Tag Archives: umar

Rahasia di Balik Makam Umar Ra. yang Bersandingan dengan Makam Rasulullah Saw.

Tatkala ajal akan menjemputnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra. menyuruh anaknya, Abdullah, untuk menemui istri Rasulullah Saw., sayyidah ‘Aisyah.

Pergilah kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. dan katakanlah bahwa Umar menyampaikan salam untukmu. Jangan kamu mengatakan Amirul Mukminin karena sekarang saya bukan Amirul Mukminin. Katakan Umar bin Khattab meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya (Rasulullah Saw. Dan Abu Bakar as-Shiddiq Ra.) tepat di samping makam beliau Saw.”

Setelah Abdullah menemui ‘Aisyah Ra. dan menyampaikan maksud dari sang ayah, ternyata diketahui bahwa ‘Aisyah Ra. juga memiliki keinginan serupa.

Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya.” terang ‘Aisyah Ra.

Abdullah pun pulang dan menyampaikan izin ‘Aisyah yang menjadi kabar gembira kepada Umar.

Mendengar kabar tersebut, kebahagian terpancar dari wajah Umar bin Khattab Ra. Ia berkata “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu.”

_________________________________

Dikutip dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha hlm. 250-251 karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malaki al-Hasani.  

Aisyah dan Rembulan yang Jatuh di Rumahnya

Rumah Sayyidah Aisyah menjadi rumah terakhir yang ditinggali Rasulullah, sebelum beliau wafat. Dan Aisyah pun menjadi satu-satunya tumpahan isi hati Rasulullah menjelang kepergiannya. Di hari-hari akhir itu, Rasulullah berbisik kepada Aisyah. “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya, kecuali setelah ia diperlihatkan tempatnya di surga kelak.”

Beberapa waktu kemudian, kala detik terakhir hampir tiba, beliau pingsan di pangkuan Aisyah. Ketika sadar, pandangan mata beliau terangkat. Beliau mendesahkan satu kalimat.

اللهم في الرفيق الأعلى

Duhai tuhanku, kekasih yang luhur…”

Rupanya beliau telah ditunjukkan oleh Allah tempat yang akan dihuninya di surga kelak. Setelah kalimat itu terucap, Aisyah memandangi wajah beliau. Ia menyandarkan kepala beliau di peraduan. Kabar duka kemudian menyebar: Rasulullah, sang manusia sempurna akhlaknya, telah paripurna usianya. Istri-istri beliau berkumpul. Aisyah begitu terpukul.

Di kemudian hari, Aisyah mengenang hari-hari itu. “Sungguh, sebagian dari nikmat nikmat Allah yang diberikan padaku adalah Rasulullah wafat di rumahku, di hariku, dan Allah menyatukan cintaku dan cintanya saat wafatnya.”

Ia bahagia, sekaligus menderita. Dan penderitaan-penderitaan yang berat datang silih berganti di kehidupannya. Apalagi ketika ayahnya dilanda sakit parah.

Kala Abu Bakar berada di titik itu, Aisyah lah yang menjadi teman hidup di detik-detik terakhir sahabat terbaik Rasulullah saw. itu. Abu Bakar menyanjung kebaikan hati putrinya. “Anakku, engkau adalah manusia yang paling kucinta. Aku meninggalkan untukmu tanah di sana dan disana, yang kau pun tahu…” Aisyah terus mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya. Hingga Abu Bakar sampai pada kalimat yang menggetarkan hati, “Berapa lapiskah kalian mengkafani Rasulullah?”

Aisyah menjawabnya layaknya cinta anak kepada sang ayah,“Tiga lapis baju putih. Tanpa gamis. Tanpa imamah.” Aisyah menguatkan hatinya. Terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya setelah itu.

“Hari apa Rasulullah wafat?”

Hari Senin.

“Ini hari apa?”

Hari Senin.

“Aku berharap aku wafat antara sekarang hingga nanti petang.”Abu Bakar kemudian memandang bajunya yang beraroma za’faran. “Cuci bajuku ini dan tambah dua baju lagi. Kafani aku dengannya.” Abu Bakar sangat menginginkan hari itu menjadi hari terakhirnya. Sebagaimana menjadi hari terakhir manusia yang dicintainya, Rasulullah saw.

