Tag Archives: uqudullujain

Pesan Rasulullah SAW untuk Para Istri

Pada suatu hari, Rasulullah SAW mengunjungi rumah yang dihuni putri tercintanya, sayyidah Fatimah. Beliau melihat kesibukan sayyidah Fatimah mengurus pekerjaan rumah tangga, sebagaimana seorang istri pada umumnya.

Setelah itu, Rasulullah SAW memberikan beberapa pesan kepada putri tercintanya sebagai seorang istri.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, kecuali Allah mencatat kebaikkan dari setiap butir biji yang tergiling dan menghapus keburukkan serta meninggikan derajatnya.   

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang berkeringat di sisi alat penggilingan karena membuatkan makanan untuk suaminya, kecuali Allah akan memisahkan dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang meminyaki rambut, menyisir rambut, dan mencuci baju anak-anaknya, kecuali Allah akan mencatat baginya memperoleh pahala seperti pahala seseorang yang  memberikan makan kepada seribu orang yang sedang kelaparan dan memberikan pakaian kepada seribu orang yang sedang telanjang.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang menghalangi kebutuhan tetangganya, kecuali Allah kelak mencegahnya untuk meminum telaga Kautsar kelak di hari kiamat. Akan tetapi yang lebih utama dari pada itu semua adalah keridhoan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhoimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu. Bukankah engkau mengerti, bahwa keridhoan suami itu bagian dari keridhoan Allah dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah.

Wahai Fatimah, manakala seorang istri sedang mengandung maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya dan setiap hari dirinya dicatat  memperoleh seribu kebajikan dan akan dihapus seribu keburukan. Apabila telah mencapai rasa sakit (melahirkan) maka Allah mencatat baginya memperoleh pahala seperti pahala orang orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila ia telah melahirkan, maka dirinya terbebas dari segala dosa seperti baru dilahirkan oleh ibunya.

Wahai Fatimah, tidaklah istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, kecuali dirinya terbebas dari seluruh dosa seperti ketika baru dilahirkan oleh ibunya. Ia pun keluar dari dunia (meninggal) kecuali tanpa membawa dosa, ia menjumpai kuburnya sebagai taman surga, dan Allah memberinya pahala seperti pahala seribu orang yang naik haji dan berumrah dengan seribu malaikat yang memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang melayani suaminya siang dan malam sepenuh hati dengan niat yang baik kecuali Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya akan diberi pakaian berwarna hijau dan dicatatkan untuknya dengan seribu kebajikan pada setiap helai rambut yang tumbuh dari tubuhnya, dan Allah akan memberi pahala untuknya sebanyak orang yang menunaikan haji dan umrah.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang tersenyum manis di depan suaminya, kecuali Allah akan memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, kecuali ada seruan dari langit yang ditujukan kepadanya: Menghadaplah engkau (istri) dengan membawa amalmu, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.

Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang meminyaki rambut dan jenggot suaminya, memangkas kumis suaminya, dan memotong kuku-kuku suaminya, kecuali Allah kelak memberi minum tuak yang tersegel dan dari sungai yang terdapat di surga untuknya. Bahkan Allah akan meringankan beban sakaratul maut, kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga, dan Allah mencatat baginya terbebas dari siksa neraka dan mudah melewati jembatan Shirat Al-Mustaqim”.

_______________________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud Al-Lujain, hal. 13.

Kisah Wanita Cantik dan Si Pandai Besi

Sebagian Ulama menceritakan:

Ada seorang lelaki pandai besi. Dia mampu memasukkan tangannya pada api dan mengeluarkan besi yang menyala-nyala, namun dia tidak merasakan panasnya api.

Lalu dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, lalu lelaki itu menunggu hingga pandai besi itu merampungkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia terus mengucapkan salam dan pandai besi itu membalasnya.

Aku ingin menjadi tamu engkau pada malam ini,” kata lelaki itu.

