Tag Archives: yaman

Maulid Nabi di Yaman.

Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Negara Yaman, peringatan Malam Ta’dzim Maulid Nabi sekaligus kirim do’a untuk Masyayikh Lirboyo pun dilaksanakan sebagai bentuk senantiasa menjalin ‘alaqoh bathiniyah (hubungan batin) dengan para guru.

Acara ini dilaksanakan oleh Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) yang berada di sektor Mukalla, Yaman.

Dilaksanakan malam Kamis pukul 20:00 KSA (waktu setempat) yang berketepatan dengan 10 Robiul awal (06/10), acara diawali dengan pembacaan Maulid Simtud Duror yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil.

Baca juga Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara tersebut juga diadakan pemilihan Ketua Himasal sektor Mukalla.

Acara tersebut dihadiri oleh segenap Himasal Yaman sektor Mukalla yang saat ini berjumlah sekitar 20 orang, serta dalam rangka mengumpulkan anggota Himasal dalam satu wadah agar bisa tetap menjalin ukhuwah antar sesama anggota. Tahun ini adalah pertama kalinya diadakan kumpul bersama Himasal sektor Mukalla.

Lihat acara Maulid Nabi di Pondok Pesantren Lirboyo

HIMASAL Yaman Gelar Khataman Qur’an

LirboyoNet, Yaman – Tarim, Hadhromaut, Yaman (09/12/2015). Mahasiswa Indonesia, Yaman, Tanzani, Somalia, China, Thailand, Malaysia, menggelar Khatamann Qur’an dan Tahlil bersama atas wafatnya KH. M. Abdul Aziz Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang, Jombang, adik KH. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Acara yang dipelopori oleh HIMASAL (Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) Cabang Yaman ini bertempat di Aula gedung Fakultas Syari’ah Wal Qonun Universitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhromaut, Yaman.

Acara yang dipimpin oleh salah satu dzurriyah Pondok Pesantren MIS, Sarang, Rembang, sekaligus alumni Pondok Lirboyo, Imam Rahmatullah ini turut dihadiri Habib Umar Asseggaf, sebagai ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI), dan juga ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Yaman, M. Tohirin Shodiq.

Gus Imam Rahmatullah menyampaikan, bahwa dunia pesantren merasa sangat kehilangan dengan meningggalnya kiai yang tawaduk, penuh keteduhan, dan tekun memperjuangkan dunia pesantren.

“Kami para santri khususnya dan seluruh dunia pesantren merasa sangat kehilangan atas wafatnya kiai yang karismatik, tawaduk dan getol memperjuangkan dunia pesantren dengan segenap kemampuan beliau,” tutur Gus Imam Rahmatullah.

Mantan ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) periode 2014/2015 ini juga menyatakan bahwasannya kiprah KH. Abdul Aziz Manshur dalam dunia politik bukan karena hasrat untuk menjadi politikus, melainkan atas sebab ingin memperjuangkan cita-cita pesantren.

“Beliau terjun ke ranah politik itu merupakan bentuk pengorbanan beliau untuk memperjuangkan dunia pesantren, bukan karena hasrat duniawi ingin menjadi politikus,” ujar Gus Imam Rahmatullah.

Ketua HIMASAL Yaman, Gus Zadit Taqwa menyampaikan, akan di laksanakan salat ghaib pada tiga titik di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman, pada hari Jum’at (11/12/2015) yaitu pada masjid Jami’ Tarim (tempat salat Jum’at Habib Salim Asyathiry), masjid Raudhoh (tempat salat Jum’at Habib Umar bin Khafidz bin Syekh Abu Bakar) dan masjid Jami’ Aidid.

“Insyaallah kami akan mengkonfirmasi masalah salat ghoib pada takmir di masjid Jami’, masjid Raudhoh, serta masjid Aidid,” terang Gus Zadit Taqwa selaku ketua HIMASAL Yaman.

Agenda Khataman Qur’an di tutup dengan shalat ghoib berjama’ah yang dipimpin langsung oleh ketua HIMASAL Yaman dan dilanjutkan dengan beramah tamah.

(H. R. Badrul/Mohammad Ziq)

Pentingnya Rasa Cinta

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

“Lho, kenapa?” tanya beliau.

“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”

“Jangan dulu. Sabar.”

“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”

“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

“Ini surat siapa?” tanya Habib.

“Owh, itu surat ibu saya.”

“Bacalah!”

Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.

“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.

“Sudah.”

“Berapa kali?”

“Satu kali.”

“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”

“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.

Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal. Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة

Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.

* * *

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya. Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin Anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati mereka.

Kantor Muktamar, 11 Maret 2013 jam 12.27 waktu istiwa’.

*Kisah di atas ditranskrip dari salah satu ceramah Habib Jamal bin Thoha Baagil.