Tag Archives: Teroris

Urgensi Itba’u Man Salaf dalam Krisis Radikalisme

 

Lagi,topik Islam Nusantara menjadi trending topik di banyak kalangan belakangan ini. Ide Islam Nusantara digadang-gadang menjadi produk yang bisa menjadi potret Islam yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin. Ungkapan tersebut tidak berlebihan, melihat kenyataan bahwa gagasan-gagasan yang termuat dalam ide Islam Nusantara disarikan dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para Wali Songo yang notabene merupakan pembawa ajaran Islam ke Indonesia.

Dan jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata paham Islam Nusantara tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran serta syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kendati demikian, ide Islam Nusantara tetap menuai kontroversi dan hujatan dari beberapa kalangan, utamanya dari kalangan radikal dan liberal yang merasa cukup terusik dengan kehadiran paham moderat semacam ini.

Hal Ini merupakan sesuatu yang sangat wajar. Karena kemunculan paham moderat seperti Islam Nusantara memang merupakan jawaban atas keprihatinan maraknya paham radikal dan liberal yang dikhawatirkan akan merusak ideologi serta citra baik umat Islam.

Dan harus diakui bahwa sejak kemunculan ide Islam Nusantara, kalangan radikal dan liberal semakin getol dan gigih menyebarkan paham-paham mereka, entah itu melalui situs sosial media ataupun melalui kegiatan lapangan yang bertopeng kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lalu, yang jadi pertanyaan, tindakan apa yang harus dilakukan untuk meneguhkan paham Islam Nulantara di saat seperti ini? Karena harus diakui jika tidak ada tindakan nyata untuk meneguhkannya, maka paham moderat semacam Islam Nusantara hanya akan menjadi sebatas wacana hampa yang tidak memiliki kontribusi apapun pada dunia Islam.

Salah satu langkah yang perlu diwacanakan dalam keadaan seperti ini adalah itba ‘uman salaf, yakni pembiasaan untuk melestarikan budaya luhur para ‘Ulama’ terdahulu serta mengikuti kebiasaan mereka, mulai dari tahlilan, yasinan, bahtsul masa ‘il hingga pengajian kitab kuning di pesantren.

Bukan hal aneh jika hal semacam ini perlu diwacanakan, karena diakui atau tidak, sebenarnya Islam Nusantara merupakan produk ijtihad yang dihasilkan dari kebiasaan dan budaya para ‘Ulama’ terdahulu. Sehingga salah satu cara ampuh dan kompatibel untuk meneguhkannya adalah dengan mengikuti budaya mereka.

Dan bagaimana mungkin kita bisa memisahkan Islam Nusantara dari budaya para ‘Ulama’ terdahulu? Dan jika tidak mengikuti ‘Ulama’ terdahulu, lalu siapa yang lebih layak untuk kita ikuti?

Alasan lain yang menjadi dasar kuat dari urgensi itba’u man salaf (mengikuti jejak pendahulu) dalam peneguhan Islam Nusantara adalah fakta bahwa Islam dikenalkan dan diajarkan melalui sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Sahabat pada masa itu diperintah untuk mengikuti perilaku dan cara hidup (sunnah) Rasulullah SAW. bukan diperintah untuk belajar teori, karena pada dasarnya ajaran Islam memang bersifat aplikatif.

Begitupun Rasulullah, dalam mengajarkan Islam beliau lebih mengedepankan uswah hasanah. Hal ini tampak dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Baihaqi serta Imam Ad-Daruquthni, yang artinya “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Jika para sahabat meneguhkan Islam dengan mengikuti Rasulullah SAW.

