Tag Archives: toleransi

Meneguhkan Toleransi Menuai Kontroversi

Sisi rahmatan lil ‘alamin agama Islam dapat ditinjau dari karakter pembawa risalah yang merupakan sosok berbudi luhur. Dalam Alquran, secara langsung Allah Swt. memuji akhlak Rasulullah Saw. yang mulia pada siapa pun.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam: 4)

Berkaitan dengan penafsiran ayat tersebut, Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H), mengutip penggalan sebuah hadis dalam salah satu karya tafsirnya,  Mafatih al-Ghaib atau sering dikenal dengan sebutan Tafsir ar-Razi. Suatu ketika, Sahabat Abi Hurairah Ra. bertanya kepada Nabi atas kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas musyrik. “Wahai Rasul, apakah aku membiarkan tindakan mereka?” Rasulullah Saw. Menjawab, “Aku diutus sebagai simbol kasih sayang, bukan permusuhan.”

Di sisi lain, segenap umat muslim juga mengemban tanggung jawab untuk menebar kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, tak terkecuali dengan kalangan nonmuslim. Dalam konteks ini, Syekh Ramadhan al-Buthi (wafat 1424 H) dalam salah satu bukunya, al-Jihad fi al-Islam, menguraikan bahwa asas hubungan antara umat muslim dan nonmuslim bukanlah hubungan konflik (hirabah), melainkan hubungan harmonis dan hidup berdampingan secara damai.[1] Hal ini didasari bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Dalam Alquran, Allah Swt. telah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.” (Q.S. Hud: 118-119)

Pada titik ini, kritik Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) dalam salah satu bukunya, al-Ahkam Ahl adz-Dzimmah, menarik untuk dipaparkan. Di sana dijelaskan bahwa pada dasarnya sikap diskriminasi terhadap nonmuslim yang dijelaskan dalam berbagai literatur fikih klasik pada dasarnya merupakan siyasah dan berdasarkan mashlahah rajihah (kemaslahatan yang lebih unggul), dapat berubah-ubah sesuai konteks zaman, tempat, kondisi politik dan kemaslahatan yang dinamis.[2]

Meskipun demikian, prinsip-prinsip dalam penerapan toleransi sebagai cerminan Islam yang rahmat tidak boleh melampaui batas-batas tertentu. Pertama, tidak melampaui batas akidah yang berdampak pada kekufuran semisal mengikuti ritual ibadah agama lain dengan motif mensyiarkan agama mereka. Kedua, tidak melampaui ketetapan syariat yang berdampak pada keharaman semisal memakai simbol identitas agama lain dengan motif mengagungkan keyakinannya.

Tentu wajar, apabila interaksi dengan nonmuslim di luar dua ketentuan tersebut dilegalkan. Seperti dalam hal menerima hadiah pemberian nonmuslim, menjenguknya ketika sakit, bertakziah ketika meninggal dunia dan seterusnya. Bahkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat dalam karyanya yang lain, yakni Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, bahwa interaksi-interaksi yang lebih menunjukkan sikap keindahan, cinta dan kasih sayang Islam, perlu untuk dilakukan.

Berpegang teguh dan konsisten menunjukkan Islam yang rahmat bukan berarti tanpa tantangan. Di Indonesia, meneguhkan tolerasi antar umat beragama dalam naungan kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hal mudah.  Berbagai isu, tuduhan, dan stigma yang cenderung negatif bahkan menjadi kontroversi adalah hal yang lumrah dilontarkan, baik dari dalam maupun luar. Tantangan yang ada tidak sedikit pun membuat umat muslim goyah. Semua itu justru menjadikan komitmen umat muslim di Indonesia semakin kuat dalam rangka meneguhkan Islam yang rahmat, penuh cinta dan kasih sayang. []


[1] Said Ramadhan al-Buthi, al-Jihad fi al-Islam, hlm. 120-121.

[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Ahkam Ahl adz-Dzimmah, III/1321.

Hukum Menjaga Gereja Demi Stabilitas Keamanan

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara bangsa dengan komposisi penduduk yang beragam, baik dari sisi agama, suku, ras dan bahasa. Semuanya hidup rukun berdampingan yang dirajut oleh jiwa persatuan dan kesatuan. Di sini, toleransi memiliki wilayah yang urgen, termasuk dalam hal hubungan antar umat beragama.

