Tag Archives: tulisan

Hukum Peletakan Batu Nisan dan Tulisannya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagimana hukum memasang batu nisan pada kuburan? Dan bagaimana pula hukum menulisinya dengan nama jenazah? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Syafi’-Nganjuk)

_______________

Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memberi tanda pengenal atas kuburan dengan memasang batu nisan, patok, dan penanda lain merupakan kebiasan umat Islam hingga sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut merupakan sebuah anjuran syariat yang telah dicontohkan secara langsung oleh baginda Rasulullah saw. Sebagaimana penjelasan imam Khotib as-Syirbini dalam kitabnya yang berjudul al-Iqna’:

وَأَنْ يَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا أَوْ خَشَبَةً أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ : أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي

Hendaklah meletakan batu, kayu, atau benda serupa di atas makam pada bagian kepala jenazah. Karena Rasulullah SAW meletakkan batu besar di atas makam bagian kepala Utsman bin Mazh‘un. Rasulullah SAW bersabda ketika itu, ‘Dengan batu ini, aku menandai makam saudaraku agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini.”[1]

Selain bagian kepala, di sebagian wilayah juga memasang batu nisan di bagian kaki. Menjawab permasalahan tersebut, Al-Bujairimi memberikan jawaban demikian:

لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي) قَضِيَّتُهُ نَدْبُ عِظَمِ الْحَجَرِ وَمِثْلُهُ نَحْوُهُ، وَوَجْهُهُ ظَاهِرٌ فَإِنَّ الْقَصْدَ بِذَلِكَ مَعْرِفَةُ قَبْرِ الْمَيِّتِ عَلَى الدَّوَامِ، وَلَا يَثْبُتُ كَذَلِكَ إلَّا الْعَظِيمُ؛ وَذَكَرَ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابَهُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ،

Agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini. Penjelasannya adalah anjuran peletakan batu besar atau benda serupa itu. Masalah ini sudah jelas. Tujuan peletakan batu itu adalah penanda makam secara permanen di mana hal itu tidak dapat terwujud kecuali dengan batu besar. Imam Al-Mawardi menyebutkan anjuran peletakan batu di atas makam pada bagian kedua kaki jenazah.”[2]

Adapun hukum menulis nama jenazah di batu nisan masih dipertentangkan oleh para Ulama. Sebagaimana dalam kitab al-Fiqhu ‘Ala al-Madzahib al-‘Arba’ah:

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: الْكِتَابَةُ عَلَى الْقَبْرِ مَكْرُوْهَةٌ، سَوَاءٌ كَانَتْ قُرْآنًا أَوْ غَيْرَهُ، إِلَّا إِذَا كَانَ قَبْرَ عَالِمٍ أَوْ صَالِحٍ، فَيُنْدَبُ كِتَابَةُ اسْمِهِ، وَمَا يُمَيِّزُهُ لِيُعْرَفَ

Golongan ulama Madzhab Syafii berpendapat: menulis sesuatu di atas kuburan hukumnya makruh, baik berupa al-Quran atau selainnya. Kecuali kuburan orang Alim atau orang Salih, maka sunah menulis namanya dan sesuatu lain yang dapat membedakannya (dengan kuburan lain) agar dapat dikenali.”[3]

[]waAllahu a’lam

_____________________

[1] Al-Iqna, vol. II hal. 571, Cd. Maktabah Syamilah

[2] Hasyiyah al-Bujairomi ‘Ala al-Khotib, vol. II hal. 571, CD. Maktabah Syamilah

[3] Al-Fiqh ‘Ala Madzhahib al-Arba’ah, vol. I hal. 486.

 

Aksesoris Sticker Kaligrafi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Untuk memperindah peralatan yang dipakai sehari-hari, banyak di antara teman-teman yang menambahkan aksesoris, salah satunya ialah aksesoris yang berupa sticker kaligrafi. Ada yang ditempelkan di kaca mobil, cashing handphone, kaca rumah, dan lain sebagainya. Bagaimanakah syariat menanggapi hal tersebut? Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sholeh – Lamongan.

_____________________

Admin – Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada bapak Sholeh yang kami hormati.

Sebagian besar tulisan kaligrafi yang ada dalam sticker merupakan penggalan ayat al-Qur’an, shalawat, doa, dan lain sebagainya. Yang mana hampir dapat dipastikan dalam tulisan tersebut terdapat kata-kata yang wajib dimuliakan (asma’ mu’addzom). Sehingga dalam penggunaannya diharuskan tetap memegang etika untuk memuliakan tulisan tersebut.

Pemilahan hukum menggunakan asma’ muadzhom itu sesuai dengan keterangan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah:

كِتَابَةُ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَائِطِ: ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى كَرَاهَةِ نَقْشِ الْحِيطَانِ بِالْقُرْآنِ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ، وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ حُرْمَةَ نَقْشِ الْقُرْآنِ وَاسْمِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْحِيطَانِ لِتَأْدِيَتِهِ إِلَى الاِمْتِهَانِ. وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى جَوَازِ ذَلِكَ

Pembahasan menulis al-Quran di tembok. Ulama madzhab Syafi’i dan sebagian ulama madzhab Hanafi berpendapat hukum makruh apabila mengukir tembok dengan tulisan al-Qur’an. Karena dikhawatirkan akan jatuh sampai di bawah telapak manusia. Adapun ulama madzhab Maliki berpendapat haram mengukir tulisan al-Qur’an atau lafadz Allah di tembok karena akan berpotensi terlecehkan. Adapun sebagian ulama madzhab Hanafi memperbolehkan hal tersebut.”[1]

Merujuk dari keterangan di atas, pemasangan sticker kaligrafi yang ditempelkan di alat-alat yang sering digunakan setiap hari dapat diperinci sebagai berikut:

Boleh, apabila dipasang pada tempat yang aman dan tidak berpotensi menyebabkan sticker itu dilecehkan. Makruh, apabila dipasang pada tempat yang berpotensi menyebabkan sticker itu dilecehkan. Haram, apabila dipasang di tempat yang jelas-jelas hina dan terlecehkan.[] waAllahu a’lam

____________

[1] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XXVI/235.

Tulisan Jelek Kiai Mahrus

Ada satu pengalaman unik yang dialami oleh KH. Fathoni Syihabuddin (Cirebon) saat masih nyantri kepada Kiai Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo. Inilah penuturannyanya : Kepada Kiai Mahrus Aly saya pernah ikut ngaji Fathul Wahhab dan Tafsir Yasin di masjid. Dan saya termasuk dari santri yang sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau. Pada saat pengajian kitab Fathul Wahhab saya berada tepat di belakang beliau. Karena saya merasa bahwa tulisan saya termasuk jelek, akhirnya saya mencoba mengintai dan melihat kitab Kiai Mahrus dengan niat untuk melihat seperti apa isi kitabnya? Kemudian saya mendapati kitab beliau dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Alangkah kagetnya saya, saat beliau menghentikan bacanya dan dhawuh, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek”. Karena saat saya melihat tulisan beliau, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus. Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya kira beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya. (Dikutip dari buku”Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”)