُسَبِّحُهُ الْأَفْلَاقِ وَ بِتَسْخِيْرِهِ تَدُوْرُ وَ تُقَدِّسُهْ الْأَمْلَاكُ وَ لِأَمْرِهِ تَبْتَدِرُ الْمَأْمُوْر أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ تَتَجَدَّدُ بِالرَّوَاحِ وَالْبُكُوْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَوَادِيْ وَالْحُضُوْرِ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Pada kesempatan yang mulia ini, saya menyeru pada diri saya dan hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala serta selalu berusaha menyirami iman kita dengan ibadah-ibadah yang telah digariskan-Nya.

Diantar rukun Khotbah yang tiap Jumatnya kita dengarkan adalah wasiat untuk bertakwa. Khotbah tidak dianggap jika tidak terdapat wasiat takwa di dalamnya. Apa hikmahnya sehingga setiap Jumat kita senantiasa diperdengarkan wasiat takwa? Tidak lain adalah agar kita tidak bosan dan lalai dalam urusan ketakwaan kita kepada Allah.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Setahun penuh setiap Jumatnya kita diperdengarkan wasiat takwa, semoga hal itu membekas di hati kita. Sebagaimana batu yang akan terlubangi oleh tetesan air yang terus-menerus. Dipenghujung tahun hijriah ini hendaknya kita punya inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup kita ditahun berikutnya, dan semakin giat dalam taat kepada-Nya.

Bukankah kita tidak tahu sampai kapan umur kita? Bukankah suatu saat nanti kita pasti meninggalkan dunia ini?  Dan saat itu tiba, sedetik pun kita tidak bisa menawarnya, Allah ta’ala berfirman dalam surat al-A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka tatkala telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Demikianlah bahwa ajal tidak menunggu kita siap.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Untuk menutup tahun ini dan mengawali tahun baru dengan manfaat, ada baiknya kita mengamalkan hadis yang diriwayatkan Imam Ibnu Hajar dari Sayyidah Hafsah ra.; Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ أَخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّة ِوَ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، جَعَلَهُ اللهُ كَفَارَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً. وَصَوْم يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ بِصَوْمِ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا

Barang siapa berpuasa di hari terakhir bulan zulhijah dan hari pertama bulan Muharram, maka Allah swt. akan menjadikannya sebagai pelebur dosa selama lima puluh tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan puasa tiga puluh hari di bulan lainnya.”

Dengan mengamalkan hadis di atas, semoga saja memberi keberkahan kepada kita untuk mengarungi tahun berikutnya dengan penuh manfaat dan amal kebaikan.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

99 Bedug Bertalu se-penjuru Kediri

LirboyoNet, Kediri—Bulan Muharram seringkali diartikan sebagai simbol hijrah oleh kaum muslim. Bulan yang menjadi awal dari sebelas bulan yang lain dalam penanggalan hijriyah ini dianggap mewakili istiadat hijrah kaum muslim. Peristiwa-peristiwa agung di dalamnya menguatkan kaum muslim untuk berani melangkahkan kakinya menuju perubahan yang lebih baik.

KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, Rois Syuriah PCNU Kota Kediri mengungkapkannya di dalam even Parade 99 Bedug, Kamis (21/09) kemarin. “Hijrah pada dasarnya adalah berpindah dari satu keadaan yang buruk, menuju keadaan yang lebih baik. Maka tahun baru Hijriyah ini harus kita maknai dengan keberanian kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan positif.”

PCNU Kota Kediri, seperti yang diakui Ketua PCNU, KH. Abu Bakar, menyelenggarakan even ini demi  menyongsong tahun baru 1439 Hijriyah. Ini tidak lepas dari konteks awal tahun yang selalu diperingati sebagai pembuka lembaran baru dalam alur kehidupan masyarakat Indonesia kini. Karenanya, perlu diadakan even yang dapat menjadi simbol lembaran baru itu.

Lapangan Barat Aula al-Muktamar siang itu benar-benar padat oleh ratusan kendaraan. Kendaraan itu telah direka sedemikian rupa. Bermacam desain mobil mereka perlihatkan. Ada di antaranya yang berbentuk lonjong dan panjang layaknya perahu. Ada yang menyusun jerami-jerami di atasnya seperti gubug. Ada yang mengusung sound system besar bertumpuk-tumpuk. Ada pula yang memakai minitruk, tanpa atap, tanpa hiasan, dan hanya berisikan anak-anak kecil membawa rebana. Semua memiliki tujuan yang sama, memeriahkan even yang jarang ada di Kota Kediri ini.

Parade ini memilih Pondok Pesantren Lirboyo sebagai titik awal pemberangkatan. Kemudian, rombongan parade diberangkatkan ke arah utara menuju simpang empat Semampir, simpang tiga Kantor Pos, hingga pada akhirnya finish di Balai Kota Kediri.

Even yang dilangsungkan sejak pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh kurang lebih 100 kendaraan bak terbuka, dan ribuan masyarakat Kota Kediri.][