Tag Archives: travelling

Hukum Menggunakan Kerudung Transparan


Assalamu’alaikumWr. Wb.

Saat ini begitu banyak model hijab atau kerudung yang bisa digunakan kaum muslimah. Di antara beberaoa model kerudung tersebut ada kerudung yang memiliki karakter transparan atau sedikit tembus pandang apabila berada di bawah sinar matahari. Bagaimanakah hukumnya menggunakan kerudung tersebut? Terimakasih.

Wassalamu’laikum Wr. Wb.

(Siti Fatimah, -Pasuruan)

___________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Bagi kaum Hawa, kerudung tidak sebatas penutup aurat, akan tetapi kerudung mempunyai trend dan gaya berbusana tersendiri. Salah satunya yang telah menjamur saat ini adalah kerudung model Paris yang memiliki karakter sedikit transparan. Sehingga keabsahan penggunaannya masih dipertanyakan. .

Dalam hal kewajiban menutup aurat, syariat tidak menentukan bahan apapun yang digunakan. Namun syariat memberikan standarisasi sekiranya warna aurat bisa tertutupi. Syekh Zakaria Al-Anshori menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Fath Al-Wahhab:

وَسَتْرُ عَوْرَةٍ بِمَا يَمْنَعُ إِدْرَاكَ لَوْنِهَا

Dan menutup aurat dengan pakaian yang bisa menghalangi terlihatnya warna aurat”.[1]

Dalam realitanya, kerudung model Paris yang transparan telah memenuhi standar tersebut meskipun ketika diterawang dengan intensitas cahaya tinggi dengan jarak dekat warna aurat dapat terlihat. Karena yang menjadi tolak ukur dalam hal menutup warna kulit adalah dilihat dengan penglihatan biasa (tanpa intensitas cahaya tinggi) dari jarak percakapan secara umum (kira-kira dua meter). Sebagaimana penjelasan berikut:

وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: بِمَا يَمْنَعُ إِدْرَاكَ لَوْنِهَا أَيْ فِيْ مَجْلِسِ التَّخَاطُبِ … وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ تَأَمَّلَ النَّاظِرُ فِيْهِ مَعَ زِيَادَةِ الْقُرْبِ لِلْمُصَلِّيْ جِدًّا لَأَدْرَكَ لَوْنَ بَشَرَتِهِ لَا يَضُرُّ، وَلَوْ رُئِيَتِ الْبَشَرَةُ بِوَاسِطَةِ الشَّمْسِ أَوْ نَارٍ، وَكَانَتْ بِحَيْثُ لَا تُرَى بِدُوْنِ تِلْكَ الْوَاسِطَةِ لَمْ يَضُرَّ.

Yang dimaksud dengan ‘pakaian yang bisa menghalangi terlihatnya warna aurat’ ialah dalam jarak percakapan…Sehingga ketika seseorang yang melihat mendekatkan penglihatannya pada orang yang shalat (yang harus menutup aurat) kemudian ia melihat auratnya, maka tidak berpengaruh. Begitu juga ketika warna kulit dapat terlihat dengan intensitas tinggi dari matahari atau api, sekiranya tanpa perantara intensitas cahaya tersebut warna kulit tidak terlihat, maka tidak berpengaruh.,”[2]

[]waAllahu a’lam


[1] Fath Al-Wahhab, hal. 17

[2] Hasyiyah Al-Bujairomi ‘Ala Al-Manhaj, vol. I hal. 308

Salat Travelling

Di zaman modern ini, kegiatan travelling yang memiliki makna “bepergian” telah menjadi sebuah keniscayaan. Travelling yang ada memiliki berbagai macam motif dan tujuan. Selain sebuah kebutuhan, terkadang kegiatan travelling menjadi gaya hidup sebagian kalangan. Bagi mereka, kegiatan travelling bukan sekedar bepergian biasa. Namun lebih dari itu, banyak hal baru yang dijumpai dan dapat dijadikan pelajaran.

Bagaimanapun keadaannya dan dimanapun tempatnya, sebagai seorang muslim tidak pernah terlepas dari kewajibannya. Salah satu contoh adalah kewajiban salat, yang mana kewajiban itu tidak pernah hilang selama nyawa masih melekat dalam raga, tak terkecuali saat bepergian (travelling) sekalipun.

Realita yang ada mengatakan, sebuah perjalanan apapun tidak pernah terlepas dari potensi adanya kepayahan (madhinnah al-masyaqqoh). Yang pada awalnya, dalam keadaan kepayahan yang memberatkan seperti itu, para traveller masih memiliki kewajiban salat yang harus dilaksanakan. Namun sebagai agama rahmat, Islam menyadari hal itu dan Islam tidak ingin memberatkan umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. al-Baqarah: 185).

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. al-Hajj: 78).

