Tag Archives: Tulisan Santri

Empat Wasiat Pertama Nabi Untuk Madinah

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)

Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke kota Yastrib menjadi kabar gembira bagi penduduk kota tersebut. Mereka berbondong-bondong ingin tahu, dan ingin melihat langsung bagaimana rupa nabi yang selama ini telah dijanjikan. Tak luput pula, ‘Abdullâh bin Salâm, perowi hadis ini. Beliau merupakan salah seorang beragama yahudi yang paling terhormat di kota tersebut. Menurut sejarah, beliau masih keturunan nabi Yusuf AS, dan beliau bak lautan dalam hal keilmuan. Beliau banyak tahu akan kitab suci umat nabi Musa AS. tersebut.

‘Abdullâh bin Salâm yang ketika itu masih belum memeluk islam, menceritakan dalam hadisnya, bagaimana pertama kali kesannya berjumpa nabi, dan bagaimana sekilas suasana ketika itu. Kala itu orang-orang berteriak bahagia, “Rasul telah tiba!” hingga tiga kali. Mereka berduyun-duyun mengerumuni nabi besar Muhammad SAW yang ketika itu masih baru sampai di Quba’. Dengan hanya melihat wajah beliau saja, muncul benih-benih keimanan dalam hati ‘Abdullâh bin Salâm, ia langsung percaya dan membenarkan nabi Muhammad SAW.  Hal ini pulalah yang akhirnya diabadikan dalam Alquran (al-Ahqof: 10),

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Menurut sebagian mufassir, sosok yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ‘Abdullâh bin Salâm.

Dalam hadis tersebut, nabi mewasiatkan empat hal penting. Empat hal yang jika dapat dilakukan, beliau telah menjanjikan surga.

Wasiat Pertama: Sebarkanlah Salam

Salam adalah salah satu media dan jalan untuk menciptakan jalinan kasih sayang. Salah satu cara yang paling tepat untuk menebarkan kedamaian dan persaudaraan antar umat muslim dengan saling mendoakan. Wasiat nabi untuk menebarkan salam, tak kurang maksudnya adalah anjuran bagi kita untuk memperbanyak mengucapkan salam kepada setiap muslim yang kita temui. Beliau nabi pernah bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم: أفشوا السلام بينكم) رواه مسلم

Dari sahabat Abu Hurairah RA beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda ‘Kalian semua tidak akan masuk surga sebelum beriman. Dan kalian belum bisa  sempurna imannya sebelum saling mengasihi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mengasihi? Sebarkanlah salam diantara kalian.’” (HR. Muslim)

Tidak sampai disini saja, salam juga termasuk salah satu syiar islam dan hak seorang muslim. Nabi bersabda:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (حق المسلم على المسلم ست)، قيل: ما هي يا رسول الله؟ قال: (إذا لقيته فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, وإذا استنصحك فانصح له, وإذا عطس فحمد الله فشمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه) رواه مسلم.

Dari sahabat Abu Hurairah RA, nabi pernah bersabda, ‘hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam perkara’. Sahabatpun bertanya, apakah itu wahai rasulallah? Nabi menjawab ‘Ketika kamu jumpa seorang muslim, maka ucapkanlah salam. Ketika kamu diundang, maka datangilah. Ketika ada muslim yang minta nasihat, maka nasihatilah. Ketika ada muslim yang bersin, kemudian membaca hamdalah, maka doakan. Ketika ada muslim yang sakit, maka jenguklah. Dan ketika ada muslim yang meninggal, maka hadirlah mengantarkannya.” (HR. Muslim)


[ads script=”1″ align=”center”]

Wasiat Kedua: Berikanlah Makanan

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً} (الإنسان: 8-9

Dan mereka (Al-Abrâr, orang-orang yang taat kepada Allah) memberikan makanan karena cinta kepada Allah untuk orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8-9)

Memberikan makanan juga menjadi amaliah yang merupakan perantara untuk masuk surga. Hal tersebut nyata, kala seorang sahabat menghadap nabi dan mengemukakan pertanyaan tentang amaliah yang menjadi perantara agar dapat memasuki surga-Nya.

عن هانئ أنه لما وفد على رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله، أي شيء يوجب الجنة؟ قال: (عليك بحسن الكلام وبذل الطعام) رواه الطبراني.