 

maka tidaklah berlebihan jika cara untuk meneguhkan Islam Nusantara adalah dengan mengikuti serta melestarikan kebiasaan ‘Ulama’ terdahulu. Jika kita berkaca pada sejarah Islam di bangsa kita sendiri, kita akan menemukan hal serupa yang dilakukan oleh Wali Songo. Para Wali Songo mengenalkan dan menyebarkan Islam di Indonesia dengan sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Dan dengan cara seperti ini, jika kita jujur secara sejarah, Islam telah sukses dibumikan di Indonesia. Sehingga jika Islam telah sukses dikenalkan dengan cara seperti ini, maka sangat layak cara ini digunakan untuk meneguhkannya kembali.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Al-Mahally “Jika mampu untuk memulai maka lebih mampu untuk mengulangi ” Selain itu, langkah-langkah dzohiriyah semacam ini merupakan hal praktis yang bisa diterima semua kalangan, bahkan kalangan awam.

Melalui kegiatan lahiriyyah ini pula kita bisa menggiring umat Islam secara perlahan untuk mengenali Islam Nusantara lebih dalam. Sebab jika ditekankan pada aspek teoritis, dan mengesampingkan aspek praktis, belum tentu hal tersebut bisa langsung siap diterima semua kalangan.

Sehingga hanya akan menjadi hal prematur, Apalagi dengan tindakan yang perlahan semacam ini, meski butuh waktu yang cukup lama untuk terlihat hasilnya, respon penolakan bisa lebih diminimalisir dan jauh lebih mudah diterima oleh khalayak umum.

Dan sudah menjadi hal yang maklum, sesuatu yang ditancapkan sedikit demi sedikit akan lebih sulit untuk dicabut. Konklusinya, itba ‘u man salaf merupakan jawaban sekaligus solusi yang kompatibel untuk mengatasi krisis radikalisme yang mengancam Islam Nusantara.

 

 

 

Ditulis Oleh: Muhammad Fajrul Falah FA.

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

LirboyoNet, Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1439 H, bangsa Indonesia dikejutkan dengan aksi narapidana terorisme di Mako Brimob. Serta yang terbaru, ledakan bom di tiga gererja di Surabaya, Jawa Timur, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tanpa Cela, GKI, dan Gereja Pantekosta, pada Ahad (13/5) pagi.

Menyikapi hal tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan mengecam dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan terorisme. Terlebih mengatasnamakan agama.

“Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya,” seperti dikutip dari rilis resmi PBNU, Ahad (13/5). PBNU juga mendukung langkah aparat keamanan dalam mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Berikut pernyataan resmi PBNU:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

2. Menyampaikan rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

6.Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.][

 

Sumber: NU Online

Keputusan Bahtsul Masail FMPP ke-30

LirboyoNet, Cirebon – Bahtsul Masail ke-30 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura di Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, berakhir sudah. Kegiatan yang digelar sejak Kamis-Sabtu, 20-21 Muharram/21-22 Oktober, kemarin resmi ditutup.

Forum yang mencoba menjawab permasalahan kekinian dari sudut pandang hukum agama ini, kali ini banyak mengangkat isu nasional. Mulai dari soal pengampunan pajak (Tax Amnesty) hingga status tanah hasil reklamasi.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Untuk mendownload hasil keputusannya, silahkan klik tautan KOMISI di bawah ini.

KOMISI A

1. Implementasi Resolusi Jihad di Era Post Modern
2. Hukum Laundry Pakaian
3. Piagam Madinah Sebagai Konstitusi Negara Untuk Masyarakat Plural
4. Ancaman Limbah Pabrik
5. Hukum Pokemon Go

KOMISI B

1. Menggugat Perda Syariat
2. ‘Kekerasan’ Terhadap Murid (Gegeran Guru Mencubit Murid)
3. Bermazhab Secara Manhaji

KOMISI C

1. Hukum Tax Amnesty
2. Fasilitas Wi-fi di Masjid
3. Hukum Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta
4. Memperingati Hari Kemerdekaan (17 Agustus) dengan Pesta Pora/Hura-hura

KOMISI D

1. Hukum Mempekerjakan Buruh Asing
2. Hukum Ekspor Bahan Baku/Mentah
3. Hukum Melepas/Mencabut Status Kewarganegaraan Teroris

Mengurai Radikalisme Agama

Judul Asli : Mengurai Radikalisme Agama dengan Mengaplikasikan Keaswajaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam waktu yang singkat dan keterbatasan penulis, tidak mudah untuk mengurai radikalisme agama secara tuntas dan komprehensif. Namun demikian, setidaknya tulisan berikut cukup untuk pengantar mengenali radikalisme agama.  Yang dengan memahaminya kita akan mampu melihat  radikalisme agama, sehingga kita bisa menghindari dan membendungnya.

