Tag Archives: Ustadzah

Berdakwah, Tidak Ada Alasan Tidak Siap

LirboyoNet, Kediri – Sembari menunggu datangnya peserta yang lain, Qomarul Faizin, Ketua Safari Ramadlan Daerah Blitar, menandatangani lembar absensi kehadiran. Ada 38 baris nama daerah yang tertera di sana, yang berarti, untuk tahun ini Safari Ramadlan akan dilaksanakan serentak di 38 daerah di seluruh Indonesia.

Siang itu (02/02), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pusat memang sedang mempunyai hajat. Salah satu ruangan di Rusunawa dipersiapkan guna acara Pelatihan Delegasi Safari Ramadlan Daerah. Para pesertanya adalah seluruh dewan harian panitia Safari Ramadlan Daerah.

Agus Zulfa Ladai Robbi, Ketua Dua Panitia mengatakan, acara ini difokuskan untuk memberikan pengarahan kepada delegasi bagaimana proses dakwah yang baik. “Regenerasi adalah proses yang penting. Untuk itu, kalian yang sudah senior, ajaklah adik-adik kelas kalian untuk berkecimpung di dalam kegiatan Safari ini. Agar dakwah tidak berhenti di tengah jalan,” terang beliau saat memberikan sambutan.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Setelahnya, sang tutor, Bapak Widodo Hamid S. Kom. segera memulai pengarahannya dengan ringan. Beliau terlebih dahulu menceritakan riwayat dakwahnya di beberapa daerah, “waktu itu saya masih nyantri di Lirboyo. Ada satu tokoh masyarakat yang ternyata memelihara tujuh ekor anjing. Apa langsung saya katakan ‘harom’?! ‘neroko’?!”. Masih dalam cerita beliau, perlahan tokoh itu dirayu. Anjing itu ternyata untuk mengusir babi yang mendekati kebun. “‘Apa masih ada babinya?’ kata saya. ‘sudah nggak ada’. ‘anjingnya nganggur sekarang?’. ‘iya’.’berarti sampean memelihara barang nganggur? Kalau misalnya anjing itu dijual, terus diganti kambing gimana? Kan lebih berguna?”.

“Ngunu kang. Sampean rayu, terus dikasih solusi. Jangan dibeli anjingnya. Kasih saran saja. Kalau main beli saja, wah, tekor sampean,” canda beliau yang juga alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1998 itu.

Acara yang berlangsung hingga pukul 16.30 itu memang berlangsung renyah. Kisah-kisahnya selain lucu dan segar, juga menginspirasi para peserta. “Yang penting adalah, santri jangan pernah bilang tidak bisa. Tidak siap. Buang kosakata itu dari kamus kalian. Kiai saya pernah dawuh, kamu santri lirboyo, tidak ada gunanya jika tidak siap setiap saat. Disuruh ceramah, siap. Tahlil, ya. Khutbah nikah, sanggup. Cuci piring, jangan.” Tawa peserta kembali pecah. “Loh, kalian harus bisa menempatkan diri. Kalau sampean terima saja jadi cuci piring, kemudian kok bersih, sampai kapanpun sampean terus yang cuci piring. Lah yang memperjuangkan dakwahnya siapa?” lanjut beliau.

Di akhir acara, beliau membuka fakta bahwa salah satu ormas di Kediri, sudah menyiapkan 1.200 dai untuk disebar di bulan Ramadlan. “Jangan kalah dengan mereka. Wis toh, kalau masalah rizki, sampean percaya apa yang dipesankan Kiai Marzuqi. ‘Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah’. Yang penting ngajar. Dakwah. Murobbi ruuhina Mbah Manab sudah mewanti-wanti, ‘santri nek mulih ojo lali ngedep dampar’. Ingat-ingat pesan beliau itu.”][

LIM Lirboyo Mempersiapkan Dai

LirboyoNet, Kediri – Dakwah menjadi peristiwa yang tak bakal lekang. Dia harus selalu ada untuk menguak cahaya. Umat memerlukan cahaya dakwah sebagai petunjuk ke mana seharusnya wadag dan jiwa mereka berarah. Kebutuhan umat akan petunjuk belakangan ini telah sedemikian urgen. Dunia yang semakin gemerlap, telah mengaburkan pandangan umat akan cahaya yang seharusnya dianut.

