Tag Archives: tirakat

Kiai yang Tak Pernah Tidur

Saat masih kecil, almaghfurlah KH. Abdul Aziz Manshur, cucu dari almaghfurlah KH. Abdul Karim, heran dengan kehidupan simbahnya yang tidak biasa. Pasalnya, yai Aziz kecil tidak pernah melihat simbahnya istirahat dari aktivitas ibadah.

Sejak subuh, KH. Abdul Karim terus saja disibukkan dengan mengaji, entah sendiri ataupun di depan santri. Aktivitas bahkan terus berlangsung hingga tengah malam. Padahal, waktu itu desa Lirboyo belumlah teraliri listrik. Penerangan hanya mengandalkan lampu teplok (lentera).

Sesudah itu, beliau tidak langsung kembali ke kamar. Beliau terlebih dahulu shalat malam, hingga hampir subuh.
Di satu kesempatan, yai Aziz kecil memberanikan diri bertanya kepada ibundanya, almaghfurlah Ibu Nyai Hj. Salamah, “Mak, simbah kok ora tau turu to mak? (Bu, simbah kok tidak pernah tidur?)”

Le, simbahmu iku ora wani-wani turu nek durung ndungakno santri-santrine. (Nak, simbah itu tidak berani tidur sebelum mendoakan santri-santrinya.)”

Karenanya, patutlah kita bersyukur, kiai kita berjuang begitu keras demi keberhasilan para santrinya. Sangat beruntung kita dapat nyantri di sini, sehingga mendapat berkah doa dan tirakat beliau yang maha susah itu.

Teruntuk KH. Abdul Karim, putra-putri dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, al-Fatihah.

Kisah Dua Karung Beras Ditukar Daun Mengkudu

“Tirakate Mbah Abdul Karim luar biasa. Kulo, kiai Kafabih (KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus) niku mboten wonten nopo-nopone. Mboten saget tirakat kados Mbah Abdul Karim,” kenang KH. M. Anwar Manshur dalam peringatan Haul KH. Abdul Karim, Kamis (15/06).

Salah satu yang beliau kisahkan, adalah bagaimana simbah Abdul Karim menyambung hidup semasa mesantren di Bangkalan. Setelah nderep (mengumpulkan beras) dari berbagai tempat, beliau berhasil mengumpulkan dua karung beras. Beliau sudah ditunggu temannya di satu tempat sebelum berangkat ke pesantren.

Kebetulan, ketika beliau sampai di pesantren, Kiai Kholil keluar rumah dan melihat seorang santrinya membawa karung penuh beras. “Peneran, iki pitikku luwe.” Beras dua karung hasil upaya keras beliau ditebar seketika itu. Entah, tebaran beras itu ludes bersih dalam beberapa saat saja. “Iku berasmu tak ijoli godong bentis (mengkudu),” perintah Kiai Kholil. Simbah Abdul Karim hanya diam. Di hari-hari kemudian perut beliau hanya berisikan daun mengkudu. “Mboten kados santri-santri sakniki. Mangane enak-enak,” sambung Kiai Anwar.

Di sela-sela kisah ini, beliau berpesan kepada hadirin, “Masio gak 50 persen, sepuluh-sepuluh persen ibadahe Mbah Abdul Karim ayo dicontoh. Dilakoni. (Meski tidak bisa 50 persen, paling tidak sepuluh persen ibadah Mbah Abdul Karim mari kita contoh, kita lakukan).”

Untuk simbah KH. Abdul Karim, Al-Fatihah.