Tag Archives: Walisongo

Syaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (2-habis)

Baca dulu Bagian I

Prof. Dr. Habib Mustopo, guru besar Universitas Negeri Malang yang melakukan penelitian dengan basis data historis dan arkeologis menyimpulkan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang dikebumikan di makam Setana Gedong adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Jika nama al-Wasil tercantum pada inskripsi Setana Gedong, nama Syamsuddin dicatat dalam historiografi Jawa yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Di dalam historiografi Jawa tersebut, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Naskah Serat Jangka Jaya yang muncul pada abad ke-17 yang diyakini masyarakat Jawa sebagai karya Sri Mapanji Jayabaya dalam meramal masa depan Nusantara, dihubungkan dengan keberadaan tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang berasal dari Rum (Persia) ini. Catatan Historigrafi Jawa yang menyebut bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Rum (Persia), sedikitnya dibenarkan oleh inskripsi yang menunjuk pada kata al-Abarkuhi yang berhubungan dengan kota kecil Abarkuh di Iran (Persia).

Menurut Habib Mustopo, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil inilah yang kiranya telah berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah pedalaman Kediri pada abad ke-12. Itu sebabnya, sangat wajar jika setelah meninggal, Syaikh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Syaikh Syamsuddin semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16, maka masuk akal jika bangunan makam Syaikh Syamsuddin secara arkeologis berasal dari abad ke-16, meski makam itu sendiri sudah ada di kompleks pekuburan Setana Gedong sejak abad ke-12 Masehi.

Lepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syaikh Syamsuddin al-Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang sakti asal negeri Rum (Persia), yang diyakini menjadi guru rohani Sri Mapanji Jayabaya Raja Kediri. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat.][

 

Sumber: Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN, 2016.

 

Penulis, A. Farid, Siswa kelas 2 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pemimpin Umum Majalah Dinding Hidayah.

Merongrong NKRI, Menggali Kuburan Sendiri

Sejarah selalu milik para pemenang. Idiom ini begitu klasik kita dengar. Sebagian orang menyangka idiom ini sebagai ungkapan kekecewaan atas penulisan sejarah yang tak objektif. Mereka sering menemukan fakta-fakta yang berlainan, bahkan bertolak belakang dengan apa yang telah ditulis rapi oleh para sarjana. Lebih jauh, penulisan yang tak objektif itu disinyalir sebagai upaya deislamisasi, upaya meruntuhkan nilai-nilai positif agama Islam, bahkan hingga menyentuh ranah akidah ahlussunnah wal jamaah (aswaja).

Beberapa tahun belakangan, ancaman terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia tak henti-hentinya datang bergantian, bak tetesan air di musim penghujan, turun bersamaan dan menyasar di semua lini. Beberapa pengamat menerka, peristiwa ini tak lepas dari rasa nasionalisme masyarakat yang kian terdegradasi. Lebih-lebih, mereka kaum muda yang kini teramat minim minatnya terhadap kajian sejarah.

Komunitas-komunitas masyarakat kini berbondong-bondong mengusung isu nasionalisme ini, agar menjadi tema yang penting untuk diperhatikan seluruh komponen masyarakat. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu gerbong yang mengantar rakyat Indonesia untuk meneguhkan jiwa nasionalisme.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia merasa berkewajiban untuk merawat kesatuan negara ini. NU merasa ini adalah sebuah warisan dari para pendiri, juga para pendahulu. Lebih-lebih, masyarakat NU merasa bahwa ini adalah tanggungjawab yang dibebankan oleh para penyebar Islam pertama di Nusantara, Walisongo.

Para manusia kekasih Allah itu telah mencontohkan bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia kini merawat tanah airnya. Pati Unus, seorang Raja Demak, adalah salah seorang yang mendapat didikan arif Walisongo. Ketika ia menerima informasi Portugis, bangsa penjajah dahulu, hendak berlayar ke Malaka pada tahun 1521, ia segera menyiapkan pasukannya. Raja yang berjuluk Pangeran Sabrang Lor itu sadar, bahwa kehadiran bangsa Portugis ini tak lain untuk menjajah dan merenggut harta kekayaan Nusantara. Sementara ia merasa bahwa Nusantara tak lain adalah tanah air yang harus dipertahankan mati-matina, olehnya dan oleh seluruh bangsanya.

Beratus-ratus tahun kemudian, perjuangannya terus dipertahankan oleh para ulama. Komitmen ulama-ulama terdahulu terhadap Nusantara, tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka menanamkan rasa nasionalisme ini dengan cara yang arif. Indonesia yang telah merdeka, bukan berarti perjuangan mereka telah selesai. Cita nan agung dalam merawat Nusantara mereka wujudkan dengan menyisipkannya dalam budaya-budaya. Seperti kebiasaan merayakan kelahiran anak dengan membuat bubur merah, dengan bubur putih di tengah. Atau membuat idiom-idiom sederhana seperti “sekapur sirih, yang menyiratkan warna bendera, putih (kapur) dan merah (sirih).