Wahai rasul, apakah yang bisa menetapkan masuk surga? Nabi menjawab ‘Katakanlah perkataan yang baik, dan sedekahkanlah makanan.” (HR. Thabarâni)

Imam Al-Khatthabi menafsirkan, “Rasul SAW menjadikan amaliah yang terbaik adalah memberikan makanan yang merupakan kebutuhan pokok badan. Lalu beliau menyatakan bahwa perkataan yang paling baik adalah menebarkan salam, baik yang umum dan khusus, untuk orang yang tak kita kenal, atau orang yang kita kenal. Sehingga akhirnya bisa menjadi semata-mata keikhlasan untuk Allah. Karena salam adalah salah satu syiar islam.”

Fadhîlah menyedekahkan makanan akan semakin menumpuk kala kita memberikannya di saat yang tepat. Di saat banyak orang membutuhkannya. Sesuai firman-Nya,

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَة} (البلد: 14)

“”Atau memberi makan pada hari kelaparan” (QS. Al-Balad)

Wasiat Ketiga: Jalin Silaturahim

{وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} (النساء: 1)

Dan takutlah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (takutlah kalian semua untuk memutus) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. Al-Nisâ’:1)

Menyambung silaturahim merupakan salah satu anjuran bagi umat muslim. Menjalin silaturahim selain memiliki nilai lebih dalam tahap sosialisasi dan hubungan antar manusia, juga memiliki nilai lebih dimata agama. Beberapa kali disebutkan bahaya memutuskan tali silaturahim dalam Alquran, hingga tak perlu lagi kiranya ditegaskan akan arti penting slaturahim dalam islam.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من سره أن يُبسط له في رزقه أو ينسأ له في أثره فليصل رحمه) متفق عليه

Diriwayatkan dari sahabat Anas RA, aku pernah mendengar rasulullha SAW bersabda, ‘Barang siapa yang senang dilapangkan rizkinya, atau dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturahim.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wasiat Terakhir: Dirikanlah Salat Malam

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً} (السجدة: 16)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada tuhannya dengan rasa takut (terhadap siksa-Nya) dan mengharap (rahmat-Nya). Dan dari rizki yang Aku berikan kepada mereka, merejka menafkahkannya.” (Al-Sajdah: 16)

Demikian kiranya Allah mengabadikan pujian-Nya kepada hamba-hambanya yang beriman dan mendirikan salat malam dalam Alquran. Malam adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan bermunajat. Waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi pernah bersabda kepada sahabat beliau, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash untuk tak lupa mendirikan salat malam saat terjaga,

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا عبد الله لا تكن مثل فلان، كان يقوم الليل فترك قيام الليل) متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, jangan sampai kamu seperti si Fulan. Dia terjaga di malam hari namun meninggalkan qiyamul lail.’” (HR. Bukhari dan Muslim.)

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (رحم الله رجلا قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته، فإن أبت نضح في وجهها الماء, رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماء) رواه أحمد وأصحاب السنن.

Allah merahmati seorang laki-laki yang melakukan qiyamul lail lalu mendirikan salat malam dan membangunkan istrinya. Ketika istrinya menolak, si laki-laki menyipratkan air di wajah istrinya. Allah merahmati seorang wanita yang melakukan qiyamul lail, lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya. Ketika suaminya menolak, ia menyipratkan air di wajah suaminya.” (HR. Ahmad)

Refleksi Hadis

Nabi yang diutus di jazirah Arab, tidak hanya diutus untuk bangsa Arab. Beliau diutus bahkan untuk sekalian alam. Beliau diutus menyebarkan agama islam. Membangun peradaban yang bermartabat, dan menghancurkan budaya-budaya jahiliyyah yang menyimpang dari ajaran agama.  Beban di pundak beliau seakan semakin berat, kala waktu itu beliau juga dinantikan kejadirannya di Yatsrib, sekarang menjadi Madinah, juga untuk mendamaikan pertikaian antar dua suku utama kota itu, Aus dan Khazraj. Pada akhirnya, beliau pulalah yang kemudian membangun peradaban dan menjadikan Madinah kota yang Mutamaddin, sebuah cikal bakal negri yang membentang luas, mengalahkan luasnya imperium adikuasa Persia saat itu. Bukan sebuah gambaran kota islam, namun kota yang tetap damai meski dihuni berbagai macam agama yang berdampingan. Hidup rukun meski berbeda, hidup saling berbagi meski sama-sama tak begitu memiliki.