Kebutuhan ini yang menjadi titik tolak Lembaga Ittihadul Muballighin Pondok Pesantren Lirboyo (LIM P2L) dalam menentukan arah juangnya. Safari Ramadlan, yang telah menjadi program bertahun-tahun, kian mendapat perhatian dari masyarakat. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir ini, Safari Ramadlan sudah merambah hingga Luar Jawa. Pontianak misalnya. Dengan dukungan dari masyarakat lokal, para santri yang ditugaskan di sana dapat mengemban amanah dari pondok dengan baik dalam tahun pertama mereka Ramadlan kemarin.

Untuk Ramadlan depan, peran mereka dan santri-santri dari daerah lain, sangat diharapkan untuk memberikan partisipasi lebih. Dalam sidang koordinasi LIM Pusat dan Dewan Harian Safari Ramadlan Daerah, Rabu (16/12) kemarin, diungkapkan bahwa kebutuhan masyarakat akan ilmu agama semakin tinggi.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

“Peran kita telah ditunggu-tunggu masyarakat. Kalau bisa, kita harus ikut dalam pembangunan mental beragama masyarakat,” ucap Harun al-Rasyid, salah satu dewan harian LIM P2L. Maka tidak bisa tidak, para delegasi Safari Ramadlan harus bermu’asyarah dengan masyarakat. “Setelah maulud, akan kita adakan pelatihan khusus untuk para delegasi, bagaimana cara berdakwah yang seharusnya, bagaimana bermu’asyarah, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sidang Koordinasi yang dilaksanakan di gedung Rusunawa ini bertujuan untuk mempersiapkan para pengurus Safari Ramadlan Daerah, agar tahu langkah apa yang harus ditempuh untuk membuat sistem yang baik dalam kegiatan safari tahun depan. Mulai dari menentukan tempat, mengonsep kegiatan, mencari dukungan, dan lain-lain.

Dan dalam menikmati liburan maulud kemarin, para pengurus Safari Ramadlan daerahnya masing-masing sudah dapat menentukan tempat yang akan dijadikan lokasi safari. Bahkan sebagian sudah bisa menjalin hubungan yang lebih erat dengan tokoh daerah setempat. Tentu saja agar kegiatan ini dapat berjalan sesuai keinginan dan tujuan LIM khususnya dan Ponpes Lirboyo pada umumnya.][

Lirboyo Membuka Program Guru Bantu

LirboyoNet, Kediri – LIM (Lembaga Itthadul Mubalighin) yang dideklarasikan pada tanggal 12 Pebruari 2003 adalah salah satu badan otonom yang dimiliki Pondok Pesantren Lirboyo untuk menindak lanjuti apa yang dipetuahkan Almaghfurlah Romo Kiai Idris pada waktu itu. Tepatnya pada bulan Syawal tahun 2002, beberapa santri Lirboyo asal Kediri bersilaturahmi ke kediaman beliau untuk meminta doa. Saat itu mereka diperintah oleh Almaghfurlah untuk membuat kegiatan semacam kuliah kerja nyatanya para mahasiswa (KKN) di akhir masa studi mereka. Mereka diberi amanat untuk berdakwah ditengah-tengah masyarakat Kediri yang berlokasi di sekitar daerah-daerah pegunungan, yang notabene pengetahuan agamanya masih minim. Alasan yang paling mendasar dari apa yang diinstruksikan beliau adalah agar para santri mengetahui dan belajar tentang ilmu kemasyarakatan, dan mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh selama di pesantren.

Untuk menindaklanjuti dawuh tersebut, mereka langsung mencoba terjun berdakwah pada bulan Ramadhan tahun itu juga. Mereka menyebar di kampung-kampung yang berada di sekitar daerah Kediri. Mereka yang terjun berdakwah selanjutnya tergabung dalam sebuah badan yang dinamakan “Tim Safari Ramadhan”. Teknis pelaksanaan safari Ramadhan kala itu dipusatkan pada beberapa tempat peribadatan. Pada setiap mushala diasuh oleh dua orang muballigh. Sedangkan waktu pelaksanaanya dimulai tiga hari sebelum Ramadhan hingga tanggal 20 Ramadhan. Sedangkan program kegiatan di lapangan, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Misalnya kuliah subuh dan kultum setelah salat tarawih. Disamping itu mereka juga menyampaikan seminar tentang berbagai masalah keagamaan yang menyangkut dengan tata cara ibadah sehari-hari.

