Tag Archives: Terorisme

Urgensi Itba’u Man Salaf dalam Krisis Radikalisme

 

Lagi,topik Islam Nusantara menjadi trending topik di banyak kalangan belakangan ini. Ide Islam Nusantara digadang-gadang menjadi produk yang bisa menjadi potret Islam yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin. Ungkapan tersebut tidak berlebihan, melihat kenyataan bahwa gagasan-gagasan yang termuat dalam ide Islam Nusantara disarikan dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para Wali Songo yang notabene merupakan pembawa ajaran Islam ke Indonesia.

Dan jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata paham Islam Nusantara tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran serta syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kendati demikian, ide Islam Nusantara tetap menuai kontroversi dan hujatan dari beberapa kalangan, utamanya dari kalangan radikal dan liberal yang merasa cukup terusik dengan kehadiran paham moderat semacam ini.

Hal Ini merupakan sesuatu yang sangat wajar. Karena kemunculan paham moderat seperti Islam Nusantara memang merupakan jawaban atas keprihatinan maraknya paham radikal dan liberal yang dikhawatirkan akan merusak ideologi serta citra baik umat Islam.

Dan harus diakui bahwa sejak kemunculan ide Islam Nusantara, kalangan radikal dan liberal semakin getol dan gigih menyebarkan paham-paham mereka, entah itu melalui situs sosial media ataupun melalui kegiatan lapangan yang bertopeng kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lalu, yang jadi pertanyaan, tindakan apa yang harus dilakukan untuk meneguhkan paham Islam Nulantara di saat seperti ini? Karena harus diakui jika tidak ada tindakan nyata untuk meneguhkannya, maka paham moderat semacam Islam Nusantara hanya akan menjadi sebatas wacana hampa yang tidak memiliki kontribusi apapun pada dunia Islam.

Salah satu langkah yang perlu diwacanakan dalam keadaan seperti ini adalah itba ‘uman salaf, yakni pembiasaan untuk melestarikan budaya luhur para ‘Ulama’ terdahulu serta mengikuti kebiasaan mereka, mulai dari tahlilan, yasinan, bahtsul masa ‘il hingga pengajian kitab kuning di pesantren.

Bukan hal aneh jika hal semacam ini perlu diwacanakan, karena diakui atau tidak, sebenarnya Islam Nusantara merupakan produk ijtihad yang dihasilkan dari kebiasaan dan budaya para ‘Ulama’ terdahulu. Sehingga salah satu cara ampuh dan kompatibel untuk meneguhkannya adalah dengan mengikuti budaya mereka.

Dan bagaimana mungkin kita bisa memisahkan Islam Nusantara dari budaya para ‘Ulama’ terdahulu? Dan jika tidak mengikuti ‘Ulama’ terdahulu, lalu siapa yang lebih layak untuk kita ikuti?

Alasan lain yang menjadi dasar kuat dari urgensi itba’u man salaf (mengikuti jejak pendahulu) dalam peneguhan Islam Nusantara adalah fakta bahwa Islam dikenalkan dan diajarkan melalui sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Sahabat pada masa itu diperintah untuk mengikuti perilaku dan cara hidup (sunnah) Rasulullah SAW. bukan diperintah untuk belajar teori, karena pada dasarnya ajaran Islam memang bersifat aplikatif.

Begitupun Rasulullah, dalam mengajarkan Islam beliau lebih mengedepankan uswah hasanah. Hal ini tampak dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Baihaqi serta Imam Ad-Daruquthni, yang artinya “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Jika para sahabat meneguhkan Islam dengan mengikuti Rasulullah SAW.

