Tag Archives: wanita mulia

Peran Wanita Untuk Keluarga dan Negara

“Para ibu yang ada ditengah keluarga dan negara sangat menentukan baik dan buruk dalam keluarga dan negara itu”

“Kata ulama “annisa imaddudin” perempuan adalah cagak suatu negara. artinya jika wanitanya rusak maka negaranya ikut rusak, sebab kebaikan seorang laki-laki pun itu ada hubungannya dengan kebaikan seorang istri”

“Pengaruh istri ditengah-tengah keluarga sangat menentukan baik buruknya keluarga, juga kepada anak-anaknya, fitroh sebuah keluarga itu baik buruknya ini ada hubungannya dengan baik buruknya istri”

“Dalam pandangan islam mengatakan kalau orang menikah yang penting supaya kamu menikah dengan wanita yang agamanya baik”

“Peran seorang istri itu menentukan baik buruknya suami dan anaknya, yang lebih dekat dengan anak adalah ibu, dan disinilah ibu harus baik”

“Jika ingin menghendaki kebaikan orang lain kita harus memperbaiki diri sendiri”

“Menjaga keluarga itu merupakan kewajiban seorang bapak, kalau tidak mendidik anak-anaknya maka seorang bapak itu berdosa namun kadang-kadang peran bapak itu tidak maksimal kadang justru di Indonesia peran ibulah yang sangat menentukan”

“Anak jangan dibelajari yang jelek-jelek, sebab karakter manusia secara otomatis ia akan seneng pada kejelekan”

“Bagi orang tua terutama ibu harus mengawasi anaknya supaya menjadi baik dan taat kepada Allah bisa khidmah kepada orang tuanya, ini salah satu jalannya adalah memondokkan anaknya”

“Orang mondokkan anak itu kewajiban, dan orang yang mondokkan anaknya dan masih memberi kiriman maka Allah akan memperlancar rizqinya”

“Orang taqwa itu butuh ngaji dan butuh mondok, taqwa itu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya”

“Orang taqwa kepada Allah kalau punya masalah itu ada solusinya”

“Sekarang ini menjodohkan anak itu repot, kadang kena narkoba kadang kena aids. mencari menantu harus hati-hati”

“Anak dirawat sejak kecil besar-besar mendapat jodoh yang tidak pas akan merepotkan orang tuanya namun beda lagi dengan santri insyaAllah jodohnya dimudahkan Allah swt, santri itu cari jodoh cukup ngaji saja kalau sudah waktunya akan dicari sendiri baik itu putra / putri”

“Santri itu rizqinya tidak diduga-duga, santri itu biasanya kesulitan dulu”

“Allah mengatakan “innamal usriyussra” kalau orang ingin gampang prosesnya harus kesulitan dulu, santri setahun dua tahun asalkan mulang nanti insyaallah rizqinya barokah keluarganya barokah”

“Orang yang paling mulia disisi allah adalah orang yang taqwa, orang yang taqwa itu harus mondok”

“Pesantren yang lebih baik itu pesantren salaf, sebab mencetak ulama juga kiyai”

“Orang itu baik dan tidaknya ada hubungan disekitarnya jadi di pesantren sekelilingnya baik maka Kebaikan-kebaikan di pesantren tidak diragukan”

“Indonesia tidak ada pesantren hancur sudah akhlaknya”

“Anak sekarang masuk SMP/Mts minta HP, minta motor minta bensin, dibuat kluyuran, kalau anak tidak mondok itu satu hari bisa 50.000,- tapi kalau di pesantren satu bulan bisa 500.000 dan hasilnya pun sudah jelas”

“Anak itu mau mondok atau tidak itu hubungannya dengan ibunya, sebab kalau bapak ingin mondokkan anaknya dan ibunya bilang jangan, bapak akan mikir lagi namun kalau ibunya yang meminta kepada bapaknya untuk mondok itu akan berhasil”

 

  • Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam kunjungan Ibu Muslimat Sidoarjo

Kisah Wanita Mulia yang Tuli, Bisu, Buta

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah kekasih Allah yang sangat kita kenal. Beliau adalah wali Allah yang begitu mulia di sisi Allah dan di antara sekalian manusia. Beliau menjadi insan mulia, di samping karena perjuangan keilmuan dan ketabahan sangat berat, ada satu faktor penting yang membuatnya mulia: ia lahir dari rahim ibu yang shalehah.

Alkisah, ada seorang pemuda berhenti di tepian sungai. Di aliran sungai itu, ia menemukan sebutir apel. Karena lapar, ia ambil dan segera memakannya. Ia baru sadar ketika apel itu habis dimakkannya: apel ini pasti ada yang punya. Ia tidak ingin perutnya berisi perkara haram, karenanya ia susuri sungai itu. Barangkali akan bertemu sang pemilik. Setelah berjalan jauh, ia menemukan satu pohon apel di tepian sungai.

