Tag Archives: Toleran

Implementasi Metode Pemikiran Aswaja

Sejarah kehidupan yang telah dibangun oleh manusia telah menghasilkan peradaban, kebudayaan, dan tradisi. Tiga hal tersebut merupakan perwujudan karya dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kehidupan yang dihadapinya dalam lingkup wilayah tertentu. Suatu bangsa yang membangun kebudayaan serta peradaban akan selalu cocok dan sesuai dengan nilai-nilai tradisi serta prinsip sosial yang dianut. Semuanya akan terus mengalami perubahan, baik kemajuan atau kemunduran, yang mana perubahan tersebut secara dominan ditentukan atas dasar relevansinya dengan kehidupan masyarakat setempat.

Peradaban Islam merupakan peradaban dunia yang dibangun atas dasar nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Sejarah mencatat, bahwa dengan modal itu pula peradaban Islam mampu mengalahkan dua kekuatan besar yang dibangun atas dasar kekuatan materi, yakni Persia dan Romawi. Oleh sebab itu, warisan peradaban Islam yang yang berupa nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tersebut secara konsisten dapat diamalkan dan dikembangkan oleh generasi-generasi berikutnya.

Salah satu faktor penentu perkembangan peradaban Islam adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disebut Aswaja, pada mulanya merupakan ajaran yang masih memegang teguh prinsip kemurnian syariat sejak zaman Nabi dan berlanjut ke masa-masa selanjutnya. Fokus utama dalam keaswajaan sering cenderung terhadap masalah akidah dan fikih. Sehingga pemahaman atas Aswaja saat itu masih sempit. Namun perkembangan zaman yang semakin maju telah menyeret paham keaswajaan bukan hanya menjadi sebuah paham doktrinal bagi para penganutnya, akan tetapi sudah berkembang menjadi sebuah pandangan hidup yang dikenal dengan istilah Manhaj Al-Fikr. Dengan begitu, kontribusi keaswajaan semakin merata dalam menjiwai dan mewarnai semua aspek kehidupan.

Metode pemikiran (Manhaj Al-Fikr) Aswaja adalah sebuah metode dan prinsip berfikir dalam mengahadapi berbagai permasalahan keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan. Secara garis besar, hal tersebut terbagi dalam 4 prinsip:

Moderat (Tawassuth)

Tawassuth merupakan sebuah sikap tengah atau moderat.  Sikap moderat tersebut berdasarkan firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah: 143). Dalam Tafsir Al-Qurthubi, redaksi Wasathon dalam ayat tersebut diartikan dengan sifat adil atau sifat tengah. Penafsiran seperti ini berdasarkan penjelasan langsung dari Rasulullah SAW sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thurmudzi.[1]

Dalam konteks pemikiran dan amaliyah keagamaan, prinsip moderat yang diusung oleh Aswaja sebagai upaya untuk menghindar dari sikap ekstrem kanan yang berpotensi melahirkan paham fundamentalisme atau radikalisme, dan menghindari  sikap kebebasan golongan kiri yang berpotensi melahirkan liberalisme dalam ajaran agama. Dan dalam konteks berbangsa dan bernegara, pemikiran dan sikap moderat seperti ini sangat urgen dalam menjadikan semangat untuk mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan serta jalan keluar untuk meredamnya.

Berimbang (Tawazun)

Tawazun merupakan sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan serta mensinergikan pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah kebijakan dan keputusan. Sikap seperti ini berdasakan firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25).

Kalau diaktualisasikan dalam ranah kehidupan, dengan prinsip tersebut Aswaja memandang realitas kehidupan secara substantif. Sehingga menjadikan Aswaja tidak mau terjebak dalam klaim kebenaran dalam dirinya ataupun memaksakan pendapatnya kepada orang lain yang mana hal tersebut merupakan tindakan otoriter dan pada gilirannya akan mengakibatkan perpecahan, pertentangan, maupun konflik.

Netral (Ta’adul)

Ta’adul merupakan sikap adil atau netral dalam melihat, menimbang, menyikapi dan meyelesaikan segala permasalahan. Dengan artian, sikap ini adalah bentuk upaya yang proporsional yang patut dilakukana berdasarkan asas hak dan kewajiban masing-masing. Sesuai firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8).

