Tag Archives: Ushul Fikih

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-2)

Baca dulu Bagian I

Pengertian Ushul Fiqih

Para ulama ushul (ushuliyyin) memetakan definisi  ushul fiqih dengan 2 sudut pandang, yaitu dari segi etimologi dan terminologi, serta ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman. [1]

  1. Ushul fiqih dari segi etimologi dan terminologi.

Penguraian makna ushul fiqih dalam hal ini merupakan konteks definitif dari segi etimologi (lughot) dan terminologi (istilah). Dan sudah diketahui bahwa kata ushul fiqih tersebut tersusun atas dua lafadz dengan menggunakan tarkib idhofy (susunan penyandaran) yang masih membutuhkan penguraian makna masing-masing lafadznya.

Pada dasarnya, “ushul al-fiqh” merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata. “ushul” dan “al-fiqh”. Lafadz “ushul”adalah bentuk jamak dari mufrad (bentuk tunggal) lafadz “ashl”. Secara bahasa, “ashl” adalah sesuatu yang menjadi dasar dari sesuatu yang lain. Sebagaimana akar ialah “ashl” dari sebuah pohoh yang diatasnya terdapat batang, daun, ranting dan buah. Ushul fiqih juga demikian, ia merupakan “ashl’’  atau dasar pondasi fiqih, diatas kaidah dan teori ushul fiqih tersebutlah terbangun begitu banyak rumusan hukum fiqih.[2] Menurut sebagian pendapat, yang dimaksud lafadz “ashl” dalam pembahasan ini adalah bermakna dalil. Mengikuti pendapat ini,  ushul fiqih memiliki makna kumpulan dalil-dalil fiqih seperti Alquran, hadis, ijma, qiyas dan lain-lain.[3]

Pengertian “al-Fiqh”, secara etimologi memiliki arti al-fahm (pemahaman). Adapun fiqih secara terminologi memiliki beberapa makna, salah satunya adalah sebagai berikut:

اَلْعِلْمُ بالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

“Pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat pengamalan yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci“.[4]

Dalam redaksi tersebut, penggunaan lafadz  “al-‘ilmu” dalam definisi fiqih bukan menggunakan makna aslinya yang semestinya digunakan untuk perkara-perkara yang dipastikan kebenarannya seperti dalam ilmu teologi (tauhid). Karena dalam konteks fiqih, prasangka atau asumsi (dzon) sudah dianggap cukup.[5]

  1. Ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman.

Para ulama ushul (ushuliyyin) dari golongan Syafi’iyyah masih terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai ushul fiqih dipandang dari sudut salah satu nama cabang ilmu syariat. Secara terminologi sebagai berikut:

دَلاَئِلُ الْفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةِ وَبِطُرُقِ اِسْتِفَادَتِهَا وَمُسْتَفِيْدِهَا

“Dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”.

Adapun pendapat lain mendefinisikan ushul fiqih dengan menggunakan redaksi: “Pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”.[6]

Yang dimaksud dalil ijmaly (global) adalah kaidah umum sebuah dalil yang masih belum berkaitan dengan hukum tertentu. Karena dalam konteks ini, yang disorot hanya keadaan dalil secara umum, misalkan: ijma’ (konsensus) ulama merupakan hujjah dalam hukum Islam.[7]

Metode penggunaan dalil yang dimaksud adalah sebuah metode penyelesaian yang dilakukan oleh seorang mujtahid  yang menggali hukum apabila terjadi kontradiksi diantara dalil-dalil yang bersifat tafsily (terperinci). Seperti mendahulukan dalil yang khash (khusus) daripada dalil yang bersifat ‘am (umum).

Adapun  karakteristik seseorang yang menggunakan dalil ijmali (global) tersebut adalah seseorang yang telah mencapai kriteria sebagai seorang mujtahid. Namun menurut pendapat yang lain, yang dimaksud lafadz “mustafidiha” dalam redaksi tersebut adalah seseorang yang mencari hukum Allah SWT, sehingga dapat memasukkan mujtahid maupun muqollid (orang yang bertaqlid). Karena seorang mujtahid mengambil hukum dari dalil dan seorang muqollid mengambil hukum dari seorang mujtahid.