Sang pemilik ternyata ada di rumah di sebelah pohon itu. Setelah berucap sapa, pemuda itu mengutarakan niat awal ia berkunjung. Namun, permohonan keikhlasan untuk merelakan apel yang telah ia makan itu berujung buntu. “Tidak bisa begitu saja. Ada satu yang jadi syarat: kamu harus menikahi putri saya.” Pemuda yang belum memiliki niat memadu kasih itu bingung. Dan lebih bingung lagi ketika sang pemilik mengatakan calon istrinya nanti adalah wanita yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tapi membayangkan perutnya yang berisikan hal-hal yang diharamkan, ia langsung mengiyakan syarat itu.

Setibanya ia di kamar pengantin, setelah melakukan akad nikah yang sangat sederhana, ia kaget. Wanita yang dihadapannya sangat cantik, menatapnya halus, mendengar salam dan menjawabnya, dan berjalan mendekat menuju dirinya. Rupanya, ia mengerti setelah mertua barunya memberi penjelasan. “Ternyata,” ujar Habib Syekh, “wanita itu buta dari melihat hal selain yang halal baginya. Tuli dari suara-suara haram, ghibah, dan lain-lain. Bisu dari ngrasani. Lumpuh karena tidak pernah keluar rumah untuk hal-hal tidak berguna.”

Begitu mulianya ibunda Syekh Abdul Qadir al-Jailani, sehingga keturunannya pun menjadi orang mulia. Semoga wanita-wanita muslim dapat meniru yang telah dicontohkan beliau-beliau semuanya.][

 

Dikisahkan oleh Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaff saat berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), Lirboyo, Kamis 13 April 2017.

Habib Syekh Mengunjungi Santri Putri

LirboyoNet, Kediri — Berita datangnya seseorang yang dirindu memang selalu membuat kita rela menunggu, selama apapun itu. Yang terjadi di pondok pesantren putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) Kamis (13/04) kemarin adalah wujud kerelaan itu. Ribuan santri berjubel menanti kedatangan sosok yang dirindunya, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaff.

Sejak pagi mereka sudah memenuhi aula P3HM. Ditemani grup rebana yang berisikan kawan-kawan sendiri, mereka menghibur diri dengan lantunan beberapa qasidah shalawat. Dari beberapa itu, ada satu yang mereka lantunkan dengan lebih syahdu. Sebuah lagu baru: Mars Mubtadi-aat. Semangat mereka dalam menyanyikannya lebih daripada qashidah lain. Wajar saja, karena “kullu jadid ladzah”, sesuatu yang baru selalu lebih indah dinikmati. Juga, karena ritme yang digunakan begitu rancak dan dinamis.

Sekitar pukul 11.00 WIs (Waktu Istiwa’) pondok putri yang diasuh oleh KH. M. Anwar Manshur itu bergemuruh. Qashidah thala’al badru segera dilantunkan. Yang mereka rindu itu perlahan naik ke aula. Menyapa para santri dengan lambaian tangannya. Dengan diiringi segenap dzuriyah (keluarga besar Ponpes Lirboyo), beliau melemparkan senyum dan salam yang disambut riuh gumaman para santri.

“Padahal saya sudah sering ke sini. Tapi selalu merasa baru pertama kali. Gimana tidak, dulu saya duduknya di sana (menunjuk arah seberang), tahun kemarin di situ (mimbar mushala), sekarang di sini,” canda Habib Syekh. Ponpes Lirboyo, selain setiap tahun mengundang beliau, memang telah mendapat tempat tersendiri di hati Habib Syekh. “Saat saya umroh kemarin, kalian saya doakan. Santri lirboyo saya doakan. Para masyayikh, Kiai Anwar, saya doakan khusus di sana,” aku beliau.

Keistimewaan santri di hati beliau ini, terutama santri putri, diungkapkan dalam mauidzah singkatnya. “Wanita adalah makhluk istimewa di hadapan Allah. Kalianlah yang menjadi induk dari titipan-titipan agung Allah.” Titipan itu adalah para kekasihnya: rasul, nabi, wali, dan para ulama. Tanpa kehadiran wanita, mustahil akan ada makhluk-makhluk mulia yang membimbing umat.

“Saya heran, kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang menyebut sayyidah Aminah ibunda Rasulullah masuk neraka. Bisa-bisanya?” geram beliau. “Allah menitipkan makhluk yang mulia, tentu di dalam rahim orang yang mulia.” Rasulullah adalah kekasih Allah. Bagaimana bisa Allah menurunkannya ke dunia dan melahirkannya lewat rahim yang terlarang?

Beliau kemudian berkisah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, seorang kekasih Allah, adalah sosok yang mulia di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Kemuliaannya, salah satunya, berkat sifat ibundanya yang shalehah, yang sangat kukuh dalam menghindari maksiat dan perbuatan haram lainnya.

“Semoga kalian akan menjadi wanita-wanita sperti itu, yang mampu menurunkan keturunan-keturunan luar biasa dan berguna bagi umat semuanya,” harap Habib.

Sebelum beliau turun untuk kembali ke hotel, KH. Anwar Manshur memohon kepada beliau untuk bersedia melantunkan qashidah. Dengan segera, beliau juga mengajak grup rebana yang berada di depannya untuk ikut mengiringi qashidah beliau. Setelah beberapa qashidah dilantunkan, beliau mengajak santri untuk menyanyi bersama Mars Mubtadi-aat, yang rupanya telah beliau dengar sebelumnya saat masih di lantai bawah.][