Tapak Tulodo Mbah Yai Anwar

Bagi para Santri yang pernah mengikuti salat jemaah bersama beliau, mesti merasakan ada sesuatu yang berbeda dari salatnya beliau.

Kajian fikih menganjurkan saat melakukan rukuk dan sujud hendaknya agar berdiam lebih lama dari iktidal dan duduk diantara dua sujud, karena rukuk dan sujud mengandung nilai penghormatan yang jauh lebih utama dilakukan dari pada itktidal dan duduk diantara dua sujud yang hanya difungsikan sebagai sarana istirahat.

Namun, beliau mbah yai Anwar lebih mengutamakan duduk diantara dua sujud dengan menyelesaikan bacaan doanya: ‘Robbighfir Lii Warhamnii Wajburni Warfa’ni Warzuqni Wahdini Wa’afini Wa’fu Anni’.

Lantas duduk diantara dua sujud itu lebih lama dilakukan oleh beliau ketimbang sujud dan rukuk yang notabene lebih nyata dalam bentuk penghambaan.

Timbul pertanyaan dalam benak ini, namun tidak perlu mempertanyakan lebih jauh pada sesuatu hal yang diluar jangkauan akal santri seamatir saya.

Kajian fikih yang menganjurkan rukuk dan sujud hendak lebih lama dilakukan daripada iktidal dan duduk diantara dua sujud itu mengacu pad zaman Rasulullah dan para sahabat, dimana penghormatan dan penghambaan jauh lebih mereka lakukan daripada sekedar berdoa dan bermunajat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.