 

maka tidaklah berlebihan jika cara untuk meneguhkan Islam Nusantara adalah dengan mengikuti serta melestarikan kebiasaan ‘Ulama’ terdahulu. Jika kita berkaca pada sejarah Islam di bangsa kita sendiri, kita akan menemukan hal serupa yang dilakukan oleh Wali Songo. Para Wali Songo mengenalkan dan menyebarkan Islam di Indonesia dengan sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Dan dengan cara seperti ini, jika kita jujur secara sejarah, Islam telah sukses dibumikan di Indonesia. Sehingga jika Islam telah sukses dikenalkan dengan cara seperti ini, maka sangat layak cara ini digunakan untuk meneguhkannya kembali.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Al-Mahally “Jika mampu untuk memulai maka lebih mampu untuk mengulangi ” Selain itu, langkah-langkah dzohiriyah semacam ini merupakan hal praktis yang bisa diterima semua kalangan, bahkan kalangan awam.

Melalui kegiatan lahiriyyah ini pula kita bisa menggiring umat Islam secara perlahan untuk mengenali Islam Nusantara lebih dalam. Sebab jika ditekankan pada aspek teoritis, dan mengesampingkan aspek praktis, belum tentu hal tersebut bisa langsung siap diterima semua kalangan.

Sehingga hanya akan menjadi hal prematur, Apalagi dengan tindakan yang perlahan semacam ini, meski butuh waktu yang cukup lama untuk terlihat hasilnya, respon penolakan bisa lebih diminimalisir dan jauh lebih mudah diterima oleh khalayak umum.

Dan sudah menjadi hal yang maklum, sesuatu yang ditancapkan sedikit demi sedikit akan lebih sulit untuk dicabut. Konklusinya, itba ‘u man salaf merupakan jawaban sekaligus solusi yang kompatibel untuk mengatasi krisis radikalisme yang mengancam Islam Nusantara.

 

 

 

Ditulis Oleh: Muhammad Fajrul Falah FA.

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

LirboyoNet, Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1439 H, bangsa Indonesia dikejutkan dengan aksi narapidana terorisme di Mako Brimob. Serta yang terbaru, ledakan bom di tiga gererja di Surabaya, Jawa Timur, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tanpa Cela, GKI, dan Gereja Pantekosta, pada Ahad (13/5) pagi.

Menyikapi hal tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan mengecam dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan terorisme. Terlebih mengatasnamakan agama.

“Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya,” seperti dikutip dari rilis resmi PBNU, Ahad (13/5). PBNU juga mendukung langkah aparat keamanan dalam mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Berikut pernyataan resmi PBNU:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

2. Menyampaikan rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

6.Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.][

 

Sumber: NU Online

Konsep Mashlahat, Penangkal Jitu Radikalisme

Radikalisme semakin menjadi bahaya laten, seolah semakin sulit dijinakkan karena membawa-bawa nama islam itu sendiri. Radikalisme ibarat berbaur ditengah pemahaman yang kompleks bahwa dulupun katanya “islam juga menyebar dengan pedang”.  Dengan argumen yang tidak dipahami secara kontekstual ini, citra islam semakin tepuruk sebagai agama yang identik dengan kekerasan dimata pemeluk agama lain. Mengembalikan citra islam harus dimulai dari masyarakatnya, dimulai dari individu terkecil, kita sendiri. Kita membentuk pemahaman bahwa islam cinta kedamaian, lalu memperkuat pemahaman tersebut, dan akhirnya menyebarkannya.

Untuk mengurai “konsep baru” tatanan jihad modern yang diusung kelompok radikal, harus kita tinjau baik-baik, bahwa dalam konteks jihad ala mereka sekarang, yang identik dengan proyeksi mendirikan khilafah dan memaksakan diri “kembali ke sejarah” dengan membawa kembali konsep-konsep lama yang sebenarnya jika diterapkan sekarang justru membawa mafsadah, kerusakan dalam bahkan sampai pada skala nasional, seperti memaksakan hudud, hukuman tradisional islam, yang parahnya justru ditangani sendiri, bukan dipasrahkan kepada pemerintahan yang sah. Atau memaksakan “adanya kembali perbudakan” kepada pemeluk agama selain islam.

