Tag Archives: ulama salaf

“Tipu Daya” Abu Hanifah

Pada suatu hari, datanglah seorang laki-laki menemui imam Abu Hanifah untuk mengadu dan meminta solusi perihal masalah yang sedang dihadapinya.

“Aku pernah menaruh suatu barang milikku, namun sekarang aku lupa dimana tempatnya,” kata lelaki tersebut.

“Permasalahan ini bukan urusan fikih, aku tidak bisa membantumu. Akan tetapi cobalah kamu shalat sunah malam ini,” Abu Hanifah menjawabnya dengan bijak. Sebenarnya, beliau memiliki jawaban yang lebih memuaskan. Namun, beliau menghendaki sesuatu yang akan lebih berharga diperoleh lelaki itu.

Mendengar jawaban tersebut, lelaki itu pun pulang. Di rumahnya, ia melaksanakan shalat sesuai saran imam Abu Hanifah. Beberapa rakaat shalat sunah telah ia lakukan cukup lama. Belum genap tiga jam, ia sudah ingat dimana tempat ia menaruh barangnya. Akhirnya ia bangkit hendak menemui imam Abu Hanifah kembali.

“Wahai Abu Hanifah, aku sudah ingat tempat barang itu,” kata orang tersebut sambil tersenyum.

“Sekarang kau sudah tau, setan tidak akan membiarkanmu shalat dengan khusuk, makanya setan mengalihkan pikiranmu pada selain Allah,” jawab imam Abu Hanifah. “Bagaimana seandainya kamu habiskan malam ini dengan shalatmu, sebagai bentuk syukur terima kasih kepada Allah?” pungkas imam Abu Hanifah.

 

 

______________________

Disarikan dari kitab Wafayat al-A’yan (III/2013), karya Ibnu Khalqan.

Kisah Hikmah: Keluhuran Budi Syekh Ahmad Bin Mahdi

Syekh Ahmad bin Mahdi (w. 272 H.) adalah salah seorang salafussolih kaya yang gemar mendermakan hartanya untuk ilmu, dan mempunyai budi pekerti yang luhur. Suatu kali ada seorang perempuan mengadu kepada beliau:

“ya, syekh. Aku ini orang biasa, aku sedang dilanda masalah, atas nama Allah tolonglah aku,”

“apa yang terjadi padamu?” tanya Syekh Ahmad

“Aku menyesal Syekh, aku sekarang hamil dan aku beritakan kepada orang-orang bahwa engkau adalah suamiku dan ayah dari bayi ini. tolong aku, Syekh. Semoga Allah menutup aibmu.”

Perempun itu tampak menahan rasa malunya melihat Syekh Ahmad mengiyakan permintaannya.

 

Waktu terus berjalan. berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan perempuan itu berada dalam tanggungan Syekh Ahmad, sampai suatu saat perempuan itu melahirkan. Kabar segera tersiar jauh, dan tetangga-tetangga kampung halaman si perempuan datang berbondong-bondong bersama pemimpin mereka untuk mengucapkan selamat. Syekh Ahmad pun menyambut mereka dengan hangat, berbincang-bincang, berramah tamah dan mempersilahkan para tamunya beristirahat. Setelah itu Syekh Ahmad menyerahkan dua dinar kepada pemimpin mereka dan berkata:

“Ini untuk keperluan si jabang bayi, aku dan perempuan itu sudah bercerai.”

 

Singkat cerita sejak saat itu, setiap bulan Syekh Ahmad senantiasa mengirimi perempuan itu dua dinar untuk menutupi keperluan-keperluan jabang bayi itu.

 

Berbulan-bulan Syekh Ahmad mengirimi perempuan itu hingga pada suatu hari datang kabar kepadanya bahwa sang bayi telah meninggal dunia. Beberapa hari setelah bayi itu meninggal, perempuan itu kembali menemui Syekh Ahmad untuk menyerahkan dinar-dinar yang setiap bulan dikirimkan kepadanya. Dengan halus Syekh Ahmad menolaknya,

“dinar-dinar ini adalah kasih sayang untuk sang bayi, engkau gunakan saja, karena sekarang dinar-dinar ini telah menjadi milikmu.” Tutur Syekh Ahmad

 

Akhirnya, karena Syekh Ahmad bersikeras menolaknya, perempuan itu pun membawa kembali dinar-dinar tadi dan mendoakan Syekh Ahmad agar senatiasa ditutupi aib-aibnya oleh Allah.