Persoalan menjaga gereja pada momentum tertentu, seperti saat Misa Natal dan semacamnya, masih saja menjadi polemik perbincangan yang tak pernah usai. Namun sejatinya, persoalan tersebut telah selesai diperbincangkan oleh para ulama salaf maupun kontemporer yang memiliki kredibilitas keilmuan yang mumpuni. Sebagaimana Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa”.[1]

Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Karena tindakan pengamanan tersebut termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.[2]

Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan nonmuslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan nonmuslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

 “Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17). Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak mungkin diarahkan pada selain kemaksiatan.”[3]

Dengan demikian sudah jelas pula bagaimana hukum menjaga gereja yang dilakukan oleh aparat keamanan negara. Orientasi menjaga keselamatan warga negara yang dilindungi konstitusi merupakan tugas mulia yang mendapatkan payung hukum syariat. Statement yang mengatakan bahwa tindakan menjaga gereja dianggap membantu kemaksiatan bukanlah kebenaran tunggal. Kejelian dalam memandang kasus persoalan mutlak dibutuhkan demi tercapainya penilaian hukum yang objektif sesuai dengan yang telah digariskan para ulama.

[]waAllahu a’lam


[1] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 134.

[2] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 131

[3] Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, hal. 360.

Hukum Memakai Kaos Bergambar Salib

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kami ingin bertanya, bagaimanakah hukum seorang muslim memakai kaos atau atribut lain yang bergambar salib? Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Maulana R., Serang-Banten)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Saat ini banyak ditemukan atribut atau aksesoris semisal kaos, topi, tas, gelang dan sesamanya yang bergambar salib. Dan tak jarang ditemukan beberapa pemuda muslim yang memakai berbagai varian atribut atau aksesoris tersebut.

Dalam Islam, umat Islam dilarang menyerupai golongan non muslim dalam berbagai hal, salah satunya yang berkaitan dengan cara berpakaian dan berbusana. Namun dalam hal pakian dan busana, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan. Dalam salah satu keterangan dalam kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail karya Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasani disebutkan:

وَأَمَّا مَا كَانَ خَاصًا بِالْكُفَّارِ وَزَيَا مِنْ أَزْيَائِهِمُ الَّتِى جَعَلُوْهَا عَلَامَةً لَهُمْ كَلُبْسِ بُرْنَيْطَةٍ وَشَدِّ زِنَارٍ وَطُرْطُوْرِ يَهُوْدِيٍّ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَمَنْ لَبِسَهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ رِضًا بِهِمْ وَتَهَاوُنًا بِالدِّيْنِ وَمَيْلًا لِلْكَافِرِيْنَ فَهُوَ كُفْرٌ وَرِدَّةٌ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَمَنْ لَبِسَهُ اِسْتِخْفَافًا بِهِمْ وَاسْتِحْسَانًا لِلزَّيِّ دُوْنَ دِيْنِ الْكُفْرِ فَهُوَ اَثِمٌ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحَرَّمِ وَاَمَّا مَنْ لَبِسَهُ ضَرُوْرَةً كَأَسِيْرٍ عِنْدَ الْكُفَّارِ وَمُضْطَرٌّ لِلُبْسِ ذَلِكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ وَكَمَنْ لَبِسَهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ اَنَّهُ زِيٌّ خَاصٌ بِالْكُفَّارِ وَعَلَامَةٌ عَلَيْهِمْ أَصْلًا لَكِنْ اِذَا عَلِمَ ذَلِكَ وَجَبَ خَلْعُهُ وَتَرْكُهُ وَأَمَّا مَا كَانَ مِنَ الْأَلْبِسَةِ الَّتِى لَا تَخْتَصُّ بِالْكُفَّارِ وَلَيْسَ عَلَامَةًُ عَلَيْهِمْ اَصْلًا بَلْ هُوَ مِنَ الْأَلْبِسَةِ الْعَامَّةِ الْمُشْتَرَكَةِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَلَا شَيْءَ فِى لُبْسِهِ بَلْ هُوَ حَلَالٌ جَائِزٌ اهـ

Adapun atribut yang dikhususkan bagi kalangan non muslam dan pakaian yang menjadi identitas khusus mereka, seperti memakai topi keagamaan, ikat pinggang  khusus, serta aksesoris kaum Yahudi lainnya. Sehingga barang siapa dari umat muslim yang memakainya atas dasar rela dengan agama mereka, serta memiliki ketergantungan hati kepada non muslim maka ia menjadi kufur dan murtad. Dan barang siapa yang memakainya dengan tujuan meremehkan mereka serta untuk memperindah pakaian, bukan dilihat dari sisi agama non muslim, maka ia telah berbuat kesalahan yang mendekati perilaku haram. Dan barang siapa memakainya dalam keadaan darurat seperti ketika ia menjadi tawanan orang non muslim dan dipaksa untuk memakainya, maka hal itu tidak masalah. Begitu juga (tidak masalah) ketika ia memakai atribut itu dalam keadaan ia tidak mengetahui bahwa aksesoris itu menjadi ciri khas kelompok non muslim. Namun ketika pada suatu saat ia mengetahuinya, maka wajib untuk segera melepas dan meninggalkan aksesorisnya. Adapun pakaian-pakaian yang tidak menjadi ciri khas non muslim serta tidak menjadi identitas khusus mereka, akan tetapi sudah menjadi pakaian masyarakat secara umum antara umat muslim maupun non muslim, maka hukum memakainya diperbolehkan.”[1]

