Tanda Awal Kebajikan: Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Hasan

Acara ini tidak hanya menjadi titik awal dalam memperbaharui struktur fisik masjid, melainkan juga pelebaran bangunan masjid.

Memperluas kapasitas masjid untuk menampung lebih banyak santri merupakan langkah yang krusial dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dan aktivitas belajar mereka. Dengan memberikan ruang yang cukup, masjid dapat menjadi tempat yang nyaman dan produktif untuk para santri menjalankan ibadah, mendalami ilmu agama, serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan pembelajaran lainnya.

Semakin banyak ruang yang tersedia, semakin banyak pula kesempatan bagi para santri untuk berkumpul, berinteraksi, dan belajar bersama dalam lingkungan yang mendukung dan inspiratif. Oleh karena itu, pelebaran masjid akan menjadi sesuatu yang berharga dalam pendidikan dan pengembangan spiritual para santri.

Dzuriyah Simbah Kyai Abdul Karim turut menghadiri acara ini, yakni beliau KH. An’im Falahudin Mahrus dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan juga beberapa dzuriyah muda yang turt hadir guna mendampingi dan memantau berjalannya acara ini. Juga para donator Ibu Nur Hayati sekeluarga. Beberapa pengurus Pondok Pesantren Lirboyo dan juga para tukang yang akan merenovasi masjid Al-Hasan.

Sebelum acara dimulai, KH. An’im Falahudin Mahrus menyempatkan untuk melihat-melihat tempat peletakan batu pertama dan tempat perenovasian Masjid Al-Hasan.

Baca juga: Pembukaan renovasi masjid al-hasan 

Rangkaian Acara Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Hasan:

istighosah peletakan batu pertama renovasi Masjid Al-Hasan

1. Istighosah oleh KH. An’im Falahudin Mahrus:

Istighosah yang dibuka oleh KH. An’im Falahudin Mahrus menjadi langkah awal yang sangat penting dalam memulai proses renovasi Masjid Al-Hasan.

Dengan membuka acara ini dengan istighosah, beliau tidak hanya mengingatkan kita akan pentingnya memohon keberkahan dan kelancaran dari Allah Swt., tetapi juga memperlihatkan kesadaran akan tanggung jawab spiritual dalam setiap langkah yang diambil dalam proyek ini.

Istighosah untuk kelancaran dan keberkahan dalam seluruh tahapan renovasi merupakan ungkapan dari harapan dan keinginan untuk melihat hasil akhir yang berkah dan bermanfaat bagi seluruh kalangan baik santri hingga para tukang yang turut dalam merenovasi Masjid ini.

2. Doa Dipimpin oleh KH. An’im Falahudin Mahrus dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus:

Doa yang dipimpin oleh KH. An’im Falahudin Mahrus dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menjadi momen yang sangat berarti dalam acara pembukaan renovasi Masjid Al-Hasan.

Dengan doa tersebut, memberikan dampak berupa keyakinan dan harapan bagi seluruh hadirin bahwa renovasi ini akan senantiasa diberkahi dan dipermudah oleh Allah Swt.

3. Sambutan Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus:

Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memberikan sambutan, menegaskan pentingnya pembangunan masjid sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan masjid Al-Hasan. Beliau juga menerangkan tentang keutamaan membangun masjid yang dalilnya beliau ambilkan dari hadist kanjeng Nabi Muhammad Saw.

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ بَيْتًا

Barang siapa yang membangun sebuah masjid untuk Allah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di Surga.

4. Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Hasan:

Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kemudian dilanjutkan KH. An’im Falahudin Mahrus, ibu Nur Hayati dan keluarga, Habib Ali Zaenal Abidin, dan terakhir oleh Agus Syarif Hakim.

Proses peletakan batu pertama memiliki dua pertanda:

  1. Pembacaan Doa: Pembacaan doa khusus oleh seorang ulama adalah langkah yang sangat penting dalam memohon berkah, keselamatan, dan kesuksesan dari Allah SWT dalam seluruh tahapan pembangunan masjid. Doa ini juga bisa mencakup permohonan untuk perlindungan terhadap setiap tantangan atau rintangan yang mungkin muncul selama proses pembangunan.
  2. Penanaman atau Peletakan Batu Pertama secara Simbolis: Sebuah batu pertama yang diletakkan atau ditanam di lokasi yang telah ditentukan, secara simbolis sebagai awal dari pembangunan fisik masjid.

5. Pemotongan Tumpeng dan Makan Bersama:

Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama. Pemotongan tumpeng adalah simbol dari keberkahan dan kesuksesan. Tumpeng merupakan hidangan khas Indonesia yang dibuat dari nasi kuning dan disajikan dalam bentuk kerucut.

Pemotongan tumpeng ini dianggap sebagai simbol pembukaan resmi dari acara dan menjadi awal dari doa dan harapan untuk kesuksesan proyek pembangunan masjid.

Makan Bersama adalah kesempatan bagi seluruh komunitas untuk berkumpul, berinteraksi, dan merayakan langkah awal yang penting ini. Makan bersama juga menciptakan suasana kebersamaan dan persaudaraan yang memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.

Jangan lupa kunjungi akun media sosial Pondok Lirboyo. FacebookInstagramYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.