Tag Archives: Zuhud

Ancaman Al-Qumudi terhadap Hawa Nafsunya

Pada suatu hari, Abu Ja’far Al-Qumudi—seorang ahli ibadah yang zuhud di Tunisia—duduk bersama para sahabatnya. Saat itu, ia menerima hadiah berupa tiga keranjang kurma dari seorang laki-laki.

Al-Qumudi berkata, “Ini hadiah bersama untuk kita semua.”

Ia pun membagi rata kurma itu kepada setiap orang yang berada di sana. Namun ia menyisakan untuk dirinya sebanyak lima butir kurma, dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang.

Seperti biasanya, setelah salat Maghrib ia melanjutkan ibadahnya. Namun di tengah-tengah itu, hawa nafsunya berbisik “Segeralah, agar engkau cepat berbuka dengan kurma-kurma tadi.”

Akhirnya, Al-Qumudi marah terhadap hawa nafsunya sendiri. “Apakah engkau tidak mampu bersabar menikmati lima butir kurma itu hingga engkau menyuruhku untuk mempercepat salatku demi kurma-kurma itu?. Demi Allah, hanya karena Allah, aku tak akan pernah makan satu butir kurma pun hingga aku menemui Allah (wafat).”

[]waAllahu a’lam

______________________

Disarikan dari kitab Riyadh An-Nufus, vol. II hal 221.

Saat Haji, Mbah Manab Umrah 70 Kali

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1920-an. Di masa itu, Mbah Manab berangkat haji ditemani sahabat karibnya, KH. Hasyim Asy’ari. Ada yang membuat kagum KH. Hasyim Asy’ari kepada beliau. Tiada lain adalah kezuhudan beliau.

Mbah Hasyim heran, Mbah Manab yang kemampuan duniawinya biasa saja, mampu melaksanakan haji. Mbah Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin beliau semakin heran adalah ketika ditanya berapa jumlah uang beliau, Mbah Manab hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos (tidak tahu).”

Kontan Mbah Hasyim meminta uang itu untuk beliau hitung. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, Mbah Manab dan Mbah Hasyim berangkat bersama ke tanah suci. Beliau berdua berada dalam satu kapal. Di tanah suci, Mbah Manab mampu melakukan umrah sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im (tempat miqat umrah).

Untuk beliau berdua, Lahumal Fatihah.

 

*Dikutip secara ringkas dari buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda.

Zuhud dan Modernitas

Sebuah keniscayaan bahwa setiap makhluk mengalami perubahan. Segala aspek dalam kehidupan akan berubah dan berkembang mengikuti arus zaman. Seiring dengan ini pula manusia sebagai kholifah yang bertugas imaratul ardli, tertuntut untuk mengikuti perubahan. Agar tak tereliminasi dari kancah pertarungan hidup.

Dewasa ini, era modern yang dikoar-koarkan sebagai bentuk peradaban maju justru memiliki “efek samping” yang begitu kompleks. Budaya, ekonomi, sosial serta agama tak luput dari pengaruh modernisasi tersebut. Kecenderungan masyarakat kini yang konsumerisme dan individualisme adalah dampak nyatanya.

Oleh KH. MA. Sahal Mahfudz, kondisi semacam ini, dipaparkannya sebagai akibat dari persaingan masalah-masalah sosial. Dan pelaku-pelaku sosial itu sendiri muncul sebagai efek lain dari modernitas zaman. Gesekan demi gesekan yang timbul dari berjalannya kepentingan masing-masing individu tanpa diimbangi dengan nilai spiritual akan meninggalkan keresahan-keresahan tersendiri. Pola-pola perilaku dan sikap hidup serta pandangan yang individualistik akan menempatkan manusia pada titik-titik jenuh kehidupan komunitas kolektif, sehingga pada gilirannya manusia justru acuh tak acuh terhadap lingkungannya sendiri.