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gambar salib sudah menjadi identitas dan ciri-ciri khusus umat kristiani. Sehingga hukum memakainya adalah haram bahkan bisa murtad apabila ada kerelaan serta mengagungkan agama mereka. Karena sudah merambah ke dalam ranah ciri khas dan identitas khusus peribadatan yang melekat, alasan toleransi tidak dapat dibenarkan dalam persoalan ini.

[] WaAllahu a’lam


[1] Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ al-Fatawa wa ar-Rasail, hlm. 183.

Islam yang Tertinggal, yang Merasa Benar Sendiri

Di media sosial kian bertebaran ujaran-ujaran kebencian: gara-gara beda pandangan keagamaan dengan sangat mudah seorang ulama dikatai munafik, bahkan seringkali lebih kasar daripada itu. Padahal sama-sama islamnya. Ya, suasana sosial-agama kita-Indonesia-saat ini memang sedang tegang. Mulai dari makian, sampai tindakan ekstrim pun siap dilakukan cukup dengan alasan “beda pandangan”.

Ada yang mengaitkan semua ini dengan masalah politik praktis. Bisa betul, bisa juga salah. Tetapi menurut saya isu politik hanya sekadar “angin lalu” yang bisa datang dan pergi kapan saja.

Ada yang lebih mendasar dari itu. Barangkali yang menjadikan kita saat ini mudah disorong kesana kemari dan “digoreng” dengan isu-isu yang sekedar angin itu adalah karena nihilnya prinsip nalar-kritis dalam masyarakat kita. Ditambah model beragama yang sedang tren saat ini. Banyak dari mereka yang terlalu empirik dalam beragama dan cenderung simbolik- dan puncak dari empirisme adalah egoisme dan mendahulukan pendapat sendiri, yang dalam berbagai kesempatan kita lihat digunakan untuk menyalahkan yang berbeda.

Imbasnya, kini orang-orang tak lagi mengenal tradisi dialog yang arif, dan semakin menjauh dari apa yang kita sebut dengan toleransi. Pada akhirnya perbedaan tak berarti lagi: yang tak sependapat dengan pandangannya harus salah, kalau perlu digali makamnya, atau dimunafik-munafikkan, bahkan dikafir-kafirkan.

Kita tak perlu menyebutkan semua masalah satu persatu. Kita cukup merasakannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Islam yang begitu agung dan luasnya, bahkan menjadi mayoritas dalam negara kita Indonesia, faktanya begitu terasing dan dibuat sekat-sekat oleh apa yang disebut dengan “perbedaan”. Entah kenapa saya berpikir bahwa apa yang dipanjanglebarkan Syakib Arslan (1869-1946) ternyata benar. Dalam bukunya “Limadza Taakhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum” beliau mengupas kenapa dulu umat Islam begitu maju, tidak untuk sekarang.

Kini kita sepertinya cukup mengenang masa lalu. Ia tak lebih dari sekedar dongeng yang terus menerus diulang saat menjelang tidur: cerita-cerita masa lalu memang mempesona, kita pun terlelap. Menurutnya saat ini kita tidak memiliki apa yang dimiliki kaum muslimin terdahulu. Bagi kita, umat muslim, kini “keimanan hanya meninggalkan namanya saja, keislaman hanya menyisahkan alamat, Alquran hanya untuk didendangkan, tanpa mengamalkan perintah dan larangannya.”

Syakib Arslan menyangsikan eksistensi Islam yang sebatas nama dan kuantitas. Dalam Alquran memang disebut perihal keluhuran iman kaum muslim, seperti firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ [المنافقون: ٨]

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

Tapi cukup aneh ketika keluhuran iman tersebut tanpa didasari “isi” berikut nilai-nilai yang menjadi alasan untuk patut diperjuangkan: sebuah proyek perubahan universal. Berubah dari kedzaliman menjadi keadilan, dari kecelakaan menjadi keselamatan, dari ketakutan menjadi keamanan, dari kegelisahan menjadi kedamaian, dari ketertinggalan menjadi kemajuan, dan dari “yang fana” ke “yang hakiki”.

