Tag Archives: toleransi

Implementasi Kerukunan Beragama Berdasarkan Status Sosial (Bag. 2-Habis)

(Baca sebelumnya, Bagian 1)

Pelaksanaan prinsip-prinsip di atas diklasifikasi berdasarkan status sosial seorang muslim di tengah masyarakatnya:

  1. 1. Sebagai anggota dan warga masyarakat

Pemeluk agama Islam sebagai anggota dan warga masyarakat di manapun mereka berada, tidak lepas dari bertetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain, di samping juga bergaul dengan warga masyarakat yang seagama. Ketenteraman, ketertiban, keamanan dan kemakmuran hidup adalah merupakan kebutuhan yang mesti dicitakan, walaupun suatu saat kita harus betetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain dengan tidak melanggar batas batas syariat.[1]

  1. 2. Sebagai pimpinan ormas keagamaan dan tokoh agama

Seorang muslim yang dipercaya sebagai pimpinan ormas atau dijadikan sebagai tokoh agama/masyarakat, memiliki kewajiban dan tugas lebih besar dibanding orang muslim yang bukan pemimpin/tokoh. Sebagai pemimpin dan tokoh mereka harus menjadi yang terbaik dalam menjalankan ketentuan dan prinsip menjalin kerukunan antar umat beragama di atas, karena mereka adalah tauladan sekaligus pelindung dan pembimbing anggota masyarakatnya.

Oleh karena itu, mereka berkewajiban memberi penjelasan dan pembinaan yang cukup kepada umat yang dipimpinya agar kualitas umat Islam dalam beragama semakin mantap serta militan dan dalam saat yang sama umat Islam juga sadar akan perlunya kerukunan antar umat beragama secara benar. Nabi Ibrahim diperintahkan Allah Swt untuk berbuat baik kepada seluruh manusia tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

  1. 3. Sebagai pejabat pemerintah/negara

Seorang muslim yang berketepatan sebagai pejabat pemerintahan atau negara, wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab. Sudah menjadi keniscayaan, pejabat muslim harus melindungi, melayani, menyediakan berbagai kebutuhan hidup, sarana prasarana publik dan seterusnya terhadap seluruh warga negara secara merata.

Pada dasarnya ketentuan dan kewajiban yang berlaku bagi individu umat Islam dalam berinteraksi sosial dengan umat agama lain, juga berlaku bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pejabat. Oleh karena itu, bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas pemerintahan harus bertujuan untuk menjaga keutuhan negara, menjaga persatuan bangsa, menghindarkan kerusakan dan membangun kemaslahatan umum guna meraih ketenteraman dan kemakmuran yang berkeadilan.

Jadi umat Islam yang sedang dipercaya sebagai pejabat pemerintah, wajib berupaya membangun dan menciptakan kehidupan yang rukun, damai dan bersatu bagi seluruh rakyat tanpa memebedakan agama dan keyakinanya.[2] Upaya tersebut harus terus menerus digelorakan guna menuju cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara serta menjaga persatuan nasional. Pejabat muslim juga berkewajiban membangun umat Islam menuju umat yang berkualitas dalam beragama dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Teladan seorang pemimpin pemerintahan dalam membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama tercermin dari sikap Umar bin Khattab Ra saat beliau menolak tawaran Patriak untuk Sholat di gereja, sebab beliau khawatir jika umat islam setelahnya akan menjadikan gereja tersebut sebagai masjid.[3]

Batas-batas Toleransi dan Menjalin Kerukunan dengan Pemeluk Agama Lain

Prinsip-prinsip di atas dalam penerapannya tidak boleh melampaui batas-batas sebagai berikut:

  1. 1. Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti ikut ritual agama lain[4] dengan tujuan mensyi’arkan kekufuran.[5]
  2. 2. Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti memakai simbol-simbol yang identitas bagi agama lain dengan tujuan meramaikan hari raya agama lain.

Adapun berinteraksi dengan mereka di luar dua ketentuan di atas seperti umat Islam ikut membantu pelaksanaan hari raya umat agama lain,[6] menjaga dan mengamankan rumah ibadah mereka dari gangguan dan ancaman teror,[7] datang ke tempat peribadatan mereka tanpa mengikuti ritual keagamaannya,[8] maka diperbolehkan, terlebih jika hal tersebut didasari untuk menunjukkan keindahan, toleransi, dan kerahmatan agama Islam.

Begitu juga berkunjung ke rumah mereka saat tertimpa musibah atau berbela sungkawa atas kematian keluarganya,[9] menjenguknya saat sakit,[10] bermuamalat dengan mereka di tempat-tempat belanja, mencari penghidupan di tempat-tempat kerja, bersama-sama dalam tugas negara dan layanan publik, maka boleh dan bahkan dianjurkan bersikap baik terhadap mereka, terlebih jika masih ada hubungan kerabat, tetangga dan atau terdapat kemaslahatan, seperti ada harapan mereka masuk agama Islam.