Tetapi Allah lah penentu segala kehendak. Beliau wafat tidak pada hari itu. Beliau wafat besoknya, kala hari beranjak sore. Ia pun dimakamkan di kamar Aisyah, di dekat makam Rasulullah saw. Kepala Abu Bakar disejajarkan dengan pundak Rasulullah saw.

Dua peristiwa mengharukan ini, wafatnya Rasulullah dan Abu Bakar di pangkuan Aisyah, seakan menjadi wujud dari mimpi Aisyah suatu waktu dulu.

Ia bermimpi dalam tidurnya bahwa tiga rembulan jatuh di kamarnya. Ia menanyakan mimpi itu kepada ayahnya, Abu Bakar. “Wahai Aisyah. Jika mimpimu itu benar, akan terkubur di rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi ini.”

Ketika Rasulullah wafat dan dimakamkan di kamar Aisyah, Abu Bakar berkata, “Wahai Aisyah. Inilah salah satu rembulan itu. Ia rembulan yang terbaik.” Selain satu rembulan terbaik itu, dua rembulan lainnya adalah ayahnya dan Umar bin Khattab. Ketiganya dimakamkan bersandingan.

Sepeninggal Rasulullah, Sayyidah Aisyah hidup menjanda. Dan waktunya terlewat –40 tahun—dengan tetap menjanda. Ia menetap di kamarnya sepanjang sisa hidupnya, di samping makam al-mushtafa, kekasihnya. Ia tak pergi dari sana kecuali umrah, haji, dan berkunjung ke sanak saudara.

______________________________

Sirah al-Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mukminin. Sayyid Sulaiman al-Nadwi.  hal. 151-155.

Berhaji dipandu Al-Ghazali

LirboyoNet, Kediri –Haji sebenarnya tidak rumit. Hanya, ia tidak kita lakukan setiap hari. Itu yang membuatnya terkesan susah dan berat. Maka, diperlukan semacam pengingat dan praktek untuk lebih mengetahui bagaimana sebenarnya haji disyariatkan.

Untuk itulah Jumat (23/09) kemarin, ratusan siswa kelas 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mendapatkan training khusus terkait ibadah haji. Training ini, selain untuk memperdalam wawasan haji dan sebagai bekal mereka setelah tamat sekolah nanti, juga digagas demi memperlancar ujian praktek yang menjadi agenda sesudahnya.

Malam itu, KH. Munawar Zuhri selaku tutor membuka penjelasan dengan kisah bertahun-tahun lalu. “Saat sekolah dulu, saya diberi ijazah oleh guru saya. Beliau mendengarnya dari Yai Juki (KH. Marzuqi Dahlan). ‘kalau pengen haji, baca doa ini setiap di antara dua khutbah Jumat’. Tidak disangka, Allah berkenan dan saya haji tidak lama setelah nikah,” kenang beliau. Doa itu berbunyi “Allâhumma ballighnâ ziyârotal makkata wal madînah yusran la ‘usran”.

Kemudian beliau mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf. Ibadah lain boleh ada perkhilafan (perbedaan) tentang wajib dilakukan atau tidak. Tapi kewajiban wukuf telah mutlak disepakati para ulama. Selain sebagai inti ibadah, wukuf memiliki keistimewaan tersendiri. “Pada waktu wukuf, kok tidak yakin bahwa semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah, itu sebuah dosa tersendiri.” Karenanya, saat wukuf, seluruh jamaah haji dihadirkan. Tidak terkecuali yang sakit. Karena syarat wukuf sendiri mudah. Hanya berdiam di Arafah, meskipun sebentar, sakit, bahkan tidak sadarkan diri.

Untuk melengkapi panduan ibadah haji, kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali adalah referensi yang lengkap. “Kalau kitab lain hanya seputar ibadah jasmani saja, kitab Ihya memberikan bimbingan haji secara dzahiran wa bathinan. Lahiriyah dan ruhaniyah lengkap semua di sana. Cukup sampean bawa fotokopian bab hajinya saja.” imbuh beliau.