Kalaupun keadilan menuntut adanya kesamaan dan kesetaraan, hal tersebut hanya berlaku ketika realita individu benar-benar sama secara persis dalam segala sifatnya. Namun, apabila dalam realitanya terjadi keunggulan (tafadhul), maka keadilan menuntut perbedaan dan pengutamaan (tafdhil). Bahkan penyetaraan antara dua hal yang jelas terjadi tafadhul adalah tindakan aniaya yang bertentangan dengan prinsip keadilan itu sendiri.

Toleran (Tasamuh)

Tasamuh merupakan sikap toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan keanekaragaman dan perbedaan, baik perbedaan dalam segi pemikiran, keyakinan, suku, bangsa, agama, tradisi, budaya dan lain sebagainya. Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Dalam Alquran disebutkan:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Namun soal akidah dan ibadah dalam Islam tidak ada toleransi. Dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang di luar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang berasal dari luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Jika dicermati secara intensif, doktrin-doktrin Aswaja sebagai paham dengan metodenya yang komprehensif baik dalam bidang akidah (Iman), syariat (Islam), dan akhlak (Ihsan), dapat diambil sebuah kesimpulan berupa metodologi pemikiran (Manhaj Al-Fikr) yang moderat (tawassuth), berimbang (tawazun), netral (ta’adul), dan toleran (tasamuh). Sehingga pemahaman Aswaja hanya terbatas dalam kajian akidah dan fikih sudah bisa ditepis. Dengan beberapa prinsip itu pula Aswaja sangat mudah diterima dan diterapkan di dalam masyarakat serta ikut berperan dalam memajukan kehidupan yang penuh perdamaian dalam wahana kebangsaan dan kenegaraan bersama tradisi, peradaban, dan kebudayaan lain. []waAllahu A’lam.

 

[1] Tafsir Al-Qurthubi, juz 2 hal 153.

Instruksi Menggelar Istighotsah

LirboyoNet, Kediri –  Tertanggal 4 Februari kemarin, Pengurus Pusat HIMASAL mengeluarkan surat instruksi kepada seluruh HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) Wilayah dan Cabang. Surat itu berisi instruksi untuk menggelar istighotsah demi keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam surat yang ditandatangi KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus (Ketua Umum Pengurus Pusat HIMASAL), H. Atho’illah S. Anwar (Sekretaris Umum Pengurus Pusat HIMASAL), dan KH. M. Anwar Manshur (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo) juga melampirkan naskah istighotsah (Naskah bisa istighotsah bisa dilihat disini).

Mari terus berdoa, semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini ke depan semakin lebih baik lagi dalam segala bidang. Amin…

Jangan Pertajam Perbedaan Fiqh

Fiqh adalah kebutuhan. Dinamikanya berubah dan fleksibel. Hukum negara jelas kontras dengan gagasan tentang kearifan hukum fiqh. Dimana norma dalam sebuah negara paten dan mapan. Punya konstruksi yang bertendensikan musyawarah mufakat “para petinggi”. Namun fiqh berfungsi juga untuk “menjawab”. Mengadapi budaya apapun, tentu fiqh tetap siap.

Fiqh adalah mahallul ijtihad, objeknya. Dimana dari teori ushul fiqh yang dikuasai mujtahid, yuris, akan menelorkan “fatwa” dan pemecahan masalah. “Fiqh tidak sakral” setidaknya begitu substansi tulisan KH. MA. Sahal Mahfudz suatu ketika. fiqh punya banyak sekali perbedaan. Bahkan satu permasalahn saja, bisa memiliki tinjauan hukum yang berbeda-beda. Tergantung bagaimana dan siapa yang menjawabnya. Bisa wajib, atau bahkan hanya sebatas sunnah, tergantung bagaimana Yuris memahmi tendensinya.