Menurut ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah, ushul fiqih bermakna kaidah-kaidah yang mengantarkan metode penggalian hukum dari dalil yang terperinci.[8]

Metode Ushul Fiqih

Secara umum, teori pembahasan dalam ilmu ushul fiqih terbagi menjadi tiga metode:

  1. Metode Mutakallimin.

Yakni metode yang dipakai oleh golongan Asya’iroh, Maturidiyyah, dan Mu’tazilah. Jalan pikiran mereka adalah dengan melalui hujjah logika dengan mentahqiq beberapa kaidah tanpa terkait dengan imam madzhab. Mereka memperkokoh kaidah-kaidahnya dengan beberapa dalil tanpa harus melihat apakah sesuai dengan madzhabnya ataukah tidak.

  1. Metode Hanafiyyah.

Yakni dengan cara menjelaskan kaidah-kaidah ushuliyyah. Metode ini dilakukan dengan cara mengutip furu’ fiqhiyyah dari imam madzhabnya dan kemudian dicari kaidah ushuliyyahnya. Dengan demikian, rumusan hukum metode ini selalu sama persis dengan para imam madzhabnya.

  1. Metode Mutaakhirin.

Yakni sebuah metode yang menggabungkan metode mutakallimin dan metode hanafiyyah.[9]

Ruang Lingkup Kajian Ushul Fikih

Berbicara ruang lingkup dan objek kajian usul fiqih sama halnya dengan mengakaji  kembali silang pendapat para ulama dalam mendefinisikan ushul fiqih itu sendiri. Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai  “dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”, pokok pembahasan ushul fiqh adalah dzatiyyah/bentuk dalil-dalil ijmali (global), teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.

Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai “pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”, pokok pembahasan ushul fiqih adalah pengetahuan mengenai dalil-dalil ijmali (global),  teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.[10] Apabila ditarik benang merah, perbedaan diantara dua pendapat ini hanya dalam mengartikan apakah ushul fiqih itu sebuah dzat (bentuk) atau sifat.

Namun, salah satu pendapat mengatakan, secara garis besar maudlu’ (pokok pembahasan) dalam ushul fiqih diartikan dengan redaksi berikut:

الشيئ الذي يبحث في ذلك العلم عن أحواله العارضة لذاته

“Suatu permasalahan yang dibahas di dalam ilmu tersebut yang mencakup perkara-perkara yang baru datang terhadap bentuk sesuatu tersebut”[11]. Sehingga, pokok pembahasan dalam ushul fiqih sangatlah luas, seperti: eksistensi Alquran sebagai hujjah, bentuk shighot amr (perintah) mutlak menunjukkan wajib, lafadz nahi (larangan) berkonsekuensi hukum haram, dan sebagainya.

Yang menjadi objek utama dalam pembahasan ushul fiqih ialah ادلة شرعية (dalil-dalil syar’it) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam. Selain membicarakan pengertian dan kedudukannya, juga menyinggung berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum dengan menggunakan dalil-dalil tersebut.[12] Ilmu ushul fiqih menjadi barometer terhadap rumusan hukum fiqih, apakah hukum tersebut sudah sesuai dengan dalilnya apakah tidak. Karena ilmu ini menjadi jalan tengah  yang menjembatani sebuah dalil dengan rumusan hukum yang dihasilkan.

Bersambung ke Bagian III (Habis)

Pembukaan Kuliah Ushul Fikih

LirboyoNet – Sejak tahun kemarin, Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo punya agenda bulanan yang terbilang baru. Kegiatan itu dinamai Kuliah Ushul Fikih dengan tutor tetap KH. Azizi Hasbullah. Kegiatan ini oleh pihak LBM boleh diikuti oleh siapa saja santri yang berminat, tidak ada batasan tingkatan. Meskipun toh yang diharapkan adalah santri tingkat Aliyah, karena secara keilmuan tingkatan ini “lebih ngeh” dengan apa yang disampaikan oleh tutor.

Tidak seperti tahun lalu yang digelar malam hari, kuliah ushul fiqh dengan materi dasar kitab matan Lubbul Ushul tahun ini  dilaksanakan sabtu siang (19/9/2015) sekitar pukul 14.30 WIS/14.00 WIB, bukan waktu biasa untuk mengikuti aktivitas LBM bagi yang sudah sekolah malam, karena pada jam tersebut banyak bentrok dengan pengajian yang digelar masyayikh. Meski begitu, antusiasme peserta tidak nampak surut.