Setelah selesai menyajikan teori, beliau mengajak seluruh siswa untuk keluar masjid Al Hasan dan segera menuju lapangan. Di sana sudah tersedia miniatur tempat-tempat yang dilalui saat melaksanakan haji: Ka’bah, lintasan Safa dan Marwa, Jamaraat (tempat melempar jumrah), Mina dan lain sebagainya.

Yang beliau fokuskan pada malam hari itu adalah pelaksanaan haji yang sederhana. Mengingat, jika juga disajikan hal-hal lain yang bersifat komplementer, justru titik-titik penting dari ibadah haji akan hilang. “Itu yang selama ini menjadi masalah bagi banyak jamaah haji. Thawaf tidak sah, rukun yang lain hilang, dan seterusnya. Mereka terlalu fokus pada hal-hal lain. Misalnya cium hajar aswad, doa-doa panjang,” terang beliau. Mengenai kesunahan mencium Hajar Aswad, sebagaimana yang dikisahkan Yai Munawar, Rasulullah sendiri pernah mewanti-wanti sahabat Umar ra. “Badanmu itu tinggi besar. Jangan sampai saat mencium hajar aswad, kau mengganggu dan menyakiti orang-orang sekitarmu.”][

 

Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

Khalifah Umar bin Khathab memiliki kebiasaan berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk mengetahui secara langsung kondisi rakyat yg dipimpinnya. Ketika melewati sebuah rumah, Khalifah mendengar suara tangis seorang wanita. Beliau lantas menghentikan langkahnya. Didengarnya ada seorang wanita berkata kepada anak-anaknya, “Allah lah yg akan mengadili antara aku dan Umar bin Khathab.”
Khalifah Umar penasaran, ingin tahu apa yg terjadi dan juga ingin meredakan kesusahan yg dialami keluarga yg berada di rumah itu.

Beliau kemudian mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. Seisi rumah itu belum pernah ada yg mengenal dan melihat wajah Umar bin Khathab.

Khalifah Umar bertanya kepada wanita yg ada di rumah itu, “Apa yg telah dilakukan Umar kepadamu?”

“Dia telah mengirim suamiku ke sebuah peperangan. Suamiku meninggalkan anak-anak yg masih kecil. Aku tidak memiliki apapun untuk aku gunakan menafkahi mereka.” jawab wanita tsb.

Seketika menangislah anak-anak kecil yg ada di situ sambil berkata, “Amirul mu’minin telah melalaikan kami.”
Tanpa pikir panjang Khalifah bergegas pamit. Beliau segera mengambil sekarung tepung dan beberapa potong daging yg diangkut ke atas punggungnya. Seseorang yg ada di sampingnya heran melihat Khalifah melakukan hal tsb. Dia kemudian berkata, “Letakkanlah, biar aku saja yg membawanya.”

“Tidak. Jika kamu memikul ini di dunia, siapakah yg akan memikul dosaku di hari kiamat kelak?” jawab Khalifah Umar dengan berlinang air mata.

Beliau menangis sampai memasuki rumah wanita yg dimasukinya tadi. Khalifah kemudian membuat tepung dari gandum yg dibawa, menghidupkan api di dapur dan memasak roti & daging. Setelah makanan matang, beliau membangunkan anak-anak kecil di rumah itu kemudian disuapi dengan tangan beliau sendiri hingga mereka kenyang.

Sebelum pamit Khalifah mengungkap siapa dirinya sambil memohon, “Jadikanlah diriku terbebas dari tuntutan. Jangan kalian tuntut aku di hari kiamat kelak.”

Mereka mengiyakan permohonan tersebut.
Khalifah lantas pulang dengan perasaan lega.

* * *

Sangat relevan dengan kisah ini, adalah sabda Rasulullah SAW.
سيد القوم خادمهم
“Pemimpin masyarakat adalah pelayan bagi mereka.”

***

Ya Allah, kami merindukan sosok pemimpin yg seperti ini.

***

Semoga pemimpin-pemimpin kita bisa meneladani sikap tanggung jawab Amirul Mu’minin Umar bin Khathab.