Dengan senang hati dan penuh kehormatan,” jawab pandai besi.

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah pandai besi, ia dijamu dengan makanan khas sore hari dan bermalam bersama si pandai besi. Ternyata, dalam penelusurannya, si pandai besi tidak beribadah kecuali mendirikan shalat fardhu dan tidur hingga subuh.

Mungkin si pandai besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini,” gumam lelaki itu dalam hatinya.

Lelaki itu lalu bermalam satu malam lagi. Ternyata pandai besi itu masih seperti biasa, tidak menambah ibadah sama sekali kecuali mendirikan shalat fardhu.

Melihat hal demikian, lelaki tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah dan aku pun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun aku merenung, karena tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan. Engkau tidak beramal selain shalat fardhu. Dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu (memegang besi dibakar tidak merasakan panas)?

Akhirnya si pandai besi tersebut menjawab, “Wahai saudaraku, aku ini mengalami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini:

Aku mempunyai tetangga wanita cantik, aku pun sangat mencintainya. Berkali-kali tidak berhasil mendapatkan wanita itu, karena dia menjaga dirinya dengan memelihara kehormatan diri.

Lalu pada suatu masa, timbul musim paceklik (kesulitan makanan) yang mana seluruh orang merasa lesu. Saat aku duduk di rumah. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ketuk pintu. Aku pun keluar sambil berkata, “Siapa itu?”.

Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah anda dapat memberi makan padaku karena Allah?

Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu padaku. Apakah engkau tidak tahu apa yang ada dalam hatiku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?” jawabku.

Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah.” sahut wanita itu. Akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu aku jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumahku dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Aku pun meletakkan makanan di depannya. Melihat apa yang aku lakukan, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Apa makanan ini karena Allah?

Tidak, syaratnya engkau harus menyerahkan dirimu kepadaku.” jawabku.

Wanita itu lalu berdiri dan sama sekali tidak mau makan, ia kemudian pulang menuju rumahnya.

Selang dua hari kemudian, datang kembali mengetuk pintu. Aku keluar sedangkan ia berdiri di depan pintu. Suaranya terputus-putus karena kondisi yang kelaparan dan punggungnya telah lemah, seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selain engkau. Apakah engkau dapat memberi makanan kepadaku karena Allah?”.

Iya, jika kamu mau menyerahkan dirimu padaku.” jawabku.

Wanita itu akhirnya mau memasuki rumahku dan duduk di dalamnya. Ketika itu, aku tidak mempunyai makanan. Saya berdiri, menyalakan api untuk memasakkan makanan buat wanita itu. Setelah makanan saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah menemuiku.

Celaka engkau hai diriku ini, wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang ke rumahmu karena sakit kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Ya Allah, aku bertaubat pada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selama-lamanya,” gumamku dalam hati.

Kemudian aku menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan.

Makanlah, tak perlu takut. Sebab makanan ini aku berikan karena Allah” kataku.

Setelah wanita itu mendengar ucapanku, lalu ia mengangkat kepalanya ke langit seraya berdo’a, “Ya Allah, jika lelaki itu benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api untuk orang ini di dunia dan akhirat.

Wanita itu lalu kubiarkan untuk melanjutkan makan. Karena pada saat itu musim penghujan, aku hendak memadamkan api. Ternyata kakiku menginjak bara api, tetapi tidak terasa panas dan tidak membakar kakiku.

Ketika aku menemui wanita yang sedang makan, rasa senang terpancar dari wajahnya. Aku pun berkata, “Bergembiralah engkau karena Allah telah mengabulkan do’amu”.

Wanita itu tetap melahap suapan makanan dari tangannya. Setelah selesai memakan semua makanan, ia bersujud syukur karena Allah dengan berdo’a, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.”

Maka Allah mencabut nyawa wanita itu dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku wahai saudaraku, Allah Maha Mengetahui”.

 

______________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud al-Lujain, hal. 22, cet. Al-Haromain.