Fiqh sebagian besar dikembangkan oleh para fuqaha’, pakar-pakar hukum islam. Fiqh adalah upaya untuk memahami dalil, mengasilkan suatu kesimpulan yang tidak bisa digugat dengan hasil kesimpulan yang lain. Bermuara pada kaidah, al-ijtihad la yunqadhu bil ijtihad, suatu hasil ijtihad tidak bisa digugat dengan hasil ijtihad yang lain dalam kasus permasalahan yang sama, khazanah fiqh semakin kaya. Aturan yang “mufakat” mendorong para Yuris untuk produktif dalam menghasilkan rumusan dan fatwa, haram hukumnya bagi mujtahid mutlak untuk bertaqlid. Tentu, masyarakat awam sendiri yang merasakan, dampak produktifitas hukum ini, bisa memilah, mengikuti pendapat siapa. Dan nantinya bisa disesuaikan dengan kondisi kultur sosio budaya masyarakat. Ini adalah salah satu bentuk nyata dari hadis ikhtilafu ummati rahmah. Karena rumusan fiqh bukanlah hal yang sakral. Semuanya adalah dhanny, spekulatif. Satu rumusan tidak lebih kuat dari rumusan yang lain, sehingga empat mazdhab dalam islam tak ada yang saling menyalahkan (1). Namun saling melengkapi kekayaan khazanah islam.

Pluralisme Hukum Islam VS Fanatisme Hukum Islam

Ada perdebatan klasik tentang teori hukum islam yang pluralis, meski pendapat yang akurat adalah kullu mujtahid mushib, semua yuris islam benar dalam rumusan hukumnya, namun ada segelintir kalangan yang meskipun mengakui eksistensi dan kebenaran pendapat madzhab lain yang bersebrangan dengan yang dia anut, namun terlalu berlebihan dalam “membela” madzhabnya. Dia enggan untuk berpaling meninggalkan madzhab imamnya apapun kondisinya. Ia enggan, meski mengakui, untuk memakai pendapat madzhab lain. Imam Al-Sya’rani adalah salah satu contoh ulama yang benar-benar moderat dan menjalankan pluralisme dalam hukum islam. Terbukti dalam kitab agung karagan beliau, mizanul kubra, Imam Al-Sya’rani yang ahli dalam masalah perbandingan madzhab ini mencantumkan “seluruh” qoul mujtahid yang diijma’i, lalu yang diperselisihkan. Bahkan tak jarang beliau menampilkan pendapat-pendapat yang tidak jamak beredar di masyarakat kita sekarang. Beliau mampu menyingkap rahasia fiqh dengan menakjubkan. Menurut beliau, hukum islam dalam satu permasalahan, yang tentunya tidak termasuk ijma’, konsensus, pasti memiliki ikhtilaf. Dan ada qoul yang berat untuk diamalkan, ada juga qoul yang ringan untuk diamalkan. Lalu dengan sikap moderat beliau, beliau selalu mempersilahkan untuk kita mertimbangkan dulu, dari qoul-qoul itu, mana yang pantas untuk kita fatwakan kepada kita sendiri, atau kepada orang lain. Sesuai kemampuannya tentunya. Jika termasuk “ahlulazimah”, orang yang kuat, untuk memakai qoul yang berat, jika “ahlul rukhsoh”, orang yang lemah, silahkan memakai qoul yang ringan. Dengan bahasa khas beliau di akhir keterangan, faraja’a al-amr ilâ martabatail mizan,selanjutnya permasalahan yang ada sesuai dua timbangan, berat atau ringan.

Salah satu pengakuan ulama pendahulu, para tokoh-tokoh senior di tubuh jam’iyyah nahdhatul ulama atas adanya pluralisme dalam bermazdhab adalah dengan menyusun AD/ART untuk mengikuti salah satu dari madzhab empat yang mu’tabar. Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, ataukah Hanabilah. Seluruh warga nahdhiyyin tidak diikat untuk harus mengikuti satu madzhab tertentu, syafi’iyyah misalkan. Namun sejarah mencatat, seakan-akan ada norma yang menutut orang di Indonesia harus bermadzhab Syafi’iyyah. Entah salah satunya karena kultur budaya yang terlanjur “bersatu” dengan madzhab Imam Syafi’i, sehingga mazdhab lain menjadi kurang familiar.

