Tag Archives: taubat

Khutbah Jumat: Taubat, kunci menjadi orang baik

اَلحَمدُ لِلهِ الَّذِي أَوْجَدَ جَمِيعَ الْكَائِنَاتِ بِقُدْرَتِهِ. فَسُبْحَانَهُ مِنْ إِلهٍ عَظِيمٍ كَمُلَ فِي عَظَمَتِهِ وَقُدْرَتِهِ. وَتَقَدَّسَ مِنْ مُحْسِنٍ كَرِيمٍ يَغْفِرُ العَظَائِمَ مَعَ كَمَالِ قُدْرَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَن لَا إِله إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَخِيرَتُهُ مِنْ جَمِيعِ بَرِيَّتِهِ. أللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَذُرِّيَّتِهِ وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُ اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ سُبحَانَهُ وَتَعَالَى خَلَقَكُمْ لِعِبَادَتِهِ.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita dengan menjalankan hal-hal yang menyebabkan kita mendapatkan pahala dan menjauhi hal-hal yang menyebabkan kita mendapatkan dosa.

Perlu kita sadari bahwa setiap diri dari kita pasti pernah berbuat dosa.
Setiap orang tidak terlepas dari dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari keinginan yang mengajak untuk berbuat dosa. Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari bisikan syaitan untuk memikirkan hal-hal yang menakjubkan yang menjauhkannya dari mengingat Allah.
Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari lalai dan sempitnya pengetahuan tentang Allah, tentang sifat-sifat-Nya maupun apa-apa yang dilakukan-Nya. Semua itu merupakan hal-hal negatif dan tentu ada penyebabnya.

 Meninggalkan penyebab hal-hal negatif tersebut, dengan cara menyibukkan diri dengan melakukan perbuatan sebaliknya, berarti kita sedang kembali ke jalan yang benar yang disebut taubat.

Oleh karena itu kita wajib untuk selalu bertaubat dalam setiap waktu dan setiap keadaan supaya kita terhindar dari dosa. Nabi saja yang sudah pasti terjaga dari dosa, beliau dalam sehari semalam beristighfar tidak kurang dari tujuh puluh kali.

وَعَنْ أبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (وَاللهِ إَنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِليهِ فِي اليَومِ أَكثَرَ مِنْ سَبعِينَ مَرَّةً) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abi Hurairoh Ra. beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Aku pasti memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.’” (HR. Al-Bukhori)

Jama’ah jumat rahimakumullah…

Orang yang baik bukan hanya orang yang tidak pernah berbuat salah. Orang yang baik juga merupakan orang yang pernah berbuat salah, akan tetapi ia mau menyadari kesalahannya, selalu ingin memperbaiki diri dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya.

Hadits yang mengungkapkan manusia adalah tempatnya salah dan lalai, tidaklah menjadi pembenaran untuk hidup selalu dalam kesalahan. Akan tetapi Nabi hanya ingin menyampaikan bahwa manusia tidak terlepas dari potensi berbuat salah dan lalai.

Oleh karena itu kita wajib berusaha untuk menjadi manusia yang baik dan berusaha menghindari kesalahan demi kesalahan.

Allah Swt. berfirman:

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. An-Nisa: 106)

Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqoroh: 222)

Jama’ah jumat rahimakumullah..

Mudah-mudahan kita selalu diberi kekuatan oleh Allah Swt. untuk selalu kembali ke jalan-Nya, jalan yang penuh dengan kasih sayang dan ridlo Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Baca juga:
Khutbah Jumat: Berkahnya Ilmu dengan Menghormati Sang Guru

Tonton juga: MENARIK REZEKI || IJAZAH DARI KH. ANWAR MANSHUR

Taubat Sebelum Terlambat

“Terkadang Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat.

Akan tetapi, terkadang umur kita tidak memberikan kesempatan untuk itu.”

(Bapak Hamim_Arsyad)

Sebelumnya, saya pernah menyendiri dan befikir untuk membuka tabir dari kata tobat.  Cukup lama, hingga sekarang saya baru menemukan ilham-ilham untuk berani menyimpulkan dan menulisnya di sini.

Jika kita mau menelusuri, pada akhirnya kita akan berhenti pada tiga unsur yang harus kita kuasai sebelum kita bertobat. Yang pertama adalah ilmu, kemudian kondisi dan perilaku. Kita harus tahu, ilmu dapat mempengaruhi kondisi dan kondisi dapat menyeret perilaku kemana pun ia mau.