Kesadaran itu dibuktikan dengan adanya dispensasi (rukhshah) bagi mereka yang menyandang status musafir (traveller). Adapun dalam persoalan salat, dispensasi yang diberikan adalah salat Jama’ (mengumpulkan dua salat dalam satu waktu) dan salat Qashar (meringkas bilangan rakaat salat). Lazimnya dalam permasalahan lain, rukhshah (dispensasi) salat bagi seorang traveller memiliki beberapa aturan dan persyaratan umum yang harus dipenuhi agar ia dapat melaksanakan rukhshah tersebut. Di antaranya ialah:

Tidak Bermotif Maksiat

Allah SWT telah memberikan kemurahan bagi hamba-Nya di saat mengalami kesusahan. Salah satunya ialah adanya dispensasi (rukhshah) salat yang berupa salat Jama’ dan salat Qashar bagi seorang musafir (traveller). Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, selamanya dispensasi tidak akan pernah dibangun atas hal-hal yang berbau kemaksiatan. Sebagaimana dalam kaidah fikih disebutkan:

الرُّخَصُ لَا تُنَاطُ بِالْمَعَاصِي

Dispensasi itu tidak pernah digantungkan atas kemaksiatan”.[1]

Dalam konteks ini, kemaksiatan yang dimaksud adalah kemaksiatan yang menjadi motif untuk melaksanakan perjalanan itu, misalkan perjalanan dengan tujuan untuk mencuri atau tujuan-tujuan lain yang diharamkan oleh syariat. Selain itu, kemaksiatan yang masuk dalam hal ini ialah kemaksiatan yang dipandang dari sisi perjalanan itu sendiri, misalkan perjalanan seorang istri tanpa seizin suaminya. Maka perjalanan-perjalanan yang mengandung unsur kemaksiataan (al-ma’siyat bi as-safar) tersebut tidak mendapatkan legalitas untuk mengambil dispensasi salat.[2]

Mencapai Jarak yang Jauh

Alasan utama mengapa travelling mendapatkan dispensasi salat ialah karena adanya potensi kepayahan yang memberatkan dalam perjalanan itu (madhinnah al-masyaqqoh). Potensi akan adanya kepayahan tersebut hanya dapat dijumpai dalam perjalanan yang terbilang jauh (masafah al-qashri).

Dalam menentukan jarah minimal yang dikategorikan perjalanan jauh (masafah al-qashri) ini, para ulama memiliki banyak ragam pendapat. Menurut mayoritas ulama (jumhur al-‘ulama) ialah perjalanan yang berjarak minimal 119,99 KM. Adapun pendapat yang paling ringan ialah versi kitab Tanwirul Qulub yang mengatakan bahwa jarak perjalanan jauh minimal menempuh jarak 80,64 KM.[3]

Jarak perjalanan pun harus diketahui sejak permulaan perjalanan. Dengan demikian, bagi seorang traveller (musafir) harus memiliki destinasi pasti yang menjadi tujuan perjalanannya.[4]

Menyempurnakan Syarat Dispensasi

Perjalanan yang mencapai jarak yang jauh serta tidak adanya motif kemaksiatan merupakan syarat umum suatu perjalanan boleh mengambil rukhshah (dispensasi) salat. Namun untuk rukhshah yang diambil, seorang traveller diharuskan menyempurnakan spesifikasi syarat-syarat yang lain sesuai jenis dispensasinya.

Apabila seorang treveller mengambil dispensasi yang berupa salat Qashar (meringkas bilangan rakaat salat) maka harus menambahkan tiga syarat lagi, yakni salat yang memiliki empat rakaat, salat yang dilakukan adalah salat yang seharusnya dilakukan dalam perjalanan (ada’an aw qashran), dan tidak bermakmum pada orang yang menyempurnakan rakaat salatnya.

Adapun ketika dispensasi (rukhshah) yang diambil berupa salat Jama’ Taqdim (mengumpulkan dua salat yang dikerjakan di waktu pertama) maka harus menambahkan tiga syarat lagi, yakni mendahulukan salat yang pertama kemudian salat yang kedua, niat jama’ dilaksanakan pada salat pertama, dan tidak memisah kedua salat dengan jeda waktu yang lama.

Begitu juga ketika dispensasi (rukhshah) yang diambil berupa salat Jama’ Ta’khir (mengumpulkan dua salat yang dikerjakan di waktu kedua) maka harus menambahkan satu syarat lagi, yakni niat Jama’ Ta’khir masih di dalam cakupan waktu salat yang pertama.[5]

Walhasil, salah satu karakteristik yang menonjol dalam ajaran Islam adalah mudah dan tidak mempersulit umat. Konteks dapat dijumpai dalam beberapa keadaan, salah satunya ialah dalam kegiatan travelling. Kehadiran rukhshah (dispensasi) sebagai tawaran dalam menghilangkan atau mengurangi beban menjadi solusi berarti dalam menghadapi problematika tersebut. Sesuai firman Allah  SWT dalam Al-Qur’an:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membabani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (QS. al-Baqarah: 286). [] waAllahu a’lam.

 

___________________

[1] Al-Ashbah wa an-Nadhoir li as-Suyuti, I/138.

[2] Bujairomi ‘ala al-Khatib, II/163.

[3] Kamus Fikih (FKI Purna Siswa MHM Lirboyo 2013), hlm 508.

[4] Asna al-Mathalib, I/239, Maktabah Syamilah.

[5] Hamisyi Fathil Qorib, I/202-209, cet. al-Haromain.