Kita tentu tahu, guru-guru “orang pesantren” sejak lama hanya mengajarkan mazdhab Imam Syafi’i, meyebar luaskannya kepada masyarakat. Syaikh Arsyad Banjar mislanya, setelah jerih payah beliau mengajar, konon seluruh rakyat Kalimantan akhirnya mengikuti pendapat imam Syafi’i. Sudah sejak abad tujuh belas, sepulang para tokoh besar seperti Syaikh Nuruddin ar-Raniri, atau Syaikh Yusuf Al-Makassari mengaji dari Mekah, beliau-beliau menyebarkan Fiqhnya Imam Syafi’i yang dipelajari selama di Mekah. Diteruskan oleh generasi berikutnya seperti Syaikhuna Kholil Bangkalan, atau Syaikh Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyyah. Fiqh Syafi’iyyah yang tidak terlalu memberatkan dan tidak terlalu keras cenderung mudah diterima masyarakat Indonesia pada umumnya.

Ketika Terpecah Belah Karena Fiqh

Berkembangnya fiqh Imam Syafi’i dengan alami ”dipahami” masyarakat indonesia bahwa fiqh dalam islam adalah fiqh Imam Syafi’i. Dan dengan alami pula, “dipahami” bahwa selain fiqh Imam Syafi’i berarti tidak. Sikap fanatisme ini riskan di masyarakat Indonesia yang begitu menyanjung bahasa “keramat” dan kebiasaan untuk menghormati budaya leluhur menimbulkan perpecahan “hanya” gara-gara masalah furu’iyyah. Padahal masalah furu’iyyah adalah hal yang wajar terjadi khilafiyyah. Khiliafiyyah dalam masalah furu’ seharusnya membawa rahmat, bukan sebaliknya, membawa perpecahan. Justru, ikhtilaf dalam permasalahan aqidahlah yang seharusnya dijaga. Ikhtilaf dalam masalah aqidah, atau menurut sebagian versi, pemasalahan siyasah, politik, dimana umat islam tidak bersatu dalam kepemimpinan tunggal bukanlah masuk dalam koridor redaksi ikhtilafu ummati rahmah.

Masyarakat sensitif dan mudah dipecah belah karena cara beribadah mereka yang agak sedikit teradi peredaan. Atau mudah terjebak dengan isu-isu tentang tidak sermpaknya merayakan hari raya. Banyak kabar miring tentang ormas itu yang memilih menggunakan cara ini dalam pemutusan masalah kapan jatuhnya hari raya. Semua perbedaan patut dihargai dengan semestinya. Selama perbedaan pendapat memiliki dalil dan tendensi. Selama pendapat yang berseberangan dengan kita tidk jelas-jelas salahnya. Bukankah sudah menjadi sunnatullah jikalau Allah SWT menciptakan manusia dengan perbedaan? Walau syâa rabbuka laja’alakum ummatan wâhidah. Andaikan saja Allah SWT menghedaki, Ia tidak akan menciptakan perbedaan. Itulah salah satu bentuk keindahan ciptaan-Nya.

Pada Akhirnya

Sebagai penutup, mungkin kisah ini bisa dijadikan i’tibar.

Syahdan, Yunus bin Abdul A’la, salah seorang murid Imam Syafi’i, pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i ketika beliau sedang  mengajar di masjid. Lalu, berdirilah Yunus dari majlis sambil marah. Dia lantas pulang begitu saja ke rumahnya. Saat malam tiba, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang.

Siapa..?” Tanya Yunus.

Muhamad bin Idris..” Kata suara pengetuk pintu.

Pikiran Yunus menerawang pada siapa saja yang namanya Muhammad bin Idris.

Ini Syafi’i..

Ketika Yunus membuka pintu, ia kaget luar biasa. Gurunya sudah menunggu didepan pintu.

Berkata Imam Syafi’i padanya:

Hai Yunus, ratusan masalah telah menyatukan kita, apakah hanya gara-gara satu masalah kita berpisah?”

 

Lebih bijak kiranya, untuk tidak selalu memenangkan diri dalam setiap perbedaan. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita memenangkan sikap. Terlalu egois hanya akan menghancurkan jembatan yang suatu saat nanti, mungkin akan kita butuhkan kembali. Dan dalam setiap kesalahan saudara kita, maafkanlah pelakunya. Karena dalam kehidupan ini, kita sedang menyembuhkan penyakit, bukan menghakimi si sakit.