Pesan pertama nabi ketika menyelesaikan perjalanan hijrah, sebuah catatan penting bagi kita. Beliau mewasiatkan empat hal untuk penduduk kota yang telah lama menunggu beliau.

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)
[ads script=”2″ align=”right” float=”right”]

Yang beliau sampaikan pertama kali bukanlah “dirikanlah salat malam”. Bukan itu yang beliau pentingkan pertama kali untuk mulai membangun kota Madinah. Justru hal tersebut menjadi hal terakhir dalam pesan beliau. ini memiliki makna yang dalam sebenarnya kala kita renungkan baik-baik.

Hal pertama yang paling penting, yang menjadi wasiat pertama nabi adalah “sebarkanlah salam”.  Secara harfiah memang bermakna sebarkanlah ucapan “assalâmu’alaikum”, namun ada kandungan lain. Yang sejatinya kita sebarkan pertama kali adalah kedamaian. Membutuhkan kedamaian untuk membangun sebuah kota yang rukun. Sejatinya yang kita utamakan sebelum memulai membangun banyak hal adalah membangun arti kedamaian.

Kemudian nabi melanjutkan wasiatnya dengan “sedekahkanlah makanan”. Yang kita sedekahkan secara lahiriyah adalah sebentuk makanan pokok. Namun lebih dari itu, kita diberi wejangan setelah terbentuknya kedamaian dengan memperkuat ekonomi. Memperkuat kekuatan dan modal untuk mulai membangun masyarakat yang lebih bermutu. Tidak dengan ekonomi yang lemah, namun dengan ekonomi yang kuat. Memliliki banyak harta berarti memliki banyak kesempatan untuk banyak-banyak bersedekah.

Yang ketiga, “jalin silaturahim”. Memiliki masyarakat yang damai dan kuat membutuhkan kekompakan. Membutuhkan rasa saling mengerti dan saling menyayangi. Dengan silaturahim, hubungan antar satu insan dengan insan yang lain akan semakin kuat. Hubungan persaudaraan akan terbentuk, dan gambaran negri yang mutamaddin akan semakin dekat. Yang nampak sebenarnya adalah persaudaraan lahir, namun sejatinya, diam-diam kita tengah membangun sebuah komunitas yang bersatu lahir dan batin.

Baru kemudian nabi berwasiat untuk beribadah kepada-Nya, “dirikanlah salat tatkala orang-orang sedang pulas tertidur”. Sebuah tujuan akhir, tatkala sudah terbentuk negri yang damai dan kuat, barulah kita dapat tenang beribadah kepada-Nya. Setelah terbentuk sebuah masyarakat yang madani, baru kita dapat dengan tenang menyembah-Nya. Kita patut berkaca pada saudara-saudara kita yang jauh, di negri mereka yang dilanda peperangan, yang kedamaiannya hilang, yang ekonominya berantakan, yang warganya saling bermusuhan, bagaimana mungkin mereka dapat beribadah dengan tenang? Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan salat malam dengan khusu’, sementara nyawa mereka sedang dalam bahaya?

Ini menjadi sebuah renungan yang paling penting. Sebenarnya makanah yang paling musti kita dahulukan? Egois membentuk komunitas dengan membawa-bawa nama islam? Ataukah lebih baik membangun sebuah bangsa yang kuat dan damai, hingga akhirnya dengan sendirinya agama islam dapat membentuk komunitas yang kuat didalamnya? []

Aku Tak Tahu

Jarang terdengar ketika kita mencoba bertanya suatu hal yang bersifat asin dan kita tak tahu jawabannya kepada mereka “yang lebih tahu”, mereka akan menjawab dengan “aku tak tahu”. Seperti menjadi aib yang teramat besar bagi sebagian orang untuk mengakui dirinya, kalau memang dia “tak tahu”. Terlalu sempitnya orang mengartikan ketidak tahuan sebagai sebuah ujung dari mata rantai kebodohan. Padahal siapa tahu saja jawaban akhir “tidak tahu” adalah ritus terakhir dari berbagai pengalaman yang matang. Dengan berbagai pertimbangan, memang harus dijawab seperti itu, -atau lebih baik diam saja sekalian “agar setidak-tidaknya” memanfaatkan waktu untuk berfikir.