Sebenarnya hal ihwal tentang “diangkatnya” syari’at islam dari muka bumi sudah jauh diprediksi oleh Nabi Muhammad SAW semasa sugeng beliau, beliau pernah bersabda:

تشبثت بالتي تليها و أول نقضها الحكم و أخرها الصلاة

Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah salat.” (HR. Al-Hakim)

Satu persatu hukum syari’at yang dulu ada pada zaman nabi akan tidak ditemukan dan diamalkan lagi dikurun-kurun setelahnya. Perlahan-lahan, hingga yang terakhir ditemukan masih diamalkan  adalah salat. Menyikapi hal ini, KH. Maimun zubair menegaskan, “Hukum-hukum qur’any dan syari’at yang sudah tak mampu lagi kita amalkan tidak seyogyanya untuk diubah oleh kita sendiri, apalagi dengan mengaku-ngaku berijtihad dan beristinbaht. Kewajiban kita, hanyalah tetap mengamalkannya semampu kita untuk kita sendiri, keluarga kita, pembantu, dan orang-orang yang berada dibawah kekuasaan kta.[1] Beliau lalu mengutip penggalan surat Al-Baqoroh ayat 286, Allah SWT tidak mungkin membebankan kepada kita apa yang tidak mampu kita lakukan.

Lebih khusus, tema permasalahn jihad seperti yang mereka usung, terkesan terlalu memaksakan untuk dipraktikan sekarang. Meskipun tingkat prioritasnya fardhu kifayah, namun kita juga sebenarnya bisa memaknainya bukan dari sudut pandang tekstual, namun sudut pandang kontekstualnya. Mengartikan bahwa jihad adalah dengan dakwah lisan merupakan salah satu contohnya. Jika terlalu memaksakan diri dengan tindakan ceroboh yang bersifat merusak dan mengganggu stabilitas kemananan, justru hanya akan timbul bahaya lain yang lebih besar dari arah yang berbeda. Sangat bertentangan dengan konsep kaidah fiqh Dar’ul mafasid muqodddam ‘ala jalbil mashôlih, upaya menolak kemafsadahan lebih diutamakan daripada tindakan yang menuai kemaslahatan. Masih dalam satu pembahasan, kata KH. Maimun Zubair, “Mengupayakan jihad, hal ini termasuk salah satu hukum fardu-fardhu kifayah dalam agama islam. Dan kita yakini keberadaannya hingga hari kiamat. Akan tetapi, karena sulit dan tidak memungkinkannya untuk dilakukan di zaman seperti sekarang, hilanglah esensi hukum fardhu kifayahnya. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi, imam ataupun amir yang mengomandani tentaranya untuk berjihad fî sabîlillâh dan menjadi barisan tentara kaum muslimin.[2]

Konsep Mashlahat, menangkal radikalisme

Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme. Maqoshid al-syar’iyyah sangat menakar konsep maslahat yang jauh dari konsep yang ekstrem. Dari tema-tema dan pembahasan yang ada, konsep maslahat sangat lentur dan bisa beradaptasi dengan situasi. Sehingga memungkinkaan untuk diputuskan hal terbaik. Bukan hanya sekedar memaksakan diri dengan tendensi, yang dipahami secara terbatas dan literal. Kalau kita melihat contoh-contoh parsialnya, dalam kasus furu’iyyah fiqh akan kita temukan betapa islam memperhatikan betul kemaslahatan hambanya. Sesuai tujuan syari’at yang membawa tatanan sosial maju, beradab, dan bermartabat. Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abd Al-Salâm[3], seorang tokoh kenamaan islam yang bergelar Sulthânul ‘Ulamâ dari Mesir menulis dalam kitabnya, “Segala apa yang ada dalam syari’at adalah mashlahat, adakalanya menolak kemafsadahan, adakalanya mendatangkan kemaslahatan  ketika engkau mendengar Allah berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman’ maka renungkanlah baik-baik wasiat-Nya setelah panggilan yang diserukan-Nya. Maka taka akan kau temukan selain kebajikan yang -Ia dorong untuk kau lakukan, atau keburukan yang -Ia larang untuk kau lakukan atau kedua-duanya.[4]