[ads script=”2″ align=”left” float=”left”]

Meski dengan waktu yang relatif singkat ini, hanya dua puluhan hari, kala itu mereka mampu menyampaikan dakwah dengan baik dan bisa diterima oleh masyarakat. Bahkan pada akhinrya, masyarakat merasa masih kurang. Antusias masyarakat yang cukup besar dalam menyambut dan menerima dakwah ini, kemudian membuahkan permintaan yang cukup membanggakan sekaligus menjadi agenda tersendiri bagi para siswa tamatan asal Kediri kala itu. Mereka meminta agar kegiatan dakwah itu tidak hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan saja, namun juga ditindaklanjuti pada hari-hari diluar bulan Ramadhan.

Dalam perkembangannya, pada badan otonom yang berkonsentrasi dibidang pengembangan dakwah ini, ada beberapa tim. Hal ini bertujuan untuk mensistematiskan mekanisme kerja sesuai kebutuhan di lapangan dakwah: Ada Tim PSDR (Panitia Safari Dakwah Rutinan), Tim LITBANG (Bidang Penelitian dan Pengembangan), serta Bidang Wirausaha dan pengiriman guru bantu.

Tahun 2015 ini, selain sukses menggelar Rapat Kerja Nasional I dan berhasil mendelegasikan empat tenaga pengajar ke Malaysia yang di sana mendapatkan respon baik, kini LIM membuka selebar-lebarnya kepada pondok pesantren, yayasan atau lembaga pendidikan di seluruh Nusantara yang menginginkan santri-santri Lirboyo sebagai guru bantu di pondok pesantren, yayasan atau lembaga pendidikan yang membutuhkan.

Program ini tentu dapat memudahkan para alumni Pondok Pesantren Lirboyo khususnya, untuk mengajukan ke LIM terkait permohonan tenaga pengajar dari Lirboyo. Dan tentu merupakan hal yang wajar apabila dalam teknis pengajuan mempunyai aturan-aturan yang harus disepakati antara kedua belah pihak.

Jika tertarik dengan program ini, lebih lanjut tentang teknis pengajuan dan aturan-aturan yang harus disepakati bersamanya, silahkan klik disini. /-

Diklat Kader Da’i ASWAJA

LirboyoNet, Kediri – Kamis (6/12/2012), mendung masih  menggantung di langit Kediri, awan gelap tidak kunjung reda. Termasuk pesantren kita, walau tadi pagi matahari menyapa namun tetap saja suasana kurang begitu hangat.

Siang itu, lembaga Ittihadul Muballighin untuk pertama kalinya mengadakan Diklat Kader Da’i Aswaja bertempat digedung belakang Aula Muktamar. Peserta dari  Perwakilan Siswa Kelas I dan II Aliyah.Tutor yang dihadirkan da’i muda Dr. Buya Yahya Ma’arif Pengasuh  Pondok Pesantren al-Bahjah Cirebon Jawa Barat.

Pukul 13.12 WIB acara dibuka dengan bacaan Surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan Tartilul Qur’an oleh saudara M. Misbah Muniruddin. Sambutan tunggal yang merupakan acara ketiga disampaikan oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan selaku Ketua Pondok dan Pimpinan Lembaga Ittihadul Muballighin. Dalam sambutannya, beliau memaparkan sejarah terbentuknya Lembaga Ittihadul Muballighin pada tahun 2003 serta perjalanannya sampi sekarang. Pada tahun ini, siswa yang akan mengikuti  Safari sekitar 1000 santri, baik yang mengikuti  daerah maupun di pondok. Acara itu dihadiri oleh Pimpinan Pondok dan Mustahiq Kelas I dan II Aliyah.