Sejatinya adalah hal yang wajar, bahkan sepandai-pandainya orangpun akan memiliki sisi “ketidak tahuan”. Selain karena tidak mungkin cukup usia seseorang untuk membuka semua khazanah yang ada, masih banyak yang harus dikaji ketika mulai menimba ilmu menjadi terasa semakin mengasyikkan.

Orang dengan gelar sarjana, adakah yang masih sudi untuk mengakui kehebatan anak sekolah dasar? Tentu menjadi pertanyaan yang naif jika hanya soal-soal sederhana yang diajukan padanya. Tapi faktanya, adalah sebuah dilema ketika pertanyaan mendadak menjadi sulit. Yang biasanya menjawab, “aku tahu” terasa kelu lidahnya ketika belajar mengucapkan, “aku sungguh-sungguh tidak tahu”.

Orang kadang terlalu sederhana menilai lautan, jika lautan itu umpamanya samudera pengetahuan, dengan mudahnya dia katakan pada dirinya sendiri sembari membusungkan dada, “Ternyata lautan memiliki ujung di bawah matahari yang sedang terbit itu”.

Adalah analogi sederhana ketika seorang pemula yang belum tahu apa-apa baru memulai belajarnya. Dia pikir, ini akan ada akhirnya, “Ditempuh dalam satu tahun juga aku sudah jadi orang yang sangat hebat,” pikirnya.

Dan ketika kapalnya mulai berlayar, mendadak dia dilanda kecemasan lantaran kapalnya tak kunjung menemukan pelabuhan. Dicari ke arah manapun tak ada tempat bersandar, seolah tersesat di suatu medan asing yang tak memiliki peraduan. Dia menemukan sebuah kesimpulan, “Lautan ini lebih luas dari yang pernah aku bayangkan”. Dia agak mulai merasa rendah diri sekarang, “bahkan sepuluh tahunpun sepertinya aku belum setengah jalan”.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Adalah analogi sederhana ketika sedikit-sedikit dia akhirnya mau “membaca sesuatu”. Bukan saja ini tak akan ada habisnya,  tapi justru semakin “dibaca” semakin bikin penasaran.

Ketika kapalnya mulai akrab dengan samudera, yang dia lakukan adalah belajar menyelam. Di atas permukaan saja dia hanya menemukan nuansa yang sangat sederhana. Hanya ada hamparan lautan biru dimana-mana. Di atas sana juga hanya ada langit dan bintang yang setia dengan karakternya. Pagi matahari terbit di timur, dan hilang di barat. Digantikan rembulan pada malamnya. Begitu setiap harinya. “Adakah hal menarik dibawah sana?” Alangkah terkejutnya ketika dia mendapati teronggok lapisan terumbu karang maha indah, ikan-ikan yang tak bosan berganti wajah. Warna yang bukan hanya biru yang ia berhasil temukan, namun juga mulai nampak hijau dan merah. “Didalam lautan ini adalah keindahan ynag sesungguhnya”.

Adalah analogi sederhana ketika orang mulai mengerti ada apa dibalik “perjalanan ilmiah” yang sedang ia lalui. Bukannya kurang percaya diri atau apapun istilahnya, selamanya pun dia tidak akan selalu tahu ada apa jauh di sana. “Kepuasan itu muncul dari hati ketika aku sudah berhasil melalui semua pelan-pelan,” katanya sambil agak menundukkan kepala.

Ketika dia pulang ke daratan, dia sudah memiliki cara lain untuk memandang lautan di sana. Sambil takjub dan tahu diri bahwa penglihatan kecilnya tak akan sebelah mata lagi memandang apa yang di depannya adalah hal yang segera berkesudahan.

Sederhananya, ketika kita enggan untuk mengatakan “aku tak tahu”, berarti kita baru memandang apa yang “kita tahu” ibarat sedang berdiri di bibir pantai. Merasa apa yang dia ketahui sekarang adalah tentang segala hal. Padahal, matanya baru berhasil menangkap “lautan” hanya sampai garis cakrawala –semua orang tahu kalau laut tidaklah sesempit itu.

Mari untuk sekedar belajar jujur pada diri sendiri. Manusia lengkap dengan keterbatasan yang dia miliki. Tidak mungkin untuk “tahu segala hal”, maka sedikit-sedikit coba kita katakan “beri aku waktu.” Untuk berfikir, atau lebih bagus lagi, “membaca.” Biarkan ia mengerti “lautan” dengan lebih jauh lagi. Semakin ia memahami laut, semakin ia tahu bahwa ia tak lebih dari setitik ombak diantara jutaan ombak lainnya.