 

Terakhir, jika Islam dipahami dengan cara yang sempit, pemahaman yang dangkal dan fiqh yang tidak matang, orang akan menjadi radikal. Memandang sesutu hanya sebatas lahiriyyah saja. Mengamalkan ayat waman lam yahkum bimâ anzalallahu faulâika humul kâfirûn, sebatas literal teksnya saja. Tanpa mempertimbangkan apa itu al-dharar tubihul muhtadhor, kadang kondisi darurat akan memperbolehkan apa yan sebelumnya diharamkan. Tidak mengenal kaidah fiqh tentang daf’u akhoffu dhororain, memilah satu diantara dua marabahaya. Atau sebaliknya, jika islam dipahami  terlalu bebas maka akan terjerumus menjadi “liberal”. Mudah-mudah menafsirkan sesuatu tanpa mempertimbangkan hadis man fassara al-qurana biro’yihi, falyatabawwa’ maq’adahu minannâr, siapa saja yang menafsirkan alquran sekehendak hati maka bersiaplah masuk neraka. Yang terpenting adalah, bagaimana kita mengetahui hakikat islam dengan benar. []

 

Pesan dan Harapan KH. A. Idris Marzuqi

Harapan saya, setelah Pondok Pesantren Lirboyo mencapai usia satu abad ini mudah-mudahan para keluarga tetap menjaga keharmonisan dan keberlangsungan pondok. Selain itu, semoga mereka mampu menjaga apa yang diwariskan oleh sesepuh dahulu. Yang dimaksud warisan di sini berupa ilmu pengetahuan, bukan bentuk fisik pondok.

Salah satu alasan mengapa Lirboyo tetap mempertahankan metode salafiyahnya hingga saat ini adalah, karena ini merupakan wasiat yang selalu disampaikan dari generasi ke generasi, agar para penerusnya tetap mempertahankan metode salaf. Tetapi, berkat ilmu yang bermanfaat, banyak alumni yang dulunya hanya menguasai satu bidang ilmu setelah mengabdi di masyarakat mereka terkenal ahli dalam berbagai bidang.

Nasehat yang selalu saya tekankan kepada para santri adalah agar berusaha sekuat tenaga menamatkan jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo. Kunci kesuksesan belajar di Lirboyo selain mempeng adalah harus menamatkan madrasah. Meskipun ketika mondok itu seperti belum bisa apa-apa, insyaallah setelah menamatkan madrasah ada nilainya tersendiri. Yang kedua, setelah tamat harus lebih memprioritaskan memperjuangkan ilmu dulu. Jika lebih mengutamakan bekerja dan mengabaikan mengamalkan ilmu, maka akan menemukan hasil yang jauh dari maksimal. Ketika belajar di Lirboyo, jangan pernah sekali-kali merasa putus asa, apapun yang terjadi. Ketiga, jangan sekali-kali mengandalkan kecerdasan otak, namun andalkanlah rajin dan tekun mengaji, insyaallah jika sudah di rumah walaupun tidak ada niatan mendirikan pesantren, pasti ada saja orang yang hendak mengaji.

Dari berbagai pengalaman yang ada, mendirikan pondok itu tidak semudah mendirikan pabrik atau perusahaan. Kalau ingin mendirikan perusahaan misalnya, ada dana miliaran sudah bisa mencukupi dan perusahaan bisa berjalan dengan lancar. Tetapi kalau mendirikan pesantren, tidak bisa demikian. Kalau diberikan dana miliaran untuk membangun pondok, memang berwujud bangunan megah tetapi santrinya belum tentu berkembang.

Mendirikan pesantren itu harus dimulai dari nol, seperti Mbah Abdul Karim yang babad tanah Lirboyo dan memulainya dari langgar atau surau kecil dengan berbekal seadanya. Untuk mendirikan pesantren itu butuh modal kesabaran, keuletan dan keikhlasan. Di samping itu pendirinya harus berasal dari orang pesantren. Bpk. Hamzah Haz pernah membangun pesantren megah di luar jawa, dia meminta guru bantuan dari berbagai daerah. Dan yang dikirim ke sana salah satunya santri Lirboyo, setelah santri Lirboyo mengabdi di sana ternyata sering terjadi beda pemahaman. Ahirnya ia keluar dari pondok itu dan mendirikan sendiri pondok di sana, dan sampai sekarang mampu berkembang dan bertambah besar.

Disarikan dari Buku “Pesantren Lirboyo : Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda”.