Maka sudah selayaknya kita sebagai pewaris harta kekayaan Nusantara, ikut merawat warisan ini dengan cara-cara yang arif pula, meski perjuangan kini telah berbeda dengan masa-masa lalu. Kini masyarakat Indonesia dihadapkan bukan lagi kepada perang fisik: peluru lawan bambu; dentum tank dilawan seruan takbir. Kini perjuangan harus dilakukan lebih berat, sebab kini kita harus menjalani perang ideologi, sistem dan ilmu pengetahuan.

Dibutuhkan keyakinan dan keteguhan hati yang tinggi terhadap nilai-nilai arif kebangsaan, yang telah susah payah diterjemahkan oleh para ulama dalam ideologi dan budaya ahlussunnah wal jamaah. Masyarakat kini harus menggigitnya dengan geraham, memegangnya erat-erat.

Karenanya, kita harus terus menempa diri untuk menumbuhkan kerelaan hati yang tinggi dalam merawat warisan ini. Di daerah-daerah perkotaan, hingga daerah terpencil, harus terus digalakkan penanaman ideologi aswaja ini.

Mungkin kita merasa gembira, ketika mendengar kabar di kampung-kampung, adat istiadat dan nilai aswaja terus dilestarikan. Rutin mengadakan tahlilan bergilir, istighotsahan, yasinan dan lain-lainnya. Aktivitas ini setidaknya mampu membendung aliran-aliran yang menyimpang dari kebiasaan mereka dan masuk ke daerah tersebut.

Namun perjuangan itu juga harus dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat. Bukan hanya mereka yang sedang ditakdirkan berada di sudut-sudut tanah air itu. Sudah waktunya bagi kita untuk menguatkan rasa rela hati dan keyakinan terhadap aswaja dan nasionalisme, untuk menularkannya kepada kawan, sanak saudara, tetangga, bahkan lawan ideologis kita. Harus kita camkan kepada mereka yang hendak menggali dan merongrong tatanan kebangsaan Indonesia, bahwa yang sedang mereka gali justru kuburan mereka sendiri. waAllahu a’lam.|>

Paradigma Dakwah Islamiah

Urgensitas dakwah dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam merupakan suatu hal nyata yang tidak dapat terbantahkan. Keberadaan dakwah sebagai ujung tombak eksistensi agama Islam menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sebagai salah satu aktivitas yang memegang peran penting dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa diskursus mengenai dakwah banyak ditelaah dan dibahas dalam beberapa literatur klasik maupun kontemporer.

Kata dakwah yang berasal dari literatur bahasa Arab memiliki arti mengajak, mengundang, atau mendorong. Dapat juga dakwah diartikan mengajak ke jalan Allah SWT, yakni agama Islam. Dalam kitab Hidayah al-Mursyidin, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai berikut;

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Pada saat awal mula penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah SAW menjalankan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan samar. Hal ini dilakukan melihat kondisi umat Islam yang masih minoritas dan kekuatan Islam yang masih lemah pada saat itu. Berbeda lagi ketika sudah hijrah ke Madinah, disana Beliau mulai mengembangkan sayap dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Tentu saja hal ini erat kaitannya dengan atmosfer penduduk Madinah yang telah memberikan sinyal positif atas dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW serta keadaan umat Islam yang sudah memiliki kekuatan yang cukup baik apabila ada ancaman yang datang.

Berkaca dari pengalaman Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwahnya, perkembangan dakwah islamiah di masa-masa selanjutnya terus menunjukkan banyak perubahan sesuai keadaan, situasi dan kondisi sasaran yang dihadapinya. Namun pada dasarnya, semua metode dakwah yang ada memiliki pijakan prinsip dan pijakan hukum yang sama, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalannya, dan Dia jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Secara garis besar, para ulama Ahli Tafsir banyak menafsiri kata “bil hikmati wal mau’idhotil hasanati” dengan arti memberi nasihat secara lembut tanpa menyakiti. Strategi ini ditujukan bagi mereka yang masih belum memiliki pemahaman atas syariat Islam. Lebih lanjut, penafsiran kata “wa jadilhum billati hiya ahsan” ditujukan kepada sasaran dakwah yang termasuk golongan yang membantah dan tidak menerima apa yang disampaikan, sehingga Alqur’an mengajarkan bagaimana etika berdebat secara dingin tanpa terbawa emosi yang justru akan menumbuhkan permusuhan dan pertikaian.[1]

Dari pengertian makna kata sendiri, dakwah telah menunjukkan bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan. Karena pada konteks ini, penerapan kata “mengajak” dalam kehidupan nyata lebih cenderung bagaimana seseorang yang menjadi sasaran tersebut menerima dengan apa yang ditawarkan. Apabila lebih mengutamkan cara yang bersifat memaksa, justru hal itu akan membuat seseorang tersebut enggan untuk menerima apa yang ditawarkan kepadanya. Bukankah dakwah itu mengajak, bukan menyepak? Bukankah dakwah itu merangkul, bukan memukul?.