Seperti tahun lalu, teknis kuliah juga tak banyak yang berbeda. Dimulai dengan sesi pemurodan, diteruskan penjelasan langsung oleh KH. Azizi, dan dilanjutkan sesi tanya jawab seputar bab yang sedang dibahas.

KH. Azizi menjelaskan muqoddimah seputar mabahisul aqwal, apa saja yang nantinya dapat dijadikan pijakan atau tendensi dalam merumuskan hukum fikih, lebih khusus lagi, Alquran sebagai referensi yang benar-benar bisa dijadikan rujukan. “Kalau kita melihat Alqurannya itu qoth’y atau pasti, namun dalalah dari Alquran sendiri tidak ada yang qoth’y, semua sebatas dhonny (praduga -Red.), kecuali didukung dengan dalil lain.” Maka jelas tak terhindarkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pemahaman yang muncul dari sebuah kata atau kalimat. Kemudian, dalam sejarahnya, dahulu Alquran mulai ditulis atas inisiatif sahabat Umar RA. ketika masa kekhalifahan sahabat Abu Bakar RA. Waktu itu sahabat Abu Bakar RA. sempat menolak inisiatif dari sahabat Umar RA. karena sahabat Abu Bakar RA. enggan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan nabi Muhammad SAW. Namun, mempertimbangkan sudah tujuh puluh sahabat hamilul qur’an (hafal Alquran-Red.) yang syahid dalam perang Yamamah, perang melawan Musailamah Al-Kadzab, dan dikhawatirkan Alquran akan musnah, akhirnya sahabat Abu Bakar RA. menyetujui inisiatif pembukuan Alqur’an. Beliau menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis.

Alquran yang ditulis sahabat Zaid bin Tsabit waktu itu masih tanpa menggunakan titik dan harokat. Alquran tersebut dipegang khalifah dan kemudian disimpan oleh Sayyidah Hafshoh putri sahabat Umar RA. Dalam perkembangannya, di masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan RA. muncul kontroversi dimana setidaknya waktu itu ada sekitar seratus qiro’ah yang berkembang di masyarakat luas, mengingat waktu itu Alquran masih polos tak berharokat dan tak bertitik. Dan lebih parah lagi, antar satu dan lain saling menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan. Hal tersebut dilaporkan kepada khalifah Usman RA. Lantas beliau mengambil tindakan tegas dengan menarik seluruh mushaf Alquran yang ada di dunia dan menyatukan qiro’ah yang ada. Beliau mendaulat sahabat Zaid bin Tsabit untuk menulis ulang Alquran yang disimpan sayyidah Hafshoh menjadi enam. Enam Alquran inilah yang dikenal dengan mushaf Rosm Usmani.

Beliau juga sempat menjelaskan Alquran adalah kitab yang jami’ul kalim. Bahkan penjelasan ini beliau kuatkan dengan tambakan “yakin”, karena KH. Azizi sendiri sudah merasakan bagaimana satu ayat bisa untuk dilarikan ke seluruh fan ilmu, mulai tashowuf, fiqh, tauhid, dan lain sebagainya. Beliau menganalogikan dengan contoh “Jaa’a Zaid” bukan hanya bisa digunakan sebagai contoh jumlah fi’liyyah saja, namun bisa juga digunakan sebagai contoh i’rob rofa’, contoh isim, contoh fi’il, contoh bina’ shohih, contoh bina’ salim, contoh kalam khabar, dan lain sebagainya. Semua hanya diwakilkan dengan satu kalimat yang nampak sederhana, jaa’a zaidun. Misalkan saja ayat,
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
Selain bisa dijadikan dalil zakat dalam bab fikih, bisa juga dijadikan dalil tashowwuf, “ilmunya Allah (الصَّدَقَاتُ) hanya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya (لِلْفُقَرَاء)”.

Setelah sesi tanya jawab usai, kuliah ushul sore itu ditutup dengan do’a. Harapannya, untuk tahun-tahun ke depan para penggiat ilmu syar’i tak bosan-bosannya mengkaji ushul fiqh. Meskipun tak lagi “berfungsi” untuk berijtihad, namun bisa digunakan untuk memperkuat dan memperjuangkan madzhab imam yang kita anut, seiring akhir-akhir ini semakin marak “islam minoritas” yang sering menggugat pendapat-pendapat imam empat. (wf)