 

Sumber: Shifat as-Shafwah

Mencetak Kitab Amtsilah, Lirboyo Mendapat Restu dari sang Cucu

LirboyoNet, Surabaya—Kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyah adalah salah satu kitab ilmu sharaf yang paling digemari oleh masyarakat pesantren Nusantara. Hampir seluruh pesantren menggunakan kitab ini sebagai kitab wajib untuk mempelajari ilmu sharaf (gramatika Arab). Mayoritas mengakui, ilmu sharaf adalah ilmu yang tidak mudah untuk dipelajari. Ini tak lepas dari kekayaan kosakata bahasa Arab yang sangat luas.

Namun, oleh KH. M. Maksum bin Ali, seorang alim dari Jombang, mampu menyederhanakan rumus ilmu sharaf dalam sejilid kitab mungil itu. Beliau susun secara sistematis, dan disesuaikan dengan kemampuan santri dalam menghafal dan menelaahnya.

Senin (07/05) beberapa santri Pondok Pesantren Lirboyo sowan kepada salah satu cucu beliau, KH. Kikin Abdul Hakim Mahfudz di Surabaya. Santri-santri itu adalah tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr Darul Mubtadi-ien (LTN-DM) Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM). Mereka bermaksud mengetahui secara detail bagaimana kitab ini ditulis dan diajarkan. Karena, akhir-akhir ini banyak ditemukan teks kitab al-amtsilah kurang sesuai dengan teks aslinya.

Dalam momen sowan itu, tim LTN-DM juga mendapatkan izin untuk mencetak dan memperbanyak kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah. Tentu ini sangat disambut gembira oleh Pondok Pesantren Lirboyo. Selain kitab ini adalah kitab wajib dalam kurikulum madrasah, restu yang diberikan ini adalah satu hal yang terpenting dalam keberkahan ilmu yang dipelajari para santri nantinya.][

Merongrong NKRI, Menggali Kuburan Sendiri

Sejarah selalu milik para pemenang. Idiom ini begitu klasik kita dengar. Sebagian orang menyangka idiom ini sebagai ungkapan kekecewaan atas penulisan sejarah yang tak objektif. Mereka sering menemukan fakta-fakta yang berlainan, bahkan bertolak belakang dengan apa yang telah ditulis rapi oleh para sarjana. Lebih jauh, penulisan yang tak objektif itu disinyalir sebagai upaya deislamisasi, upaya meruntuhkan nilai-nilai positif agama Islam, bahkan hingga menyentuh ranah akidah ahlussunnah wal jamaah (aswaja).

Beberapa tahun belakangan, ancaman terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia tak henti-hentinya datang bergantian, bak tetesan air di musim penghujan, turun bersamaan dan menyasar di semua lini. Beberapa pengamat menerka, peristiwa ini tak lepas dari rasa nasionalisme masyarakat yang kian terdegradasi. Lebih-lebih, mereka kaum muda yang kini teramat minim minatnya terhadap kajian sejarah.

Komunitas-komunitas masyarakat kini berbondong-bondong mengusung isu nasionalisme ini, agar menjadi tema yang penting untuk diperhatikan seluruh komponen masyarakat. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu gerbong yang mengantar rakyat Indonesia untuk meneguhkan jiwa nasionalisme.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia merasa berkewajiban untuk merawat kesatuan negara ini. NU merasa ini adalah sebuah warisan dari para pendiri, juga para pendahulu. Lebih-lebih, masyarakat NU merasa bahwa ini adalah tanggungjawab yang dibebankan oleh para penyebar Islam pertama di Nusantara, Walisongo.

Para manusia kekasih Allah itu telah mencontohkan bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia kini merawat tanah airnya. Pati Unus, seorang Raja Demak, adalah salah seorang yang mendapat didikan arif Walisongo. Ketika ia menerima informasi Portugis, bangsa penjajah dahulu, hendak berlayar ke Malaka pada tahun 1521, ia segera menyiapkan pasukannya. Raja yang berjuluk Pangeran Sabrang Lor itu sadar, bahwa kehadiran bangsa Portugis ini tak lain untuk menjajah dan merenggut harta kekayaan Nusantara. Sementara ia merasa bahwa Nusantara tak lain adalah tanah air yang harus dipertahankan mati-matina, olehnya dan oleh seluruh bangsanya.