 

(Dirangkum dari Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyah Konferwil PWNU Jatim 2018)

_____________________

[1] Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, VI/720.

[2] Al-Jihad fi Islam (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), hlm 120-121.

[3] Al-Ghuluwu wa at-Tharattuf (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), 108-109

[4] Al-I’lam bi Qawati’ al-Islam, hlm 237.

[5] Al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, IV/239.

[6] Al-Bahr ar-Raiq, VIII/231.

[7] Ahkamu Ahli ad-Dzimmah, III/1168. dan Qawaid al-Ahkam, I/156.

[8] Al-Inshof fi Ma’rifat ar-Rajih min al-Khilaf, IV/234.

[9] Mughni al-Muhtaj, I/355.

[10] ‘Umdah al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari, XIII/34.

Kerukunan Antar Umat Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Bag. 1)

Kerukunan antar umat beragama berarti harmonisasi kehidupan umat beragama tanpa mengurangi hak dasar pemeluknya untuk melaksanakan kewajiban agamanya masing-masing. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kerukunan antar umat beragama adalah suatu keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dan bekerjasama saling bahu membahu dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tanpa adanya kesepakatan bersama, kerukunan antara umat beragama tidak mungkin terwujud, oleh karenanya empat pilar bangsa (NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika) merupakan kesepakatan mengikat (Mu’ahadah) yang menjadi payung bersama bagi seluruh warga negara dalam menjalin kerukunan antar umat beragama.

Di tengah pluralitas Indonesia, kerukunan antar umat beragama merupakan aset berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, demi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, harmonis dan bebas dari ancaman, ketakutan dan kekerasan terutama yang ditimbulkan dari konflik agama, sehingga stabilitas, persatuan dan pembangunan nasional dapat terwujud dan membawa kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran dunia akhirat. Realitas kemajemukan bagi bangsa Indonesia bukan menjadi sumber pertikaian dan konflik yang berdampak kemunduruan dan kerugian bersama, namun justru kemajemukan dapat dikelola menjadi sumber kekuatan yang membangun, menguatkan dan membawa kemajuan.

Kerukunan umat Islam dengan umat agama lain juga tidak bertentangan dengan firman Allah Swt:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka.”

Sebab, tuntutan bersikap keras dalam ayat di atas adalah kepada orang-orang non muslim yang memusuhi dan memerangi umat Islam, bukan orang-orang non muslim yang hidup dalam keharmonisan, kerukunan dan kedamaian bersama umat Islam. Kepada non muslim yang terakhir ini, umat Islam diperintahkan untuk menjalin hubungan yang damai dan harmonis dengan menjaga prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat.[1]

Prinsip Menjalin Kerukunan bagi Umat Islam terhadap Pemeluk Agama Lain

  1. 1. Dasar hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lain

Realitas keberagaman manusia dalam agama dan keyakinannya merupakan sunatullah yang tidak bisa dihilangkan. Andaikan Allah Swt mempersatukan manusia dalam satu agama misalnya tentu Dia kuasa, namun realitanya tidak demikian,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentu Dia Jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang Diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah Menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhan-mu telah tetap, Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118– 119)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa perbedaan agama, keyakinan dan pendapat di kalangan umat manusia akan selalu ada.[2] Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk, memusuhi dan memerangi pemeluk agama lain. Dengan demikian asas hubungan antara umat Islam dengan non muslim bukanlah peperangan dan konflik, melainkan hubungan tersebut didasari dengan perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis.[3] Islam memandang seluruh manusia, apapun agama dan latar belakangnya, terikat dalam persaudaraan kemanusian (Ukhuwwah Insaniyyah) yang mengharuskan mereka saling menjaga hak-hak masing, mengasihi, tolongmenolong, berbuat adil dan tidak menzalimi yang lain.[4] Allah Swt. berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

  1. 2. Mengedepankan budi pekerti yang baik

Di manapun berada, terlebih di lingkungan yang plural, seorang muslim tidak dapat melepaskan dirinya dari hubungan sosial dengan pemeluk agama lain. Islam mengajarkan, dalam setiap menjalin hubungan dan interaksi sosial dengan siapapun baik muslim maupun non muslim, setiap muslim harus tampil dengan budi pekerti yang baik, tutur kata yang lembut, dan sikap yang penuh kesantunan dan kasih sayang.[5] Sebagaimana perintah Allah Swt Kepada Nabi Musa As dan nabi Harun As. Untuk bertutur kata lembut kepada Fir’aun:

قُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

 

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

  1. 3. Internalisasi semangat persaudaraan nasional (Ukhuwwah Wathaniyyah)