Orang yang mengakar dalam ilmunya pasti akan tahu, jika ia berbuat dosa, pasti dalam benak kepalanya selalu dihantui neraka dan siksa-siksanya. Dosa memang selalu seperti racun—yang pasti membunuh orang yang berani meminumnya.

Seperti penggambaran seorang lelaki yang ditinggalkan kekasihnya, pasti lelaki tersebut merasakan panasnya hati dan kemudian rasa sakit  itu merobek hati hingga tak berbentuk. Jika kepergian kekasihnya disebabkan perilaku jelek lelaki itu, ada baiknya ia berfikir dan menyesali perilaku yang ia lakukan. Dalam istilah arab menyesal diberi kata “nadhamah”. Ketika rasa sakit menguat di dalam tubuh dan menyelimuti hati seorang lelaki itu, ia harus bergerak untuk bangkit (irodah) dari penyesalan-penyesalan dan keterpurukan yang dihadapinya menuju jalan yang lebih lurus; terang.

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ada penjelasan: bilamana dosa telah bertindis-lapis, niscaya dosa itu akan menjadi berkarat melumuri hati manusia. Jika itu terjadi manusia akan condong berbuat keburukan. Hati yang mati akan sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, ia akan jauh dari kebenaran dan kebaikan agama.

Manusia seperti ini biasanya sering tak mempedulikan perihal yang berkaitan dengan akhirat. Biasanya ia lebih suka dan tertuju pada masalah urusan dunia, ia selalu menganggap bahwa—hidup di dunia yang ia harus kejar dan capai. Menasehati orang seperti ini membutuhkan kekuatan yang cukup untuk bersabar.

Saya punya satu solusi untuk orang-orang muslim agar kelak—saat di penghujung ajal kita bisa dengan mudah melafalkan kalimat thayyibah. Kalimat La ilaha ilallah. Pertama kita harus membiasakan melafalkan kalimat itu. Kedua, hati kita harus selalu diisi dengan kalimat thayyibah setiap harinya. Sering mengucapkan istihgfar untuk membersihkan diri, dan kita parfumi dengan bershalawat kepada Nabi.

Rasulallah meneladani kita dengan tobat sebagai aktivitas rutin  bagi orang-orang yang beriman. Bahkan Imam Ghozali pun dalam kitabnya, berani menjadikan tobat sebagai sebuah kewajiban bagi orang yang memiliki keimanan. Imam Ghozali menyandarkan pendapatnya pada sebuah ayat Al-Qur’an: “Dan bertobatlah kamu—sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman—agar kalian beruntung.”(QS.An-nur:31)

Dari ayat di atas dapat kita kita lihat dan renungi bahwa anjuran tobat ditujukan bagi hamba-hamba Allah yang beriman. Kita sebagai orang yang beriman selayaknya membiasakan tradisi tobat setiap saat, jangan sampai di dalam hati kita terbesik sebuah anggapan bahwa kita adalah adalah mahluk yang suci dari dosa.

Ada kalanya kita perlu merenungi dan berfikir, bahwa Rasulullah yang dijadikan maksum oleh Allah selalu melafalkan istighfar setiap hari. Sedangkan kita sebagai manusia biasa yang selalu berhubungan dengan dosa yang kita tak sadari enggan melafalkan kalimat-kalimat suci.  Saya pernah membaca sebuah hadits yang mana Rasulallah selalu mengingatkan dan mengajak kepada kita untuk bertobat kepada Sang Ilahi. Kalau tak salah bunyinya begini: “ hai manusia bertobatlah kepada Rab kalian, sungguh aku bertobat kepada Allah seratus kali dalam sehari.”

Manusia tidak akan bahagia menjumpai tuhannya kelak jika mereka masih membawa dosanya. Mereka tak akan bisa menari-nari di taman surga bersama bidadari jika mereka tak mau merontokkan dosa-dosa mereka dengan bertobat. Karena hanya dengan bertobat biasanya orang-orang bisa dengan tulus memberikan senyuman kepada tuhannya kelak saat mereka menjumpainya.

Kita harus tahu bahwa tak ada yang lebih baik dari pada Allah. Jika saja hambanya memiliki dosa sebesar gunung atau dosanya sebesar kerajaan Nabi Sulaiman, sungguh Allah adalah dzat maha pengampun dan mengasihi semua hambanya.