Sekilas Tentang Agama Islam

Islam adalah agama kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Bukti paling konkrit mengenai hal ini adalah, bahwa Allah Swt menamakan agama ini dengan sebutan Islam. Secara literal, kata Islam diambil dari bahasa arab yang berasal dari akar kata salima yaslamu salaman, sebuah kata-kata indah yang menunjukkan arti kedamaian, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan perlindungan. Jika kita merenungkan dengan mendalam makna-makna tersebut, kita akan mendapati bahwa semua prinsip dasar dalam agama Islam (sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril ) yaitu, Islam, iman dan ihsan semuanya merupakan manifestasi dari makna tersebut.

Islam. Suatu ketika Nabi Saw ditanya, “Siapakah muslim sejati?”  Beliau menjawab, “Al-muslimu man salima an-nasu min lisanihi wa yadihi (seorang  dikatakan muslim sejati  jika ucapan dan perbuatanya tidak merugikan orang lain)”.

Iman. Secara literal kata iman berasal dari akar kata amina ya’manu amnan yang menunjukkan arti kedamaian dan perlindungan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Al-mu’minu man aminahu an-nasu ala dima’ihim wa amwalihim (mukmin sejati adalah seseorang yang orang lain merasa nyawa dan hartanya aman darinya)”.

Ihsan. Kata ihsan berasal dari trilateral (tsulasi mujarrod) berupa hasuna yahsunu husnan yang berarti kebaikan, kebajikan dan keindahan. Dari kata inilah Nabi Saw mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan bersosial dan bermasyarakat, sebagaimana hadis beliau, “Ittaqillah haitsu ma kuntum wa atbi’issayyi’ata al-hasanata wa khaliqi an-nas bi khuluqin hasanin (bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, hapus perbuatan jelek dengan kebaikan, dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik/ akhlaq yang baik”.

Islam adalah agama yang moderat, dalam hal akidah meyakini Tuhan hanya ada satu, tidak anti Tuhan juga tidak meyakini Tuhan banyak. Dalam berbagai persoalan juga demikian, sebagaimana Firman Allah Swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. QS. Al-Baqoroh: 143

 وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. QS. Al-Isro`: 143

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا 

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. Qs. Al-Isro`: 110

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qoshosh: 77

Ayat –Ayat di atas menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu moderat. Orang tidak boleh berlebihan dalam mengalokasikan harta, atau boros, di saat yang sama tidak boleh kikir. Waktu salat tidak boleh terlalu keras, agar tidak mengganggu, juga tidak boleh pelan, sehingga tak terdengar. Sehingga kita bisa menilai, jika ada yang berlebih-lebihan, seperti salat dengan suara dengan speaker yang sangat keras dan mengganggu, meski dengan alasan syiar Islam, meramaikan masjid, atau alasan lain atas nama agama, hal tersebut bukan ajaran Islam.

Apa itu radikal?

Kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”  yang bermakna akar. Secara bahasa, radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian sistem di masyarakat dengan cara kekerasan atau drastis.

Sebenarnya, keinginan adanya perubahan  masih dianggap wajar dan positif jika disalurkan melalui jalur perubahan yang benar, dan terutama tidak beresiko terjadi pertumpahan darah dan tidak merusk stabilitas politik dan keamanan, namun jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah tentunya hal ini tidak dibenarkan. Dr. Said Ramadlan al-Buthi dalam kitabnya al-Islam Maldzu Kulli al-Mujtama’at al-Insaniyat manyatakan, “Kita perlu bertanya, apakah subtansi Islam sesuai dengan sistem revolusi (mewujudkan perubahan dengan kekerasan)?” Pertanyaan tersebut langsung kami jawab, masyarakat Islami tidak mungkin bisa berdiri kokoh jika mengandalkan kekerasan dan pertumpahan darah, karena masyarakat Islami sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terwujud dengan cara seperti itu.