وقال محمد بن رمح عددت لمالك مائة مرة قال لا أدري في مجلس واحد

“Aku pernah menghitung imam Malik bin Anas berkata, ‘aku tak tahu,’ sampai seratus kali dalam satu majlis.”

Lalu bagaimana dengan kita? [SLr]

 

Nilai Pekerjaan Manusia

“Masing-masing dari kalian adalah penggembala. Dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.”

Sesungguhnya, setiap tindakan manusia memiliki nilai, baik maupun buruk. Setiap manusia akan dimintai pertanggunganjawaban atasnya. Itulah nilai perbuatan manusia. Nilai itu tidak dimiliki oleh hewan maupun tumbuhan. Hanya tindakan manusia yang dinilai Tuhan.

Dalam pengertian ushuliy, hukum dipahami sebagai khithab Allah yang terkait dengan tindakan-tindakan orang mukallaf (af’alul mukallafin) baik berbentuk tuntutan atau pilihan (al Ibhaj bab Hukum). Frase tindakan-tindakan mukallaf, menunjukkan kepada kita bahwa hukum terkait dengan seluruh perbuatan manusia, dari yang paling remeh hingga yang paling revolusioner. Semua ada ketentuan hukumnya. Karena itu, dalam beberapa kitab fikih, disebutkan bahwa setiap orang wajib mengetahui terlebih dahulu hukum tindakan (pekerjaan) yang akan dikerjakannya, (Tanwir al Qulub bab Muamalah).

Kata lain dari perbuatan atau tindakan adalah pekerjaan. Setiap pekejaan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam pekerjaan kita. Hati-hati dalam hal ini dapat berarti luas. Ada yang bersifat ke dalam, adapula yang bersifat ke luar. Bagian pertama terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya. Sedang yang kedua terkait dengan diri sendiri dan sesamanya. Yang terkait dengan Tuhan, biar menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya. Kita hanya akan membicarakan tindakan manusia yang terkait dengan sesamanya.

Suatu ketika, Rasulullah SAW. berjalan-jalan di pasar. Dalam perjalanannya itu, Rasul SAW. melihat tumpukan bahan makanan. Beliau kemudian memasukkan tangannya ke dalam kantung makanan tersebut. Dari bagian bawah kantung makanan tersebut, tangan Rasulullah merasakan basah-basah. Padahal, bagian atasnya terlihat kering dan baik. Rasulullah SAW. kemudian bertanya kepada sang penjual. “Apakah ini?” Sang penjual menjawab, “Basah-basah tersebut dikarenakan air hujan.” Rasulullah berkata, “Mengapa barang yang basah tidak kau taruh di bagian atas, agar dapat dilihat calon pembeli?” Rasulullah SAW. melanjutkan, “Barang siapa menipu (seseorang dari golongan) kami, maka ia bukan bagian dari (golongan) kami.”

Setiap orang dibekali kemampuan membedakan dalam pekerjaannya, mana yang termasuk penipuan dan mana yang bukan. Sehingga kita tahu bahwa penipuan adalah perbuatan yang disengaja. Karena, jika penipuan itu dilakukan tidak sengaja, maka tidak dinamakan penipuan. Dengan demikian, seorang manusia telah dipercaya (oleh Tuhan) untuk menjaga diri ketika bekerja. Seterusnya, ketika seseorang melakukan penipuan, maka ia telah mengkhianati dan mendustai tiga hal sekaligus; agamanya, dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

Bekerja bukanlah suatu hal yang hina. Namun juga tidak seharusnya ia membuat kita hina. Abu Hasan As Syadzili (1257-1195 M./656-591 H.), sufi besar dari Tunisia mengatakan, “Barang siapa bekerja dan menjaga kewajiban-kewajiban Tuhannya, maka sempurnalah proses mujahadah-nya.” Sufi besar lain, Abu Abbas Al Mursi (1219-1287 M./ 616-686 H.) mengatakan, “Jagalah hukum kausalitas (sebab-akibat) dan hendaknya seseorang menjadikan koin transaksinya sebagai tasbih, kapaknya sebagai tasbih, mesin jahitnya sebagai tasbih, dan langkah perjalanan dagangnya juga sebagai tasbih.” (al Minah as Saniah)

Abu Mawahib as Sya’rani menjelaskan bahwa manusia yang bekerja memiliki segi-segi kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia yang hanya beribadah saja dalam hidupnya. Pertama, jerih payah usahanya akan dinikmatinya sendiri. Hal ini karena ia makan dari usahanya sendiri, bukan dari pemberian (sedekah) orang lain, yang konon dianggap sebagai sesuatu yang kotor, sehingga Nabi SAW. melarang keluarganya memakan barang sedekahan.