Beliau memiliki sebuah kitab tentang konsep dan kajian mashlahat. Sebuah diskursus falsafi tentang maqoshid syar’iyyah. Dalam kajiannya beliau membuat gebrakan untuk tidak memakai kaidah fiqh yang banyak dalam upaya mengakomodir fiqh, seperti kajian-kajian para pendahulu beliau. namun cukup dengan sebuah patron, i’tibarul mashalih wa dar’ul mafasid, mempertimbangkan kemaslahatan dan menolak kemafsadahan. Dengan satu kaidah ini, dianggap sudah cukup untuk mengakomodir maqoshidus syari’ah yang bercita-cita untuk menggapai kesejahteraan umat manusia (masholihil anam).

Ringkasnya, segala apa yang diperintahkan -Nya dan rasul-Nya tidak begitu saja berhenti pada ajakan untuk menaati tuntunan dan menjauhi larangan. Tentu saja akan ada maksud tersembunyi  dalam beberapa hal. Sekedar menyebut beberapa contoh, diwajibkannya melaksanakan zakat bagi umat islam memiliki maksud tersendiri untuk pengentasan kemiskinan. Lalu, agar saat merayakan hari raya  semua umat muslim dapat sama-sama memiliki “suguhan”. Maka dari itu, zakat diharuskan memakai -dalam istilah fiqhnya –qȗtul balad, makanan pokok didaerah masing-masing. Bukannya setiap orang harus mengeluarkan kurma untuk zakat. Lalu dilarangnya berzina untuk memurnikan garis keturunan, dan dilarangya menikahi kerabat dekat supaya terhindar dari memiliki keturunan yang terbelakang mental.

Mencontoh kisah lama sahabat besar Umar bin Khattab RA yang pernah tidak memberlakukan hukuman potong tangan bagi para pencuri di masa-masa krisis, kita tentu sedikit dapat lebih mengerti jikalau maslahat juga akan dipertimbangakan dalam urusan agama. Sebab islam tidak selalu hanya berisi aturan-aturan tegas yang mengikat. Sewaktu nabi Muhammad SAW tengah dalam perjalanan, pernah beliau menganjurkan para sahabatnya tidak berpuasa. Dianjurkannya berbuka, bahkan belau sendiri yang memberikan contoh.

Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk mendirikan kemaslahatan-kemaslahatan yang beragam. Akan tetapi sebagian diantaranya dikecualikan untuk tidak diperintahkan karena beberapa hal. Ada kalanya karena masyaqoh, keberatan dalam menjalankannya, atau terjadi mafsadah ketika menjalankannya. Allah juga melarang mafsadah-mafsadah yang beragam. Dan sebagian dikecualikan entah karena masyaqoh atau ada suatu maslahat tersendiri.[5]

Sejenak merenung, islam jangan pernah dipahami secara sekilas. Karena ia memiliki makna dalam yang jauh untuk diungkapkan dengan kata-kata. Perlahan-lahan, kita akan tahu cara yang terbaik untuk bertindak dan bersikap menghadapi zaman yang kian berkembang dengan pemahaman utuh tentang islam.[]

[1] Ulama Al-Mujaddidun Hal. 14.

[2] Ibid. Hal. 12

[3] Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam, memiliki nama lengkap Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdissalam (w. 660 H). Ulama dari Mesir yang bermadzhab syafi’iyyah dan mumpuni dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti tafsir, fiqh, ushul fiqh, dan gramatika arab. Beliau dikenal sebagai sulthanul ‘ulama bin nash rasulillah. Saking luasnya ilmu penguasaan ilmu beliau, Jamaluddin ibn Hajib sampai mengatakan kalau ilmunya mengungguli Imam Al-Ghazali.

[4] Qowa’idul Ahkam fi Masholihil Anam Hal. 11

[5] Ibid. Hal. 7

Terorisme Berkedok Jihad

Kemarin, 14 Januari 2016, Jakarta digegerkan dengan serangan bom. Insiden di Jl. MH. Thamrin  yang menewaskan tujuh orang dan menyebabkan belasan korban luka-luka ini, diduga kuat didalangi oleh kelompok radikal, sebuah organisasi Islam garis keras yang mengatas namakan Islam. Sebuah organisasi yang semakin membuat nama Islam terpuruk dimata dunia, dengan aksi-aksi brutal dan tak berperikemanusiaannya.