Kerukunan antar umat beragama tidak dapat terjalin sempurna hanya dengan sikap saling toleransi saja, namun diperlukan adanya keterbukaan diri untuk terlibat dalam kerjasama demi meraih kebaikan bersama. Bangsa Indonesia disatukan oleh kehendak, citacita, atau tekad yang kuat untuk membangun masa depan dan hidup bersama sebagai warga negara di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seluruh elemen bangsa Indonesia disatukan dan meleburkan diri dalam satu ikatan kebangsaan atau persaudaraan sebangsa setanah air (Ukhuwwah Wathaniyyah), terlepas dari perbedaan agama dan latar belakang primordial lainnya.[6] Sebagaimana Nabi Saw Menyatukan seluruh penduduk Madinah dalam satu ikatan kebangsaan:

Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri. Kecuali bagi yang zalim dan jahat, maka hal demikian akan merusak diri dan keluarganya. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu, bukan dari komunitas yang lain.

  1. 4. Kebebasan beragama, beribadah dan mendirikan rumah ibadah

Agama Islam menjamin kebebasan beragama bagi setiap pemeluk agama lain, dalam arti memaksakan non muslim untuk memeluk agama Islam merupakan sebuah larangan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqoroh: 256)

Di sisi lain, problematika pendirian rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat yang plural merupakan persoalan yang sensitif. Setiap peristiwa pengerusakan, atau gangguan terhadap rumah ibadah ataupun aktifitas peribadatan selalu menimbulkan dampak kerenggangan antar pemeluk agama yang dapat merusak kerukunan di antara mereka, bahkan rawan menyulut konflik. Islam memberikan toleransi dan menjamin kebebasan terhadap pemeluk agama lain untuk melakukan kegiatan keagamaan dan beribadah sesuai keyakinannya.[7] Begitu pula terhadap pendirian tempat ibadah, namun kebebasan tersebut tetap harus mempertimbangkan kebutuhan terhadap rumah ibadah serta harus sesuai perundang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku.[8]

  1. 5. Tidak mengganggu, merendahkan, menistakan atau menghina simbol-simbol agama lain.[9] Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Alloh, karenamereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas dasar pengetahuan.Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada tuhan tempat kembali mereka, lalu dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am: 108)

  1. 6. Menghormati hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia, seperti hak memilih pekerjaan, memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinannya, berpolitik, keadilan hukum dan sebagainya.[10]

 

(Dirangkum dari Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyah Konferwil PWNU Jatim 2018)

___________________

[1] Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiah, XIV/223.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, II/565.

[3] Atsar al-Harbi fii al-Islam, hlm 136.

[4] Tafsir at-Thabari, VII/512.

[5] Nawadir al-Ushul, III/97.

[6] Al-Hawi al-kabir, XVIII/855.

[7] Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiah, VII/128.

[8] Ahkam ad-Dzimmiyin wa al-Musta’manin fi Dar al-Islam, hlm 85.

[9] Al-Fatawi al-Haditsiyah, hlm 566.

[10] Muhammad al-Insan al-Kamil, hlm 227.

Toleransi Sebagai Solusi

Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ 118 إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.” (QS. Hud: 118-119)

Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang tidak dapat dipungkiri. Al-Qur’an mengakui keniscayaan perbedaan yang ada di alam semesta, termasuk perbedaan dalam beragama dan pandangan keagamaan. Sebagaimana ungkapan Ismail bin Umar bin Katsir dalam kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir:

وَلَا يَزَالُ الْخُلْفُ بَيْنَ النَّاسِ فِيْ اَدْيَانِهِمْ وَاعْتِقَادِ مِلَلِهِمْ وَنِحَلِهِمْ وَمَذَاهِبِهِمْ وَآرَائِهِمْ

Tidak akan hilang perbedaan di antara umat manusia dalam beragama, keyakinan keagamaan, madzhab, dan pandangan keagamaan mereka”.[1]

Kenyataan yang seperti ini secara otomatis akan membutuhkan kedewasaan berpikir untuk menyikapinya. Ahlussunnah wal Jama’ah ketika menyikapi perbedaan tersebut lebih mengedepankan sikap menyayangi dan toleransi, merajut tali persaudaraan serta membangun hubungan yang harmonis, karena inilah sikap Islam yang sebenarnya. Terbukti, Imam as-Syathibi dalam salah satu kitabnya, al-Muwafaqat, mengatakan:

أَنَّ اْلِإسْلَامَ يَدْعُوْ اِلَى الْأُلْفَةِ وَالتَّحَابِّ وَالتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاطُفِ فَكُلُّ رَأْيٍ اَدَى اِلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَخَارِجٌ عَنِ الدِّيْنِ

Sesungguhnya agama Islam itu mengajak untuk saling menciptakan keharmonisan, mencintai, menyayangi, dan berbuat lembut. Maka setiap pemikiran yang menyalahi beberapa hal tersebut dianggap keluar dari ajaran agama”. [2]

Namun sayang, oleh sebagian kalangan sikap seperti ini terkadang dipahami sebagai upaya menebar paham pluralisme agama dalam artian semua agama benar. Anggapan itu justru sangat keliru. Karena sebenarnya sikap toleran (Tasamuh) adalah cerminan nyata dalam menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Jawaban ini didasari atas pemahaman mengenai toleransi dalam konteks sosial dan budaya yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda pandangan.