Kedua, tidak ada kesombongan dan merasa paling pintar dan berilmu atas orang lain. Dengan demikian, dalam hal ini ia akan melihat dirinya lebih rendah, dan orang lain lebih tinggi. Rendah hati sangat dianjurkan oleh Nabi. Ingat, rendah hati, bukan rendah diri.

Ketiga, keselamatan dari kerancuan berpikir tentang Tuhan, Utusan (Rasul), dan hukum-hukum-Nya. Ia akan menjadi manusia yang hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya, juga orang-orang diperintah Tuhan untuk menjaganya.

Keempat, pekerjaan seseorang yang telah menghidupi banyak makhluk Allah beserta kesulitan-kesulitannya, adalah sebagian dari pelebur dosa. Nabi SAW. pernah bersabda, “Sebagian dosa, ada yang tidak dapat dilebur kecuali oleh kesulitan-kesulitan dalam mencari nafkah.” (al Minah as Saniah)

Ali al Khawwas berkata, “Bagiku, manusia yang mencari makan dengan bekerja, walaupun dari pekerjaan yang makruh, seperti tukang bekam dan petugas kebersihan, jauh lebih baik daripada seorang ahli ibadah yang mencari makan dengan agamanya, dan mendapatkan makan dengan kesalehannya.” (al Minah as Saniah) Dengan demikian, sekecil apapun tindakan, perbuatan, dan pekerjaan kita, sangat bernilai bukan? Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengah niat yang tulus dan ikhlas.

Penulis: Muhammad KH.

Dunia Pesantren Dalam Percaturan Ekonomi Global

Dunia pesantren adalah wilayah kajian yang selalu menarik perhatian para peneliti ilmu-ilmu agama Islam, ilmu-ilmu sosial, dan Antropologi.  Sudah  banyak hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang membuka cakrawala pemkiran tentang dunia Pesantren yang unik dan menyimpan berbagai kekayaan budaya. Dari sudut apapun, memandang Pesantren selalu mendapatkan sesuatu yang unik, yang tidak ditemukan dalam komunitas budaya yang lain. Hal ini, terutama, apabila kita mengkaji perilaku kiai dan santrinya dalam transformasi  dan perubahan sosial yang mengukuhkan pesantren sebagai  subkultur (meminjam istilah KH. Abdurahman Wahid). Sebagai  subkultural, perananan pesantren tampak menonjol sebagai agen perubahan dan tranformasi sosial dalam masyarakat sekitarnya. Dari sinilah, yang menjadi salah satu keunikan dunia pesantren

Apalagi  jika dikaitkan dengan cara masyarakat pesantren memandang dan menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan yang sering diluar dugaan orang banyak. Perlu diketahui bahwa eksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari lima unsur, yaitu pondok  atau asrama, masjid, santri, kiai, dan kitab yang  satu sama lain saling mengisi dan saling berkaitan. Pesantren atau dapat juga disebut  masyarakat pesantren, memiliki  budaya  khas masyarakat tradisional di pedesaan. Ke-khasan  pesantren, antara lain terletak pada dua hal: pertama, cara mengajarkan, mengembangkan, dan  menyebarkan  agama islam,  serta ditandai dengan nilai-nilai persaudaraan, tolong menolong, persatuan, menuntut ilmu, ikhlas dan taat kepada Tuhan dan rasul, ulama sebagai pewaris  nabi. Kedua, pesantren sering disebut kampung peradaban (oleh para peneliti barat) yang ditandai dengan banyaknya alumni yang mampu menjadi pioner intelektual di tanah air.