Interpretasi Dakwah di Nusantara

Pluralitas penduduk pribumi merupakan realita yang perlu disadari. Oleh karena itu, mulai awal kedatangannya, dakwah islamiah di Indonesia yang mengusung jargon Islam rahmatan lil ‘alamin lebih mengedepankan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan yang ada. Atas dasar itu pula dakwah yang dilaksanakan oleh para penyebar Islam di tanah air lebih mudah di terima oleh penduduk pribumi.

Pada masa awal masuknya Islam di nusantara, sebagian besar dari para penyebar agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Islam dari Timur Tengah lebih memilih melakukan pembauran dan asimilasi syariat Islam dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Mereka tidak serta merta menolak bahkan menghapus berbagai adat istiadat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melainkan mengarahkannya pada cara yang lebih baik dan diwarnai dengan berbagai praktek yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Strategi ini terbukti berhasil bahwa model dakwah dengan akulturasi budaya sangat cocok dan diterima pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, transformasi sosial masyarakat yang semakin menunjukkan banyak perkembangan sedikit banyak juga telah mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Kemajuan di bidang teknologi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan masayarakat menuntut adanya pembaruan inovasi dan solusi agar produk dakwah yang disampaikan akan tetap diterima sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi yang terus diperbarui. Sehingga bukan suatu hal aneh lagi bila dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sosial yang berkembangsesuai masanya (up to date).

Kejelian dan kepekaan pelaku dakwah dalam mengahadapi sasaran dan medan dakwah sangat diperlukan. Hal ini ditujukan agar mampu memenuhi kebutuhan sasaran dakwah, terlebih lagi melihat medan dan kondisi masyarakat nusantara di era globalisasi saat ini. Sehingga efektivitas dakwah akan membawa hasil dan dampak yang berupa peningkatan keberagamaan dengan berbagai cakupannya yang sangat luas. Selain pendekatan pemenuhan kebutuhan, bagi pelaku dakwah hendaknya menggunakan pendekatan pastisipatif yang menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam proses perencanaan dakwah.

Menurut KH. MA. Sahal Mahfudz, dakwah islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada porsi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan.[2] Disini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang Implementatif yang menjadikan ajaran Islam sebagai alternatif solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya. Sehingga, perubahan sosial masayarakat yang lebih baik sebagai bukti empiris dari buah dakwah dapat dirasakan.

Dengan pemahaman totalitas atas situasi dan kondisi sasaran dakwah yang ada, serta pengamalan metode yang sesuai, diharapkan dakwah islamiah akan semakin menunjukkan kemajuan dari masa ke masa.  Dengan demikian, eksistensi ruh keislaman yang selalu menjiwai masyarakat  akan tetap terjaga dan semakin kuat dalam mengiringi tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa,” (QS. An-Nur: 55). []. waAllahu a’lam.

___________________________

[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 3 hal 103.

[2] Nuansa Fiqh Sosial, hal 122, LkiS.

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

Pendidikan Islam di Indonesia mengalami krisis dewasa ini. Mental gagah para terdidik muslim dalam mengacuhkan dunia kebendaan dan pasrah dalam penghambaan kepada Tuhan, menjadi rikuh dan gagu di hadapan realitas kemodernan. Konsep-konsep dasar yang diperjuangkan Walisongo lewat langgar, dan para penerusnya lewat pesantren, retak dan hampir tumbang. Modernitas, sebuah wacana mutakhir yang salah satu ujungnya adalah materialisme, tidak dapat diterjemahkan, lalu dipahami dengan baik oleh muslim. Tujuan pendidikan dewasa ini bukan lagi untuk menyemaikan hubungan mesra antara batin dengan sang Khalik, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan duniawi dan materialistik.