Beratus-ratus tahun kemudian, perjuangannya terus dipertahankan oleh para ulama. Komitmen ulama-ulama terdahulu terhadap Nusantara, tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka menanamkan rasa nasionalisme ini dengan cara yang arif. Indonesia yang telah merdeka, bukan berarti perjuangan mereka telah selesai. Cita nan agung dalam merawat Nusantara mereka wujudkan dengan menyisipkannya dalam budaya-budaya. Seperti kebiasaan merayakan kelahiran anak dengan membuat bubur merah, dengan bubur putih di tengah. Atau membuat idiom-idiom sederhana seperti “sekapur sirih, yang menyiratkan warna bendera, putih (kapur) dan merah (sirih).

Maka sudah selayaknya kita sebagai pewaris harta kekayaan Nusantara, ikut merawat warisan ini dengan cara-cara yang arif pula, meski perjuangan kini telah berbeda dengan masa-masa lalu. Kini masyarakat Indonesia dihadapkan bukan lagi kepada perang fisik: peluru lawan bambu; dentum tank dilawan seruan takbir. Kini perjuangan harus dilakukan lebih berat, sebab kini kita harus menjalani perang ideologi, sistem dan ilmu pengetahuan.

Dibutuhkan keyakinan dan keteguhan hati yang tinggi terhadap nilai-nilai arif kebangsaan, yang telah susah payah diterjemahkan oleh para ulama dalam ideologi dan budaya ahlussunnah wal jamaah. Masyarakat kini harus menggigitnya dengan geraham, memegangnya erat-erat.

Karenanya, kita harus terus menempa diri untuk menumbuhkan kerelaan hati yang tinggi dalam merawat warisan ini. Di daerah-daerah perkotaan, hingga daerah terpencil, harus terus digalakkan penanaman ideologi aswaja ini.

Mungkin kita merasa gembira, ketika mendengar kabar di kampung-kampung, adat istiadat dan nilai aswaja terus dilestarikan. Rutin mengadakan tahlilan bergilir, istighotsahan, yasinan dan lain-lainnya. Aktivitas ini setidaknya mampu membendung aliran-aliran yang menyimpang dari kebiasaan mereka dan masuk ke daerah tersebut.

Namun perjuangan itu juga harus dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat. Bukan hanya mereka yang sedang ditakdirkan berada di sudut-sudut tanah air itu. Sudah waktunya bagi kita untuk menguatkan rasa rela hati dan keyakinan terhadap aswaja dan nasionalisme, untuk menularkannya kepada kawan, sanak saudara, tetangga, bahkan lawan ideologis kita. Harus kita camkan kepada mereka yang hendak menggali dan merongrong tatanan kebangsaan Indonesia, bahwa yang sedang mereka gali justru kuburan mereka sendiri. waAllahu a’lam.|>

Mbah Ali Maksum dan Pohon Kristen

Pernah suatu ketika, KH Ali Maksum jalan-jalan di sekitar pesantren. Beliau sering melakukan kegiatan tersebut, berniat untuk memantau kondisi di sekitar lingkungan pesantren. Entah itu kondisi santrinya, pun masyarakat di sekitarnya.

Senyum dan sapa adalah ciri khas Mbah Ali ketika berpapasan dan bertemu dengan orang lain. Pemandangan santri berbaris berderet panjang untuk bersalaman juga hal lazim bagi Mbah Ali.

Sejauh beliau berjalan, nampak kondisinya sesuai dengan apa yang selalu beliau harapkan: “baik-baik saja.” Santri berkegiatan seperti biasa, ada yang mengaji Qur’an, belajar, mencuci dan tidak sedikit yang sedang ngopi berdiskusi.

Ya begitulah, kultur pesantren yang dibangun oleh Mbah Ali adalah kultur keterbukaan. Segala yang bisa dipelajari, akan juga dikupas dan dimakan habis. Kajian keislaman pesantren di era Mbah Ali dicatat mendapatkan momentum terbaiknya.

Tapi ketika dirasa baik-baik saja, mata Mbah Ali menatap dalam-dalam dari kejauhan sana terdapat keramaian. Beliau mendekati sumber keramaian, didapatinya enam orang santri berjibaku untuk menebang pohon. Mbah Ali semakin dekat, hingga bisa memastikan bahwa pohon yang akan ditebang adalah pohon cemara. Mbah Ali lantas bertanya dengan tanggap.

“He Cong, koe ngopo nebang wit kui? (Bocah, kenapa kamu tebang pohon itu?)” tanya Mbah Ali dengan beribu tanda tanya.