Sebuah tindakan radikal, sebenarnya bisa terjadi dalam setiap aspek kehidupan, baik agama, politik maupun yang lain, tidak hanya terfokus pada satu agama tertentu, seperti kasus teror pada kaum muslim  di Palestina, Pakistan, Irlandia, Bosnia, Chechnya, Pattani, Khasmir dan Rohingya yang dilakukan oleh ekstrimis Hindu, Buddha, Yahudi dan Katolik. Namun pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001 lalu, radikalisme seperti mengalami penyempitan makna dan hanya digunakan sebuah istilah untuk suatu tindak kekerasan atas nama agama, dan jika lebih kita sempitkan lagi, agama Islam. Dan inilah fokus pembahasan kita.

Radikalisme dalam sikap keagamaan bisa ditandai dengan hal berikut:

  • Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
  • Bersikap revolusioner, cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.
  • Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang konservatif dan tekstual.
  • Kelompok radikal selalu merasa sebagai pihak yang memahami ajaran Tuhan. Karenanya mereka suka menganggap kelompok selain mereka adalah sesat

Benih-benih radikalisme dalam Islam sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama Hijriyyah, benih ini ditunjukkan dengan sikap intoleran dan eksklusif oleh kaum Khawarij. Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Sayyidina Ali Ra. Munculnya gerakan ini berawal dari perang Shiffin yang terjadi antara kelompok Sayyidina Ali Ra dan Mu’awiyyah Ra, ketika perang berlangsung dan kelompok Sayyidina Ali Ra hampir memenangkan peperangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan, dan Sayyidina Ali Ra menerima tawaran tersebut. Kesediaan Sayyidina Ali Ra untuk berunding menyebabkan kurang lebih 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini sangat menolak perundingan yang dilakukan Sayyidina Ali. Bagi mereka permusuhan hanya bisa diselesaikan dengan hukum Tuhan, bukan dengan perundingan, sehingga muncul jargon mereka la hukma illa lillah. Karena kelompok Sayyidina Ali bersedia menyelesaikan persoalan dengan perundingan, maka mereka dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal ini yang menyebabkan Khawarij melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat Islam yang tidak sependapat, bahkan salah satu anggota mereka Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali Ra.

Faktor Munculnya Radikalisme Islam

Banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya ideologi ini, butuh pengkajian lebih serius untuk mengidentifikasinya, karena memang hampir semua penyebabnya  tidak tunggal dan butuh terhadap hal-hal atau kepentingan yang lain untuk menjadi faktor tindakan  radikal.

  1. Faktor Keagamaan

Tidak semua kesalahan dalam memahami agama dapat mengantarkan pada tindakan radikal, tentu kesalahan dalam memahami rukun-rukun sholat dan wudlu’ tidak akan menyebabkan radikalisme, namun dalam beberapa persoalan keagamaan, kesalahan dalam memahaminya akan berakibat fatal. Diantaranya sebagai berikut:

  • Takfir

Sikap serampangan dalam mengkafirkan tentu ujung-ujungnya akan menganggap nyawa dan harta seseorang yang dianggap kafir halal. Beberapa kelompok radikal membenarkan  aksi terornya  karena menganggap bahwa setiap negara yang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak mendukung mereka dalam upaya mendirikan khilafah atau bahkan tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, sehingga layak menjadi sasaran jihad. Tentu sikap seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik Ahlusunnah wal Jama’ah. Imam ahlusunnah wal jama’ah, imam Asy’ari menjelang akhir hayatnya berkata pada murid-murid beliau, “Bersaksilah untukku, bahwa aku tidak mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblat (mereka yang shalatnya menghadap qiblat), sebab mereka semua (pada hakikatnya) menunjuk pada Tuhan yang satu”.