Sementara, pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Kedatangan Belanda yang membawa kemajuan teknologi, pada saat yang sama dibenci oleh kaum santri. Karena, di samping membawa manfaat teknologi, mereka menyertakan penghancuran mental muslim Nusantara lewat pembaratan nilai (westernisasi). Nilai-nilai Barat (western) dinilai membahayakan karena banyak tema-tema buruk yang menjadi ujung tombak. Rasionalisme, empirisme, dan materialisme didewakan oleh para intelektual Barat sebagai akar-akar kebahagiaan. Nilai-nilai ini bertolak belakang dengan apa yang sedang diperjuangkan kiai, santri dan pesantren. Iming-iming berupa kekuasaan dan kekayaan material dari Barat membuat pribumi, yang telah sengsara fisik dan batin selama ratusan tahun, mengalihkan pandangan mereka dari pendidikan pesantren menuju sekolah ala Belanda. Dampaknya, kiai, santri dan pesantren yang sebelumnya menjadi kekuatan utama dalam menolak kehadiran penjajah, menjadi usang dan terpinggirkan. Tanggungjawab penanaman nilai moral dan etika yang sebelumnya diemban oleh para kiai, tidak mampu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin lembaga pendidikan baru, yakni para lulusan sekolah Barat.

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Indonesia

Islam, atau Timur—dalam dikotomi Timur-Barat sementara pakar sejarah—pernah memberi pengertian pada “ilmu pengetahuan” secara rinci dan sistematis. Al-Ghazali, dengan berpijak pada pengalaman intelektual dan spiritualnya yang serius lagi panjang, menuliskan pengertian-pengertian itu di beberapa lembar kitab Ihya.

Pertama-tama, ia menyebut perlunya membagi ilmu pengetahuan berdasar pada seberapa penting peran ilmu itu dalam mewujudkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan (al-marghub ilaihi) itu bisa jadi kepingan emas, atau kebutuhan duniawi yang lain. Namun Al-Ghazali kemudian mewanti-wanti umat muslim bahwa ihwal duniawi, yang terindera dan bersifat kebendaan, tidaklah patut untuk dijadikan kebutuhan, lalu dengan masif diperjuangkan[1].

Hanya satu hal bagi Al-Ghazali yang layak untuk benar-benar diperjuangkan: pertemuan dengan dzat Tuhan. Pertemuan ini pada hakikatnya akan muncul dalam rupaan kedamaian sejati (al-sa’adah fi al-akhirah) dan nikmatnya berhadap-hadapan denganNya (ladzat al-nadhri li wajhillah). Pada satu titik inilah segala ilmu pengetahuan harus bermuara. Jika tidak, maka tak akan berarti apa-apa selain sebuah kesia-siaan.

Sementara itu, Prof. Naquib al-Attas memberikan gambaran singkat tentang tujuan ilmu, yang inheren dengan kepentingan adab:

“the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[2]

 

[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 15.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 150-151.

<h2 style=”color: white; background-color: green;”>Bersambung ke <a href=”https://lirboyo.net/westernisasi-dalam-pendidikan-islam-di-indonesia-bag-2/”>Bagian II</a></h2>

 

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Ziarah: Agenda setelah Tamat Madrasah

LirboyoNet, Kediri – Ziarah Walisongo memang sudah menjadi adat istiadat di Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah menamatkan madrasah, biasanya para santri mengadakan agenda ziarah Walisongo dalam rangka memohon doa restu dan barokah, agar ilmu yang telah dipelajari selama ini di madrasah dapat berguna nantinya. Ini berlaku di hampir seluruh unit Ponpes Lirboyo.

Misalnya, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’at (P3HM) dan Pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-aat Qur’any (P3HMQ). Mereka sudah berangkat ziarah beberapa hari lalu.

Adapun siang kemarin (10/05), ratusan santri putri Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Lirboyo (P3TQ) memadati komplek maqbaroh Pondok Pesantren Lirboyo. Mereka berencana akan berangkat memenuhi agenda ziaroh Walisongo. Setidaknya,  341 santri dan beberapa asatidz diikutkan dalam empat bus.

Rombongan itu terdiri dari siswi kelas tiga Tsanawiyah, tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat fit Tahfidz wal Qiroaat (MHMTQ), dan para peserta takhtiman bin nadzor dan bil ghoib P3TQ. Turut serta dalam rombongan adalah Ibu Nyai Hj. Khodijah Idris (pengasuh P3TQ), KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan keluarga, Agus HM. Abdul Mu’id Shohib dan keluarga, dan Agus H. Muhammad Kafabihi dan keluarga.

Setelah terlebih dahulu membaca tahlil di makam muassisul ma’had almaghfurlah KH. Abdul Karim, sekitar pukul 14.45 WIs (Waktu Istiwa’) tim Ziaroh ZURNA (Nama tim ziarah tamatan dan takhtiman P3TQ tahun ini) memberangkatkan rombongan menuju tujuan selanjutnya, makam Syaikh Sulaiman Betek Mojoagung Jombang.

Ziarah Walisongo P3TQ kali ini terbilang lebih akhir berangkatnya dari pada pondok-pondok unit lainnya. Sementara untuk siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) tamatan tahun ini, masih harus menunggu selesainya acara Ramah Tamah yang berlangsung pada Senin malam Ahad, 16 Mei besok.[]