Dalam serangan yang menurut Ali Fauzi, seorang mantan teroris, gagal total karena pelaku dan intensitas serangan yang tergolong amatiran ini, sudah membuat Indonesia dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura menjadi siaga. Karena kita tentu tidak menginginkan, terulang kembalinya tragedi serupa.

Salah Paham

Banyak yang salah penafsiran tentang makna kata jihad akhir-akhir ini. Banyak pula yang mudah terdoktrin dengan iming-iming meninggal dunia secara “terhormat” sebagai syahid. Padahal konsep jihad bil qital, dengan memakai metode peperangan ala Islam, jauh dari apa yang dapat kita saksikan dari sepak tejang organisasi-organisasi radikal yang mengatas namakan Islam, dengan membuat onar, mengebom beberapa tempat-tempat umum, atau bahkan menculik dan merampas harta warga sipil. Jihad bil qital, belum dapat dipraktikkan di Indonesia. Indonesia masih merupakan dârus salâm, negara yang aman. Dan bukan dârul qitâl, medan perang. Kita tentu ingat, peristiwa pertempuran 10 November, ketika itu, kota Surabaya diserang oleh angkatan perang Inggris, pada saat itulah jihad bil qital baru bisa dipraktikkan di Indonesia. Dimana semua orang yang berada di Surabaya dan sekitarnya, dengan jarak masafah qoshr, jarak orang diperbolehkan meringkas rakaat salat. Waktu itu, warga dalam radius 94 KM diharuskan membela kedaulatan Surabaya.

Jika dalam kaidahnya, inti dari jihad sebenarnya bukan berperangnya. Berperang hanya akan menjadi jalan terakhir. Dulu, dalam melaksanakan ekspedisi penyebaran Islam ke negeri-negeri di sekitar jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW tidak sembarangan dalam menyerang “musuh-musuhnya.” Terlebih dulu ditempuh jalur diplomatis dengan berkirim surat. Diberi tawaran untuk masuk Islam atau membayar pajak. Syaikh Bakri Syatha, dalam kitabnya I’ânah Al-Thâlibîn, mengutip keterangan Syaikh Khâtib Al-Syirbiny, beliau menuliskan, bahwa “Kewajiban berjihad sebenarnya hanya sebatas wajib wasâil, wajib sebagai perantara untuk menempuh maksud dan tujuan tertentu. Bukan wajib maqâshid, intisari. Tujuan utama berjihad sebenarnya adalah sebagai media perantara menyampaikan hidayah.” Agar orang-orang non muslim mau mengenal Islam dengan benar dan akhirnya masuk Islam. “Juga ada beberapa tujuan inti lain, seperti bisa meninggal dunia sebagai syuhada. Adapun membunuh orang-orang kafirnya, itu bukanlah menjadi tujuan utama. Sehingga kalau saja memungkinkan memberikan hidayah dengan menegakkan dalil-dalil agama, maka hal itu akan lebih baik.”(ᵃ) Artinya, dizaman modern seperti ini, sudah “usang” berjihad dengan metode berperang. Untuk lebih maslahatnya, ditempuh dengan pendekatan lain, seperti syiar dan dakwah.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sedikit tentang Kekeliruan Gerakan Islam Radikal