  • Jihad dan Hubungan dengan Non Muslim

Mengartikan jihad hanya sebagai bentuk perang fisik saja memang salah, namun harus kita akui bahwa memang salah satu aplikasi jihad berupa perang fisik melawan non muslim. Akan tetapi inti letak kesalahan dalam memahaminya adalah mengenai manathul hukmi (alasan munculnya hukum) dalam jihad. Dalam sebuah kaidah dinyatakan “wujudnya sebuah hukum tergantung wujudnya illat”. Dalam persoalan ini, hukum wajib berjihad tentu jika wujud illatnya. Banyak kelompok radikal yang mengklaim  bahwa alasan/illat dalam jihad adalah bentuk kekufuran seseorang. Ini tidak sesuai dengan firman Allah swt ‏:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8 

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dari peperangan, serta menolak penganiyaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi yang pertama harus digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum  beriman adalah tidak menyukai perang.  Ini ditegaskan oleh Alquran ketika berbicara tentang kewajiban berperang demi tegaknya keadilan perdamaian. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 165

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiyaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi, maka semua yang tidak terlibat harus dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkunagan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan, ketika penindasan sudah tidak dijumpai. Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ 

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah Swt. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqoroh: 193 

  • Kesadaran Pluralitas

Kesadaran bahwa kita hidup bersama-sama dengan berbagai macam aliran dan agama, juga ikut ambil bagian munculnya agama. Sebab jika tidak menyadari demikian, niscaya akan memaksa orang lain untuk mengikutinya, bahkan dengan cacian dan celaan. Hal inilah yang menjadi akar munculnya radikalisme. Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak ada paksaan dan larangan pada agama lain:

 لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Bagisiapapun yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 256 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” QS. Yunus. 99 

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah Swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. QS. Al-An’am: 108 

Larangan memaki tuhan-tuhan dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama guna memelihara kesucian agama-agama dan guna menciptakan rasa aman, serta hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apapun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki  dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Makian juga dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki. Sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

  1. Faktor Sosial-Politik

Berabad-abad lamanya Islam mengalami masa keemasan, kemajuan teknologi, militer dan kebudayaan serta luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa lalu, kini hanya tinggal sejarah saja. Dimulai sejak abad pertengahan, kebangkitan eropa-amerika mulai terasa, ditandai dengan kebangkitan renaisans, mereka mengembangkan teknologi-teknologi yang memudahkan mereka menuju kehidupan yang lebih maju, hingga akhirnya kekuatan militer luar biasa yang mereka miliki satu-persatu mulai mengekspansi wilayah Islam, sejak runtuhnya khilafah terakhir umat Islam, dinasti Ottoman, hampir semua negara Timur Tengah yang menjadi pusat sentral umat Islam dan negara-negara berpenduduk muslim di Asia dijajah oleh barat. Meski setelah negara -negara berpenduduk Islam sudah mulai merdeka, penjajahan  barat dalam waktu lama menyebabkan kebudayaan dan pemikiran mereka mulai mempengaruhi umat Islam, banyak anak-anak muda umat Islam menimba ilmu dari mereka. Namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat muslim yang masih memperjuangkan kebudayaan mereka dan sangat menolak dengan hal-hal berbau barat. Tidak terima umat Islam dianggap kalah dan tidak ‘sudi’ mengakui superioritas barat, mereka menggunakan segala cara termasuk kekerasan dalam perjuangannya. Mereka menganggap bahwa realitas dunia saat ini adalah realitas konflik. Mulai dari memperjuangkan pendirian khilafah baru, jihad sporadis, dan aksi-aksi radikal lain. Hingga pada puncaknya mereka mengkafirkan saudara seimannya yang tidak sependapat.

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa kebersamaan dan berpedaan adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Mungkin bagi kita, mereka berada di pihak yang salah atau bahkan sesat. Namun, keyakinan kebenaran kita, jangan sampai memicu tindak kekerasan. Cukup sudah sejarah kelam kita jadikan pelajaran. Membangun bangsa dengan persatuan yang kuat, kita jadikan cita-cita bersama. Allah Swt berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imron: 105

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

“Sekiranya Allah Swt menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. QS. Al-Maidah: 48

Sekian. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Muhamammad Hamim HR.