Titik-titik jenuh yang dimaksudkan oleh Kiai Sahal ini, akan menimbulkan suatu konsekuensi yakni orang akan cenderung lari mencari “dunia lain” yang lebih menjanjikan kedamaian dan ketentraman. Dengan demikian, agama merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam konteks ini, Islam menawarkan konsep tasawuf sebagai alternatif dan langkah ideal untuk mengurangi permasalahan ini. Di antara konsepnya adalah sikap zuhud.

Zuhud sendiri oleh para ulama diartikan sebagai sikap meninggalkan ketergantungan atau keterikatan hati pada harta dunia (materi), meskipun tidak berarti antipati terhadapnya maupun tidak memiliki harta sama sekali.

[ads script=”1″ align=”center”]

Dengan penerapan sikap zuhud pada lini kehidupan akan menumbuhkan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama makhluk. Karena zuhud akan mendorong seseorang untuk menjadi dermawan. Tak salah bila Imam Ghozali mengatakan, “ sifat kikir merupakan buah dari rasa cinta pada dunia sedang kedermawanan merupakan buah dari perilaku zuhud”.

Sikap semacam ini, tercermin dari perilaku Nabi Sulaiman as yang “rela” makan roti dan gandum. Meski demikian Nabi yang berjuluk Azhadiz Zaahidiin ini sering kali memberi makan pada seluruh penduduk bumi.

Pada kurun Nabi Muhammad saw sifat zuhud ini juga tampak pada para sahabat Nabi. Abdurrahman bin Auf salah satunya. Walaupun tergolong orang terkaya di Madinah namun dengan sifat zuhud yang dimilikinya, Abdurrahman bin Auf mampu mentasarufkan hartanya dengan bijak. Bahkan pada suatu kesempatan Abdurrahman bin Auf pernah membagikan seluruh muatan 700 kendaraan kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya, sekembalinya dari Syam.

Dari keteladanan Nabi Sulaiman as dan sahabat Abdurrahman bin Auf diatas, secara kontekstual dapat dipahami, bahwasanya kedermawanan yang begitu luar biasa itu adalah konsekuensi logis dari perwujudan sikap zuhud atau sikap tidak kumantil pada harta benda. Sehingga membuat zahid (orang yang zuhud) dengan suka rela memberikan harta bendanya kepada orang lain agar tercipta kesejahteran bagi masyarakat sekitarnya.

Tentang sikap zuhud dan kedermawanan ini, Syekh Abdul Qodir Jailani mengatakan, “semua harta benda (dunia) adalah batu ujian yang membuat banyak manusia gagal dan celaka, sehingga membuat mereka lupa kepada Allah. Kecuali jika pengumpulannya dengan motif yang baik untuk akhirat. Maka biia dalam pentasarufannya memiiki tujuan yang baik, harta dunia itupun akan menjadi harta akhirat (pahala)”.

Dengan demikian, tak berlebihan bila sikap zuhud akan bisa mengcounter back  pola hidup konsumerisme dan individualisme yang kian marak ditengah masyarakat modern. Lebih dari itu, akan pula mengurangi kecemburuan sosial oleh komunitas yang strata ekonominya lebih rendah kepada komunitas seatasnya sebagai imbas dari ketimpangan sosial.[]

Penulis, Satriatama

Membawakan Koper Santri

Suatu hari datanglah seorang santri baru. Saat dia turun dari kendaraan, kebetulan K.H. Abdul Karim sedang berada di jalan. Karena penampilan beliau tidak sedikit pun menunjukkan seorang kiai, santri itu meminta beliau membawakan kopernya ke kamar. K.H. Abdul Karim tidak keberatan. Beliau angkat barang itu ke kamar yang diminta. Santri-santri yang melihat kejadian ini kaget bukan kepalang hingga banyak yang berlarian. Ketika berjamaah, santri baru tersebut melihat orang yang membawakan koper tempo hari menjadi imam. Tersentaklah ia. Konon, karena tidak tahan menanggung malu, santri itu kemudian pulang dengan tanpa pamit. Sikap penuh kerendahan hati yang layak kita teladani.