Kadang-kadang orang tidak mau bertobat karena tidak tahu bagaimana caranya bertobat. Gampang saja. Saya suka membeli buku-buku dan kitab di sebuah toko. Di sana tertera jelas bagaimana cara seorang hamba untuk bertobat. Untuk bertobat kita hanya perlu merenungi dan menyesali apa yang telah kita lakukan, dan membuat janji suci kepada Tuhan kita untuk tidak mengulanginya. Perbanyaklah shalat malam karena shalat malam salah satu pintu terdekat untuk mengantarkan kalimat istighfar kepada Tuhan kita. Kita hiasi hidup kita dengan perkara-perkara yang baik dan bermanfaat. Karena dosa terkadang bisa kita hapus dengan perbuatan baik.

Di hari ini, kita bisa memulainya dengan bertobat. Mungkin untuk besok kita sudah bisa membiasakakan tobat sebagai rutinitas kita. Dengan diawali bebuat baik untuk sesama dan di waktu yang masih sempat ini kita bisa melakukannya. Dan jika seandainya kita dipanggil oleh Tuhan, kita tidak akan berat menggerakkan bibir untuk tersenyum dengan indah.[]

(*) Penulis: Ahmad Dhiya’udin santri asal Bojonegoro

Nasihat Sahabat Abdullah bin ‘Amr

Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash ra. Pernah menuturkan, bahwa sesiapa yang dalam dirinya terkumpul lima amalan ini, maka niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pertama, ia senantiasa mengisi waktu-waktunya dengan berzikir: لا اله الا الله محمد رسول الله.

Berdzikir merupakan salah satu diantara ibadah yang ringan untuk dilakukan. Bukan saja karena hanya dengan lisan atau hati belaka, melainkan karena dengan mudah kita bisa merangkapnya bersama berbagai kegiatan lainnya semisal: menyapu, berkendara, memasak, atau pun pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sehari-hari kita lakukan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عز وجل عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ وَ لَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ ُكلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Artinya: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allah yang maha luhur lagi agung dalam berbagai keadaan. Karena tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari keburukan dunia dan akhirat melebihi berdzikir kepada Allah” (HR. Ibnu Sorsori).

Kedua, tatkala mendapat cobaan ia berkata: لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم  إن لله وإن إليه راجعون

Yang artinya adalah, segala sesuatu sungguh dari dan kembali pada Allah semata dan tidak ada daya upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang maha Luhur lagi Agung.

Dengan mengucapkan ini, disaat kesulitan melanda kita, setidaknya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak pernah lepas dari garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga akan semakin menambah rasa kepasrahan kita kepada Allah swt. dan terhindar dari rasa putus asa.

Ketiga, tatkala ia diberi nikmat ia berucap: الحمد لله ربّ العالمين sebagai tanda syukurnya,

Dengan mengucap hamdalah kita sekaligus menginsyafi bahwa segala nikmat adalah anugerah dari dan milik Allah Ta’ala, sehingga diharapakan kita semakin menjauhi kesombongan dan kelalaian oleh sebab nikmat tadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim: 7)

Keempat, tatkala memulai sesuatu senantiasa mengucapkan: بسم الله الرحمن الرحيم

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh baginda Nabi saw.:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki nilai baik namun tidak diawali dengan bismillah, maka akan kurang (kemanfaatannya)

Demikian hal ringan ini semoga bisa kita biasakan agar hal-hal yang kita lakukan menuai manfaat yang maksimal.

Kelima, tatkala ia melakukan sebuah dosa, ia berucap:  أستغفر الله العظيم وأتوب اليه

Nabi saw bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ  أَلا إِنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ  وَدَوَاؤُكُمُ الاسْتِغْفَارُ

 Artinya: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan penyakit kalian sekalian beserta obatnya? Ketahuilah sungguh penyakit itu adalah dosa sdang obatnya adalah beristighfar” (HR. ad-Dailami)

Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, hendaknya kita selalu mengiringinya dengan istigfar kepada Allah swt. Bahkan baginda nabi yang terjaga dari dosa pun setiap harinya tidak kurang seratus kali bertaubat atau beristighfar kepada Allah swt.

 

Alangkah indah jika kita sekalian dapat dengan istiqomah mengamalkan sekaligus meresapi lima hal ringan yang dituturkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr tadi. Semoga.(IM)

Disarikan dar kitab Nasoihul Ibad, Imam Ahmad bin Hajar al-Asqolani, bab al-khumasi.