Terorisme Berkedok Jihad

Kemarin, 14 Januari 2016, Jakarta digegerkan dengan serangan bom. Insiden di Jl. MH. Thamrin  yang menewaskan tujuh orang dan menyebabkan belasan korban luka-luka ini, diduga kuat didalangi oleh kelompok radikal, sebuah organisasi Islam garis keras yang mengatas namakan Islam. Sebuah organisasi yang semakin membuat nama Islam terpuruk dimata dunia, dengan aksi-aksi brutal dan tak berperikemanusiaannya.

Dalam serangan yang menurut Ali Fauzi, seorang mantan teroris, gagal total karena pelaku dan intensitas serangan yang tergolong amatiran ini, sudah membuat Indonesia dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura menjadi siaga. Karena kita tentu tidak menginginkan, terulang kembalinya tragedi serupa.

Salah Paham

Banyak yang salah penafsiran tentang makna kata jihad akhir-akhir ini. Banyak pula yang mudah terdoktrin dengan iming-iming meninggal dunia secara “terhormat” sebagai syahid. Padahal konsep jihad bil qital, dengan memakai metode peperangan ala Islam, jauh dari apa yang dapat kita saksikan dari sepak tejang organisasi-organisasi radikal yang mengatas namakan Islam, dengan membuat onar, mengebom beberapa tempat-tempat umum, atau bahkan menculik dan merampas harta warga sipil. Jihad bil qital, belum dapat dipraktikkan di Indonesia. Indonesia masih merupakan dârus salâm, negara yang aman. Dan bukan dârul qitâl, medan perang. Kita tentu ingat, peristiwa pertempuran 10 November, ketika itu, kota Surabaya diserang oleh angkatan perang Inggris, pada saat itulah jihad bil qital baru bisa dipraktikkan di Indonesia. Dimana semua orang yang berada di Surabaya dan sekitarnya, dengan jarak masafah qoshr, jarak orang diperbolehkan meringkas rakaat salat. Waktu itu, warga dalam radius 94 KM diharuskan membela kedaulatan Surabaya.

Jika dalam kaidahnya, inti dari jihad sebenarnya bukan berperangnya. Berperang hanya akan menjadi jalan terakhir. Dulu, dalam melaksanakan ekspedisi penyebaran Islam ke negeri-negeri di sekitar jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW tidak sembarangan dalam menyerang “musuh-musuhnya.” Terlebih dulu ditempuh jalur diplomatis dengan berkirim surat. Diberi tawaran untuk masuk Islam atau membayar pajak. Syaikh Bakri Syatha, dalam kitabnya I’ânah Al-Thâlibîn, mengutip keterangan Syaikh Khâtib Al-Syirbiny, beliau menuliskan, bahwa “Kewajiban berjihad sebenarnya hanya sebatas wajib wasâil, wajib sebagai perantara untuk menempuh maksud dan tujuan tertentu. Bukan wajib maqâshid, intisari. Tujuan utama berjihad sebenarnya adalah sebagai media perantara menyampaikan hidayah.” Agar orang-orang non muslim mau mengenal Islam dengan benar dan akhirnya masuk Islam. “Juga ada beberapa tujuan inti lain, seperti bisa meninggal dunia sebagai syuhada. Adapun membunuh orang-orang kafirnya, itu bukanlah menjadi tujuan utama. Sehingga kalau saja memungkinkan memberikan hidayah dengan menegakkan dalil-dalil agama, maka hal itu akan lebih baik.”(ᵃ) Artinya, dizaman modern seperti ini, sudah “usang” berjihad dengan metode berperang. Untuk lebih maslahatnya, ditempuh dengan pendekatan lain, seperti syiar dan dakwah.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sedikit tentang Kekeliruan Gerakan Islam Radikal