Merujuk pada “cerita masa lalu”, dan khazanah klasik, setidaknya, beberapa gerakan Islam radikal telah mengubah haluan metode jihad konservatif menjadi konvensional. Yang kata sebagian tokoh, adalah “perang tidak teratur”. Serangan tidak lagi menyasar tempat-tempat, atau wilayah  yang dipersepsikan sebagi musuh. Baik aparat negara, instansi-instansi, simbol-simbol, bahkan warga sipil. Padahal, Islam tidak pernah menarget warga sipil dalam ekspedisi militernya dulu. Tentara muslim dalam berjihad hanya akan menyerang pasukan bersenjata dan pasukan-pasukan musuh yang melawan. Untuk kemudian setelah kekuatan militer musuh dapat dikalahkan, Islam tidak lantas membunuh warga sipil non muslim yang tersisa, namun menegakkan perdamaian di daerah yang ditaklukkan. Coba kita tengok, setelah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil meruntuhkan tembok kota Konstantinopel dan mengalahkan pasukan militer Romawi di kota tersebut, beliau tidak lantas menyerang warga sipil non muslim. Bahkan meruntuhkan gereja-gereja merekapun tidak. Mereka dibebaskan untuk memeluk agama mereka, dan umat Islam mampu hidup berdampingan dengan yang non muslim dengan tenang. Nabi Muhammmad SAW sendiri pernah berpesan kepada sahabat Umar RA. yang kala itu belum menjadi khalifah, jika nanti Islam sampai ke Mesir dibawah kekuasaannya, maka biarkan dan jangan ganggu penduduk Kristen Koptik yang tinggal di sana.

Kemudian tindakan yang dilakukan kelompok garis keras, seperti ISIS, bukanlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita bisa melihat dengan jelas, ISIS menghalalkan bunuh diri, yang jelas-jelas dilarang dalam agama. Ada kaidah fikih yang berbunyi,

الضرر يزال

Kemadharatan harus dihilangkan”

Yang juga bermuara dari hadis,

لا ضرر ولا ضرار

Tidak dibenarkan menyakiti diri dan membahayakan orang lain”

Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Jihad, secara langsung menjelaskan tentang keharaman bom bunuh diri. Jangankan bom bunuh diri, tindakan yang lebih ringan sekalipun, seperti melubangi hidung dengan tujuan memasang perhiasan saja dalam fathal mu’in dilarang, karena termasuk perbuatan menyakiti diri yang tak ada gunanya.

Memang, dalam kitab Fatawi Isma’il Zain, status orang non muslim di Indonesia termasuk kafir harbi, karena persyaratan untuk menjadi kafir dzimmah, mu’ahad, apalagi musta’man tidak terpenuhi. Namun meskipun begitu, hukum membunuh orang non muslim di Indonesia tetap saja haram kata beliau.

Bagaimana Pesantren Menyikapi Gerakan Islam Radikal

Tema ISIS dan gerakan Islam radikal pernah menjadi salah satu pembahasan utama dalam FMPP, Forum Musyawarah Pondok Pesantren seJawa dan Madura pada pertengahan April tahun 2015 silam di Ponpes Lirboyo. Menurut kacamata syari’ah, tindakan gerakan Islam radikal, utamanya ISIS, yang melakukan banyak penyimpangan, seperti terlibat dalam serangan bom, penculikan, pembunuhan masal, dan perampasan harta termasuk tindakan kejahatan berat menurut kacamata hukum Islam. Dalam menstatuskan ISIS dan gerakan Islam radikal lain sendiri,  mereka termasuk distatuskan sebagai golongan ahlul baghyi, kelompok makar, dengan “kedok” cita-cita mendirikan hukum Islam. Dan dari tinjauan ideologi, mereka termasuk ke dalam kelompok ahlul bid’ah wa dholal, kelompok bid’ah­ dan sesat. Kemudian dalam menyikapi gerakan semacam ini sendiri, karena perilaku mereka termasuk tindakan munkarât, maka tindakan yang tepat adalah amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan pangkatnya. Yaitu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, tentang perilaku menyimpang mereka, dan membantu upaya pencegahan berkembangnya gerakan mereka di daerah masing-masing.(ᵇ)[]

_______________

(ᵃ) Hasyiyah I’anah Al-Thalibin. Jilid 4. Hal 181. Cet, thoha putra semarang.

(ᵇ) Hasyiyah Al-Jamal jilid 5. Hal. 182-183. Cet. Dârul fikr.