Walaupun demikian, dalam menerapkan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk perlu memperhatikan batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Salah satunya ialah tidak melampaui koridor akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, keharaman, dan penyimpangan dari paham Ahlussunnah wal Jama’ah. []waAllahu a’lam

 

___________________

[1] Tafsir Ibnu Katsir, I/391, Maktabah Syamilah.

[2] Al-Muwafaqat, IV/463.

Dakwah Damai Bersama Suku Dayak dan Umat Kristiani

LirboyoNet, Pontianak—Selasa siang (15/05) kemarin, ada hal luar biasa terjadi di Kalimantan Barat. Menjelang bulan Ramadan, ribuan manusia berkumpul di tengah lapangan. Mereka berpakaian macam-macam, karena memang latar belakang status mereka beragam. Bukan hanya masyarakat muslim saja yang nampak bergembira siang itu. Ada suku Dayak. Masyarakat Tionghoa. Masyarakat Kristen. Ratusan pendekar Gerakan Silat Muslimin Indonesia (GASMI). Ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna (BANSER). Juga puluhan kendaraan satuan polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Suasana riuh ramai. Mereka semua berkerumun, bercampur aduk. Mereka tak sedang meributkan sesuatu, karena mereka sendiri hidup dalam rasa damai dan tentram. Perbedaan ras, suku, bahkan agama tak membuat mereka berselisih, apalagi berseteru. Lalu untuk apa keramaian itu? Tak lain, mereka sedang menyambut kedatangan saudara-saudara mereka yang telah ditunggu-tunggu sejak lama: empat puluh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Empat puluh santri itu hendak berdakwah di daerah-daerah yang tersebar di Kalimantan Barat. Ada yang ditugaskan ke daerah Tayan. Beberapa ke daerah Ngabang. Yang lain, berpencar ke Sintang, Landak dan Sanggau. Yang paling jauh adalah mereka yang ditugaskan di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong.

Diawali dengan doa oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan, Ketua Umum Pondok Pesantren Lirboyo, delegasi safari Ramadan asal Pontianak resmi diberangkatkan. Para pemuka lintas-agama, kepala suku, dan pemimpin aparat turut merestui keberangkatan mereka.

Seusai doa dipanjatkan, ketegangan yang meliputi bangsa Indonesia akibat teror bom dan tembakan yang terjadi beruntun beberapa hari terakhir ini, leleh dan menguap di langit Kalimantan. Justru kegembiraan akan kehadiran para pendakwah meluap di hati masing-masing dari mereka.

Gembira? Tentu saja. Para santri telah membuktikan diri bahwa mereka adalah pendakwah sejati. Dengan sambutan luar biasa dari bermacam ras dan agama itu, dengan sendirinya menampakkan bahwa dakwah ahlussunnah adalah dakwah terbaik yang bisa dipersembahkan masyarakat muslim kepada bangsa. Dakwah mereka adalah dakwah yang penuh hikmah dan toleran, yang mampu melihat dan menyatukan diri dengan suasana bangsa yang plural dan majemuk.

Ini juga mematahkan persepsi golongan lain, yang berdakwah dengan cara di luar yang dianjurkan ahlussunnah, yakni tasamuh (toleran), tawasuth (moderat) dan tawazun (berimbang).

Terima kasih para tetua suku Dayak, masyarakat Tionghoa, saudara-saudara Kristiani, bapak-bapak aparatur negara, yang telah menyambut kami dengan sedemikian bahagia. Percayalah, kebahagiaan yang ada di hati jenengan semua, menumpuk berlipat di hati kami, keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.][

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

LirboyoNet, Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1439 H, bangsa Indonesia dikejutkan dengan aksi narapidana terorisme di Mako Brimob. Serta yang terbaru, ledakan bom di tiga gererja di Surabaya, Jawa Timur, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tanpa Cela, GKI, dan Gereja Pantekosta, pada Ahad (13/5) pagi.

Menyikapi hal tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan mengecam dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan terorisme. Terlebih mengatasnamakan agama.

“Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya,” seperti dikutip dari rilis resmi PBNU, Ahad (13/5). PBNU juga mendukung langkah aparat keamanan dalam mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Berikut pernyataan resmi PBNU:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

2. Menyampaikan rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

6.Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.][

 

Sumber: NU Online