“Niki wit Ceramah Mbah, eh cemara Mbah,” jawab santri tergagap. Kaget sekaligus takut. Mereka hampir tak menyadari kedatangan Mbah Ali sebab sibuk menebang.

“Terus ngopo nek wit cemara? Ngopo kok ditebang? (Trus kenapa kalau pohon cemara? Kenapa ditebang?)” Mbah Ali terus menyelidiki.

“Lah niki pohon Kristen Mbah. Wit ingkang didamel umat Kristen ngrayakke Natal. Supados mboten nyerupani, lare-lare sepakat nebang wit niki. (Lah ini pohon orang Kristen, Mbah. Pohon yang digunakan umat Kristen untuk merayakan Hari Natal. Agar tidak menyamai mereka, anak-anak sepakat menebang pohon ini).”

 “…dalile kan pun jelas Mbah, ‘Man tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhu…'” Panjang santri sembari ndalili Kiainya sendiri.

“Hmm ngono tho le,” dehem Mbah Ali. “Lah sejak kapan pepohonan mempunyai agama?” Mbah Ali bertanya balik.

Yang ditanyai tanpa respon, saling pandang satu sama lain. Bingung gelagapan.

“Asal salatmu masih lurus, Pepohonan ini tidak bakal bisa merintangi imanmu, le. Pohon cemara kamu bilang pohon Kristen. Nggak sekalian saja pohon lainnya kamu kasih agama? Semua saja kamu labeli agama. Motor agama Shinto soalnya dari Jepang. Bentuk motor mirip salib, kamu bilang itu kendaraan kafir.”

Selagi Mbah Ali menjelaskan, masing-masing santri diam-diam melempar muka dan melepaskan alat-alat yang tadi dibuat untuk menebang, seperti tali, gergaji, palu dan golok.

Semua santri diam dan tak berdaya. Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, seolah-olah mereka pengin pipis di celana. Masih tanpa ekspresi, mereka berdiri terpaku dan terpukau dengan penjelasan Mbah Ali.

“Tidak usah ditebang, le,” perintah Mbah Ali. Sedang para santri langsung bubar tak lupa pamit dengan bersalaman kepada Mbah Ali.

Soal hadis tadi, “man tasyabbaha bi qaumin…” tidak semua keserupaan itu berlaku di segala sisi kehidupan sosial dan budaya. Bahkan hadis itu berlaku hanya pada keserupaan perihal ibadah agama tertentu.

Pernah Nabi SAW. menyerupai orang musyrikin dan Yahudi dalam menyisir rambut, dan beliau menyukai model rambut yang kedua. Pun dengan kubah masjid, itu tradisi bangsa Romawi, lihat Aya Sofia di Istanbul Turki. Tapi tak ada yang meragukannya, sebab mindset kita kalau kubah itu ya Islam.

Tapi, coba Anda lihat beberapa langgar–sejenis dengan musala, bentuk kubahnya prisma, menyerupai bentuk gereja. Begitulah salah satu bentuk manifestasi dari penghargaan sekaligus penghormatan Islam rahmatan lil’alamin terhadap agama lain.

Sekali lagi, ini bukan soal menyerupai kaum ini dan itu. Mbah Ali mencoba untuk tidak mendiskreditkan agama-agama lain dalam campur tangan orang Islam. Ini soal kesehatan logika beragama kita, yang seringkali merasa iman kita ditakutkan tercampur dengan iman agama lain sebab meniru mereka.

Selain itu, pepohonan merupakan sumber air. Air yang bersih dan melimpah itu berkat filterisasi dari proses pertumbuhan pepohonan. Kotoran dan jenis penyebab penyakit dalam air disaring oleh akar pohon-pohon. Mereka mengelola peredaran air melalui akar-akar yang menjulang di bawah dataran tanah. Sehingga air bisa dinikmati oleh manusia.

Karenanya, Mbah Ali juga melarang untuk menebang, pasalnya persediaan air yang dibutuhkan oleh pesantren sangatlah banyak. Apabila pohon ditebang, otomatis sumber air bisa berkurang.

Ala kulli hal, hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Mbah ali tersebut adalah, jangan sekali-kali menyerupai orang lain sembari mengolok-olok kaum yang kamu serupai.][

 

Sumber cerita dari ceramah KH. Buchori Masruri saat Haul Mbah Ali Maksum, dari situs almunawwir.com dengan judul “Mbah Ali, Pohon Kristen dan Anomali Logika Beragama”