Khotbah Jumat: Mari Bertaubat

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Pada kesempatan khotbah kali ini, kami mengajak diri kami dan kaum muslim sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Setiap waktu yang kita lalui hendaknya bermuara pada satu titik yakni bertakwa kepada Allah, agar hidup kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Sehingga diakhirat nanti kita bukan termasuk dari golongan orang-orang yang menyesal karena tidak memanfaatkan umur yang dianugerahkan kepada kita. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari suatu kesalahan.

 

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Mustahil seorang manusia bisa hidup tanpa pernah melakukan kesalahan. Oleh karenanya, kita yang sudah pasti dihinggapi kesalahan ini harus selalu menanggulanginya dengan taubat. Entah kapan waktunya, kesalahan pasti akan menghinggapi kita. Namun taubat, jika tidak diusahakan belum tentu kita diberikan kesempatan waktu untuk melaksanakannya. Dalam hal ini nabi telah memberi tauladan kepada kita untuk senantiasa bertaubat setiap harinya. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Artinya: “Hai para manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku selalu bertaubat kepadanya sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)

Baginda nabi adalah orang yang ma’shum, yang dihidarkan oleh Allah dari melakukan kesalahan. Taubat beliau adalah teladan bagi kita; Manusia biasa yang tidak bisa lepas dari salah dan dosa. Seberapa kelam, seberapa kotornya diri kita dimasa lalu namun masa depan kita tetaplah suci, tetaplah sebagai lembaran kosong yang bisa kita isi dengan amal-amal kebaikan. Kuburlah masa lalu yang kotor itu dengan pertaubatan yang sungguh-sungguh agar dosa-dosa kita yang telah lewat itu dikubur oleh Allah Ta’ala.

 

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Taubat kita akan dapat diterima oleh Allah jika kita melaksanakan tiga hal, yaitu: berusaha menghentikan perbuatan maksiat yang kita lakukan, menyesaliya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Maka dari itu, kemauan yang kuat adalah kunci jika kita ingin benar-benar bertaubat kepada Allah. Jika tekad kita untuk bertaubat itu lemah, maka besar kemungkinan kita akan kembali terpeleset dalam kubangan dosa. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. at-Tarhim: 8)

 

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Disisa umur yang kita tidak tau sampai kapan ini, marilah kita berbondong-bondong untuk mempersiapkan diri bilamana kita sudah menghadap sang Kholik nanti. Sebagaimana ajal tidak menunggu kita untuk jadi baik dulu atau memperingatkan kita untuk bertaubat dulu, ajal datang tanpa bisa diketahui kepastiannya kapan. Maka rugilah jika kita masih berleha-leha dan bernanti-nanti untuk beribadah kepada Allah. Ada petuah bijak berkata: “Hiduplah untuk yang pasti-pasti saja. Dan sesuatu yang paling pasti didunia ini adalah ajal.”

Nabi bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ  والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ

Artinya: “Orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya, dan mengerjakan untuk kehidupan setelah kematian. Dan yang lemah itu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah.” (HR. Turmudzi)

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kisah Taubat di Akhir Hayat

Diceritakan dari sahabat Umar bin Khattab RA:

Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah SAW. Kami berdua menjenguk salah satu sahabat dari golongan Anshor yang hampir menghembuskan nafas terakhirnya. Melihat keadaannya yang demikian, Rasulullah SAW berkata pada sahabat tersebut, “Bertaubatlah engkau kepada Allah”.

Karena keadaan yang begitu parah, sahabat tersebut tidak mampu mengucapkan sepatah katapun dari lisannya. Ia hanya memberi isyarat pandangan mata yang melihat ke arah langit. Mengamati apa yang dilakukan sahabat tersebut, Rasulullah SAW akhirnya tersenyum.

Wahai Rasulullah SAW, apakah gerangan yang membuat engkau tersenyum?” tanyaku penasaran.

Sahabat ini dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan bertaubat dengan ucapan. Ia hanya memberi isyarat pandangan mata ke arah langit. Sedangkan hatinyalah yang bertaubat dan menyesali segala dosa yang telah ia perbuat.” Jawab Rasulullah SAW.

Tak berselang lama Rasulullah SAW melanjutkan, “Maka dari itu Allah SWT berkata pada malaikat; Wahai para malaikatku. Hamba-Ku yang satu ini sudah tidak mampu lagi untuk bertaubat dengan lisannya namun ia bertaubat dan menyesali dalam hati. Maka Aku tidak akan menyia-nyiakan taubat dan penyesalah yang ada dalam hatinya. Dan saksikanlah bahwa Aku telah mengampuninya.

______________

Disarikan dari kitab Dzurrotun Nashihin, halaman 37, cetakan al-Haromain.