Merujuk pada “cerita masa lalu”, dan khazanah klasik, setidaknya, beberapa gerakan Islam radikal telah mengubah haluan metode jihad konservatif menjadi konvensional. Yang kata sebagian tokoh, adalah “perang tidak teratur”. Serangan tidak lagi menyasar tempat-tempat, atau wilayah  yang dipersepsikan sebagi musuh. Baik aparat negara, instansi-instansi, simbol-simbol, bahkan warga sipil. Padahal, Islam tidak pernah menarget warga sipil dalam ekspedisi militernya dulu. Tentara muslim dalam berjihad hanya akan menyerang pasukan bersenjata dan pasukan-pasukan musuh yang melawan. Untuk kemudian setelah kekuatan militer musuh dapat dikalahkan, Islam tidak lantas membunuh warga sipil non muslim yang tersisa, namun menegakkan perdamaian di daerah yang ditaklukkan. Coba kita tengok, setelah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil meruntuhkan tembok kota Konstantinopel dan mengalahkan pasukan militer Romawi di kota tersebut, beliau tidak lantas menyerang warga sipil non muslim. Bahkan meruntuhkan gereja-gereja merekapun tidak. Mereka dibebaskan untuk memeluk agama mereka, dan umat Islam mampu hidup berdampingan dengan yang non muslim dengan tenang. Nabi Muhammmad SAW sendiri pernah berpesan kepada sahabat Umar RA. yang kala itu belum menjadi khalifah, jika nanti Islam sampai ke Mesir dibawah kekuasaannya, maka biarkan dan jangan ganggu penduduk Kristen Koptik yang tinggal di sana.

Kemudian tindakan yang dilakukan kelompok garis keras, seperti ISIS, bukanlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita bisa melihat dengan jelas, ISIS menghalalkan bunuh diri, yang jelas-jelas dilarang dalam agama. Ada kaidah fikih yang berbunyi,

الضرر يزال

Kemadharatan harus dihilangkan”

Yang juga bermuara dari hadis,

لا ضرر ولا ضرار

Tidak dibenarkan menyakiti diri dan membahayakan orang lain”

Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Jihad, secara langsung menjelaskan tentang keharaman bom bunuh diri. Jangankan bom bunuh diri, tindakan yang lebih ringan sekalipun, seperti melubangi hidung dengan tujuan memasang perhiasan saja dalam fathal mu’in dilarang, karena termasuk perbuatan menyakiti diri yang tak ada gunanya.

Memang, dalam kitab Fatawi Isma’il Zain, status orang non muslim di Indonesia termasuk kafir harbi, karena persyaratan untuk menjadi kafir dzimmah, mu’ahad, apalagi musta’man tidak terpenuhi. Namun meskipun begitu, hukum membunuh orang non muslim di Indonesia tetap saja haram kata beliau.

Bagaimana Pesantren Menyikapi Gerakan Islam Radikal

Tema ISIS dan gerakan Islam radikal pernah menjadi salah satu pembahasan utama dalam FMPP, Forum Musyawarah Pondok Pesantren seJawa dan Madura pada pertengahan April tahun 2015 silam di Ponpes Lirboyo. Menurut kacamata syari’ah, tindakan gerakan Islam radikal, utamanya ISIS, yang melakukan banyak penyimpangan, seperti terlibat dalam serangan bom, penculikan, pembunuhan masal, dan perampasan harta termasuk tindakan kejahatan berat menurut kacamata hukum Islam. Dalam menstatuskan ISIS dan gerakan Islam radikal lain sendiri,  mereka termasuk distatuskan sebagai golongan ahlul baghyi, kelompok makar, dengan “kedok” cita-cita mendirikan hukum Islam. Dan dari tinjauan ideologi, mereka termasuk ke dalam kelompok ahlul bid’ah wa dholal, kelompok bid’ah­ dan sesat. Kemudian dalam menyikapi gerakan semacam ini sendiri, karena perilaku mereka termasuk tindakan munkarât, maka tindakan yang tepat adalah amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan pangkatnya. Yaitu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, tentang perilaku menyimpang mereka, dan membantu upaya pencegahan berkembangnya gerakan mereka di daerah masing-masing.(ᵇ)[]

_______________

(ᵃ) Hasyiyah I’anah Al-Thalibin. Jilid 4. Hal 181. Cet, thoha putra semarang.

(ᵇ) Hasyiyah Al-Jamal jilid 5. Hal. 182-183. Cet. Dârul fikr.