Ibnu Atoillah selaku Moderator mengawali Diklat dengan menyampaikan sekilas Riwayat Hidup Buya Yahya, acarapun dilanjutkan dengan penjelasan Buya Yahya tentang dakwah. Beliau menyampaikan bahwa, esensi  dakwah adalah membawa umat untuk mendapatkan ridlo Allah SWT sehingga ada beberpa hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah, diantaranya mengajak semua pihak tanpa melihat profesi maupun status sosial serta membuat sebuah himpunan untuk mewadahi semua lapisan.

Dalam diklat tersebut, Buya Yahya memaparkan 3 Prinsip Dakwah. Pertama dakwah  tidak harus menunggu pandai atau kaya, sampikan dakwah dengan ungkapan yang halus dan tidak sombong. Kedua pandanglah orang lain dengan mata kasih. Ketiga pandanglah orang lain sebagai lahan pahala bukan lahan mencari uang dan yang terakhir mengoreksi diri. Selain itu, sebagai seorang Da’i juga akan menemui beberapa kendala diantaranya menempatkan sifat Tawadu’ tidak pada tempatnya dan menghindari sifat Hasud. oleh karena itu, diperlukan ikhtiar dalam berdakwah yaitu memohon  do’a kepada Allah SWT, sebelum menyampaikan sholat 2 rokaat, memberikan penjelasan apa yang di butuhkan masyarakat bukan apa yang kita ketahui atau yang diinginkan, kebenaran tidak harus disampaikan pada waktu itu, bisa disampaikan pada kesempatan yang lain melihat situasi dan kondisi serta kebenaran didasari  dengan tendensi yang kuat.  Antusiasme peserta bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk saat sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya berdakwah dalam masyarakat bagi para santri.

Acara ditutup doa yang dipimpin oleh Buya Yahya kemudian dilanjutkan oleh Agus Abdul Qodir Ridwlan. Sebelumnya Bapak HM. Mukhlas Noer mewakili Pondok memohon kepada Buya Yahya untuk meluangkan waktunya guna mengisi kegiatan tersebut setiap  awal bulan.[] Akhlis

LBM Lirboyo Tutup Aktivitas Tahunan

LirboyoNet, Kediri – Sebagai agenda penutup rutunitas kegiatan LBM P2L (Lajnah Bahtsul Masa’il Pondok Pesantren Lirboyo) Selasa (08/05) lalu LBM mengadakan Bahtsul Masa’il Kubro, dalam agenda tahunan yang dilaksanakan selama dua hari ini, dilaksanakan di serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo.

Bahtsul Masa’il yang diikuti oleh ratusan peserta ini, terdiri dari utusan kelas dilingkungan Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo, Pondok-pondok unit dan Pondok-Pondok Pesantren Se-Jawa dan Madura.

Dalam sambutan Pembukaan Bahtsul Masa’il, Ketua Pelaksana Ust. Ahid Yasin mengatakan “ Bahtsul Masa’il Kubro ini merupakan puncak dari semua kegiatan yang dilaksanakan oleh LBM Lirboyo, karena nya kami memohon do’a restu dari seluruh peserta BMK, semoga acara ini dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi semua pihak,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. A. Idris Marzuqi. “ Begitu pentingnya fungsi Musyawarah bagi Masyarakat, sehingga apapun yang dihasilkan dalam forum ini, maka akan menjadi pegangan bagi masyakat, khususnya kaum Muslimin,” Ujar beliau ramah.

Senada dengan petuah yang disampaikan oleh Mbah Yai Idris, KH. M. Anwar Manshur mengatakan “Pada intinya Musyawarah adalah sebuah cara untuk menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi dimasyarakat, oleh karena yang dicari adalah hasil yang benar-benar bersumber pada kitab-kitab ulama salaf, bukan sekedar mencari kemenangan,” ujar beliau tegas.

Dalam Bahtsul Masail kali, beberapa materi diangkat sebagai pokok bahasan, sebagaian diantaranya adalah : Polemik seputar pengakuan Mahkamah Konstitusi, tentang hukum perdata anak hasil Zina, secara tegas seluruh peserta menolak keputusan MK tersebut, berdasarkan hasil pendalaman materi dan diskusi seluruh peserta.  Riff