Untuk menuju perubahan yang bisa mengantarkan pada kedamaian dan kesejahteraan bersama, mula-mula kita harus berjalan jauh menuju kedalaman nurani kita masing-masing. Oleh karena itu kita membutuhkan dialog agar lebih mengerti tentang satu “diri” dan “yang lain”, lalu membuang egoisme sejauh mungkin. Dan demi tercapainya tujuan, kita butuh berjalan bersama-sama.

Rupanya untuk memiliki rasa toleransi– tak harus merasa paling selamat dan paling “surgawi” sendiri– kita harus belajar kepada Imam Syafii yang pernah berujar, “Pandangan kami benar, tapi mungkin salah. Pandangan selain kami salah, tapi mungkin benar.”

Syekh Muhammad Abduh juga pernah menelaah perihal toleransi ini.

“Telah masyhur di kalangan muslimin serta kaidah-kaidah keagamaannya bahwasannya ketika keluar suatu ucapan dari seorang muslim yang memungkinkan kekafiran dari seratus jalan, tapi masih mengindikasikan keislaman meskipun hanya dari satu jalan saja, maka yang harus diambil adalah jalan keislaman. Dan tidak boleh dikatakan kafir.”

Beliau lalu merasa perlu menegaskan perlunya toleransi ini, “Adakah engkau melihat toleransi sebagaimana ajaran para filosof dan para bijak bestari yang lebih luas (pemaknaannya) dari ini?”.

Referensi: al-Hiwar wa al-Tasamuh li duktur Mahmud Hamdi Zaqzuq fi Kitabihi al- Fikr al-Dini wa Qadlaya al-‘Ushr.

Muhammad Farhan Al Fadhil, alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Berdamai Dengan Perbedaan

‘Bedo silit bedo anggit’, begitu pepatah Jawa mengatakan, atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Beda pantat beda pendapat’. Setiap orang memiliki cara berfikir dan ending mengambil keputusan bagi pertimbangan opininya masing-masing, tentu saja hal ini terjadi karena asupan pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri seseorang tidak sama antar satu dan yang lainnya. Sehingga, untuk mengomentari-misalkan- satu objek yang sama pun pasti terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya.

Dan karena perbedaan adalah suatu keniscayaan, sehingga dalam menyikapi perbedaan pun akan timbul pula perbedaan. Itulah sifat hidup yang tidak bisa kita pungkiri dan hindari, bahkan dalam hal yang urgen pun, semisal sariat Islam, para ulama tidak jarang yang saling berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, fenomena yang mengemuka dihadapan kita seringkali terkesan seolah-olah perbedaan adalah barang haram yang wajib ditumpas, lantas terjadilah usaha-usaha saling menjatuhkan antar kubu-kubu yang berbeda itu. Bahkan tidak jarang, terlontar dengan cara-cara yang tidak apik semisal mencela, mengumpat, menghina atau pun semacamnya. Tentu saja, motivasi terbesarnya adalah agar apa yang diyakini dan ugemi menjadi yang paling unggul diantara yang lainnya.

Sangat maklum tentunya, jika kita sebagai seorang yang waras memiliki naluri untuk unggul dari yang lain, unggul dari segi kelompok, pribadi, prestasi dan lain-lainnya. Namun menjadi bahaya jika cara-cara yang dilakukan adalah dengan cara-cara tidak baik sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu mencela, menghina atau merendahkan pihak lain; yang sebenarnya dampak dari cara-cara demikian malah akan berbalik pada yang memulai. Sebagaimana analogi yang disampaikan nabi dalam sabdanya tatkala menerangkan diantara dosa-dosa besar,

 إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sunggu diantara dosa terbesar adalah seseorang yang melaknat kedua orang tuanya sendiri, Beliau ditanya; ‘Bagaimana mungkin seseorang tega melaknat kedua orang tuanya sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu si pelaknat.” (HR. al-Bukhari)

Tarulah analogi ini dalam konteks kepemimpinan -misalnya-, maka jika ada seseorang yang mencela pemimpin orang lain, pada hakikatnya ia sedang mencela pemimpinnya sendiri, atau setidak-tidaknya, membuka pintu bagi pemimpinnya untuk dicela, sebagai balasan atas celaan yang dilontarkannya. Di sinilah kita diajari oleh nabi bahwa merendahkan orang yang berbeda dengan kita bukanlah solusi agar kita menjadi yang terbaik diantara yang lainnya.

Oleh karenanya, sudah semestinya bagi setiap orang untuk berusaha mendamaikan atau membiasakan dirinya dengan perbedaan-perbedaan yang mengemuka di sekitarnya, agar perbedaan itu tereksploitasi menjadi khazanah hidup yang dapat dinikmati, bukan justeru menjadi benalu dalam tata kehidupan sosial yang ada.
waAllahu a’lam.(IM)