Bahkan Menurut  Azzumardi Azra, pesantren muncul dan berkembang dari  pengalaman sosiologis masyarakat lingkunganya. Pesantren mempunyai  keterkaiatan erat  yang  tidak terpisahkan dengan komunitas lingkunganya.  Kenyataan itu bisa dilihat tidak hanya dari latar belakang pendirian pesantren, tetapi  juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam pandangan Azzumardi Azra, “pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuanya untuk melakukan adjustment dan readjustment, tetapi karena karakter esensialnya sebagai lembaga yang tidak hanya identik  dengan makna keislaman. Selain itu di pesantren juga terkandung makna keaslian Indonesia” (indigenous). Pesantren sebagai  tempat hidup dan belajar para santri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tertua di negeri seribu pulau ini,  tetapi  juga merupakan saksi sejarah tentang berbagai perkembangan indonesia sebagai bangsa di tengah pergaulan dunia yang semakin terbuka. Bahkan dalam suasana damai, perang kemerdekaan, gegap gempita gempuran arus global yang sampai saat ini belum jelas bahkan acapkali menorehkan arahnya, hal ini  tidak pernah lepas dari perhatian pesantren.

Hari ini–meski pengakuan secara historis sudah menempatkan peran pesantren sebagai salah satu institusi  yang sudah memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan dan pembangunan SDM–akan tetapi kita tidak bisa tidur lelap begitu saja. Masih banyak pekerjaan yang belum kita selesaikan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Bukankah masyarakat juga  terus menuntut supaya pesantren terus-menerus membaca realitas masyarakat–terutama hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat–. Dengan kondisi masyarakat  yang banyak menghadapi problematika ekonomi, budaya, politik, dan aspek- aspek lainya, ternyata  menempatkannya sebagai  tantangan tersendiri  bagi setiap institusi yang bertanggungjawab  dalam mendidik  SDM. Sehingga institusi  otomatis  dituntut  untuk mengakomodasinya. Bahkan ikut memberikan jawaban konkrit atas panggilan  kemaslahatan bangsa.

Ketika gerakan setiap elemen bangsa ini misalnya sedang terfokus pada upaya mewujudkan kemandirian di sektor ekonomi  akibat problem ketidakberdayaan masyarakat  dalam menghadapi tekanan krisis multidimensi, maka masyarakat pun kemudian meminta setiap institusi pendidikan–termasuk pesantren–supaya tidak hanya melahirkan atau memproduk out put yang fasih teori saja. Akan tetapi juga fasih terhadap keterampilan, kemandirian atau etos kerja. Sekurang-kurangnya mampu memunjukan semangat  untuk berbagai hal termasuk  ekonomi (wirausaha).

Mengapa pesantren harus bisa memperluas kontribusinya? Karena secara realitas, masyarakat sedang membutuhkan peranannya. Atau masyarakat mempercayai  kalau pesantren akan bisa berbuat banyak dalam memberikan solusi yang tepat terkait problem sosial-ekonomi.

Sebagai lembaga tertua, tentulah pesantren sudah kaya akan pengalaman adanya bacaan dalam mencerna dan menyikapi problem yang dihadapi oleh bangsa ini, khususnya yang kelak ditemuai oleh komunitas santri saat terjun di tengah pergumulan  masyarakat.

Ketika sekarang bangsa ini sedang menghadapi problem besar di sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan, maka logis jika pesantren ditantang untuk bisa menunjukan kepada bangsa ini  sebagai institusi yang kapabel dalam memberikan solusi terhadap problema tersebut. Permasalahan yang ada pada dunia kerja di indonesia yang hingga kini sarat dengan problem pengangguran intelektual adalah tantangan konkrit yang tidak bisa dibiarkan, apalagi sampai dibuat semakin parah. Sebab jika kondisi ini makin sulit, maka potensial akan melahirkan banyak kerawanan atau penyakit-penyakit sosial. Seperti tindakan kriminalitas.

Untuk mengawali tujuan mulya itu, marilah kita bersama-sama memantapkan SDM yang berpijak pada tradisi lokal. Yang dimaksud adalah daurah tsaqofah, yaitu menejrial kebudayaan yang dilakukan untuk membangun mental intelektual dan spiritual, berfikir terbuka, mampu mengembangkan potensi dirinya dengan tetap berpijak pada tradisi, diramu dengan model kekinian sesuai perkembangan zaman, bersifat, istiqomah, bertahap, dan sistematis. Dalam konteks  bentuk tsaurah kebudayaan  antara lain: Nahdlatun Wathan, Nahdlatun fikri dan Nahdlatun tujjar.[]

Penulis, Arsyad Muhammad